Liminal Space: Potret Mahasiswa Seni UPI yang Bertumbuh di Tengah Keraguan
Karya-karya pameran Liminal Space merekam berbagai fase peralihan, dari tekanan ekspektasi, ilusi media sosial, hingga upaya berdamai dengan ingatan dan masa depan.
Penulis Yopi Muharam15 Juni 2026
BandungBergerak - Ikan-ikan memenuhi meja perjamuan dalam lukisan berukuran 42 x 59,4 sentimeter berformat lanskap. Di tengahnya, hanya satu sosok perempuan yang tetap tampil sebagai manusia, dikelilingi figur-figur yang telah berubah wujud dari tokoh-tokoh dalam lukisan The Last Supper.
Karya berjudul Poisson itu merupakan apropriasi terhadap lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci yang dibuat oleh Nisa Nissyyaturrahmah. Seluruh tokoh dalam lukisan diubah menjadi ikan, sementara latarnya menampilkan dinding kosong yang pudar tanpa ornamen.
Melalui perubahan visual tersebut, Nisa menggeser makna asli The Last Supper. Jika karya Da Vinci merepresentasikan kebersamaan, kepercayaan, dan relasi antarmanusia, lukisan Nisa justru menggambarkan lingkungan sosial yang dipenuhi perilaku toksik yang dianggap wajar karena dilakukan secara kolektif.
“Mayoritas menciptakan ilusi kebenaran, sehingga korban dipaksa untuk menganggap rasa sakitnya sebagai sesuatu yang berlebihan,” ujar Nisa.
Baginya, karya tersebut menjadi refleksi tentang kesepian seseorang yang tetap bertahan di tengah lingkungan yang perlahan menghancurkannya.
Gagasan itu sejalan dengan tema besar pameran Liminal Space yang mengangkat pengalaman transisi dan kondisi ambang dalam kehidupan para perupa muda. Sebanyak 35 karya seni rupa memenuhi dinding putih Communal Space, Jalan Badak Singa No. 6, Kota Bandung, dalam pameran yang berlangsung pada 5–11 Juni 2026.
Tema ini digagas oleh Nisa yang juga tergabung dalam tim kurator konsep. Menurutnya, liminal space bukan sekadar ruang kosong atau ruang antara, melainkan kondisi psikologis yang dialami seseorang ketika berada dalam masa peralihan.

“Jadi, setiap seniman tuh menginterpretasikan bahwa mereka tuh dalam masa transisi,” katanya.
Transisi yang dimaksud merujuk pada proses perkembangan para mahasiswa yang sedang bertumbuh, baik sebagai individu maupun sebagai perupa.
“Jadi kita enggak bakal selamanya ada di semester satu,” lanjutnya.
Setiap karya berangkat dari pengalaman personal para mahasiswa Program Studi Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ada yang menghadirkan ledakan warna, ada pula yang memilih pendekatan monokrom. Beragam medium dan visual tersebut menjadi cara masing-masing seniman menafsirkan masa transisi yang sedang mereka alami.
Salah satunya Sabrina Alsadilla, mahasiswa semester empat Seni Rupa UPI, yang menghadirkan karya berjudul Mantra. Di atas kertas yang dibentuk menyerupai lembaran rajah Arab, Sabrina membakar bagian tepinya sehingga tampak usang dan sakral.
Pada bagian tengah, ia menggambar Grim Reaper atau malaikat maut bertangan enam yang dikelilingi syair Arab ciptaannya sendiri. Figur tersebut menjadi simbol tekanan waktu dan kontemplasi personal dalam fase transisi.
Tiga tangan di sisi kiri memegang buku, obor, dan palet yang merepresentasikan beban sekaligus pencarian ilmu selama menjalani perkuliahan. Sementara tiga tangan lainnya memegang piala, tengkorak, dan kuas yang melambangkan pencapaian sekaligus ancaman matinya kreativitas ketika seseorang merasa cepat puas.
“Secara keseluruhan, karya ini mengungkap rasa sesak dalam menyeimbangkan idealisme seni dengan keterbatasan ilmu yang sedang dikejar,” tulis Sabrina dalam katalog karyanya.
Menurut Sabrina, Mantra merepresentasikan ruang liminal psikologis, yakni fase stagnasi di tengah kesuksesan semu ketika dirinya terjebak di antara identitas profesional dan realitas sebagai mahasiswa yang masih belajar.
