Pulang Sekolah dengan Taruhan Nyawa di Jalan Sukarno Hatta
Di Jalan Sukarno Hatta Bandung, para murid sekolah harus menunggu celah di antara kendaraan yang melaju kencang karena ketiadaan fasilitas penyeberangan yang aman.
Penulis Yopi Muharam25 Juni 2026
BandungBergerak - Setiap hari sepulang sekolah, Dian Citra Sayyina harus menunggu beberapa menit di tepi Jalan Soekarno-Hatta sebelum berani menyeberang. Siswi kelas X SMKN 13 Bandung itu kerap berdiri cukup lama sambil mengamati arus kendaraan yang melaju kencang di jalan nasional tersebut.
Suatu sore sekitar pukul 16.30 WIB, Citra menunggu hampir tujuh menit hingga lalu lintas sedikit lengang. Barulah ia berlari kecil menyeberangi jalan menuju arah Kiaracondong.
Bagi Citra, menyeberang di Jalan Soekarno-Hatta selalu penuh risiko. Sedikit saja salah memperhitungkan jarak dan kecepatan kendaraan, pejalan kaki bisa terserempet atau tertabrak.
“Apalagi kan banyak mobil-mobil besar yang lewat sini,” ujarnya diwawancarai BandungBergerak di sebuah halte setelah dirinya berhasil menyeberang, Senin pagi, 22 Juni 2026.
Kondisi itu bukan hanya dialami Citra. Ribuan siswa dari SMKN 7, SMKN 9, dan SMKN 13 yang berderet di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta menghadapi situasi serupa setiap hari.
Menurut Citra, kebutuhan akan fasilitas penyeberangan yang aman sudah lama dirasakan para siswa. Saat berkunjung ke Metro Indah Mall (MIM), Jalan Sukarno Hatta bersama teman-temannya, mereka sering mempertanyakan mengapa tidak tersedia fasilitas penyeberangan yang memadai di depan kawasan sekolah.
“Kita tuh berharap kayak ada jalur penyeberangan di atas gitu buat anak sekolah kan. Kita juga takut kalau nyebrang sendiri, tuh,” kata perempuan berumur 17 tahun itu.
Pengalaman nyaris celaka pernah ia alami. Saat menyeberang menuju MIM, sebuah sepeda motor melaju kencang dan hampir menyerempet dirinya bersama teman-temannya.
Risiko semakin besar saat malam hari. Ketika ada kegiatan sekolah hingga larut, Citra memilih dijemput orang tuanya daripada harus menyeberang sendiri.
“Kalau mau maksain nyebrang juga takut karena penerangan minim,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Mustika Azahra, siswi kelas XI SMKN 13. Menurutnya, arus kendaraan pada sore hari sangat padat, terutama saat jam pulang kerja. Ia pernah menunggu menyeberang sampai 10 menit.
“Soalnya pada ngebut-ngebut juga, tapi yang penting mah lihat kanan-kiri aja, sih,” tandasnya.
Sementara petugas keamanan sekolah biasanya hanya membantu penyeberangan hingga sekitar pukul 15.00 atau 16.00 WIB. Ia berharap pemerintah menyediakan fasilitas penyeberangan yang lebih aman mengingat keberadaan beberapa sekolah dalam satu kawasan.
“Karena di sini kan ada SMK 7 terus 9 juga, jadi butuh banget,” harapnya.
Selama ini, keselamatan para pelajar lebih banyak bergantung pada petugas keamanan sekolah daripada dukungan infrastruktur jalan.
Ade Yasin, petugas keamanan SMKN 9, mengatakan kecelakaan maupun insiden siswa terserempet kendaraan sudah berulang kali terjadi di kawasan tersebut.
Setiap hari ia mulai bertugas sejak pukul 05.30 WIB untuk membantu siswa menyeberang. Namun, pada jam tersebut kondisi jalan masih gelap dan rawan kecelakaan. Situasi serupa terjadi pada malam hari ketika penerangan jalan sangat minim.
Ade bersama petugas keamanan dari SMKN 13 rutin berjaga di titik-titik penyeberangan. Menurutnya, sekitar 3.000 siswa menyeberangi Jalan Soekarno-Hatta setiap hari.
Ia masih mengingat kecelakaan pada 2023 saat sedang membantu siswa menyeberang. Ketika seorang pengendara telah berhenti memberi jalan, sepeda motor lain melaju kencang dari belakang dan menghantam kendaraan tersebut.
“Pokoknya saat si ibu sudah berhenti, di belakang motor melaju dengan kecepatan 80 kilometeran dan langsung menghantam. Beruntungnya siswa udah selamat, udah saya amanin,” beber Ade.
Menurut Ade, pemerintah perlu segera menyediakan fasilitas keselamatan jalan yang memadai, mulai dari lampu penerangan jalan, lampu peringatan, rambu penyeberangan, zebra cross, hingga fasilitas penyeberangan yang aman.
