• Berita
  • Merekam Mereka yang Terus Bertahan, Menimbang Ulang Tugas Jurnalisme

Merekam Mereka yang Terus Bertahan, Menimbang Ulang Tugas Jurnalisme

Buku Tersungkur dan Tetap Melawan mendokumentasikan perjuangan warga menghadapi ketidakadilan sekaligus mengajak pembaca meninjau kembali fungsi jurnalisme.

Keberanian untuk mulai membaca dan menyebarkan pengetahuannya. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 25 Juni 2026


BandungBergerak - Tidak semua perlawanan hadir dalam bentuk demonstrasi atau konflik terbuka dengan negara dan korporasi. Kadang, perlawanan muncul dalam bentuk yang lebih sunyi: tiga kakak beradik yang berusaha melanjutkan hidup setelah kehilangan kedua orang tua mereka dalam selang waktu 24 jam akibat Covid-19.

Kisah itu direkam jurnalis Project Multatuli, Yuli Saputra, dalam reportase berjudul "Ayam Serundeng Ibu dan Mimpi Memijat Bapak: Menyingkap Duka Batin Anak Yatim Piatu Korban Covid-19". Tulisan yang pertama kali terbit pada 2022 tersebut kemudian menjadi salah satu dari 14 reportase pilihan yang dihimpun dalam buku "Tersungkur dan Tetap Melawan".

Bagi Yuli, apa yang dijalani ketiga kakak beradik itu bahkan telah melampaui makna "melawan" sebagaimana termuat dalam judul buku. Saat turun langsung melakukan peliputan, ia menyaksikan bagaimana hidup mereka berubah drastis dalam waktu singkat. Sang kakak sulung tidak hanya harus menghadapi kehilangan mendadak, tetapi juga mengambil peran sebagai kepala keluarga bagi dua adiknya.

“Mereka melawan, berjuang hidupnya. kalau ngomongin judul ‘Tersungkur dan Melawan’ ketiga kaka beradik ini sebetulnya sudah melampaui kata-kata tersebut. Mereka itu tidak hanya tersungkur tapi mereka itu terperosok dalam, karena penyangga hidup mereka kayak di hidup mereka itu pergi,” ungkap Yuli, dalam malam diskusi buku "Tersungkur dan Tetap Melawan" di Toko Buku Pelagia, Bandung, Sabtu, 20 Juni 2026.

Liputan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling menguras emosi bagi Yuli. Selama proses peliputan, ia melihat tanda-tanda gangguan kesehatan mental pada ketiganya. Pengalaman itu membuatnya tidak berhenti pada proses wawancara dan penulisan cerita. Ia turut membantu menghubungkan mereka dengan layanan psikiatri agar dapat menjalani terapi dan konseling untuk mengurai trauma yang mereka alami.

Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan tantangan jurnalisme ketika berhadapan dengan isu-isu sensitif. Menurut Yuli, persetujuan narasumber menjadi prinsip yang tidak dapat ditawar, terutama ketika peliputan melibatkan anak-anak.

Sebelum wawancara dilakukan, ia memastikan ketiga kakak beradik tersebut memahami dan menyetujui proses peliputan serta publikasi cerita mereka.

“Kita harus benar-benar memastikan bahwa si narasumber itu siap ketika ceritanya ditayangkan dan bersedia untuk diwawancara. Itu yang dari awal sudah ada semacam persetujuan seperti itu. Apalagi kalau ada kaitannya dengan anak-anak, itu sangat ketat sekali,” ujarnya.

Kisah tiga kakak beradik tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana perlawanan direkam dalam buku "Tersungkur dan Tetap Melawan". Buku setebal 222 halaman yang diterbitkan Marjin Kiri itu menghimpun reportase pilihan Project Multatuli sepanjang 2021 hingga 2026.

Di dalamnya, pembaca dapat menemukan beragam cerita tentang warga yang berhadapan dengan ketidakadilan dan situasi hidup yang sulit. Mulai dari masyarakat yang melawan ekspansi korporasi, demonstran yang menghadapi represi negara, hingga individu-individu yang berusaha bertahan di tengah kehilangan dan keterbatasan.

Editor buku, Fahri Salam, mengaku sempat menjadi salah satu orang yang paling pesimistis terhadap rencana penerbitan buku tersebut. Gagasan menerbitkan kumpulan reportase sebenarnya telah muncul sejak tahun kedua Project Multatuli berdiri, tetapi baru terwujud pada tahun kelima.

Pada akhirnya, Fahri melihat buku tidak hanya berfungsi sebagai medium dokumentasi, tetapi juga ruang pertemuan antara media dan pembacanya.

“Kalau tidak dibukukan tidak ada diskusi atau pertemuan, jadi diniatkan sebagai perantara. Karena PM sebagai organisasi media ada produk jurnalistiknya, ada produk tulisan sehingga dibukukan dan itu jadi perantara untuk ketemu dengan pembaca,” ujarnya.

Menurut Fahri, buku tersebut juga menjadi cara untuk merawat ingatan atas berbagai perjuangan yang hingga kini belum selesai. Banyak persoalan yang direkam dalam reportase tapi masih berlangsung dan belum menemukan penyelesaian.

Baca Juga: Mari Kita Melawan dengan Puisi
Melawan dengan Narasi Kritis

Diskusi buku Tersungkur dan Tetap Melawan di Toko Buku Pelagia, Bandung, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)
Diskusi buku Tersungkur dan Tetap Melawan di Toko Buku Pelagia, Bandung, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)

Fungsi Jurnalisme

Refleksi serupa muncul ketika diskusi bergeser pada pertanyaan: apa sebenarnya tugas jurnalisme hari ini? Bagi sebagian jurnalis, tugas utama media selama ini adalah mengawasi kekuasaan, mengungkap penyimpangan, dan mendorong perubahan.

Namun, menurut jurnalis senior Zen RS, perkembangan situasi politik dan sosial membuat peran tersebut perlu dievaluasi kembali. Ia menilai banyak liputan investigatif berhasil membongkar pelanggaran dan menunjukkan pihak yang bertanggung jawab, tetapi tidak selalu berujung pada konsekuensi hukum atau perubahan kebijakan.

“Ternyata janji bahwa kalau satu liputan berhasil membongkar siapa aktor-aktornya, berikut barang-barang bukti nya maka saat ada hukuman ada janji itu tidak terpenuhi,” tegas Zen.

Dalam situasi seperti itu, Zen mempertanyakan efektivitas jurnalisme yang hanya berfokus mengkritik negara. Menurutnya, media juga perlu berani mengarahkan kritik kepada masyarakat sipil dan gerakan-gerakan sosial yang selama ini dianggap berada di pihak yang benar.

“Kalau ditanya tugas jurnalisme? menurut saya hari ini bukan lagi mukulin negara. Mukulin dirinya sendiri dulu, mukulin teman-temannya. Jurnalisme hampir gak pernah mengritik masyarakat sipil, apa yang salah dengan gerakan? apa yang salah dengan modus operandi perlawanan-perlawanan?” tambahnya.

Pertanyaan itu mungkin tidak mudah dijawab. Namun, 14 reportase yang dihimpun dalam “Tersungkur dan Tetap Melawan” menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Ada yang masih berlangsung, ada yang menemui jalan buntu, dan ada yang sekadar bertahan agar hidup tetap berjalan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//