Para Pedagang di Terminal Cicaheum Menunggu Kepastian Kompensasi
Di balik transformasi Terminal Cicaheum menjadi depo BRT Bandung Raya, ada para pedagang yang menggantungkan hidup selama puluhan tahun.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 8 Juli 2026
BandungBergerak - Terminal Cicaheum, Kota Bandung, yang selama lebih dari tiga dekade menjadi sumber penghidupan para pedagang, segera berubah fungsi menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung Raya. Sejak seluruh operasional bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang pada 26 Juni 2026, aktivitas ekonomi di kawasan terminal mulai meredup.
Meski masih menjadi lokasi transit sejumlah bus swasta, perpindahan layanan membuat penumpang hanya singgah beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan. Akibatnya, kios-kios yang selama ini bergantung pada arus penumpang kehilangan pembeli.
Pantauan BandungBergerak Senin sore, 6 Juli 2026, suasana Terminal Cicaheum masih memperlihatkan lalu lalang bus yang berhenti sejenak untuk menaikkan penumpang. Klakson kendaraan dan suara kernet masih terdengar bersahutan. Namun, di lorong-lorong kios, sebagian besar pedagang hanya duduk menunggu pelanggan yang tak kunjung datang.
Tampak juga sejumlah spanduk berisi tuntutan pedagang. Mereka meminta jaminan bagi kelangsungan hidup setelah Terminal Cicaheum dialihfungsikan.
Di sebuah warung nasi Padang, lauk-pauk tersusun rapi di balik etalase kaca. Hingga sore menjelang, tidak satu pun pembeli datang.
Pemilik warung, Uni, mengaku telah berjualan di Terminal Cicaheum sejak 1994. Selama lebih dari 30 tahun, terminal menjadi sumber penghidupan keluarganya. Kini, ia menghadapi kenyataan bahwa kiosnya akan dibongkar untuk pembangunan depo BRT.
"Kalau sudah ada duit, enggak apa-apa. Masa mau diusir gitu saja, enggak dikasih duit. Sudah ada duit, kita pindah enggak apa-apa," ujarnya.
Menurut Uni, para pedagang bukan menolak pembangunan depo BRT Bandung Raya. Mereka hanya menginginkan kepastian mengenai kompensasi sebelum meninggalkan tempat usaha yang telah mereka tempati selama puluhan tahun.
Kondisi serupa dirasakan pedagang lain yang telah berjualan sejak 1978. Ia mengatakan aktivitas terminal memang tidak lagi seramai dulu, tetapi bus dan penumpang masih datang sehingga roda ekonomi kecil di kawasan itu belum sepenuhnya berhenti.
"Pedagang masih aktif, bus masih ada, penumpang masih ada. Jangan sampai begini, kita belum dikasih kompensasi tapi sudah ditakut-takuti dengan pembongkaran," katanya.
Ia mengaku khawatir karena mendengar rencana pembongkaran kawasan terminal akan dimulai dalam waktu dekat, sementara besaran maupun waktu pencairan kompensasi belum dipastikan.
Terminal Cicaheum bukan hanya simpul transportasi, tetapi juga ruang ekonomi yang menghidupi ratusan pedagang selama puluhan tahun. Sejak diresmikan pada 23 Agustus 1975 sebagai terminal induk Kota Bandung, kawasan ini berkembang menjadi pusat aktivitas bus antarkota, angkutan kota, hingga angkutan perdesaan. Arus penumpang yang berlangsung hampir 24 jam membuat puluhan warung makan, kios oleh-oleh, pedagang asongan, hingga jasa pendukung lainnya bertahan dan menggantungkan penghidupan di terminal tersebut.
Dalam laporan BandungBergerak sebelumnya, Dewi, 58 tahun, salah seorang pedagang yang telah berjualan makanan, minuman, dan oleh-oleh sejak 1995, mengenang masa ketika Terminal Cicaheum menjadi salah satu terminal tersibuk di Bandung. "Ramai sekali waktu itu. Saya bisa sekolahin anak-anak semua sampai lulus kuliah," ujarnya.
