MAHASISWA BERSUARA: Ketika Fenomena Flexing Menormalisasi Tekanan Sosial pada Anak Muda
Fenomena flexing menjadi berbahaya bukan karena ada orang yang memamerkan keberhasilan, tetapi karena masyarakat mulai percaya bahwa keberhasilan harus dipamerkan.

Lauwrencia Darmawan
Mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
15 Juni 2026
BandungBergerak – Di tengah banjir konten media sosial, flexing bukan lagi sekadar pamer barang mahal, liburan, atau pencapaian pribadi. Ia telah berubah menjadi bahasa baru tentang nilai diri. Anak muda tidak hanya diajak melihat keberhasilan orang lain, tetapi juga dipaksa membandingkan hidupnya dengan standar yang terus bergerak. Yang berbahaya, tekanan itu sering disamarkan sebagai motivasi. Padahal, tidak semua yang terlihat menginspirasi benar-benar membebaskan.
Flexing tampak sepele karena dibungkus estetika: foto rapi, caption percaya diri, musik kemenangan, dan narasi “kerja keras tidak mengkhianati hasil”. Namun di balik kemasan itu, ada pesan sosial yang provokatif: kalau belum punya sesuatu untuk dipamerkan, berarti hidupmu belum cukup berhasil. Inilah titik ketika flexing berhenti menjadi ekspresi personal dan mulai menjadi mesin pembentuk rasa kurang pada orang lain.
Anak muda adalah kelompok yang paling rentan karena mereka sedang membangun identitas. Pada fase ini, pengakuan sosial terasa sangat penting. Media sosial mempercepat proses itu dengan menyediakan panggung yang selalu terbuka. Setiap unggahan seolah menjadi ujian kecil: siapa yang lebih sukses, lebih cantik, lebih populer, lebih produktif, dan lebih “mahal”. Akibatnya, kehidupan sehari-hari berubah menjadi kompetisi diam-diam yang melelahkan.
Masalahnya bukan pada orang yang berhasil lalu membagikan pencapaiannya. Tidak adil jika semua bentuk berbagi dianggap sombong. Yang patut dikritik adalah budaya yang membuat pamer terlihat seperti kewajiban sosial. Banyak anak muda kini merasa harus menunjukkan bukti bahwa mereka sedang maju: kopi di kafe tertentu, gawai terbaru, tiket konser, pekerjaan bergengsi, atau relasi yang tampak sempurna. Tanpa bukti visual, keberhasilan seolah tidak sah.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Pengakuan pada Becak di Bandung Berhenti Bersamaan dengan Matinya Pajak Kendaraan Mereka
MAHASISWA BERSUARA: Saat Plastik Menjadi Hijau, Benarkah Bioplastik Ramah Lingkungan?
MAHASISWA BERSUARA: Pungli dan Wajah Suram Pelayanan Publik di Indonesia
Tekanan Sosial
Di sinilah flexing menormalisasikan tekanan sosial. Ia mengubah keinginan pribadi menjadi tuntutan kolektif. Seseorang mungkin awalnya tidak membutuhkan barang mewah, tetapi setelah melihat lingkungannya memamerkan gaya hidup tertentu, ia merasa tertinggal. Bukan karena hidupnya benar-benar buruk, melainkan karena algoritma terus memperlihatkan hidup orang lain dalam versi paling mengkilap. Perlahan, rasa syukur digantikan oleh rasa panik untuk mengejar simbol yang belum tentu dibutuhkan. Perbandingan yang tidak adil itu kemudian dianggap wajar.
Lebih problematis lagi, flexing sering menciptakan ilusi meritokrasi. Seolah siapa pun yang belum sukses hanya kurang usaha, kurang berani, atau kurang pintar mengambil peluang. Narasi ini terdengar membakar semangat, tetapi juga kejam. Ia mengabaikan fakta bahwa setiap orang berangkat dari kondisi ekonomi, akses pendidikan, jaringan keluarga, dan keberuntungan yang berbeda. Ketika semua perbedaan itu dihapus, kegagalan mudah sekali dianggap sebagai kesalahan pribadi.
Dampaknya tidak hanya soal iri hati. Tekanan untuk tampil berhasil dapat mendorong perilaku konsumtif, utang impulsif, kecemasan, bahkan rasa malu terhadap kehidupan sendiri. Banyak anak muda akhirnya membeli bukan karena butuh, melainkan karena ingin terlihat tidak kalah. Mereka bekerja keras bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk memproduksi citra. Ironisnya, citra itu sering lebih mahal daripada kebutuhan nyata.
Namun, posisi ini tetap debatable. Ada yang berpendapat bahwa flexing bisa menjadi pemantik ambisi. Melihat orang lain sukses dapat membuat seseorang termotivasi untuk belajar, bekerja, dan bermimpi lebih besar. Argumen ini tidak sepenuhnya salah. Masalahnya, motivasi yang sehat memberi ruang untuk proses, sedangkan budaya flexing sering hanya menampilkan hasil. Ketika proses disembunyikan dan hasil dibesarkan, motivasi mudah berubah menjadi tekanan.
Karena itu, kritik terhadap flexing bukan berarti membenci kesuksesan. Yang perlu dilawan adalah cara masyarakat mengukur nilai manusia hanya dari apa yang bisa dipamerkan. Anak muda perlu diberi pemahaman bahwa hidup bukan lomba unggahan. Tidak semua pencapaian harus terlihat publik, tidak semua proses harus dipamerkan, dan tidak semua kebahagiaan membutuhkan validasi angka like.
Media Sosial yang Tidak Netral
Media sosial juga perlu dibaca sebagai ruang yang tidak netral. Algoritma cenderung mengangkat konten yang memancing perhatian, termasuk kemewahan dan drama perbandingan. Semakin banyak orang merasa kurang, semakin lama mereka bertahan di layar. Dengan kata lain, rasa minder dapat menjadi komoditas. Kesadaran ini penting agar anak muda tidak mudah menyalahkan diri sendiri ketika merasa tertinggal oleh kehidupan yang sebenarnya sudah dikurasi.
Selain itu, lingkungan sekitar sering ikut memperkuat tekanan tersebut. Pertanyaan seperti kapan punya barang tertentu, kapan liburan, kapan naik jabatan, atau kapan terlihat mapan membuat anak muda merasa hidupnya terus diaudit. Flexing lalu menjadi jawaban defensif: seseorang memamerkan sesuatu agar tidak dianggap gagal. Pada titik ini, pamer bukan lagi pilihan bebas, melainkan strategi bertahan dari penilaian sosial.
Pada akhirnya, fenomena flexing menjadi berbahaya bukan karena ada orang yang memamerkan keberhasilan, tetapi karena masyarakat mulai percaya bahwa keberhasilan harus dipamerkan. Tekanan sosial menjadi normal ketika semua orang diam-diam sepakat untuk terus membandingkan diri. Maka, sikap paling radikal hari ini mungkin bukan ikut terlihat kaya, produktif, atau sempurna, melainkan berani hidup cukup tanpa merasa perlu membuktikan apa pun kepada penonton yang bahkan tidak benar-benar peduli.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


