• Berita
  • Ketika Harga Oli Membebani Ojol di Bandung: Jam Kerja Bertambah, Perawatan Motor Berubah

Ketika Harga Oli Membebani Ojol di Bandung: Jam Kerja Bertambah, Perawatan Motor Berubah

Nilai rupiah yang tertekan mempengaruhi harga oli. Sebagian pengemudi ojol memilih oli murah, menunda perawatan, hingga menghindari rute menanjak.

Pengemudi ojol di Bandung menunjukkan biaya order, Rabu, 10 Juni 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 15 Juni 2026


BandungBergerak - Suasana pos pengemudi ojek daring (ojol) di kawasan Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, Rabu siang, 10 Juni 2026 tampak lengang. Beberapa motor terparkir berjajar. Sejumlah pengemudi duduk sambil memegang telepon genggam, sesekali melirik layar menunggu order masuk.

Di tengah waktu menunggu itu, Anton, salah seorang pengemudi ojol, merasa kondisi ekonomi yang dihadapinya saat ini semakin berat. Menurutnya, pengeluaran yang terus bertambah tidak lagi sebanding dengan pemasukan yang diperoleh dari menarik penumpang setiap hari.

"Enggak sepadan pemasukan dengan pengeluaran," ujar Anton.

Bagi Anton, cara paling realistis untuk tetap bertahan adalah memperpanjang waktu bekerja. Jika sebelumnya jam aktif cukup dilakukan dalam waktu tertentu, kini ia memilih menambah durasi on bid agar pendapatan harian tetap bisa menutupi kebutuhan keluarga.

"Tambahan waktu aja. Extra time jam on bid-nya," katanya.

Kenaikan biaya operasional tidak hanya datang dari harga bahan bakar. Harga oli yang ikut melonjak membuat pengeluaran perawatan kendaraan semakin besar. Anton mengatakan kebanyakan ojol mengganti oli setiap dua minggu sekali. Dalam kurun waktu tersebut, motor Anton dapat menempuh sekitar 2.000 kilometer bahkan lebih, tergantung jumlah perjalanan yang diperoleh setiap hari.

Selain memikirkan biaya operasional, Anton juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait rencana penurunan potongan aplikator menjadi delapan persen. Menurutnya, aturan tersebut hanya akan efektif apabila disertai pengawasan yang jelas di lapangan.

Diketahui, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 mengenai Perlindungan Pengemudi Transportasi Online. Poin utama perpres ini adalah pembatasan potongan aplikasi maksimal 8 persen, sehingga pengemudi ojol akan menerima hingga 92 persen dari pendapatan tiap perjalanan.

"Untuk saat ini tarif potongan delapan bersen belum berlaku, cuma yang penting bagi saya adalah bagaimana pengawasan pemerintah kepada para aplikator? Percuma nurunkeun perpres atau permen tapi enggak ada pengawasan mah keur naon?" kata Anton.

Di pos yang sama, Abah Ian memiliki cerita yang tidak jauh berbeda. Penghasilannya dari ojol tidak besar, hanya cukup untuk menyambung hidup.

"Kalau untung bagus, tapi kita ibarat mah nyambung hidup," ujarnya.

Untuk mempertahankan pendapatan, Abah Ian mengaku harus menambah jam kerja secara drastis.

"Asalnya delapan jam jadi dua puluh jam. Jadi overtime aja sekarang mah," katanya.

Sebagai tulang punggung keluarga, Abah Ian merasa beban ekonomi hari ini semakin berat. Anak bungsunya akan segera masuk SMK. Meski mendapat bantuan KIP, biaya seragam sekolah tetap harus dipenuhi.

Abah Ian juga merasakan langsung dampak kenaikan harga oli. Ia menunjukkan nota pembelian oli yang sebelumnya sekitar 55 ribu rupiah kini naik menjadi 70 ribu rupiah per liter. Meski biaya perawatan meningkat, ia menolak menggunakan oli bekas karena khawatir akan merusak mesin.

"Saya mah enggak beralih ke oli bekas," ujarnya.

Kondisi berbeda ditemui di sekitar Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga pengemudi ojol, sebagian dari mereka mulai mengubah pola perawatan kendaraan setelah harga oli naik.

Ada yang beralih ke merek oli yang lebih murah. Ada pula yang menunda jadwal penggantian oli hingga mendekati batas maksimal pemakaian. Bahkan, beberapa pengemudi mulai mempertimbangkan penggunaan oli bekas yang masih dianggap layak.

Perubahan tidak hanya terjadi pada perawatan kendaraan. Para pengemudi juga mulai lebih selektif menerima pesanan. Beberapa di antaranya mengaku menghindari tujuan ke daerah dengan medan menanjak seperti Lembang dan kawasan dataran tinggi lainnya.

