RESENSI BUKU: Di Victoria Park Bukan Sekadar Kisah Sedih Buruh Migran Perempuan
Buku Tentang Sedih di Victoria Park memperlihatkan bagaimana para pekerja migran perempuan membangun solidaritas dan berbagi kesedihan.
Penulis Muhamad Rafi 5 Juli 2026
BandungBergerak - Setiap Minggu, Victoria Park yang terletak di jantung Kota Hong Kong berubah wajah. Taman yang pada hari-hari biasa dikuasai warga lokal dan wisatawan itu mendadak dipenuhi perempuan-perempuan berkulit sawo matang, berbincang dalam bahasa Jawa, duduk lesehan di atas koran atau terpal tipis.
Mereka adalah buruh migran perempuan Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Menggunakan hari minggu sebagai satu-satunya hari libur dalam seminggu untuk sekedar bernapas, berbagi cerita, dan mengingat kembali kehidupannya sebagai manusia. Fransisca Ria Susanti, jurnalis yang menetap di Hong Kong selama empat tahun (2006–2010), menggambarkan kehidupan mereka dalam buku Tentang Sedih di Victoria Park: Kisah Buruh Migran Indonesia di Hong Kong.
Keunggulan buku ini dimulai dari posisi penulisnya sendiri. Fransisca bukanlah seorang jurnalis yang datang kemudian pergi ketika tulisannya selesai. Fransisca tinggal di sana, mengamati, dan menjalin hubungan dengan para perempuan yang dikisahkan dalam bukunya. Cara ini terlihat dari Fransisca yang mengangkat hal-hal yang hanya bisa diketahui oleh seseorang yang benar-benar berada di sana.
Fransisca menggambaran bahasa tubuh seorang perempuan lokal Hong Kong di eskalator yang menutup hidung ketika berdesak-desakan dengan pekerja Indonesia, atau penumpang bus yang memilih berdiri sepanjang perjalanan daripada duduk di sebelah buruh migran. Itu semua merupakan hal yang bisa didapatkan hanya dengan melihat langsung kejadiannya.
Dua adegan itu menunjukan bahwa diskriminasi tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan fisik. Hal tersebut bisa ditunjukan dengan gerakan tangan, hidung yang dikerucutkan, atau dengan kursi bus yang sengaja dikosongkan. Dengan tidak mendramatisasinya, Fransisca mencatat dan membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri betapa beratnya beban diskriminasi yang dihadapi buruh imigran di negeri perantauan, baik di tempat kerja, transportasi publik, atau bahkan di rumah sakit.
Tapi buku ini tidak berhenti pada cerita kekerasan terhadap buruh imigran. Tentang Sedih di Victoria Park juga membahas peran gender yang jarang dibicarakan ketika adanya diskusi mengenai migrasi Indonesia. Para buruh perempuan ini adalah tulang punggung keluarga, mereka mengirim uang upah buruhnya untuk membiayai sekolah anak sekaligus memastikan dapur rumah tetap terisi dengan makanan.
Sementara itu, suami mereka tinggal di rumah mengasuh anak. Tidak jarang suami menghabiskan kiriman uang istrinya bersama perempuan lain.
Fransisca tidak menggambarkan kejadian tersebut hanya sebagai pengalaman personal. Ia menggambarkan bahwa uang yang dikirim ke kampung halaman merupakan bentuk cinta jarak jauh dan juga menjadi penanda bahwa mereka masih ada meski dirinya jauh di negeri orang.
Selain itu, buku ini juga membahas topik yang hampir tidak pernah dibahas dalam isu pekerja migran, yaitu hubungan sesama jenis di antara para buruh migran. Beberapa perempuan beralih ke hubungan sesama jenis sebagai pelarian akibat pengkhianatan suami di kampung halaman. Dalam situasi ini, Fransisca menunjukkan peran sistem yang memisahkan keluarga dalam jangka waktu yang lama. Ia tidak menyebut fenomena tersebut sebagai penyimpangan moral, apalagi menghakimi.
Yang tak kalah penting dalam buku ini adalah kisah tentang Victoria Park sendiri sebagai ruang kolektif. Di taman itu, buruh migran tidak hanya beristirahat, mereka membangun komunitas sebagai sistem penopang kehidupan mereka sendiri. Dari pertemuan setiap hari minggu itu lahir komunitas yang menggalang dana untuk tempat berlindung bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan, menjadi jaringan advokasi hak buruh di forum internasional, bahkan lahir aktivitas menulis yang melahirkan penyair dan penulis dari kalangan pekerja domestik.
Dengan kata lain, Victoria Park bukan hanya taman, tetapi bentuk perwujudan apa yang bisa dibangun manusia jika negaranya sendiri gagal menjamin kehidupan mereka.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Negara Agraris yang Kehilangan Tanah untuk Petaninya
RESENSI BUKU: Kelabang, Kisah Para Narapidana, dan Siksaan Bagi Pembacanya
Buku Tentang Sedih di Victoria Park menggambarkan kehidupan buruh migran dengan kuat, tetapi belum banyak mengulas posisi rentan perempuan Indonesia dalam sistem penempatan kerja. Buku ini lebih menonjolkan kisah-kisah yang menggugah empati daripada mengupas akar persoalan yang membuat para buruh migran perempuan terus berada dalam situasi tidak aman.
Terlepas dari itu, relevansi buku ini tidak hilang oleh usianya. Rilis pada tahun 2013, Tentang Sedih di Victoria Park masih berbicara kondisi yang berlangsung hingga saat ini. Jawa Barat disebut sebagai salah satu provinsi yang mengirim pekerja migran nasional terbanyak. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan yang kisahnya diceritakan dalam buku ini berasal dari daerah yang tidak terlalu jauh dari Bandung atau dari kampung-kampung di Garut, Cianjur, Subang, Indramayu. Mereka pergi demi keluarga agar terus bisa menyambung hidup dan pulang dengan membawa uang yang didapatkannya dengan luka pedih yang jarang diketahui secara umum. Setidaknya mereka masih pulang.
Buku ini menunjukkan betapa berat perjuangan buruh migran perempuan sekaligus menghadirkan suara yang selama ini jarang terdengar. Tentang Sedih di Victoria Park layak dibaca karena mengajak pembaca mempertanyakan mengapa mereka yang menopang ekonomi keluarga, bahkan turut berkontribusi pada perekonomian nasional, justru harus menanggung beban itu sendirian.
Informasi Buku
Judul: Tentang Sedih di Victoria Park: Kisah Buruh Migran Indonesia di Hong Kong
Penulis: Fransisca Ria Susanti
Penyunting: Mathori A Elwa
Desain Sampul: F. Sigit Santosa
Desain Isi: Mudris Amin
Penerbit: Nuansa Cendekia, Bandung
Jumlah Halaman: 228 halaman
ISBN: 978-602-8394-33-8
Tahun: 2013.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


