Ketika Kolaborasi Lintas Kampus Menyentuh Kandang dan Susu Sapi Pangalengan
Program pemberdayaan Unpad dan Universiti Putra Malaysia mempertemukan ilmu pengetahuan dan pengalaman peternak untuk mewujudkan keamanan pangan susu sapi.

Tim Penulis Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universiti Putra Malaysia (UPM)
Ellin Harlia, Devi Maulida Rahmah, Eulis Tanti Marlina, Nuzul Noorahya binti Jambari, Nor Khaizura
19 Juni 2026
BandungBergerak - Segelas susu yang aman dikonsumsi tidak hanya ditentukan oleh kesehatan sapi perah. Di baliknya terdapat mata rantai panjang yang dimulai dari kebersihan kandang, sanitasi lingkungan, pengelolaan limbah, hingga tata kelola peternakan yang berkelanjutan. Ketika salah satu mata rantai itu terputus, kualitas susu pun ikut terancam.
Kesadaran inilah yang melandasi kolaborasi internasional antara Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam program pemberdayaan masyarakat bertajuk International Equity WCU Unpad. Program tersebut berupaya meningkatkan wawasan peternak sapi perah mengenai keamanan pangan, khususnya susu, sekaligus memperkuat praktik peternakan rendah karbon melalui pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini mempertemukan dosen dan mahasiswa dari dua negara. Tim Unpad terdiri atas tiga dosen bersama 12 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Sementara itu, UPM mengirimkan dua dosen dan lima mahasiswa program doktor. Kegiatan puncaknya berlangsung pada 2 Februari 2026 di Panorama Ecopark, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, dengan melibatkan sekitar 40 peternak sapi perah, anggota PKK, Karang Taruna, perangkat Desa Pulosari, serta dukungan CSR BUMN PJT Air II.
Namun, pelatihan tersebut hanyalah satu bagian dari rangkaian program yang lebih panjang. Tim pengabdian juga melakukan kunjungan ke peternakan sapi perah di Lembang serta lokasi pengolahan limbah menjadi media budidaya jamur di Subang sebagai bagian dari pembelajaran praktik ekonomi sirkular yang telah berkembang di masyarakat.
Dalam hal ini, susu merupakan bahan pangan yang sangat rentan terhadap pencemaran. Cemaran biologis berupa bakteri maupun cemaran kimia dapat menurunkan kualitas susu bahkan membahayakan kesehatan konsumen.
Karena itu, keamanan susu tidak bisa dilepaskan dari kondisi peternakan. Kebersihan kandang, kebersihan tubuh sapi, peralatan pemerahan, hingga lingkungan sekitar menjadi faktor penting yang menentukan mutu susu yang dihasilkan.
Lingkungan kandang yang kurang terawat juga menjadi tempat berkembangnya lalat yang membawa berbagai bakteri penyebab pencemaran susu. Semakin buruk sanitasi peternakan, semakin besar pula risiko kontaminasi.
Persoalan tersebut menjadi titik awal program pemberdayaan yang dilaksanakan di kelompok peternak sapi perah Babakan Kiara 01, Desa Pulosari. Melalui pendekatan partisipatif, tim Unpad dan UPM bersama-sama mengidentifikasi persoalan sanitasi yang dihadapi peternak sebelum menyusun program pelatihan.
Metode yang digunakan tidak berhenti pada penyuluhan semata. Program diawali dengan identifikasi masalah, dilanjutkan dengan perencanaan bersama antara dosen dan mahasiswa dari kedua universitas, kemudian dilaksanakan melalui tiga kali kunjungan lapangan yang diisi pelatihan, demonstrasi teknologi, diskusi interaktif, evaluasi, hingga pendampingan untuk memastikan keberlanjutan program.
Pendekatan kemitraan tersebut dipilih agar perubahan yang dihasilkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi benar-benar diterapkan dalam aktivitas peternakan sehari-hari.
Puncak kegiatan berlangsung ketika tim UPM hadir di Pangalengan selama empat hari. Dosen dari kedua perguruan tinggi bergantian menjadi narasumber.
Tim UPM menyampaikan materi bertajuk "Petunjuk Sanitasi dan Keamanan Susu untuk Peternak Sapi Perah", yang menitikberatkan pada praktik-praktik sederhana namun menentukan kualitas susu, mulai dari kebersihan kandang hingga penanganan susu setelah pemerahan.
Efektivitas pelatihan diukur melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai sanitasi dan keamanan susu setelah mengikuti pelatihan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa peternak semakin memahami pentingnya menjaga sanitasi lingkungan peternakan sebagai syarat menghasilkan susu yang aman dan berkualitas.
Bagi peternak, peningkatan pengetahuan tersebut bukan sekadar tambahan informasi. Pengetahuan baru itu menjadi bekal untuk menjaga mutu produk yang setiap hari menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.

