• Cerita
  • Ketika Becak Menepi di Pinggiran Sejarah Kota Bandung

Ketika Becak Menepi di Pinggiran Sejarah Kota Bandung

Pameran Amni Isnaeni Rustam menghadirkan kisah para penarik becak, sejarah yang terlupakan, hingga harapan menjaga warisan budaya di tengah laju modernisasi Bandung.

Pameran tunggal bertajuk Menepi, Jejak Becak dalam Sejarah dan Ruang Kota Bandung di Bandung Creative Hub (BCH), Jalan Laswi Nomor 7, Kota Bandung, Jumat, 3 Juli 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam4 Juli 2026


BandungBergerak - Deretan foto becak tertempel rapi di partisi galeri Bandung Creative Hub (BCH), Jalan Laswi Nomor 7, Kota Bandung, Jumat, 3 Juli 2026. Di sela-sela partisi, sebuah becak tua yang dipajang menjadi pusat perhatian. Sejumlah pengunjung berhenti untuk mengamati foto-foto yang dipamerkan. Beberapa di antaranya mengabadikan momen dengan berswafoto, sementara yang lain menaiki becak tua itu, seolah menegaskan bahwa becak belum benar-benar hilang dari wajah Kota Bandung.

Suasana galeri dipenuhi nostalgia. Melalui pameran tunggal bertajuk “Menepi, Jejak Becak dalam Sejarah dan Ruang Kota Bandung”, Amni Isnaeni Rustam mengajak pengunjung menelusuri kembali jejak transportasi non-emisi yang kini semakin tersisih. Pameran yang hanya berlangsung sehari itu merupakan tugas akhir Amni sebagai mahasiswi Antropologi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).

Di sudut ruangan, sebuah layar memutar video pendek yang menampilkan keseharian para tukang becak. Dalam rekaman itu, becak-becak melaju pelan di tengah kepulan asap kendaraan, kemacetan, dan jalanan kota yang semakin sesak oleh kendaraan bermotor. Tayangan tersebut menjadi pelengkap deretan foto yang memperlihatkan kehidupan para pengemudi becak di ruang-ruang pinggiran kota.

Melalui pameran ini, becak bukan sekadar alat transportasi tradisional roda tiga, melainkan bagian dari sejarah kota yang perlahan tergerus modernitas. Di jalanan, becak kerap dipandang sebagai penyebab kemacetan karena lajunya yang lambat. Tak jarang pula keberadaannya dianggap mengganggu estetika kota.

Di antara becak yang dipamerkan, tampak pula Akun, penarik becak berusia 57 tahun yang sehari-hari mengayuh kendaraannya di kawasan Griya Buah Batu. Sesekali ia memperhatikan para pengunjung yang bergantian menaiki becaknya. Akun mengaku bersyukur ketika Amni menyewa becaknya untuk menjadi bagian dari pameran. Baginya, kesempatan itu bukan sekadar tambahan penghasilan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa becak masih memiliki tempat dalam ingatan masyarakat.

Namun, di balik rasa syukur itu, Akun menyimpan cerita tentang profesi yang kian terpinggirkan. Sejak mulai menarik becak pada awal 2000-an, ia merasakan bagaimana perubahan kota perlahan menggeser ruang hidup para pengemudi becak. Dulu, pekerjaan itu mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Perubahan mulai terasa ketika layanan ojek daring berkembang pesat di Kota Bandung. Setiap hari Akun mangkal di kawasan Griya Buah Batu. Jika dulu pangkalan itu hanya diisi penarik becak dan sopir angkot, kini mereka harus berbagi penumpang dengan pengemudi ojek daring yang menunggu tidak jauh dari tempatnya.

Sebelum sekitar 2016, Akun mengaku bisa membawa pulang pendapatan hingga Rp200 ribu dalam sehari. Kini, memperoleh Rp100 ribu saja sudah menjadi hasil yang paling tinggi.