Pengalaman tersebut berangkat dari respons publik terhadap karya-karyanya yang banyak beredar di media sosial. Berkat gaya visual horor yang konsisten, Sabrina mendapat banyak apresiasi dan bahkan sempat mengerjakan sejumlah proyek profesional, termasuk berkolaborasi dengan grup musik metal asal Garut, Voice of Baceprot.
“Tapi kenyataannya aku tuh masih kurang. Masih mahasiswa. Mahasiswa sendiri tuh masih perlu belajar dan masih kurang di skill,” ujarnya.
Sementara itu, Nasywaa Shakila memilih menelusuri memori masa kecil dalam karya berjudul Hold the Memories. Ia menggambarkan seekor kuda laut berwujud manusia yang membungkuk, dengan tubuh dililit pita kamera analog.
Karya tersebut berangkat dari eksplorasi ingatan masa kecil yang perlahan memudar. Pengalaman, rasa, dan trauma masih tersimpan dalam memori, tetapi bentuk, suara, dan detailnya mulai menghilang seiring waktu.
Nasywaa mengaku terinspirasi oleh buku The Seven Sins of Memory: How the Mind Forgets and Remembers karya Daniel L. Schacter yang membahas cara manusia mengingat dan melupakan pengalaman hidup.
“Dari karyanya itu aku memperdalam lagi ke bagian struktur otak manusia,” tuturnya.
Karena itu, ia memilih kuda laut sebagai representasi hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam proses pembelajaran, penyimpanan memori, serta orientasi spasial.
“Cuma aku jadiin sedikit lebih disturbing karena childhood amnesia juga ada bagian dari tragedi-tragedinya,” lanjutnya.
Tak hanya menjadi ajang pamer karya, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk menjalankan sebuah pameran seni secara profesional. Empat kurator yang terlibat seluruhnya merupakan mahasiswa semester empat yang harus membagi waktu antara mengurus pameran dan menyelesaikan karya masing-masing.
Salah seorang kurator sekaligus peserta pameran, Prosa Filarika, mengaku menghadapi tantangan baru ketika harus mengurus perizinan lokasi, koordinasi antardivisi, hingga penyusunan konsep pameran.
“Lumayan sulit juga karena kayak ketarik sana sini gitu,” ujarnya.
Dalam pameran tersebut, Prosa menampilkan karya berjudul The Soul in The Pool of Gravity. Melalui perpaduan elemen mesin, tulang punggung, langit, dan lubang hitam, ia mencoba menggambarkan perjalanan panjang seseorang dalam mengejar tujuan hidup.
Menurutnya, perjalanan itu serupa roket yang meluncur ke luar angkasa. Banyak perjuangan dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
“Bagaimana jiwa dan tubuh tidak sepenuhnya bisa menerima, kita harus tahu batasan yang cukup dan tepat,” katanya.
Baca Juga: Pameran Menyoal Ruang, Identitas, dan Ekspresi di Pasar Antik Cikapundung
Menolak Lupa Pemberangusan Buku di Bandung Melalui Pameran Arsip, Diskusi, dan Musik

Seluruh karya yang dipamerkan merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah Seni Sketsa. Dosen pengampu mata kuliah tersebut, Ardiyanto, mengatakan bahwa pameran sengaja dirancang bukan hanya sebagai pemenuhan tugas akademik, melainkan juga sebagai sarana membangun portofolio dan pengalaman profesional mahasiswa.
“Ini golnya itu adalah pertama membayar urusan-urusan administrasi perkuliahan supaya lulus. Kedua portofolio yang paling penting sebenarnya itu, baik di pamerannya ataupun publikasi karya dia,” ujarnya.
Ia menilai penyelenggaraan pameran di luar lingkungan kampus penting untuk membangun jejaring, pengalaman, dan kepercayaan diri mahasiswa sebelum memasuki dunia seni rupa yang lebih luas.
Sebanyak 35 karya yang ditampilkan merupakan hasil seleksi mahasiswa semester empat dan menjadi bagian dari Ujian Akhir Semester mata kuliah Seni Sketsa. Melalui tema Liminal Space, para mahasiswa diajak merefleksikan berbagai persoalan transisi yang mereka hadapi, mulai dari pencarian identitas, kecemasan masa depan, hingga arah berkesenian yang ingin ditempuh.
Ardiyanto berharap para mahasiswanya dapat terus konsisten berkarya dan berkembang melampaui capaian para dosennya.
“Kalau ada mahasiswa yang lebih hebat dari saya, oh saya sangat senang,” katanya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


