• Cerita
  • Dari Kardus Bekas, Alzhea Membangun Mimpi di Pinggir Terminal Ledeng

Dari Kardus Bekas, Alzhea Membangun Mimpi di Pinggir Terminal Ledeng

Bersama teman-temannya, siswi kelas 3 SD ini menyulap kardus menjadi photobooth, menjual karya buatan tangan, menabung untuk membeli tas sekolah, dan berbagi.

Bilik foto Alzhea di Terminal Ledeng, Badung, Kamis, 9 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 13 Juli 2026


BandungBergerak - Tepat di sebuah gang samping Terminal Ledeng, Alzhea dan kawan-kawan mendirikan bilik kecil photobooth dari lembaran kardus. Dihiasi gambar-gambar berwarna hasil goresan tangan, bocah kelas 3 SDN 212 Harapan Kota Bandung tersebut selain membuka jasa photobooth juga menjual boneka, squishy, dan hasil karya lain yang mereka buat sendiri.

Mulai siang hingga sore hari, mereka menunggu pengunjung yang datang silih berganti. Anak-anak itu menawarkan jasa berfoto dengan penuh percaya diri, sesekali memanggil orang yang melintas agar mampir ke lapak mereka.

Semua bermula dari kegemaran Alzhea menggambar. Ibunya, Septi Ristuti, bercerita bahwa putrinya memang sejak kecil senang mewarnai dan membuat berbagai kerajinan. Hobi itu kemudian berkembang menjadi kebiasaan membuat barang-barang kecil untuk dijual di sekolah, mulai dari stiker hingga squishy hasil rakitannya sendiri.

"Pas liburan dia bilang, 'Ibu, aku mau jualan photobooth’. Saya juga enggak tahu konsepnya seperti apa. Tahu-tahu dia pulang bawa uang sambil bilang, 'Ibu, ini laku dapet uang’," ujar Septi sambil tersenyum, Kamis, 9 Juli 2026.

Septi tidak pernah memaksa atau menyuruh anaknya berjualan. Baginya, ide itu lahir sepenuhnya dari rasa ingin tahu dan kreativitas Alzhea. Yang ia lakukan hanyalah mendampingi ketika anaknya membutuhkan bantuan.

Bilik foto Alzhea di Terminal Ledeng, Badung, Kamis, 9 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Bilik foto Alzhea di Terminal Ledeng, Badung, Kamis, 9 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Keluarga mereka tinggal di sebuah rumah kos sederhana dua petak di belakang Terminal Ledeng. Septi dan suaminya membesarkan empat orang anak, dengan Alzhea sebagai anak kedua. Di tengah keterbatasan ruang dan ekonomi keluarga, mereka berusaha memberi kebebasan kepada anak-anak untuk belajar, bereksplorasi, dan menemukan cara berkarya.

Salah satu sumber belajar Alzhea adalah YouTube. Dengan meminjam telepon genggam milik ibunya, ia mencari tutorial menggambar dan mencoba menirukan berbagai teknik membuat squishy secara otodidak. Dari layar kecil itulah perlahan kemampuannya berkembang.

Seluruh gambar yang menghiasi photobooth merupakan hasil karya Alzhea sendiri.

Menurut ibunya, bakat itu tidak datang begitu saja. Alzhea bahkan telah dua kali menjuarai lomba mewarnai tingkat sekolah dasar. Di sekolah pun ia kerap berjualan stiker lucu yang dibelinya melalui online dan menjualnya kembali. Ide kreatif ini selalu terpikir oleh Alzhea, karena ia ingin sekali menabung untuk membeli tas sekolah.

Dalam delapan hingga sembilan hari membuka lapak selama masa liburan sekolah, hasil penjualannya telah mencapai sekitar 250 ribu rupiah lebih. Setiap hari, uang yang diperoleh diserahkan kepada sang ibu untuk dihitung dan ditabung.

Saat ditanya untuk apa uang itu akan digunakan, jawaban Alzhea terdengar sederhana, tetapi menyentuh.

"Aku ditabung dulu. Penien beli peralatan sekolah. Pengin tas juga. Soalnya aku enggak mau nyusahin orang tua, Kak," ujarnya.

Keinginan itu menjadi alasan mengapa ia tetap bersemangat menjaga lapak dari siang hingga sore. Namun, yang membuat cerita Alzhea lebih dari sekadar kisah seorang anak berjualan adalah kepeduliannya terhadap teman-teman.

