• Cerita
  • Melihat Bandung dari Jendela Angkot, Bukan dari Bingkai Media Sosial

Melihat Bandung dari Jendela Angkot, Bukan dari Bingkai Media Sosial

Ngobras di Jok Angkot mempertemukan orang-orang asing untuk berbagi cerita tentang kota, memori, dan ruang-ruang yang jarang muncul di media sosial.

Acara Ngobras di Jok Angkot, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 23 Juni 2026


BandungBergerak - Suara mesin angkot bersahut dengan bunyi klakson kendaraan yang terjebak kemacetan, Sabtu siang, 20 Juni 2026. Di dalam ruang sempit yang kursinya saling berhadapan, satu per satu penumpang mulai memperkenalkan diri. Mereka mengarungi perjalanan ke sejumlah sudut kota, melihat Bandung bukan dari media sosial, melainkan dari jendela angkot.

Di kursi belakang sopir — sering disebut bangku artis — duduk reporter BandungBergerak Akmal Firmansyah sebagai pemandu tur. Angkot itu berisi sebelas penumpang yang sebagian besar tidak saling mengenal.

"Nama saya Fauzie dari Unpar," kata Fauzie Wiriadisastra, salah satu penumpang.

"Kalau saya Dea, dari tadi," kata Sundea, seorang penulis, setengah bercanda.

Perkenalan terus bergulir seiring laju angkot sewaan yang di punggungnya tertulis jurusan Cimahi-Leuwipanjang. Mereka bertukar cerita tentang latar belakang, pekerjaan, hingga alasan mengikuti kegiatan bertajuk Ngobras di Jok Angkot.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari presentasi publik UAS Studio Poetika Interimajinasi mahasiswa semester enam Program Integrated Art Unpar. Alih-alih menggunakan ruang kelas, para mahasiswa memilih menjadikan kota sebagai ruang presentasi karya.

Penyelenggara kegiatan, Bila, mengatakan gagasan itu muncul dari keinginannya memperlihatkan sisi-sisi Bandung yang jarang muncul di media sosial.

"Sebetulnya aku pengin ngasih tahu ke orang-orang bahwa ada banyak frame-frame yang enggak di-upload di media sosial. Orang-orang juga bisa saling berbagi memori mereka masing-masing, baik pengalaman baik maupun buruk, supaya tahu dulu dan sekarang itu seperti apa," katanya.

Menurut Bila, peserta berasal dari latar belakang dan generasi yang berbeda. Karena itu, setiap orang memiliki ingatan yang berbeda pula terhadap Bandung.

"Jadi menarik kalau orang-orang bisa saling cerita tentang Bandung yang mereka alami," ujarnya.

Ide awal kegiatan berasal dari Bila, lalu berkembang melalui proses diskusi dan mentoring bersama dosen Studio Poetika. Inspirasi bentuk perjalanannya diambil dari podcast Kejar Setoran milik komika Praz Teguh.

Kegiatan dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama berangkat pukul 10.00 WIB dan kloter kedua pukul 15.30 WIB. Pasar Cihapit dipilih sebagai titik kumpul karena lokasinya berada di antara titik-titik yang akan dikunjungi: Dago Elos, Teras Cihampelas, dan Rumah Deret Tamansari.

Perjalanan pertama membawa rombongan ke depan The Maj Dago, bangunan tinggi yang mangkrak di kawasan Dago. Di sana angkot sempat memutar arah karena terjebak macet. Namun, kemacetan justru membuat percakapan mengalir semakin jauh.

Baca Juga: Wacana Angkot Pintar Bandung di Tengah Predikat Kota Paling Macet di Indonesia
Data Sembilan Lintasan Trayek Angkot dengan Jumlah Armada Terbanyak di Kota Bandung Tahun 2021, Abdul Muis-Cicaheum di Urutan Pertama

Acara Ngobras di Jok Angkot, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Acara Ngobras di Jok Angkot, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Bandung di Luar Bingkai Instagram

Salah satu topik yang muncul adalah poster acara yang menggambarkan Bandung sebagai kota yang indah. Fauzie tidak sepenuhnya setuju dengan gambaran tersebut.

"Bandung itu salah satu kota di Indonesia yang menurut saya paling susah buat jalan kaki. Kalau dibilang indah, saya kurang setuju. Banyak trotoar jelek, sampah menumpuk yuh liat. Jadi sebenarnya enggak indah-indah amat," ujarnya.

Menurutnya, di tengah algoritma media sosial dan fenomena echo chamber, ruang seperti ini semakin jarang ditemukan.

"Kita tadi kan dipaksa ada di satu ruangan dan ngobrol," katanya.

Ia menilai angkot memiliki karakter yang unik. Di satu sisi merupakan ruang publik, tetapi pada saat yang sama cukup intim untuk memungkinkan percakapan terjadi.

"Angkot itu di satu sisi privat, tapi di satu sisi publik juga. Ruang publik biasanya enggak bikin kita ngobrol sama orang asing. Kalau di sini justru bisa," katanya.