Mereka khawatir medan yang berat akan mempercepat kerusakan kendaraan dan menambah biaya perawatan di kemudian hari.

Fenomena tersebut juga diamati oleh David, montir di Bengkel Alea Motor, Jalan Melong, Kota Cimahi Selatan. Menurut David, hampir seluruh merek oli mengalami kenaikan harga, termasuk produk yang sebelumnya tergolong murah seperti Evalube, Enduro, dan Federal Oil.

"Kabeh ayeuna ge nu mirah ayeuna naek kabeh, semua sparepart naik," kata David.

Ia menyebut beberapa tipe oli seperti Honda MPX dan SPX mengalami kenaikan yang cukup besar. Tidak hanya oli, harga ban dan berbagai suku cadang kendaraan lainnya juga ikut meningkat.

David menjelaskan bahwa bengkel memperoleh pasokan dari distributor resmi. Karena harga dari distributor sudah naik lebih dahulu, bengkel tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga kepada konsumen.

"Kebanyakan pelanggan bilang, mahal banget," ujarnya.

Menurut David, kenaikan harga oli menjadi komponen yang paling terasa bagi pelanggan. Jika sebelumnya hampir setiap hari selalu ada pelanggan yang datang untuk mengganti oli, kini jumlahnya tidak lagi menentu.

"Kadang-kadang sekarang enggak mesti," katanya.

Di antara berbagai keluhan yang datang, David pernah menemui pelanggan yang meminta oli bekas yang masih dianggap layak digunakan karena belum memiliki uang untuk membeli oli baru.

Meski demikian, ia mengaku praktik tersebut jarang terjadi. Ia juga menegaskan tidak akan menjual produk palsu atau oli KW karena berisiko merusak kendaraan pelanggan dan menghilangkan kepercayaan konsumen.

Kenaikan harga oli dan Pertamax dalam beberapa waktu terakhir pada akhirnya tidak hanya berdampak pada angka pengeluaran, tetapi juga mengubah cara para pengemudi ojol menjalani pekerjaannya.

Ada yang menambah jam kerja, mengganti merek oli, menunda servis, hingga menghindari rute-rute tertentu demi menjaga kondisi kendaraan.

Baca Juga: Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, Mahasiswa UPI Pangkas Pengeluaran hingga Tunggak UKT
Saat Warteg Berusaha Tetap Murah: Harga Pangan Melambung, Porsi Makan Menyusut

Deretan oli di sebuah bengkel di Bandung, Rabu, 10 Juni 2026. Harga oli naik karena gejolak geopolitik dan melemahnya rupiah.(Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Deretan oli di sebuah bengkel di Bandung, Rabu, 10 Juni 2026. Harga oli naik karena gejolak geopolitik dan melemahnya rupiah.(Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Mengapa Harga Oli Ikut Naik?

Kenaikan harga oli yang dirasakan para pengemudi ojek online dan masyarakat umum tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah faktor global dan domestik saling berkaitan sehingga mendorong biaya produksi dan distribusi pelumas menjadi lebih mahal.

Salah satu faktor utama berasal dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Minyak dasar pelumas (base oil) yang menjadi bahan baku utama oli merupakan hasil pengolahan minyak bumi. Ketika harga minyak dunia meningkat akibat gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik, biaya produksi pelumas pun ikut terdorong naik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah mulai mendiversifikasi sumber impor minyak mentah menyusul meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Langkah itu dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional mengingat konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari dan sekitar 20 persen impor minyak mentah sebelumnya berasal dari kawasan Timur Tengah melalui Selat Hormuz.

Selain mencari pasokan baru dari negara-negara Afrika seperti Angola, pemerintah juga memperluas kerja sama energi dengan Rusia. Bahlil mengungkapkan bahwa upaya tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto usai pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin di Rusia.

“Semua deal dan alhamdulillah bisa kita mendapat pasokan dari Rusia," dikutip dari podcast Rhenald Kasali bersama Bahlil Lahadalia, 10 Juni 2026.

Selain bahan baku, kenaikan harga oli juga dipengaruhi oleh naiknya biaya kemasan. Sebagian besar produk pelumas menggunakan wadah plastik yang berasal dari industri petrokimia. Kenaikan harga energi dan bahan baku plastik membuat biaya pengemasan ikut meningkat.

Biaya logistik dan distribusi juga mengalami kenaikan seiring meningkatnya harga bahan bakar. Akibatnya, biaya pengiriman dari pabrik ke distributor hingga ke tingkat bengkel menjadi semakin mahal.

Kenaikan harga oli tidak dipengaruhi oleh satu faktor semata. Konflik geopolitik global, ketergantungan terhadap bahan baku impor, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya distribusi menjadi rangkaian faktor yang pada akhirnya bermuara pada kenaikan harga di tingkat konsumen.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//