• Berita
  • Asep Ardian dan Oni Jouska, Sebuah Kesederhanaan yang Mengarungi Lautan

Asep Ardian dan Oni Jouska, Sebuah Kesederhanaan yang Mengarungi Lautan

Bagi Asep Ardian, sastra merupakan kesederhanaan yang dirajut di sela-sela menunggu pembeli di balik gerobak batagor di Bandung.

Diskusi dan bedah buku Oni Jouska di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 26 Juni 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 19 Juni 2026


BandungBergerak – Sampai hari ini sastra masih dianggap sebagai sesuatu yang megah, dilengkapi dekorasi kata-kata rumit yang baru dapat dimengerti ketika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sebaliknya bagi Asep Ardian, sastra adalah kesederhanaan di jeda sepi tidak adanya pembeli, di belakang gerobak batagor yang ia jual, atau di waktu-waktu menunggu ibu menjalani pengobatan.

Sebagai seorang pedagang batagor, Asep cukup berjarak dengan dengan teori-teori ataupun perbincangan akademis lainnya terkait sastra. Jelas ia jauh lebih mengetahui keluhan-keluhan pedagang di pasar tentang kenaikan harga ikan tenggiri, tepung kanji serta tahu putih dibandingkan dengan perdebatan atau keluhan orang-orang terhadap sebuah karya sastra.

Terlebih, sedari kecil Asep juga bukanlah seorang pembaca yang taat. ia hidup di luar infrastruktur privilese-privilese sebagai pembaca yang bisa dengan mudah membeli buku kapanpun ia mau. Maka, adalah sebuah keistimewaan jika dengan segala keterbatasannya, Asep melalui karyanya berupa novel yang berjudul “Oni Jouska” dapat meraih penghargaan Shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Asep sendiri menuntaskan novel “Oni Jouska” di sela-sela kesehariannya berdagang batagor di salah satu jalan Kota Bandung. Selama kurang lebih lima tahun, novel ini ia susun sedikit demi sedikit, bergantian dengan kesibukannya melayani pembeli, juga bersiap-siap untuk tetap berdagang di keesokan hari.

Mungkin karena kesederhanaan proses penulisannya yang lekat dengan keseharian serta jauh dari teori-teori asing, “Oni Jouska” pada akhirnya menjadi sebuah karya sederhana yang sebab itu jugalah ia terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui novel ini Asep mencurahkan keresahannya tentang banyak hal dari kehidupan yang selama ini ia jalani. Ia memilih ikan remora untuk menjadi tokoh utama yang menggambarkan itu semua, seekor ikan kecil dengan segala keterbatasannya berbicara kepada manusia mengenai petualangannya mengarungi samudra luas.

Menemukan Ikan Remora

Cara Asep menemukan tokoh Oni Jouska yang merupakan seekor ikan remora juga cukup unik. Pada mulanya, ia justru sempat merancang sebuah cerita berjudul “Utopis” dengan tokoh utama cerita seekor paus yang dapat berbicara kepada manusia. Namun, dalam masa-masa risetnya mengenai paus untuk tulisan tersebut, perhatian Asep seketika tertuju pada ikan-ikan kecil yang berenang menempel di sekeliling tubuh ikan paus.

Dari sanalah ia baru mengetahui adanya ikan remora di lautan dan mulai mencari literatur-literatur yang bisa ia baca terkait ikan kecil ini. Hingga pada akhirnya, Asep merasa bahwa ikan remora sangat cocok untuk membawa keresahan-keresahan yang ingin ia ungkapkan melalui cerita, termasuk tentang perasaan terabaikan dan tersisihkan.

“Ketika menemukan ikan remora itu aku punya kesadaran, ternyata novel itu bukan hanya bisa bercerita. Jadi kita juga bisa curhat di sana, berbeda dengan cerpen yang ringkas banget. Dan si Oni itu bisa jadi wadah aku untuk curhat soal kehidupan yang disisihkan,” ungkap Asep dalam sebuah diskusi mengenai bukunya di Perpustakaan Bunga di Tembok, Sabtu, 13 Juni 2026.

“Oni Jouska” memang lebih dari sekedar cerita bagi Asep. Rangkaian kalimat yang ia susun dalam buku setebal lebih dari 100 halaman ini merupakan curhatannya mengenai kehidupan. Ia juga menceritakan kehilangan yang menimpa hidupnya.

Melalui ikan ikan remora, yang bertahan hidup dengan cara menempel pada ikan besar lain, ia berada dalam posisi rentan. Suatu saat justru ia tidak lagi bisa menempel karena keterbatasan yang ia miliki.

“Dari eksistensial diri, dari aku kerjanya apa terus apa yang bisa aku lakuin ketika bekerja sehari-hari. Semua keresahan itu aku gambarkan atau keluarkan di sebuah perumpamaan yang tempatnya adalah ikan remora itu,” tambah Asep.

Ikan remora seolah menjadi perumpamaan yang sempurna untuk setiap keresahan yang Asep miliki sebagai penulis. Tokoh Oni Jouska mencerminkan perjalanan hidup seseorang dalam mengarungi lautan.

Baca Juga: Melihat Laut dari Mata Ikan Remora, Kritik Ekologis dari Novel Oni Jouska
Hikayat Ikan Remora

Diskusi dan bedah buku Oni Jouska di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 26 Juni 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)
Diskusi dan bedah buku Oni Jouska di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 26 Juni 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)

Sastra yang Bisa Dimiliki oleh Siapa pun

Kini, dengan penghargaan yang ia dapat, nama Asep Ardian telah tertulis sebagai salah satu penulis yang tidak lagi bisa diabaikan atau disisihkan begitu saja. Selayaknya Oni Jouska yang pada akhirnya berenang sendiri dan tak lagi perlu menempel pada tubuh ikan lainnya.

Bob anwar, seorang penulis dan mussisi yang juga kawan Asep, menuliskan dalam esainya yang berjudul “Ikan Remora”. Bahwa apa yang dilakukan oleh Asep adalah bukti mengenai karya sastra tidak selalu lahir dari seberapa pandai kita menempel pada kekuasaan atau seberapa fasih kita mencari selamat di bawah perut penguasa.

“Bagi saya Asep ini fenomenal sekali, seorang yang dianggap sebeleh mata oleh pekerja teks dan akademisi khususnya atau teman-teman sastrawan, yang tidak punya privilse apa pun. Dia berhasil tumbuh dari ruang lingkupnya itu, secara tidak langsung Asep membawa semangat bahwa sastra bisa dimiliki oleh siapa pun,” ujar Bob Anwar dalam diskusi yang sama.

Suci Atmarani, pegiat literasi, menyatakan perjuangan Oni Jouska yang hidup tanpa bisa menempel di tubuh ikan lain sebagaimana seharusnya ikan remora hidup pada umumnya menjadi pesan kuat.

“Tapi karena itu dia tidak bisa menempel dengan ikan-ikan besar lainnya, sehingga itu membuat dia lebih struggle untuk mengarungi lautan,” ungkap Suci.

Pesan itu menjadi motivasi yang berasal dari semangat juang Oni Jouska yang tidak pernah berhenti berenang meski terlahir berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan dan keterbatasan inilah yang membuat cerita “Oni Jouska” kian menarik dan terhubung dengan banyak pengalaman hidup para pembacanya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//