• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Dari Riasan Jadi Racun, Tinjauan Kimia Bedak Berbahaya ala Anime The Apothecary Diaries

MAHASISWA BERSUARA: Dari Riasan Jadi Racun, Tinjauan Kimia Bedak Berbahaya ala Anime The Apothecary Diaries

Bahaya bahan kimia dalam kosmetik bukan hanya ada dalam cerita. Produk kosmetik mengandung bahan berbahaya, termasuk logam berat, masih banyak ditemukan di pasaran.

Dea Gabriela Halim

Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Gaya hidup. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

19 Juni 2026


BandungBergerakThe Apothecary Diaries adalah anime yang menceritakan Maomao, seorang gadis yang memiliki banyak pengetahuan tentang obat-obatan dan racun di lingkungan istana kekaisaran. Dalam anime ini, berbagai misteri di istana sering kali berhasil dipecahkan melalui penjelasan ilmiah. Salah satu kasus yang cukup menarik adalah kematian misterius bayi selir Lihua. Awalnya peristiwa tersebut dianggap sebagai penyakit atau hal yang tidak biasa, tetapi Maomao menemukan bahwa penyebabnya adalah bedak wajah yang digunakan selir Lihua. Bedak tersebut mengandung timbal, yaitu logam berat yang berbahaya bagi kesehatan. Kasus ini menunjukkan bahwa kosmetik yang digunakan sehari-hari pun dapat menimbulkan risiko jika mengandung bahan berbahaya.

Kasus tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Keinginan untuk mempercantik diri dengan biaya yang relatif murah mendorong sebagian orang menggunakan kosmetik tanpa memperhatikan kandungan bahan kimia yang terdapat di dalamnya. Akibatnya, di pasaran masih terdapat beberapa produk kosmetik yang teridentifikasi mengandung logam berat, terutama timbal dan merkuri dengan harga murah, yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan pengguna. Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2014, ditemukan 68 produk kosmetik yang positif mengandung komponen yang membahayakan kesehatan, di antaranya Rhodamin B, timbal (Pb), dan merkuri (Hg). Temuan tersebut menunjukkan bahwa kandungan kosmetik sangat perlu diperhatikan karena dapat berdampak bagi kesehatan pengguna.  Dalam hal ini, ilmu dalam teknik kimia mempunyai peran dalam memahami keamanan bahan kimia yang digunakan pada produk kosmetik.

Dalam anime The Apothecary Diaries, para selir di istana menggunakan bedak putih sebagai kosmetik pencerah kulit untuk mempercantik penampilan. Penggunaan kosmetik tersebut lazim digunakan karena kecantikan adalah salah satu hal yang diperhatikan dalam lingkungan istana. Kosmetik tersebut rutin digunakan sebagai bagian perawatan wajah para selir.

Kasus ini mulai menjadi perhatian ketika bayi-bayi para selir, termasuk anak selir Lihua, mengalami gangguan kesehatan misterius. Banyak orang menganggap bahwa kejadian tersebut adalah kutukan atau penyakit aneh. Namun, Maomao menyadari bahwa masalah tersebut berkaitan dengan bedak putih yang digunakan para selir di istana. Bedak tersebut ternyata mengandung timbal yang berbahaya bagi kesehatan apabila digunakan terus-menerus. Kasus ini menunjukkan bahwa kosmetik yang awal nya untuk mempercantik diri justru bisa membahayakan diri apabila mengandung bahan kimia yang berbahaya.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Saat Plastik Menjadi Hijau, Benarkah Bioplastik Ramah Lingkungan?
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Fenomena Flexing Menormalisasi Tekanan Sosial pada Anak Muda
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Kandungan Berbahaya dalam Kosmetik

Di antara berbagai kontaminan pada kosmetik, timbal (Pb) merupakan logam berat yang dapat ditemukan pada beberapa produk bedak wajah dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan. Dalam The Apothecary Diaries, diceritakan bahwa bedak putih yang digunakan para selir mengandung timbal sehingga dapat membahayakan kesehatan jika dipakai terus-menerus. Hal tersebut ternyata juga terjadi di dunia nyata. Pada zaman dahulu, timbal sering digunakan sebagai campuran kosmetik karena dapat memberikan efek kulit putih cerah yang dianggap cantik dan menunjukkan status sosial tinggi. Ratu Elizabeth I pernah menggunakan bedak yang terbuat dari campuran timbal dan cuka untuk menyamarkan bekas cacar pada wajah serta membuat kulit tampak lebih pias. Kebiasaan ini merupakan standar kecantikan pada masa itu, di mana kulit putih pucat dianggap sebagai simbol status dan kemewahan di kalangan bangsawan Eropa.