Jarak tempuhnya pun semakin pendek. Dulu, ia kerap mengantar penumpang hingga kawasan Cibaduyut. Kini, sebagian besar penumpangnya hanya bepergian di sekitar kompleks perumahan. Bahkan, tidak jarang seharian ia sama sekali tidak mendapatkan penumpang. Pelanggan setianya kini tinggal beberapa ibu yang berbelanja ke Griya Buah Batu atau pekerja yang pulang ke rumah.

Untuk menyiasati sepinya penumpang sekaligus mencukupi kebutuhan keluarga—termasuk membiayai anak bungsunya yang akan masuk SMA—Akun kini tak lagi hanya mengandalkan becak. Di sela-sela menunggu penumpang, ia bekerja sebagai juru parkir. Pekerjaan sampingan itu menjadi penopang ketika becaknya tak menghasilkan apa pun dalam sehari.

"Terbantu oleh parkir kalau ada parkir mah," katanya di sela-sela pameran.

Meski penghasilannya tidak menentu, Akun memilih tetap mengayuh becak. Di tengah ruang kota yang terus berubah, ia enggan menyerah pada keadaan. Ia percaya rezeki akan selalu ada selama dirinya terus berusaha.

Pameran tunggal bertajuk Menepi, Jejak Becak dalam Sejarah dan Ruang Kota Bandung di Bandung Creative Hub (BCH), Jalan Laswi Nomor 7, Kota Bandung, Jumat, 3 Juli 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Pameran tunggal bertajuk Menepi, Jejak Becak dalam Sejarah dan Ruang Kota Bandung di Bandung Creative Hub (BCH), Jalan Laswi Nomor 7, Kota Bandung, Jumat, 3 Juli 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Bukan Sekadar Alat Transportasi

Kisah Akun menjadi salah satu potret yang ingin ditampilkan Amni melalui pamerannya. Lewat rangkaian foto, video, dan becak tua yang dipamerkan, ia mengajak pengunjung memahami perjalanan becak di Bandung—mulai dari sejarah kemunculannya, stigma yang melekat selama bertahun-tahun, hingga kenyataan bahwa kendaraan ini masih bertahan di sudut-sudut kota, meski ruang geraknya dibatasi oleh berbagai rambu larangan.

"Saya melihat bahwa beca ini bagian dari masyarakat urban sendiri dan bagian dari marginalitas itu sendiri. Makanya saya akhirnya memilih becak ini," terang Amni.

Menurut Amni, di tengah dominasi kendaraan bermotor saat ini, relevansi becak memang semakin berkurang. Namun, di balik itu masih banyak orang yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada becak karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain.

Padahal, menurutnya, becak masih memiliki peluang untuk dikembangkan, misalnya sebagai moda wisata yang menawarkan perjalanan santai tanpa menimbulkan polusi.

"Apalagi sekarang dengan zaman modernitas gitu. Orang-orang fokusnya itu pada kendaraan bermotor, hal-hal yang memang melaju dengan cepat gitu," bebernya.

Di balik pameran yang hanya berlangsung sehari itu, Amni menghabiskan sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan seluruh materi. Dua bulan di antaranya ia gunakan untuk melakukan penelitian lapangan di lima wilayah Kota Bandung, yakni Regol, Bojongloa Kidul, Bojongloa Kaler, Sumur Bandung, dan Tegallega. Selama proses itu, ia mewawancarai para penarik becak, menelusuri arsip, serta mengumpulkan berbagai cerita yang kini dihadirkan dalam ruang pamer.

Salah satu temuan menarik berasal dari arsip pemerintah. Amni menemukan bahwa becak pernah menjadi moda transportasi yang tercatat secara resmi dalam administrasi Kota Bandung. Hal itu tertuang dalam Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 19 Tahun 1987 tentang pemungutan retribusi kendaraan becak yang beroperasi di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung.

Melalui regulasi tersebut, setiap becak dikenai retribusi berupa STNK becak sebesar Rp1.000 per tahun dan biaya tanda uji (keuring) sebesar Rp750 per bulan.