Ia mengaku pernah bersama pihak SMKN 7, SMKN 13, dan pengelola Metro Indah Mall mengajukan pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO). Namun usulan tersebut tidak mendapat tindak lanjut. Alasannya, pemerintah menilai sudah terdapat JPO di kawasan Metro, Margahayu. Padahal lokasinya cukup jauh dari kawasan sekolah.
“Itu kan posisinya sangat jauh dengan sekolah yang ada di sini. Bahkan di sana juga jarang banget dipake nyebrang karena curam juga posisi tangganya,” ungkapnya.
Baca Juga: Kematian Dika di Jalan Sukarno Hatta: Pesepeda Menggugat Jaminan Keselamatan
Nyawa Melayang Akibat Kecelakaan di Jalan Pasteur Bandung: Mengapa Berulang dan Siapa yang Bertanggung Jawab?
Kota untuk Kendaraan, Bukan Pejalan Kaki
Ketua Koordinator Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) Bandung, Muhammad Fadil, menilai tata ruang Jalan Soekarno-Hatta saat ini lebih berpihak kepada kendaraan bermotor dibanding pejalan kaki.
"Di sini kita bisa lihat kalau di Jalan Soekarno-Hatta ini lebih mementingkan, memprioritaskan kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat," ujar Fadil.
Menurut Fadil, standar kota yang inklusif mensyaratkan keberadaan fasilitas penyeberangan yang memadai. Namun di Jalan Soekarno-Hatta, fasilitas tersebut masih sangat minim.
Ia juga menilai JPO yang tersedia saat ini tidak ramah bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, maupun ibu hamil karena memiliki tangga yang curam.
“Tidak memenuhi standar aksesibilitas,” katanya.
Fadil menyoroti kondisi para pelajar yang setiap hari harus menyeberang dengan bantuan petugas keamanan sekolah tanpa dukungan infrastruktur keselamatan yang memadai.
“Di mana tidak ada rambu-rambu, tidak ada pelican crossing, tidak adanya zebra cross,” tuturnya.
Pelican crossing merupakan fasilitas penyeberangan yang dilengkapi lampu lalu lintas dan tombol bagi pejalan kaki untuk menghentikan arus kendaraan saat akan menyeberang.
Berbeda dengan usulan sebagian siswa yang menginginkan JPO, Kopeka justru mendorong pembangunan zebra cross dan pelican crossing.
Menurut Fadil, pembangunan JPO cenderung mempertahankan dominasi kendaraan bermotor, sedangkan zebra cross dan pelican crossing memaksa pengendara mengurangi kecepatan dan lebih menghormati hak pejalan kaki.
“Kalau kita membangun JPO berarti kita lebih memprioritaskan kendaraan agar bisa melaju lebih kencang. Apabila dibangunnya zebra cross di Jalan Soekarno-Hatta, itu bisa membuat pengendara lebih berhati-hati untuk mengendarai kendaraannya, bisa lebih waspada,” bebernya.
Berdasarkan pengamatannya, kecepatan kendaraan di Jalan Soekarno-Hatta pada siang hari berkisar 60-100 kilometer per jam. Pada malam hari bahkan dapat mencapai 80-120 kilometer per jam.
Jalan dengan Rekam Jejak Kecelakaan Tinggi
Kerentanan pejalan kaki di Jalan Soekarno-Hatta bukan sekadar kekhawatiran para siswa. Sebelumnya, Sabtu, 20 Juni 2026, seorang anak SMP pengendara sepeda, mengalami nasib nahas setelah tertabrak dumb truk di Jalan Sukarno-Hatta, sebelum perempatan Gedebage.
Sementara itu, sejumlah penelitian menunjukkan ruas jalan ini memang memiliki tingkat kecelakaan yang tinggi.
Penelitian Intan Rani dan Samun Haris berjudul Evaluasi Kecelakaan Lalu Lintas Di Kota Bandung mencatat 72 kecelakaan terjadi di Jalan Soekarno-Hatta sepanjang 2022 atau sekitar 13,5 persen dari total kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung. Dari jumlah tersebut, 32 kasus berujung pada kematian.
Penelitian itu juga menunjukkan segmen antara Simpang Gedebage hingga Simpang Ibrahim Adjie memiliki tingkat risiko kecelakaan yang tinggi.
Penelitian Muhammad Akmal Reza dan tim dalam jurnal Peningkatan Keselamatan Lalu Lintas pada Ruas Jalan Phh Mustofa di Kota Bandung menempatkan Jalan Soekarno-Hatta sebagai ruas jalan dengan jumlah kecelakaan tertinggi di Kota Bandung, yakni 185 kejadian dengan 62 korban meninggal dunia.
Dominasi kendaraan bermotor dan tingginya kecepatan lalu lintas memperbesar risiko bagi pengguna jalan yang rentan, termasuk pejalan kaki dan pelajar.
Di tengah tingginya angka kecelakaan tersebut, ribuan siswa masih harus menyeberangi Jalan Soekarno-Hatta setiap hari. Hingga kini, keselamatan mereka lebih banyak bergantung pada keberanian sendiri dan bantuan petugas keamanan sekolah daripada perlindungan infrastruktur yang semestinya disediakan negara.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