Dalam kehidupan nyata, timbal dapat diabsorpsi oleh kulit dan kemudian masuk ke dalam tubuh karena sifatnya yang mudah larut dalam lemak atau minyak. Jika terpapar dalam waktu lama, timbal dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti keracunan kronis, gangguan sistem saraf, pencernaan, dan peredaran darah. Timbal juga dapat menumpuk di dalam tubuh dan menimbulkan gejala seperti sakit kepala, tubuh lemas, sakit perut, hingga gangguan perkembangan pada bayi. Dalam kajian Makulubi (2024), paparan timbal secara terus-menerus dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan, terutama pada ibu dan anak. Hal ini serupa dengan yang terjadi dalam The Apothecary Diaries, di mana penggunaan bedak yang mengandung timbal menjadi salah satu penyebab gangguan kesehatan pada bayi selir Lihua. Oleh karena itu, kandungan bahan kimia dalam kosmetik perlu diperhatikan agar produk yang digunakan tetap aman bagi kesehatan.

Dalam industri kosmetik, ilmu Teknik Kimia memiliki peran penting dalam menganalisis kandungan bahan pada suatu produk untuk memastikan keamanan penggunaannya. Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah produk kosmetik mengandung logam berat, khususnya timbal dan merkuri. Metode yang digunakan adalah Spektrometri Serapan Atom (SSA), yaitu metode analisis yang mampu mendeteksi kadar logam berat secara teliti pada produk kosmetik.

Dewi dan rekan-rekannya  pada taun 2019 menemukan dua sampel kosmetik di Kota Malang yang mengandung timbal dengan kadar sekitar 23–29 mg/kg. Pada tahun yang sama, Arifiyana juga melaporkan tiga sampel kosmetik di Kota Surabaya dengan kandungan timbal berkisar 21–27 mg/kg.  Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 17 Tahun 2014, kadar timbal dalam kosmetik tidak boleh melebihi 20 mg/kg. Oleh karena itu, nilai yang diperoleh pada penelitian tersebut telah melampaui ketentuan yang berlaku.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa kosmetik yang terkontaminasi timbal dengan kadar di atas batas aman masih dijumpai di pasaran dan dapat menimbulkan risiko kesehatan melalui penggunaan berkepanjangan. Maka dari itu, diperlukan analisis untuk menjamin mutu dan keamanan produk sebelum diedarkan kepada masyarakat. Dengan penerapan ilmu Teknik Kimia, kandungan logam berat dalam kosmetik dapat diketahui sehingga risiko penggunaan produk berbahaya dapat dikurangi.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Topik mengenai kandungan bahan berbahaya dalam kosmetik masih relevan dengan kehidupan modern karena penggunaan produk kecantikandi masyarakat terus meningkat. Tidak hanya dalam anime The Apothecary Diaries, di mana kosmetik digunakan untuk menunjang penampilan dan status sosial, di masa sekarang banyak orang menggunakan produk kecantikan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan memenuhi standar kecantikan tertentu.

Menurut Limantoro, dalam penelitiannya pada 2023, sebanyak 73 persen perempuan Indonesia rutin berbelanja kosmetik setiap bulan. Ia juga menemukan bahwa 77 persen masyarakat Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, membeli produk skincare setidaknya satu kali dalam sebulan. Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa produk kecantikan telah menjadi bagian penting dari kebutuhan dan gaya hidup masyarakat sehari-hari.

Dengan meningkatnya penggunaan kosmetik, masyarakat perlu lebih selektif dalam menentukan produk yang akan digunakan serta memastikan keamanannya telah memenuhi standar yang berlaku. Hal ini karena masih ditemukan produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, termasuk logam berat timbal dan merkuri yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan jika digunakan terus-menerus. Pengawasan kualitas produk dan analisis kandungan bahan kimia dalam kosmetik menjadi hal yang penting untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Bahaya bahan kimia dalam kosmetik bukan hanya ada dalam cerita, tetapi juga dapat terjadi di dunia nyata. Oleh karena itu, sebagai konsumen kita perlu lebih teliti dalam memilih produk kecantikan dan tidak mudah tergiur oleh hasil instan. Jangan sampai keinginan untuk tampil cantik justru mengorbankan kesehatan yang jauh lebih berharga dan sulit untuk dipulihkan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//