Selain keamanan susu, program ini juga memperkenalkan perspektif baru mengenai limbah peternakan.
Selama bertahun-tahun, limbah sering dipandang sebagai persoalan lingkungan. Padahal, apabila dikelola dengan benar, limbah justru dapat menjadi sumber energi, pupuk organik, sekaligus sumber pendapatan tambahan.
Dalam pelatihan tersebut, narasumber dari Unpad menjelaskan bahwa peternak di Pulosari sesungguhnya telah menjalankan praktik peternakan rendah karbon. Kotoran sapi diolah menjadi biogas sehingga mampu mereduksi emisi gas rumah kaca. Limbah hasil biogas atau slurry kemudian dimanfaatkan kembali sebagai bahan vermikompos yang menghasilkan cacing dan kascing sebagai komoditas bernilai ekonomi.
Pengelolaan limbah padat, cair, maupun gas tersebut membentuk suatu siklus produksi yang saling terhubung. Limbah tidak lagi menjadi beban, melainkan kembali masuk ke dalam sistem produksi sebagai sumber daya baru.
Praktik tersebut merupakan bentuk nyata ekonomi sirkular yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. Barrett et al (2021) menjelaskan bahwa diversifikasi usaha berbasis limbah merupakan salah satu implementasi ekonomi sirkular karena mampu mengubah limbah menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Pandangan tersebut sejalan dengan Geissdoerfer et al (2017) yang menempatkan ekonomi sirkular sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya melalui prinsip reuse dan recycle untuk mencapai keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, keamanan pangan tidak lagi dipandang sebagai isu yang berdiri sendiri. Sanitasi, pengelolaan limbah, ekonomi keluarga, dan keberlanjutan lingkungan saling berkaitan dalam satu sistem peternakan.
Baca Juga: Unpad dan Orang-orang Kiri
Unisba dan Unpad Bersikap: Menolak Kekerasan oleh Aparat, Menuntut Jaminan Kebebasan Bersuara

Perempuan Menjadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Program pemberdayaan ini juga memberi perhatian khusus kepada kelompok yang selama ini jarang menjadi fokus utama, yaitu istri peternak sapi perah.
Pada Januari 2026, sebanyak 22 istri peternak mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas tata kelola ekonomi rumah tangga. Mereka dipilih karena selama ini memiliki peran penting dalam membantu suami mencari hijauan pakan ternak, mengurus aktivitas di kandang, sekaligus mengelola kebutuhan rumah tangga.
Meski demikian, sebagian besar belum memiliki pencatatan keuangan yang baik.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diajak memahami bahwa pendapatan keluarga peternak tidak hanya berasal dari penjualan susu. Penghasilan juga diperoleh dari penjualan pedet jantan, cacing, serta kascing hasil pengolahan limbah peternakan.
Pemahaman tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas perempuan sebagai pengelola ekonomi keluarga. Peran mereka tidak lagi dipandang sebatas menjalankan fungsi domestik, melainkan sebagai bagian penting dari aktivitas produktif yang menopang keberlanjutan usaha peternakan.
Program tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Pada Mei 2026, tim kembali melakukan evaluasi terhadap 26 istri peternak sapi perah melalui kegiatan bertema "Evaluasi Hasil Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Ekonomi Hubungannya dengan Ekonomi Sirkular dan Peternakan Rendah Karbon."
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melihat sejauh mana materi yang diberikan telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memberikan pendampingan lanjutan mengenai pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.
Evaluasi kembali dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan sekitar 90 persen peserta telah memahami sekaligus menerapkan pengelolaan limbah peternakan dan merasakan manfaatnya dalam mendukung peternakan rendah karbon.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan perilaku tidak hanya terjadi pada aspek pengetahuan, tetapi mulai diwujudkan dalam praktik nyata di tingkat peternakan.
Program pemberdayaan yang dijalankan Unpad bersama UPM ini menunjukkan bahwa keamanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan.
Sanitasi kandang menghasilkan susu yang lebih aman. Pengelolaan limbah menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Limbah yang diolah menjadi biogas, cacing, dan kascing membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga peternak. Di sisi lain, keterlibatan perempuan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga melalui pengelolaan keuangan dan diversifikasi usaha.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa peternakan rendah karbon bukan sekadar konsep, melainkan praktik yang telah dijalankan oleh masyarakat ketika limbah mampu diolah menjadi sumber daya yang bernilai.
Pengelolaan limbah padat, cair, dan gas tidak hanya mendukung sanitasi kandang serta menghasilkan susu yang sehat dan aman, tetapi juga memperkuat terwujudnya ekonomi sirkular dan peternakan berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Universitas Padjadjaran yang menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari meningkatnya pengetahuan peternak, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran bahwa keamanan pangan dimulai dari kandang yang bersih, lingkungan yang sehat, dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.
Kolaborasi lintas negara tersebut memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Tapi dapat tumbuh dari perubahan cara pandang, dari kebiasaan merawat kandang, mengolah limbah, dan membangun peternakan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.
*Esai ini ditulis oleh Tim Penulis Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universiti Putra Malaysia (UPM) Ellin Harlia, Devi Maulida Rahmah, Eulis Tanti Marlina, Nuzul Noorahya binti Jambari, Nor Khaizura


