Pesan dari Gunung Tangkuban Parahu: Pamali yang Mulai Dilupakan
Di puncak Gunung Tangkuban Parahu, warga adat mengingatkan batas hubungan manusia dengan alam yang kian dilupakan.
Penulis Prima Mulia29 Juni 2026
BandungBergerak - Seorang perwakilan pemuka adat dari organisasi budaya suku Dayak Tariu Borneo Bangkule Rajakng mengangkat seekor ayam jago ke udara. Bibirnya merapal doa, sesekali melempar beras kuning dan air suci ke sekeliling.
Ribuan warga lintas usia, agama, dan budaya mengikuti dengan khidmat ritual Ngertakeun Bumi Lamba, upacara penting untuk menjaga keharmonisan manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta, di kaki Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Minggu pagi, 21 Juni 2026.
Kabut, asap, dan aroma pedupaan menguar ke udara. Wanginya cukup kuat, bahkan bisa membuat pening mereka yang tak terbiasa dengan aroma dupa. Ritual demi ritual dijalani di area luas dekat terminal shuttle Jayagiri. Warga berbaur dengan komunitas adat dan perwakilan kerajaan Nusantara.
Mengusung tema “Manik Maya: Ibu Bumi Bapa Angkasa”, puncak upacara yang paling ditunggu akhirnya tiba, yakni membawa jampana sesaji ke bibir Kawah Ratu di puncak Tangkuban Parahu yang berada di wilayah Kabupaten Subang.
Jarak dari terminal Jayagiri menuju kawah cukup jauh, ditambah kontur jalan yang menanjak. Karena itu, jampana, sesaji, dan sebagian besar peserta menggunakan kendaraan menuju area parkir di bibir kawah.
Dari area parkir, peserta berjalan sekitar 200 meter menuju lembah di arah gerbang masuk Hutan Cikole. Ribuan peserta berbaur dengan warga dan wisatawan yang ingin menyaksikan jalannya ritual di lapangan luas tersebut.
Setelah rangkaian ritual di kaki gunung selesai, seluruh peserta bersiap bergerak ke puncak. Saat iring-iringan mulai berjalan, warga dan wisatawan memanfaatkan momen untuk berfoto bersama pasukan merah Dayak maupun komunitas adat Dayak Indramayu. Perwakilan keluarga keraton Nusantara juga hadir, di antaranya dari Bali dan Jawa Tengah. Penyanyi Ully Sigar Rusadi turut hadir mewakili Sumedang Larang.
Karena jaraknya cukup jauh, jampana dan sesaji diangkut menggunakan kendaraan bermotor. Sebagian besar peserta juga menuju puncak dengan kendaraan. Dari area parkir Kawah Ratu, jampana dan sesaji kemudian dibawa dengan berjalan kaki menuju bibir kawah.
Di sana warga sudah menyemut menunggu kedatangan rombongan pembawa jampana dan para pemuka adat yang akan memulai ritual ngalung atau melempar sesaji ke dalam kawah. Siapa pun boleh mengambil sesaji untuk dilemparkan. Kelapa, ayam jago, beras, hasil bumi, kue tradisional, hingga berbagai jenis bunga dilempar ke kawah.
“Makanan yang terbungkus plastik dibuka dulu kemasannya, kita tidak menyampah plastik ya,” kata seorang warga adat mengingatkan.
Baca Juga: Ujian Keberpihakan Negara pada Masyarakat Adat dalam Prolegnas 2026
Tanah yang Meredakan Rasa Lapar dan Negara yang Tak Pernah Mau Belajar
Pesan menjaga alam itu mengingatkan saya pada pengalaman lain di kawasan hulu Sungai Citarum.
Saya teringat saat pertama kali datang ke mata air Sungai Citarum di Situ Cisanti, kaki Gunung Wayang. Pepohonan berdiameter tiga hingga empat meter mulai ditebang untuk membangun danau buatan sebagai penampung mata air.
Dulu, hutan dan pepohonan di sekitar mata air itu terjaga oleh satu kata yang kini mungkin dianggap kuno dan kehilangan makna, yakni pamali atau pemali. Menurut KBBI, pemali berarti larangan berdasarkan adat dan kebiasaan di suatu tempat yang diyakini akan mendatangkan musibah jika dilanggar. Pemali bukan sekadar perkara klenik. Nenek moyang Nusantara menerapkannya untuk menjaga keharmonisan manusia dengan alam dan lingkungan tempat mereka hidup.
Masyarakat modern tentu akrab dengan istilah berkelanjutan, go green, atau berbagai embel-embel yang melekat pada sektor pertanian, pertambangan, energi, hingga properti berbalut pariwisata. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit yang justru diikuti pembukaan hutan, alih fungsi lahan, dan eksplorasi tambang.
Konsep pemali juga terasa sepanjang ritual berlangsung. Warga kembali diingatkan pada hukum sebab akibat. Di balik suasana magis puncak Tangkuban Parahu tersimpan pesan kuat tentang pelestarian lingkungan.
Nilai konservasi itu juga tertuang dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang dijunjung masyarakat adat Nusantara. Berkali-kali para pemuka adat menegaskan: hentikan pembukaan hutan untuk proyek komersial, hentikan pembukaan tambang dan alih fungsi lahan di kawasan konservasi maupun hutan adat. Pamali. Konsekuensi yang harus dibayar terlalu mahal jika larangan itu dilanggar.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


