Ruang Terbuka Hijau dan Keanekaragaman Hayati di Bandung Terus Menyusut, Apa Dampak bagi Warga?
Krisis iklim dan krisis keanekaragaman hayati berjalan bersamaan. Pameran BiodiverCity mengajak kita mengenali kembali biodiversitas Bandung.
Penulis Retna Gemilang22 Juni 2026
BandungBergerak – Warga Bandung menghadapi ancaman yang semakin nyata seiring menyusutnya ruang terbuka hijau (RTH) dan hilangnya keanekaragaman hayati di perkotaan. Bukan hanya membuat kota semakin panas dan rentan banjir, berkurangnya ruang hidup bagi flora dan fauna juga mengganggu keseimbangan ekosistem yang selama ini menopang kualitas hidup warga.
Kota Bandung terus kehilangan RTH akibat masifnya pembangunan. Berdasarkan data Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) Kota Bandung, luas RTH kini hanya sekitar 8,76 persen atau sekitar 1.700 hektare. Angka ini jauh di bawah amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mensyaratkan minimal 30 persen wilayah kota berupa ruang terbuka hijau.
Alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab utama penyusutan ruang hijau. Kawasan hutan dan sawah terus berubah menjadi permukiman dan kawasan industri. Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) RTRW Kabupaten Bandung mencatat peningkatan kawasan permukiman sebesar 8.742,34 hektare. Luas permukiman yang pada RTRW 2016–2036 mencapai 33.458,52 hektare meningkat menjadi 42.201,87 hektare dalam RTRW 2023–2043. Tren perluasan ini diperkirakan masih akan berlanjut.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada berkurangnya pepohonan atau lanskap kota yang semakin padat beton. Bandung juga perlahan kehilangan biodiversitas yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan.
Pendiri Yayasan Tunas Nusa Ramalis Sobandi menyebut, sejumlah spesies asli Bandung yang kini semakin jarang ditemui, seperti kodok budug, ular weling, takur ungkut-ungkut, celepuk reban, hingga tanaman lokal seperti kenanga, cempaka, dan kecombrang.
Berdasarkan pendataan citizen science melalui iNaturalist per Juni 2026, tercatat 935 spesies di Bandung yang terdiri atas lima kelompok taksa: burung, amfibi, serangga dan arthropoda, reptil, serta tumbuhan. Sebagian masih bertahan di tengah kawasan perkotaan, namun keberadaannya semakin terdesak.
“Jadi lima taksa yang berfungsi sebagai bioindikator kita itu lagi sakit, semuanya,” kata Ramalis saat ditemui BandungBergerak, Rabu, 17 Juni 2026.
Salah satu contoh terjadi di Kampung Rancabayawak, Kecamatan Gedebage. Kawasan yang dikenal sebagai Kampung Blekok itu sejak 1970-an menjadi lokasi singgah dan berkembang biak burung blekok. Kini habitat tersebut terancam akibat ekspansi permukiman di Bandung Timur.
Nasib serupa dialami sejumlah tanaman lokal Cekungan Bandung. Kenanga, cempaka, dan kecombrang semakin sulit ditemukan karena minimnya permintaan bibit, perubahan selera masyarakat, serta ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah.
Padahal, menurut Ramalis, kota tidak hanya menjadi ruang hidup manusia, tetapi juga habitat bagi berbagai spesies yang berperan menjaga fungsi ekologis.
“Manusia yang menghuni kota ini bisa memberikan ruang dan kesempatan untuk alamnya tumbuh,” ujarnya.
Analisis serupa disampaikan periset urban Yayasan Tunas Nusa Reza Prima. Ia mengatakan krisis iklim dan penurunan biodiversitas merupakan dua persoalan yang saling berkaitan. Krisis keanekaragaman hayati tidak dapat dipisahkan dari persoalan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Penurunan tingkat biodiversity tentunya akan memengaruhi kondisi iklim, demikian juga kondisi iklim akan menjadi satu lingkaran yang sama,” kata Reza.
Kenaikan suhu udara membuat banyak spesies semakin sulit bertahan hidup. Serangga, amfibi, hingga ikan menjadi kelompok yang paling rentan. Amfibi, misalnya, sangat bergantung pada kualitas air untuk menunjang siklus hidup dan ketersediaan pakan. Sementara kekeringan berkepanjangan menyebabkan populasi ikan terus menurun.
Menurut Reza, dampak hilangnya biodiversitas tidak berhenti pada satwa dan tumbuhan. Ketika satu spesies menghilang, keseimbangan rantai makanan ikut terganggu dan pada akhirnya berdampak pada manusia.
Ia mencontohkan kasus pembasmian ular sanca yang dianggap mengancam warga. Hilangnya predator alami menyebabkan populasi tikus meningkat dan memicu gagal panen di puluhan petak sawah.
Ketidakseimbangan ekosistem pada akhirnya akan memengaruhi kualitas hidup warga kota, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Di tengah menyusutnya ruang hijau, upaya pemulihan ekosistem menjadi semakin penting. Salah satu lokasi yang direstorasi Yayasan Tunas Nusa adalah kawasan Kolam Retensi Rancabolang di Gedebage. Kawasan yang kerap mengalami banjir itu ditanami hutan mikro dan bambu untuk memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai spesies.
Baca Juga: Bandung dalam Jeratan Krisis Iklim
Seruan Darurat Iklim dari Jalanan Kota Bandung

Mendekatkan Warga dengan Alam Kota
Sejak Juli 2025, Yayasan Tunas Nusa melakukan riset biodiversitas perkotaan melalui program citizen science bertajuk Jelajah Taksa. Warga diajak mengenali lima kelompok taksa di enam titik Kota Bandung.
Hasil riset tersebut kemudian dipresentasikan dalam pameran BiodiverCity yang berlangsung di Bandung Creative Hub pada 13–21 Juni 2026. Pameran ini diinisiasi Yayasan Tunas Nusa bersama komunitas lingkungan, akademisi, dan pelajar.
Melalui instalasi seni berbahan daur ulang, pengunjung diajak mengenali kembali spesies yang hidup di Bandung. Burung blekok, ular weling, biawak, berbagai jenis arthropoda, hingga tanaman lokal seperti kenanga, cempaka, dan kecombrang dihadirkan dalam bentuk karya kolaboratif bersama pelajar SDN 69, SMPN 51, dan SMAN 27.
Art director pameran, Tennessa Querida, mengatakan sekitar 80 persen material karya berasal dari sampah yang didaur ulang, mulai dari kardus, botol plastik, bubble wrap, hingga selang shower bekas.
"Kita di sini gimana caranya pakai (sampah) recycle gitu 'kan, karena semua 80 persen kayaknya terbuat dari sampah," tutur Tennessa.
Bagi penyelenggara, BiodiverCity bukan sekadar pameran seni atau dokumentasi hasil riset. Pameran ini menjadi pengingat bahwa Bandung tidak hanya dihuni manusia. Di tengah jalan raya, bangunan beton, dan ekspansi permukiman, terdapat beragam makhluk hidup yang turut menjaga keseimbangan ekosistem kota.
Ketika ruang hijau dan habitat mereka terus menyusut, warga Bandung juga berisiko kehilangan perlindungan alami dari panas ekstrem, banjir, hingga gangguan keseimbangan lingkungan. Menjaga biodiversitas berarti menjaga kualitas hidup kota itu sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