Menurut Dewi, kondisi mulai berubah sejak pandemi Covid-19. Jumlah penumpang menurun drastis sehingga pendapatan pedagang ikut merosot. "Sekarang paling cukup buat balik modal dan makan," katanya.
Waktu itu, rencana alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo Bus Rapid Transit Bandung Raya pun menambah kekhawatiran para pedagang. Mereka tidak hanya kehilangan pelanggan akibat berkurangnya aktivitas terminal, tetapi juga mempertanyakan kepastian nasib usaha mereka ketika kawasan tersebut dibongkar.
"Sebagian pedagang mengandalkan penumpang bus malam. Kalau nanti ditutup, gimana mereka jualannya?" ujar Neni, 45 tahun, pedagang makanan dan minuman di kawasan terminal.
Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Pendapatan Sopir, Mengapa Angkot Bandung tak Kunjung Bertransformasi?
Balada Pedagang Kecil di Terminal Cicaheum

Jadwal Pembongkaran Terminal Cicaheum
Petugas Dinas Perhubungan yang bertugas di Terminal Cicaheum, Dadang Herdiatna, mengatakan jadwal pembongkaran masih menyesuaikan hasil koordinasi dengan Kementerian Perhubungan.
"Sejauh ini melihat situasi, bisa saja berubah waktunya, tapi sesuai rapat terkait dengan Kementerian Perhubungan ya tanggal 10," ujarnya.
Kepala Terminal Cicaheum Asep Supriadi menjelaskan bahwa pengosongan terminal merupakan tindak lanjut keputusan pemerintah untuk mendukung pembangunan sistem BRT Bandung Raya.
Sejak 26 Juni, seluruh pemberangkatan awal bus AKAP dan AKDP telah dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang. Bus yang masih terlihat masuk ke Terminal Cicaheum hanya melakukan transit atau menaikkan penumpang yang telah menunggu, bukan lagi memulai perjalanan dari terminal tersebut.
"Untuk pemberangkatan awal semuanya sudah diarahkan ke Terminal Leuwipanjang," kata Asep.
Menurut Asep, persoalan yang kini masih diselesaikan pemerintah adalah kompensasi bagi pedagang terdampak.
"Yang perlu diselesaikan sekarang masalah kompensasi pedagang yang terdampak pembangunan depo BRT," ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan depo merupakan proyek Kementerian Perhubungan. Seluruh bangunan di kawasan Terminal Cicaheum nantinya akan dibongkar untuk mendukung operasional BRT. Setelah transformasi selesai, kawasan tersebut tetap melayani angkutan kota sebagai feeder transportasi publik, sementara seluruh layanan bus AKAP dan AKDP dipusatkan di Terminal Leuwipanjang.
"Kami menghimbau untuk seluruh warga masyarakat Kota Bandung, marilah kita dukung bersama program pemerintah dengan pembangunan Depo BRT di wilayah Bandung Raya demi kebaikan warga Kota Bandung dan Jawa Barat," ujar Asep.
Di tengah proses transisi itu, sopir bus Haryanto rute Cimahi-Bojonegoro, Ivan, menilai perpindahan operasional tidak banyak menimbulkan kebingungan bagi penumpang.
"Enggak ada," ujarnya saat ditanya apakah masih banyak penumpang yang salah datang ke Terminal Cicaheum.
Bus yang dikemudikannya kini hanya singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
Transformasi Terminal Cicaheum memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya mengubah wajah kota, tetapi juga mengubah kehidupan masyarakat yang selama puluhan tahun bergantung pada ruang tersebut. Di balik rencana modernisasi transportasi, masih ada puluhan pedagang yang menunggu satu hal yang mereka anggap paling mendasar: kepastian kompensasi sebelum meninggalkan tempat mereka mencari nafkah.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


