• Berita
  • Melihat Laut dari Mata Ikan Remora, Kritik Ekologis dari Novel Oni Jouska

Melihat Laut dari Mata Ikan Remora, Kritik Ekologis dari Novel Oni Jouska

Asep Ardian menyulap remora kecil menjadi cermin perilaku manusia, mengajak pembaca menyadari kerusakan laut karena aktivitas kita.

Bincang buku novel Oni Jouska di Pustaka CCita, The Hallway Space, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah10 Mei 2026


BandungBergerak - Laut yang sering digambarkan indah bak puisi, dibongkar permasalahannya oleh Asep Ardian dalam novel Oni Jouska. Tokoh utamanya, seekor ikan remora kecil, berpetualang di antara tumpukan sampah plastik, memaksa pembaca melihat laut dari perspektif makhluk nonmanusia.

Evi Sri Rezeki, narasumber dalam diskusi buku Oni Jouska di Pustaka CCita, The Hallway Space, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026 menilai novel ini menghadirkan sudut pandang yang unik. Menurutnya, cara bercerita Asep Ardian mengajak pembaca menjauh dari perspektif manusia-sentris yang selama ini mendominasi wacana lingkungan.

“Selama ini kita terlalu sering melihat laut sebagai sesuatu yang jauh, padahal apa yang kita lakukan di darat berdampak langsung ke sana,” kata Evi yang juga penulis novel.

Evi menyebut novel pemenang daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 ini terasa personal sekaligus mengganggu. Ia mengibaratkan dirinya “memakan ikan plastik,” sebuah metafora keterlibatan manusia dalam rantai kerusakan ekologis. Laut bukan lagi ruang asing, tetapi cermin perilaku manusia sendiri.

Penggunaan fabel, menurut Evi, menjadi keputusan penting. Tidak seperti fabel konvensional yang sederhana dan moralistik, Oni Jouska menyajikan refleksi yang kompleks. Pesan cerita muncul secara implisit, menuntut pembaca merenung sendiri.

“Fabel biasanya memberi pesan di akhir. Di sini tidak. Pembaca diajak merenung sendiri,” ujarnya.

Pemilihan ikan remora sebagai tokoh utama dinilai cerdas. Sifat ikan ini ambigu—simbol mutualisme, komensalisme, bahkan parasitisme—merepresentasikan relasi manusia dalam kehidupan sosial yang jarang hitam-putih.

Evi menambahkan, perspektif ikan juga menyoroti ekologi politik. Lingkungan, yang sering menjadi latar, kini ditampilkan sebagai pihak yang merasakan dampak relasi kuasa manusia.

“Lewat sudut pandang ikan, kita diajak melihat bahwa dampak relasi kuasa manusia itu juga dirasakan oleh makhluk lain,” jelasnya.

Novel ini juga menghadirkan empati. Melalui imajinasi sastra, pembaca diajak memahami kehidupan dan “perasaan” makhluk non-manusia. Evi menegaskan, Oni Jouska bukan sekadar karya sastra, tetapi medium refleksi hubungan manusia dengan lingkungan. 

“Di situ saya merasa, ini bukan hanya cerita tentang ikan, tapi tentang kita juga,” tuturnya.

Baca Juga: RISET UPI: Perlawanan Perempuan terhadap Ketidaksetaraan Gender dalam Novel-novel Indonesia Era Reformasi
Menelusuri Bandung Bersama Hasan dalam Novel Atheis

Menulis dan Melukis di Sela-sela Dagang Batagor

Oni Jouska diterbitkan kembali oleh Marjin Kiri (2026) dengan editor Prihandini Nur Rahmah. Dari 294 halaman di edisi pertama Ellunar Publisher, kini novel menjadi 132 halaman.

Novel ini lahir di sela-sela kerja utama Asep sebagai penjual batagor. Ia mengaku ide menuisnya bisa muncul kapan saja, baik di jalan maupun pasar.

“Kalau ada ide, langsung dicatat di HP,” katanya.

Menulis, menurutnya, bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kebiasaan konsisten. Inspirasi sebagian besar berasal dari ingatan dan pengalaman masa kecil, termasuk unsur kenabian dalam novel.

Tokoh remora dipilih setelah riset. Semula ia menulis paus, namun remora dianggap lebih relevan sebagai simbol manusia yang bergantung pada pihak lebih kuat. “Remora itu bisa mewakili banyak hal, termasuk kecenderungan manusia yang ‘ikut yang besar’,” jelasnya.

Dalam peluncuran buku, Asep menggelar pameran bertema laut. Tujuh lukisan ditampilkan, termasuk Hidup Dalam Dualisme (90 x 90 cm, cat akrilik), menggambarkan manusia yang mempercayai dualisme dalam berbagai ilmu.

Lukisan-lukisan ini sebelumnya dipamerkan saat peluncuran cetakan pertama 2024 dan menjadi bagian dari rangkaian peluncuran buku secara mandiri.

Asep baru mulai melukis pada Februari 2024 tanpa latar belakang formal. Dalam delapan bulan, ia menghasilkan 13 lukisan. Proses melukis berjalan beriringan dengan penulisan novel, menuangkan keresahan tokoh ke kanvas, termasuk karakter Marisa yang menghadapi stigma sosial.

Dari 13 karya, tujuh dipamerkan, sisanya tersebar di komunitas dan kafe, dijual dengan harga 500 ribu–5 juta rupiah. Beberapa karya telah terjual, sebagian hasilnya disumbangkan.

“Awalnya ada janji ke diri sendiri, sebelum menikah harus launching buku. Sekalian saja bikin pameran,” kata Asep.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//