Pangan Centils: Merawat Kembali Hubungan dengan Pangan di Tengah Kota
Melalui tradisi ngariung di Taman Cibeunying, Bandung peserta berbagi pangan lokal, cerita, dan praktik hidup alami.
Penulis Retna Gemilang19 Juni 2026
BandungBergerak - Di tengah hiruk pikuk Kota Bandung, puluhan orang berkumpul di Taman Cibeunying, Cihapit, Minggu pagi, 14 Juni 2026. Mereka datang dengan kendaraan pribadi, transportasi umum, hingga bersepeda. Sebagian mengenakan kain dan kebaya, sebagian lainnya berpakaian santai. Di tangan mereka, terselip aneka bawaan: alas duduk, biji-bijian, buah-buahan, nasi rembey, sukun, buku jurnal, zine, stiker, hingga karya seni.
Pagi itu, mereka kembali dipertemukan dalam Pangan Centils babak kedua. Sebuah ruang berbagi pangan, pengalaman, dan pengetahuan yang dibangun melalui tradisi ngariung.
Di taman kota tersebut, Pangan Centils menjadi ruang untuk mendekatkan kembali hubungan manusia dengan pangan, lingkungan, dan sesama. Melalui perjumpaan ini, peserta diajak mengenali kembali berbagai proses yang hadir di balik makanan yang mereka konsumsi sehari-hari.
Perjumpaan kali ini menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan edisi sebelumnya. Jika pada pertemuan pertama peserta ditemani permainan tradisional dan alunan Tarawangsa Astungkara, kali ini mereka diajak mendokumentasikan pengetahuan pangan melalui catatan fisik maupun digital sebagai arsip kolektif.
Pegiat Salira Sarerea, Dea, mengatakan Pangan Centils berangkat dari praktik permakultur, yakni cara hidup yang berupaya membangun hubungan yang lebih selaras antara manusia dan alam.
Menurutnya, hubungan dengan pangan tidak hanya dimulai dari apa yang dimakan, melainkan dari kesadaran terhadap aktivitas sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, pada tahun pertama penyelenggaraannya Pangan Centils lebih banyak berfokus pada observasi dan interaksi. Para peserta atau Kawan Centils diajak berpartisipasi sebagai kawan pantik, kawan rekam, dan kawan catat untuk mendokumentasikan berbagai cerita tentang pangan.
Dalam prosesnya, Salira Sarerea memperkenalkan enam laku keseharian, yakni gerak, interaksi, respons, ekspresi, jeda, dan kreasi.
"Yang enam itu teh rutinitas sih sebenarnya," ujar Dea. "Karena kan kita balik lagi, pangan mau sehat harus jadi laku, jadi ke rutinitas. (Kalau) cuma makan sehat sekali, enggak bisa."
Menurut Dea, Pangan Centils tidak bertujuan mencari satu jawaban atau cara hidup yang dianggap paling benar. Forum ini justru menjadi ruang untuk menelusuri beragam pengalaman dan hubungan yang tumbuh melalui keseharian.
Semangat tersebut tampak dalam berbagai cerita yang dibagikan peserta selama kegiatan berlangsung.
Mengenalkan Pangan Lokal di Tengah Kota
Di salah satu sudut taman, Kawan Centils bergiliran mengamati berbagai jenis beras dan polong-polongan. Sebagian masih utuh dengan tangkai dan cangkangnya.
Biji-bijian itu menjadi bahan utama nasi reumbeuy, hidangan tradisional Sunda yang dibuat dari campuran beragam jenis serealia dan kacang-kacangan. Dalam istilah modern, nasi reumbeuy kerap disebut sebagai multigrain.
Pangan tersebut dibawa oleh Asep dan istrinya, Heli, pegiat Pamolahan Sangkuriang. Di hadapan peserta, Asep menjelaskan bahwa nasi reumbeuy merupakan salah satu bentuk pangan lokal yang sejak lama dikenal masyarakat Sunda.
Menurutnya, setiap daerah memiliki versi reumbeuy yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan campuran beras putih, merah, atau hitam, beras ketan, jagung, kacang kedelai, kacang merah, dan berbagai bahan lainnya.
Meski sederhana, nasi reumbeuy memiliki kandungan gizi yang beragam. Campuran berbagai biji-bijian di dalamnya menyediakan karbohidrat, protein, serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Lebih jauh, Asep melihat nasi reumbeuy sebagai salah satu bentuk diversifikasi pangan yang relevan di tengah ancaman krisis iklim dan pangan. Sebagian besar bahan penyusunnya dapat ditanam di pekarangan, disimpan dalam waktu lama, dan tidak bergantung pada satu jenis komoditas.
"Ini sebagai penyimpanan cadangan makanan. Si biji itu kan dia kuat kalau masih ada di dalam cangkangnya, dia enggak busuk kalau sudah dikeringkan," tuturnya.
Melalui Pamolahan Sangkuriang, Asep aktif memperkenalkan nasi reumbeuy ke berbagai komunitas di Bandung. Ia juga mendorong praktik barter, penguatan pasar lokal, serta kebiasaan menanam pangan secara mandiri.
