Seni Turun ke Terminal Ledeng
Festival LEDENG.LEDENG.LEDENG merawat budaya lokal dan menghidupkan kembali ruang publik yang kian tergerus komersialisasi.
Penulis Tim Redaksi16 Juni 2026
BandungBergerak - Sore di Terminal Ledeng, alunan musik keroncong mengisi ruang yang biasanya didominasi suara mesin kendaraan dan lalu lalang penumpang. Sejumlah warga tampak berhenti sejenak untuk menikmati pertunjukan, sementara anak-anak berlarian di antara instalasi seni yang tersebar di kawasan terminal. Ruang transit yang identik dengan mobilitas itu berubah menjadi tempat temu warga melalui festival “LEDENG.LEDENG.LEDENG”.
Festival yang memadukan seni, teknologi, musik, dan kuliner lokal tersebut menghadirkan penampilan dari Keroncong Lapis Legit, unit minat dan bakat di bawah Himpunan Pendidikan Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Di tengah area festival berdiri patung jerami karya seniman Tisna Sanjaya. Karya tersebut merekam ingatan masa kecilnya tentang Cigondewah yang dahulu dipenuhi hamparan sawah, sebelum bertransformasi menjadi kawasan industri.
Tak jauh dari sana, sebuah instalasi berbentuk kandang ayam menjadi ruang ekspresi bagi para seniman. Instalasi itu menyimbolkan posisi seni yang kerap terkurung dalam sekat-sekat tertentu sehingga terasa jauh dari kehidupan masyarakat.
Pelaksana program “LEDENG.LEDENG.LEDENG”, Dava Sanjaya, mengatakan festival ini lahir dari keresahan atas terbatasnya akses terhadap ruang kreatif di Kota Bandung.
“Ruang-ruang kreatif yang ada di Bandung itu gak semuanya bisa kita akses dengan gampang. Terutama bagi kita-kita yang bukan dari seni rupa. Dan kemungkinan untuk bisa membuat suatu gerakan kreatif yang sesuai sama apa yang kita pengen. Itu mungkin gak sepenuhnya bisa terwadahi oleh tempat-tempat yang ada di Bandung. Oleh karena itu kita bikinnya di sini,” jelas Dava, Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurut Dava, pemilihan Terminal Ledeng juga merupakan upaya mendobrak anggapan bahwa seni harus selalu hadir dalam ruang formal.
“Gak harus semua (seni) itu dibuat formal. Kayak misalnya kalau kalian mau seni musik harus ke konser. Atau misalnya pameran harus di White Cube. Tapi bisa juga di sini. Jadi mengenalkan kalau seni tuh bagian dari keseharian kita. Makanya di sini,” ungkapnya.
Melalui festival ini, penyelenggara juga berupaya mempertemukan kembali masyarakat dengan kesenian yang hidup di lingkungan mereka. Dava menilai perkembangan teknologi dan media digital tidak selalu mampu membangun keterhubungan antara masyarakat dan budaya lokal.
“Menurut kita, disrupsi kayak handphone dan segala macem justru nggak nge-connect-in mereka (masyarakat dan kesenian). Tapi kan kalau acara kayak gini pada connect lagi gitu pada ujungnya tuh,” ujar Dava.
Ia menambahkan, latar belakang sosial masyarakat Ledeng turut membentuk karakter kesenian yang berkembang di kawasan tersebut.
“Justru latar belakang seperti itu yang membuat karya-karya masyarakat yang disini tuh terasa kritis dan progresif. Jadi, sisi progresif yang dimiliki oleh masyarakat di Ledeng ini pada akhirnya membangun sisi-sisi kreatif yang out of the box gitu,” ujarnya.
Kesan serupa disampaikan Ketua Keroncong Lapis Legit, Restu. Menurutnya, festival semacam ini mampu menghadirkan ruang interaksi yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika ada acara gini membuat seluruh masyarakat berkumpul gitu, ada bapak-bapak, ada ibu-ibu juga yang biasanya kumpul kalau 17 Agustus aja. Itu keren banget sih, karena ngumpulin kayak gini tuh susah,” ungkap Restu.
