• Berita
  • Open Lab Pseudo-Entertainment #2: Ketika Residensi Mengubah Cara Seniman Membaca Bandung

Open Lab Pseudo-Entertainment #2: Ketika Residensi Mengubah Cara Seniman Membaca Bandung

Dari riset dua seniman Jepang tentang burung hingga eksplorasi logat oleh seniman Indonesia, Pseudo-Entertainment #2 menghadirkan proses kreatif sebagai ruang publik

Seniman, kurator, dan pengunjung berdiskusi dalam sesi penutup Open Lab Pseudo-Entertainment #2 di Hallway Space, Bandung, Juli 2026. (Foto: Muhammad Fauzi Syakir/BandungBergerak)

Penulis Femmi Trimartsyah 11 Juli 2026


BandungBergerakDua seniman asal Jepang, Minami Nakayashiki dari Yokohama dan Naosuke Aoki dari Tokyo, datang ke Bandung membawa riset yang telah mereka bangun di negara asal tentang relasi manusia dan burung. Namun, setibanya di Bandung, riset itu justru berubah arah. Perbedaan lanskap kota, populasi burung, hingga cara masyarakat memelihara satwa memaksa keduanya menyusun ulang gagasan yang telah matang.

Pengalaman itulah yang menjadi salah satu wajah dari program residensi dalam Open Lab Pseudo-Entertainment #2 di Hallway Space, Bandung, Kamis, 9 Juli 2026. 

Kurator festival, Eko, mengatakan hubungan manusia dan burung yang ditemukan kedua seniman di Bandung berbeda dengan yang mereka kenal di Jepang. Menurutnya, burung di kawasan perkotaan Bandung lebih banyak dijumpai di gantangan lomba burung berkicau daripada hidup bebas di pepohonan.

Perjumpaan dengan konteks baru itu membuat karya Minami dan Aokir berkembang bukan sebagai pengulangan pengalaman di Jepang, melainkan hasil dialog dengan lingkungan yang mereka temui selama residensi. 

Proses semacam itu menjadi benang merah Open Lab Pseudo-Entertainment #2. Program ini tidak hanya menampilkan karya yang telah selesai, tetapi juga membuka proses kreatif seniman kepada publik melalui residensi, laboratorium artistik, dan ruang diskusi.

Eko menambahkan, riset dalam program residensi tidak dipahami sebagai penelitian akademik yang berjarak dari objeknya. Yang menjadi pijakan justru pengalaman langsung di lapangan—mengamati, menelusuri, dan mengalami sendiri realitas yang ditemui. Selama residensi, para seniman juga saling mendampingi dan memberi masukan atas proses kreatif masing-masing, bukan dalam relasi guru dan murid, melainkan sebagai sesama perupa yang bersama-sama mengembangkan gagasan.

Direktur Pseudo Entertainment, Taufik Darwis, mengatakan skema residensi dipilih agar para seniman tidak sekadar datang dan menghasilkan karya tentang Bandung.

"Seniman yang diundang ke sini tidak tiba-tiba berbicara tentang Bandung," kata Taufik Darwis.

Para seniman, lanjut Taufik, harus menyelami dulu, mengamati, bahkan terlibat langsung dengan warga sebelum pengalaman itu diterjemahkan menjadi karya.

Menurut Taufik, Bandung masih membutuhkan lebih banyak ruang seni yang mengangkat persoalan kota. Program semacam ini tidak hanya penting bagi seniman untuk mengembangkan praktik artistik, tetapi juga memberi kesempatan kepada masyarakat melihat dan memahami kotanya dari sudut pandang yang berbeda.

Diketahui, Festival Pertunjukan Pseudo-Entertainment #2 berlangsung di Hallway Space, Bandung, pada 8–12 Juli 2026. Program yang diproduksi BPAF Foundation sebagai bagian dari jejaring Antaragam ini melibatkan 15 seniman Indonesia serta dua seniman Jepang, Minami dan Aokid.

Festival ini menjadi puncak rangkaian program yang telah berjalan sejak pertengahan Mei 2026. Selama hampir dua bulan, para seniman mengikuti residensi, OpenLab, residensi riset internasional, dan inkubasi praktik artistik sebelum mempresentasikan hasil pengembangannya kepada publik. Melalui proses tersebut, Bandung diposisikan sebagai ruang pertemuan berbagai praktik artistik, latar belakang, dan komunitas.