Sebagai peladang, Asep berkebun bersama Mang Ajo dan Teh Pila di kawasan Leuwigoeng, Dago, serta Kampung Adat Cikondang, Kabupaten Bandung. Hasil panennya kemudian diolah di Pamolahan Sangkuriang di kawasan Setiabudi.
"Karena dengan menanam salah satu bentuk perlawanan kan?" pungkasnya.
Baca Juga: Bandung Krisis Produksi Pangan, 97 Persen Suplai dari Luar di Saat Ruang Terbuka Hijau Terus Menyusut
Pangan Centils: Menghubungkan Pangan, Tubuh, dan Budaya

Sukun sebagai Pangan Masa Depan
Cerita lain datang dari Riyan Sumindar dari Sukun Nusantara Sejahtera. Di bawah rindangnya pepohonan Taman Cibeunying, ia memperlihatkan buah sukun yang selama ini akrab ditemui masyarakat, tetapi jarang dipandang sebagai sumber pangan utama.
Menurut Riyan, sukun merupakan tanaman yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan iklim. Pohonnya dapat tumbuh di wilayah tropis maupun subtropis, berbuah selama puluhan tahun, dan tetap bertahan pada kondisi cuaca yang tidak menentu.
"Kalau beras habis karena gagal panen, sukun tetap ada. Kalau musim kemarau panjang, sukun masih bisa bertahan," ujarnya.
Sukun dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, mulai dari keripik hingga tepung. Tepung sukun secara alami bebas gluten, kaya serat, serta mengandung berbagai vitamin dan mineral.
Selain manfaat pangan, sukun juga memiliki fungsi ekologis. Pohonnya membantu menjaga kesuburan tanah, menahan erosi, meningkatkan daya serap air, dan menyerap karbon dioksida dari atmosfer.
Bagi Riyan, sukun bukan tanaman yang tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, ia merupakan sumber pangan lokal yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Nusantara, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Di tengah kekhawatiran akan krisis pangan dan iklim, sukun menawarkan alternatif yang sebenarnya tumbuh tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Bagi sebagian peserta, hubungan dengan pangan tidak berhenti pada apa yang dikonsumsi. Hubungan itu juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan tempat pangan tumbuh dan kehidupan berlangsung dikelola bersama.
Pandangan tersebut disampaikan Dian Nurdiana dari Komunitas Masagi Tjibogo.
Komunitas yang berbasis di Sukajadi, Bandung, itu lahir dari keresahan terhadap persoalan sampah di lingkungan tempat tinggal. Nama Masagi merupakan singkatan dari Masyarakat Bersinergi.
Dian, yang pernah menjabat sebagai Ketua RT, menilai berbagai persoalan lingkungan pada dasarnya berakar pada perilaku manusia. Karena itu, pendekatan yang dilakukan komunitasnya tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga membangun kesadaran warga.
"Sekarang saya fokus di pengelolaan sampah dan pengelolaan manusia. Karena berbicara lingkungan, berbicara pencemaran adalah sumbernya perilaku, balik lagi ke perilaku," katanya.
Salah satu program yang dikembangkan adalah perelek sampah. Program ini mengadaptasi tradisi perelek yang dahulu menggunakan beras sebagai bentuk gotong royong. Di tangan Masagi Tjibogo, konsep tersebut diterapkan melalui pengumpulan sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Melalui sistem jemput bola dari rumah ke rumah, warga didorong memilah sampah sejak dari sumbernya.
Komunitas ini juga mengolah kantong plastik dan jas hujan sekali pakai menjadi berbagai produk kerajinan seperti tas, dompet, gantungan kunci, dan aksesori. Sementara sampah organik diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk budidaya tanaman maupun pakan ternak melalui kolaborasi dengan komunitas lain.
Selain itu, Dian mengembangkan Sakoling atau Sakola Lingkungan, ruang belajar yang mengenalkan isu lingkungan kepada anak-anak sejak usia dini.
Menurutnya, keterlibatan warga, terutama para ibu, menjadi salah satu kekuatan utama dalam membangun perubahan di tingkat akar rumput.
Menjelang acara berakhir, suasana di Taman Cibeunying semakin hangat. Kawan Centils mulai saling bertukar bawaan yang mereka bawa dari rumah sambil membagikan cerita di baliknya. Tawa dan percakapan mengalir di sela permainan tradisional yang dimainkan bersama.
Melalui perjumpaan tersebut, peserta diajak melihat pangan bukan sekadar sesuatu yang dikonsumsi, melainkan bagian dari hubungan yang lebih luas dengan tubuh, budaya, lingkungan, dan sesama.
Pada akhir musim, berbagai catatan dan dokumentasi yang terkumpul akan dirangkai menjadi Zine CENTILS, sebuah arsip kolektif yang merekam berbagai pengalaman, pengetahuan, dan cerita tentang pangan. Arsip itu diharapkan menjadi jejak yang dapat terus dibaca dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