Fauzie juga menyinggung kondisi transportasi umum Bandung yang menurutnya masih belum menjadi pilihan utama masyarakat. Ia membayangkan sistem yang lebih terintegrasi, dengan pengemudi menerima gaji tetap sehingga tidak perlu mengejar setoran.

"Saya enggak masalah kursinya rombeng atau enggak ada AC. Yang penting reliable dan tertib," lanjutnya.

Menurutnya, persoalan utama transportasi umum di Bandung bukan terletak pada bentuk kendaraan, melainkan kepastian waktu dan sistem yang belum berjalan baik.

Pandangan Fauzie memancing peserta lain berbicara. Muncul pertanyaan sederhana: sebenarnya orang datang ke Bandung mencari apa?

Sebagian menjawab kuliner, sebagian lain menyebut wisata. Ada pula yang berpendapat media sosial membuat orang hanya melihat Bandung dari sisi yang paling menarik secara visual.

Percakapan kemudian berloncat ke berbagai hal: banjir yang kini kerap terjadi di Lembang, rekomendasi kedai matcha favorit, tren kuliner yang cepat berganti, hingga fenomena lapangan padel yang menjamur di berbagai sudut kota.

Seperti trayek angkot yang tidak selalu lurus, pembicaraan bergerak tanpa arah pasti. Dari satu topik melompat ke topik lain, lalu kembali lagi pada pembahasan kota.

Setiap kali rombongan tiba di satu titik, Akmal menarik percakapan ke konteks yang lebih besar: isu perkotaan.

Di The Maj Dago, ia menceritakan bangunan mangkrak yang menjadi simbol proyek gagal. Di Dago Elos, ia menjelaskan konflik agraria yang telah berlangsung bertahun-tahun dan bagaimana warga mempertahankan ruang hidup mereka.

Saat berada di Teras Cihampelas, Akmal tidak hanya membahas persoalan pembangunannya, tetapi juga pengalaman liputan BandungBergerak di kawasan tersebut. Ia menjelaskan bagaimana ruang yang dianggap gagal oleh sebagian orang ternyata tetap digunakan komunitas dan warga.

Sementara di Rumah Deret Tamansari, ia menceritakan berbagai dinamika yang pernah mereka dokumentasikan, mulai dari konflik dengan ormas dan aparat hingga hari-hari terakhir Tamansari sebelum digusur untuk proyek rumah deret.

Cerita-cerita itu memberi konteks dan ingatan pada setiap lokasi yang mereka lewati.

Acara Ngobras di Jok Angkot, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Acara Ngobras di Jok Angkot, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Ketika Angkot Menjadi Ruang Politik Keseharian

Di tengah perjalanan, Sundea ikut berbagi cerita mengenai kebiasaannya menggunakan angkot. Baginya, angkot selalu menyimpan kisah-kisah kecil yang menarik, mulai dari cerita harian orang-orang yang menaikinya hingga kebiasaan sopir yang beragam.

"Aku suka manusia itu aja sih. Manusia dan dinamikanya itu semenarik itu," kat Sundea.

Dea pernah bertemu penjual kue yang hafal nama-nama guru besar ITB, sindikat pengemis yang mempekerjakan anak, sopir angkot yang menghias kendaraannya dengan kerajinan dari bungkus kopi, hingga berbagai penumpang yang tiba-tiba terbuka dan menceritakan kehidupan mereka.

Ia juga pernah satu kendaraan dengan ibu-ibu berkerudung, transpuan, hingga pedagang keliling. Meski berasal dari latar belakang berbeda, para penumpang itu kerap terlibat percakapan hangat dan saling berbagi cerita keseharian.

"Kalau naik kendaraan lain, kita enggak akan ketemu cerita-cerita kayak gitu," ujarnya.

Ketertarikannya pada manusia kemudian mendorongnya menulis berbagai pengalaman tersebut di blog pribadinya, Salamatahari.

Bagi Dea, angkot bukan sekadar moda transportasi, melainkan ruang yang mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Di tengah kota yang semakin dipenuhi kendaraan pribadi dan percakapan yang perlahan berpindah ke layar telepon genggam, perjalanan beberapa jam itu terasa seperti pengalaman yang mulai langka.

Orang-orang yang awalnya asing perlahan saling mengenal. Generasi yang berbeda bertukar cerita tentang Bandung yang mereka ingat, tentang kota yang terus berubah dari waktu ke waktu.

Ngobras di Jok Angkot bukan sekadar perjalanan mengunjungi sejumlah titik di Kota Bandung atau presentasi tugas akhir perkuliahan. Di dalam angkot yang beberapa kali terjebak kemacetan, sebelas orang asing dipertemukan untuk melakukan sesuatu yang semakin jarang terjadi di kota besar: berbicara, mendengarkan, dan berbagi cerita tentang kota yang mereka tinggali.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//