Di tengah arus modernisasi, Restu menilai kesenian tradisional tetap relevan selama mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Menurut saya sendiri kalau seni, terutama musik tradisional, tuh sebenernya harus mengajar relevansi sama terus mengembangkannya gitu, makanya dari keroncong sendiri kita itu kadang nge-cover lagu-lagu yang baru, yang tren sekarang gitu,” jelas Restu.
Dalam zine Bubuka: LEDENG.LEDENG.LEDENG, penyelenggara menjelaskan bahwa Terminal Ledeng dipilih karena berada di antara sejumlah kampus besar, seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), dan Universitas Pasundan (Unpas). Posisi tersebut membuka peluang pertemuan antara warga dan mahasiswa untuk bertukar gagasan serta menjembatani ruang akademik dengan realitas sehari-hari.
Festival ini juga memperkenalkan Bringbrung, kesenian khas Ledeng yang memadukan unsur dakwah, hiburan, dan kebersamaan. Bagi masyarakat setempat, Bringbrung telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kerap hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW maupun berbagai upacara adat.
Lebih dari sekadar perayaan seni, “LEDENG.LEDENG.LEDENG” mengusung gagasan untuk membangun kembali rasa memiliki terhadap kota. Melalui berbagai karya dan diskusi yang dihadirkan, festival ini mengajak masyarakat melihat kembali persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk masalah lingkungan dan ruang publik.
Aktivitas konsumsi yang meningkat seiring pertumbuhan ruang komersial, misalnya, menghasilkan tumpukan sampah yang kerap terlihat di terminal, sudut jalan, hingga saluran air. Ketika kondisi tersebut terus berulang, masyarakat berisiko menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan kehilangan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Karena itu, ruang-ruang sehari-hari seperti terminal, gang, dan warung dipandang perlu dihidupkan kembali sebagai ruang sosial. Dengan cara tersebut, masyarakat tidak hanya menggunakan ruang kota sebagai tempat beraktivitas, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun hubungan, merawat lingkungan, dan memperkuat solidaritas.
“LEDENG.LEDENG.LEDENG” diharapkan menjadi pemantik percakapan antarwarga mengenai ruang hidup mereka sendiri—bagaimana ruang itu ditata, dijaga, dan dimaknai bersama.
Baca Juga: Mendefinisikan Ulang Kampung Kota di Bandung
Pembangunan Kota Bandung tanpa Melibatkan Warga Hanya Menghasilkan Penggusuran

Riwayat Ledeng
Nama Ledeng berasal dari kata Belanda leideng yang berarti saluran. Sebelum dikenal dengan nama tersebut, kawasan ini disebut Cibadak karena melimpahnya sumber mata air yang mengalir di wilayah tersebut. Masyarakat juga mengenalnya sebagai Nagrak, merujuk pada letaknya yang berada di dataran tinggi sehingga memungkinkan orang melihat bentang Kota Bandung dari kejauhan.
Pada 1921, pemerintah kolonial Belanda membangun **Gedong Cai Tjibadak** sebagai pusat distribusi air untuk Kota Bandung. Dari tempat itu, air dialirkan ke berbagai wilayah melalui jaringan perpipaan yang pada masanya menjadi simbol modernitas.
Peran Ledeng terus berkembang hingga menjadi simpul transportasi penting setelah berdirinya Terminal Ledeng pada 1978. Kehadiran terminal tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan yang berkembang pesat akibat pertumbuhan pendidikan, pariwisata, dan permukiman.
Namun, proses pembangunan tidak berlangsung tanpa konflik. Sejumlah warga harus menghadapi penggusuran akibat ketidaksepakatan mengenai ganti rugi. Peristiwa itu masih tersimpan dalam ingatan sebagian masyarakat sebagai bagian dari sejarah panjang kawasan Ledeng.
Melalui “LEDENG.LEDENG.LEDENG”, penyelenggara berupaya menghidupkan kembali ingatan kolektif tersebut. Ledeng tidak hanya dipandang sebagai terminal atau jalur lalu lintas, tetapi sebagai ruang hidup yang menyimpan sejarah, gagasan, ekspresi budaya, dan solidaritas sosial yang terus tumbuh bersama masyarakatnya.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


