Di Tengah Teriakan Demonstrasi di Bandung, Abah Seno Berjuang Melawan Harga yang Terus Naik
Saat mahasiswa memprotes krisis ekonomi di depan DPRD Jawa Barat, pedagang baso tahu berusia 56 tahun itu menghadapi kenaikan harga, penjualan menurun, dan bertahan.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 12 Juni 2026
BandungBergerak - Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil dari berbagai kampus di Bandung Raya menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kamis, 11 Juni 2026. Di tengah kerumunan massa yang menyuarakan tuntutan, keresahan serupa ternyata juga dirasakan oleh pedagang kecil seperti Seno, 56 tahun, penjual baso tahu yang sehari-hari berjualan di kawasan PTUN Bandung.
Saat ditemui di sela aksi yang memprotes memburuknya kondisi ekonomi yang ditandai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya hidup masyarakat, Abah Seno mengaku kenaikan harga bahan baku dalam beberapa bulan terakhir semakin memberatkan usahanya.
Bahan yang paling terasa naik adalah aci atau tepung tapioka yang menjadi salah satu komponen utama pembuatan baso tahu.
"Yang paling kerasa mah aci. Terigu masih tetap di angka 10 ribu rupiah. Yang lain juga naik, tapi tidak setinggi aci," kata Abah Seno.
Untuk bahan baku tahu, ia menggunakan tahu putih Cibuntu yang dibeli dari kawasan Astana Anyar. Selain aci, harga bumbu kacang juga mengalami kenaikan meski tidak terlalu besar.
"Bumbu kacang naik sekitar seribu rupiah. Memang tidak terlalu terasa, tapi tetap saja naik. Yang paling drastis itu aci," ujarnya.
Kenaikan harga bahan baku tersebut berdampak langsung pada usahanya. Dalam sebulan terakhir, penjualan menurun sementara biaya produksi terus meningkat.
"Sudah satu bulan ini penjualan turun. Untuk balik modal juga repot. Sekarang tekor terus," katanya.
Penghasilan dari berjualan menjadi tumpuan bagi keluarganya. Ia tinggal bersama istri, anak, dan menantunya. Karena itu, setiap kenaikan harga bahan baku langsung memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga mereka.
Situasi yang dialami Abah Seno menjadi gambaran bagaimana tekanan ekonomi yang dipersoalkan mahasiswa dalam demonstrasi juga dirasakan oleh masyarakat kecil. Di tengah naiknya biaya hidup, pedagang harus menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau menanggung berkurangnya keuntungan.
Meski demikian, keramaian aksi demonstrasi hari itu membawa sedikit berkah. Banyak peserta aksi, petugas keamanan, hingga warga yang membeli dagangannya.
Biasanya Abah Seno memperoleh pendapatan sekitar 100 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah per hari. Namun saat berjualan di lokasi aksi, pendapatannya meningkat hingga sekitar 400 ribu rupiah.
"Kalau ada keramaian seperti ini ada peningkatan sedikit. Hari ini alhamdulillah banyak yang beli, termasuk polisi juga banyak yang membeli," ucapnya.
Sehari-hari, Abah Seno tidak berkeliling untuk berdagang. Ia memiliki titik-titik mangkal pada jam tertentu, dengan lokasi utama di sekitar PTUN Bandung. Bagi pedagang kecil seperti dirinya, keramaian massa sering menjadi kesempatan tambahan untuk mempertahankan usaha di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Baca Juga: Mahasiswa Bandung Mempertanyakan Reformasi Kepolisian Setelah UU Polri Disahkan
Bandung masih Bergerak, Mahasiswa Menuntut Perbaikan Ekonomi
Sementara itu, massa aksi memulai longmarch dari kawasan Universitas Padjadjaran di Jalan Dipati Ukur menuju Gedung DPRD Jawa Barat. Mereka berasal dari berbagai kampus, di antaranya Universitas Padjadjaran, Universitas Logistik dan Bisnis Internasional (ULBI), UPI Purwakarta, UPI Bumi Siliwangi, serta sejumlah kampus lainnya.
Demonstrasi tersebut merupakan akumulasi berbagai keresahan yang dirasakan masyarakat. Mereka menuntut pemerintah memperbaiki kondisi hari ini yang memberatkan rakyat kecil.
Selain persoalan ekonomi, massa juga menyoroti pengesahan Undang-Undang tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia pada 9 Juni 2026.
Presiden Mahasiswa BEM UPI, Khalid Syaiful, mengatakan salah satu poin yang dipersoalkan adalah peluang anggota Polri aktif menduduki jabatan sipil. Aturan tersebut dinilai berpotensi mempersempit ruang demokrasi dan mengancam hak-hak sipil masyarakat. Karena itu, mahasiswa menuntut agar UU Polri dicabut atau dibatalkan.
Bagi Abah Seno, isu yang dibawa mahasiswa mungkin berbeda dengan kesehariannya. Namun keresahan yang menjadi latar aksi itu terasa dekat dengan hidupnya: harga kebutuhan terus naik, biaya usaha membengkak, sementara penghasilan tidak selalu mengikuti. Di tengah teriakan tuntutan perubahan dari jalanan, ia tetap mendorong gerobaknya dan berharap dagangannya cukup untuk menghidupi keluarga.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


