Menyerahkan Lukisan kepada Bola, Menemukan Kebebasan di Kanvas
Fathan Turamone menghadirkan eksperimen fotografi dan seni abstrak dalam pameran tunggal perdananya, Seru Sendiri, di Tjap Sahabat, Bandung.
Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 21 Juni 2026
BandungBergerak - Pameran tunggal perdana Fathan Turamone memadukan fotografi dan lukisan abstrak. Melalui metode melukis menggunakan bola, ia membiarkan gerak, warna, dan energi menghasilkan bentuk yang tidak sepenuhnya ia kendalikan.
Sebuah kanvas berukuran 105 x 130 sentimeter terpajang di dinding ruang galeri di lantai dua Tjap Sahabat, Bandung, Rabu, 17 Juni 2026. Dari kejauhan, kanvas itu tampak hanya dipenuhi warna biru yang datar. Namun, ketika didekati, terlihat lapisan-lapisan warna biru dengan pola abstrak berupa bercak-bercak gelap yang membentuk tekstur.
Karya berjudul Main Bola di atas Kanvas #2 itu menjadi salah satu karya yang paling mencolok di antara 29 karya lain yang dipajang dalam ruangan tersebut. Selain ukurannya yang lebih besar, dominasi warna biru penuh pada kanvas tersebut juga membedakannya dari karya lain yang memadukan cetakan fotografi hitam pada akrilik dengan sapuan warna biru yang bertumpuk.
Bagi Fathan Turamone, karya tersebut memiliki arti penting karena menjadi titik awal lahirnya karya-karya lain dalam pameran ini.
“Mungkin yang menginspirasi banyak karya lainnya itu Main Bola di atas Kanvas #2, itu benar-benar yang menginspirasi sisanya, karena ini termasuk karya pertama,” ujar Fathan, ditemui di ruangan yang sama tempat karya tersebut terpajang, Rabu, 17 Juni 2026.
Karya tersebut dipamerkan dalam pameran tunggal perdana Fathan bertajuk Seru Sendiri yang berlangsung pada 17 Juni hingga 4 Juli 2026. Pameran ini menampilkan eksperimen Fathan dalam menggabungkan fotografi, lukisan abstrak, serta metode penciptaan karya dengan menggunakan bola sebagai alat melukis.
Memasuki ruang pamer seluas sekitar 45 meter persegi, pengunjung akan langsung menemukan karya-karya dengan dominasi warna biru yang tercipta dari gerakan bola di atas kanvas. Di ruangan yang seluruh dindingnya berwarna putih itu, pola-pola abstrak hadir sebagai hasil interaksi antara cat, bola, dan gerakan yang tidak sepenuhnya dirancang sejak awal.
Fathan mulai melukis sejak 2017. Namun, ia merasa kurang nyaman ketika menggunakan kuas karena proses tersebut membuatnya merasa harus mengikuti gagasan yang sudah ada dalam pikirannya.
Ia kemudian memilih bola sebagai medium untuk memberi ruang bagi ketidakterdugaan. Baginya, bola, cat, dan kanvas dapat menjadi bagian dari proses kreatif yang membantu menemukan bentuk karya.
“Saya ngelukis itu pake bola. Jadi saya emang beneran ngasih bola, cat dan kanvas itu untuk ngasih tau saya sebenernya apa yang perlu dilukiskan di canvas gitu, tentang kebebasan dan energinya itu,” jelas Fathan.
Metode tersebut membuat karya-karya Fathan tidak menampilkan bentuk yang mudah dikenali. Sapuan warna yang dihasilkan dari pergerakan bola justru membentuk pola abstrak yang spontan. Ketika dipadukan dengan cetakan fotografi pada akrilik, karya-karyanya menghadirkan perpaduan antara gambar, tekstur, dan gerakan.
Baca Juga: Pameran Lukisan Senang Bersamamu di Selasar Sunaryo Art Space, Sebuah Perayaan Kreativitas dalam Krisis
Seni Turun ke Terminal Ledeng
Pameran sebagai Karya
Meski Seru Sendiri menjadi pameran tunggal perdana, Fathan sebenarnya bukan orang baru dalam dunia pameran. Sejak 2021, ia beberapa kali terlibat dalam pameran kelompok bersama seniman lain. Ia juga kerap bekerja di balik layar dalam penyelenggaraan berbagai pameran seni.
Pengalaman tersebut membuat Fathan memiliki pandangan bahwa pameran tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga dapat menjadi karya itu sendiri.
“Biasanya saya bikin karya itu sebuah pameran. Pameran sebagai sebuah karya. Jadi memang yang mamerin karya objek itu temen-temen atau seniman-seniman lainnya, tapi kepikiran untuk bikin juga karya-karya objek ini. Sebenarnya saya bisa gak sih ngasih tau ke publik apa yang saya pikirin gitu,” ungkapnya.
Kesempatan menggelar pameran tunggal datang ketika Tjap Sahabat menawarkan ruang pamer kepada Fathan sekitar satu minggu sebelum pembukaan. Dengan waktu persiapan yang terbatas, ia mengumpulkan karya-karya lama sekaligus membuat beberapa karya baru.
Fathan menyebut Seru Sendiri sebagai pameran yang terus berkembang. Beberapa karya akan ditambahkan selama pameran berlangsung sebagai bagian dari proses eksperimen.
“Akhirnya memutuskan untuk tunggal karena sebagai uji coba sih, eksperimen kaya bisa gak sih saya menyampaikan pikiran saya lewat karya objek, bukan karya pameran gitu,” tambah Fathan.
Di mata pengunjung, Tata, 23 tahun, metode melukis menggunakan bola memberikan pengalaman visual yang berbeda dibanding karya seni yang pernah ia lihat sebelumnya.
“Menarik yang paling gede itu, kalo ngeliat dari jauh cuma warna biru, tapi pas kalo baca dia bikinnya itu pake bola, itu menarik sih unik. Aku baru pertama kali liat (karya) orang yang ngelukis di kanvas pake bola. Dia juga fotografi dipaduin sama art abstrak ya lucu-lucu sih,” ujar Tata.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