Temuan lain memperlihatkan kondisi sosial para penarik becak saat ini yang semakin memprihatinkan. Banyak dari mereka harus menyewa becak dengan tarif Rp10.000 per hari. Tidak sedikit pula yang pendapatan hariannya habis hanya untuk menutup biaya sewa.

Selama penelitian, Amni juga beberapa kali menjumpai penarik becak yang tidur di emperan pertokoan maupun di pinggir jalan, seperti di kawasan Pasar Baru dan sekitar Yogya Kepatihan. Sebagian besar berasal dari luar Kota Bandung, seperti Garut dan Sumedang, sehingga memilih tetap bertahan di jalan demi menghemat biaya hidup.

Di sisi lain, Amni juga menemukan jejak budaya yang menarik. Di kalangan masyarakat Bandung, becak ternyata memiliki sebutan khas, yakni "beo". Istilah itu muncul dari kebiasaan para penarik becak yang terus-menerus menawarkan jasa kepada calon penumpang. Cara mereka memanggil orang dianggap menyerupai burung beo yang mengulang-ulang ucapan yang sama.

"Beca tuh menjadi bagian dari warisan tradisional katanya yang memang udah ada dari dulu dan rasanya tuh sayang banget kalau misalkan beca tuh hilang di Bandung. Karena Bandung sendiri tuh punya istilah khusus gitu untuk beca. Ada istilah beo gitu, beo untuk beca," jelas Amni.

Temuan tersebut juga diperkuat oleh Atep Kurnia, peminat literasi dan budaya Sunda yang diwawancarai Amni. Dalam pengantar pameran, Atep menyebut istilah ngabeo sebagai bentuk satire terhadap cara para penarik becak menawarkan jasa, seperti seruan "Neng, becak, neng," atau "A, becak, a." 

Melalui pameran ini, Amni berharap publik kembali melihat becak bukan semata sebagai alat transportasi yang tertinggal zaman, melainkan bagian dari sejarah dan warisan budaya Kota Bandung yang masih layak dipertahankan.

Baca Juga: Pengakuan pada Becak di Bandung Berhenti Bersamaan dengan Matinya Pajak Kendaraan Mereka
Balada Tukang Becak Pasar Sayati

Becak sebagai Warisan Budaya

Salah seorang pengunjung pameran, Cici Purnamasari, memaknai becak bukan sekadar alat angkutan melainkan bagian yang tak terpisahkan dari identitas dan budaya Indonesia. Baginya, pameran becak ini menjadi ruang yang sangat menarik untuk menggali kembali nilai sejarah yang mulai memudar.

“(Becak) sesuatu yang hampir terlupakan, tapi diingatkan lagi (oleh pameran ini),” kata Cici.

Cici memiliki cerita menarik tentang becak. Saat duduk di bangku SMP di Semarang sekitar tahun 2011, becak menjadi pilihan utamanya untuk membawa barang. Ia menilai becak adalah transportasi yang bisa memuat barang banyak dan mampu menjangkau gang-gang di perkampungan.

Karena itu, Cici menolak anggapan bahwa becak sebagai gangguan lalu lintas atau penyebab kemacetan. Baginya, becak memiliki hak yang sama di jalan raya seperti halnya sepeda motor, pejalan kaki, mobil, ataupun sepeda.

“Kalau seumpamanya dianggap dia pengganggu kemacetan, kayaknya yang harus diatur adalah lalu lintasnya lagi deh. Bukan becaknya,” tegas Cici.

Ia juga tidak setuju jika becak dianggap sudah tidak cocok lagi di Kota Bandung. Ia juga menyoroti realitas sosial para penarik becak yang saat ini terhimpit kebutuhan. Hilangnya becak berarti hilangnya mata pencaharian bagi para penariknya.

Alih-alih memarjinalkan becak, Cici berharap kendaraan roda tiga ini agar terus dipertahankan di Kota Bandung. Menurutnya, becak bisa saja dimodifikasi menjadi lebih modern, misalnya ditarik dengan mesin sepeda motor. Setelah itu, becak memerlukan jalur khusus sehingga mereka bisa bersaing dengan kendaraan cepat lainnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//