Pada Kamis tersebut, festival memasuki hari kedua penyelenggaraan. Berbeda dengan pameran atau festival pada umumnya, setiap hari menghadirkan susunan presentasi yang berbeda sehingga pengalaman pengunjung bergantung pada hari kedatangannya.

Rangkaian kegiatan hari itu dimulai pukul 14.00 WIB. Pengunjung diajak mengikuti alur presentasi di empat titik, yang mengangkat beragam isu, mulai dari premanisme dan fenomena jamet hingga dinamika kehidupan keluarga. Sesi ditutup dengan diskusi melingkar yang mempertemukan kurator, seniman, dan pengunjung untuk membahas karya serta proses kreatif yang baru mereka saksikan.

Baca Juga: Pseudo-Entertainment #2 Hadirkan 17 Seniman Indonesia dan Jepang, Bandung Jadi Ruang Eksperimen Seni Pertunjukan
Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi

Ketika Bahasa Ikut Berpindah

Seniman lainnya, Francisca, 24 tahun, mengajak pengunjung pameran bicara soal logat yang berubah setiap kali seseorang berpindah kota. Francisca, akrab disapa Frans, berasal dari Flores. Ia sempat menempuh pendidikan di Yogyakarta sebelum akhirnya membawa karyanya ke Bandung.

Di Festival Pertunjukan Pseudo-Entertainment #2 ia menyajikan karya berjudul Tukar Koda Menangkap Gagap Lidah Ludah. Kata "koda" diambil dari bahasa Lamaholot yang berarti tuturan, lisan, sesuatu yang dibicarakan dan diumumkan. 

"Karena resah itu di aku," katanya, ketika ditanya alasan memilih topik ini. "Terus aku mencoba melihat, ini kan sebenarnya juga umum, dan hampir semua orang mengalami itu."

Ia bercerita, logat asal seseorang sering "bocor" begitu berada di ruang yang lebih dominan. Ada dorongan untuk menyesuaikan diri untuk meniru cara bicara yang terasa lebih diterima di kota rantauan, meski bahasa yang dipakai tetap sama-sama bahasa Indonesia.

"Tapi apakah perlu gitu?" katanya. "Padahal kan kita juga tetap menggunakan bahasa Indonesia."

Studio presentasinya sekaligus jadi ruang risetnya sendiri. Setiap pengunjung yang datang dan bercerita, tanpa sadar ikut menyumbang data bagi karyanya sebagai proses artistik dan proses pengumpulan cerita berjalan berbarengan, di ruang dan waktu yang sama.

Frans tidak berharap orang yang keluar dari ruang presentasinya langsung membawa pandangan yang sepenuhnya baru. Yang ia harapkan pengunjung dapat tumbuh rasa kesadaran terhadap hal-hal yang selama ini dianggap biasa, seperti rasa minder terhadap logat sendiri atau dorongan untuk menyesuaikan cara bicara agar lebih diterima di lingkungan baru.

"Ada yang geser," katanya, menggambarkan perubahan kecil yang ingin ia hadirkan. "Kayak gitu-gitu sih."

Selain pameran, karya-karya para seniman didiskusikan. Frans, Taufik, Eko, dan tiga seniman lainnya duduk di lingkaran yang sama dengan para pengunjung. Tidak ada lagi sekat antara penyaji dan pengunjung. Yang tersisa hanya percakapan saling bertukar cerita, pengalaman, dan pandangan tentang apa yang baru saja mereka saksikan.

Dari ruang itu, karya-karya yang sebelumnya hadir sebagai presentasi perlahan berubah menjadi bahan diskusi bersama, membuka kemungkinan tafsir yang terus berkembang bahkan setelah acara berakhir.

Aprilia, pengunjung yang hadir dalam diskusi, mengatakan ruang residensi baginya bukan sekadar wadah eksposur bagi seniman, tetapi tempat menguji bagaimana sebuah karya dengan konteks Bandung benar-benar hidup ketika bertemu publik.

"Bandung itu kota yang sangat besar. Dan banyak sekali permasalahan kompleks yang perlu diangkat," kata Aprilia.

Bagi penyelenggara, ruang residensi bukan sekadar tahapan menuju pertunjukan. Ia kesempatan bagi seniman untuk memahami kembali gagasannya sebelum dipertemukan dengan publik. Sebab karya seni tidak hanya lahir dari panggung, melainkan juga dari proses panjang yang sering kali luput dari perhatian penonton.

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//