Beberapa anak sebaya ikut membantu menawarkan photobooth kepada pengunjung. Ada yang memanggil orang-orang yang lewat, ada pula yang membantu membawa barang dagangan dari rumah.

Septi mengatakan putrinya selalu meminta agar sebagian hasil jualan dibagikan kepada teman-temannya.

"Ibu, kasih ya sebagian buat teman aku. Kasihan dia udah bantuin," kata Septi menirukan ucapan Alzhea.

Anak-anak yang membantu menjaga lapak mendapat bagian antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah, bergantung pada seberapa lama mereka ikut membantu. Nominalnya memang tidak besar, tetapi menunjukkan bahwa Alzhea memahami arti berbagi sejak usia dini.

Baca Juga: Ketika Becak Menepi di Pinggiran Sejarah Kota Bandung
Pesan dari Gunung Tangkuban Parahu: Pamali yang Mulai Dilupakan

Bilik foto Alzhea di Terminal Ledeng, Badung, Kamis, 9 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Bilik foto Alzhea di Terminal Ledeng, Badung, Kamis, 9 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Kreativitas mereka rupanya menarik perhatian banyak orang.

Salah seorang pengunjung, Alisa Billa Amalia, mahasiswi asal Garut yang sedang menempuh studi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mengaku pertama kali mengetahui lapak tersebut melalui TikTok. Sepulang kuliah, ia memutuskan mampir setelah diajak langsung oleh anak-anak yang menjaga lapak.

Menurutnya, daya tarik photobooth itu bukan hanya karena harganya yang murah—mulai 1.000 hingga 2.000 rupiah—melainkan karena seluruh konsepnya dibangun sendiri oleh anak-anak.

"Menarik karena gambarnya dibuat langsung sama adik-adiknya. Selain photobooth, mereka juga jual boneka dan squishy buatan sendiri. Jadi kelihatan kreatif," ujarnya.

Alisa juga mengapresiasi bagaimana anak-anak memanfaatkan kardus bekas menjadi ruang photobooth yang sederhana, tetapi mampu menarik perhatian banyak orang.

"Keren banget. Mereka sudah berpikiran kreatif dari kecil. Booth-nya juga dibuat sendiri dari kardus," katanya.

Pendapat serupa disampaikan Suci, mahasiswi semester tujuh Jurusan IPS UPI. Ia mengaku pertama kali mengetahui lapak itu saat melintas dan sempat diajak mampir oleh anak-anak. Belakangan, ia kembali melihatnya melalui media sosial.

"Menurut aku kreatif sih. Waktu aku seusia mereka belum kepikiran kayak gitu. Kreativitasnya juga bisa menghasilkan," ujarnya.

Media sosial memang menjadi salah satu faktor yang membuat lapak kecil itu semakin dikenal. Menurut Septi, setelah seorang mahasiswa UPI mengunggah video tentang photobooth Alzhea ke TikTok, semakin banyak orang berdatangan. Beberapa di antaranya bahkan sengaja datang hanya untuk melihat atau berfoto.

Meski demikian, suasana di lapakan sore itu tetap hidup terasa seperti dunia anak-anak. Di sela-sela wawancara, beberapa bocah yang ikut menjaga lapak tiba-tiba menirukan gaya seorang reporter.

"Berita hari ini!" seru mereka sambil tertawa, lalu saling bertanya mengapa saya sang wartawan begitu banyak mengajukan pertanyaan.

Gelak tawa pun pecah. Kepolosan mereka seolah mengingatkan bahwa di balik semangat mencari uang, mereka tetaplah anak-anak yang senang bermain, bercanda, dan riang tak ada beban.

Lapak kecil di pinggir gang itu mungkin hanya berdiri selama liburan sekolah. Kardus-kardusnya suatu hari akan dilepas, gambar-gambarnya mungkin akan pudar diterpa hujan dan panas. Namun, nilai yang tumbuh dari sana jauh lebih besar daripada uang 1.000 atau 2.000 rupiah yang dibayarkan setiap pengunjung.

Dari sebuah pengalaman ini, Alzhea belajar bahwa kreativitas dapat menjadi jalan untuk berkarya, kemandirian bisa dimulai sejak usia dini, dan keberhasilan terasa lebih bermakna ketika dapat dibagikan kepada orang lain. Di tengah hiruk-pikuk kota Bandung, pelajaran itu justru datang dari tangan-tangan kecil yang menggambar di atas kardus bekas.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//