Pseudo-Entertainment #2: Sebuah Pertunjukan Seni, Sekian Usaha Membaca Kota
Melalui festival pertunjukan Pseudo-Entertainment #2, para seniman kembali membaca dan membicarakan Bandung setelah beragam eksplorasi.
Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 14 Juli 2026
BandungBergerak – Fay Muthahhari memulai gerakannya dengan berjalan pelan di ruangan gelap, mengitari susunan hebel berbentuk persegi panjang yang seolah menjadi tembok tak terlihat yang membatasi langkahnya. Nyala lampu kuning terus mengikuti gerak perempuan asal dari Malang ini. Tembok tak terlihat itu terasa kian sempit hingga tidak lama kemudian Fay menjatuhkan diri di atasnya.
Dalam kondisi berbaring di atas susunan hebel, Fay masih terus bergerak. Sesekali dia mengangkat tangannya, menekuk kakinya, atau tiba-tiba menunjukkan gerakan tercekat dengan meluruskan tangannya dan mata yang menatap tajam. Fay tak kunjung berhenti bergerak hingga tiba-tiba sebuah seng jatuh dan hampir menimpa tubuhnya. Ia perlahan berdiri, lalu menginjak seng yang kini telah berada di atas hebel berulang kali.
Tepuk tangan bergermuruh memenuhi ruangan yang semula hening. Penampian Fay di Insitute Francis Indonesia (IFI) Bandung, Kamis malam, 9 Juli 2026, merupakan bagian dari festival pertunjukan Pseudo-Entertainment #2. Selain IFI, rangkaian kegiatan digelar juga di The Hallway Space dan kampus Jurusan Tari ISBI Bandung.
Melalui penampilannya, Fay mencoba mengeksplorasi relasi antara tubuh, aspal, dan perubahan ruang di kawasan permukiman padat yang kian hari kian terasa menjepit. Pengalamannya berlatih tari topeng bapang Malangan sedari kecil di atas kerasnya aspal jalanan bertemu dengan hasil risetnya terkait penyusutan ruang hidup Kota Bandung. Dari sana, dia kemudian menjawab persepsi dan orientasi keruangan dengan kosa gerak Jalak Kecicang yang erat akan keterikatan.
“Dari penelusuran di gang-gang sempit Kota Bandung, saya mendeteksi berbagai macam kompleksitas yang hadir antara warga dan juga arsitektur kota itu sendiri. Dan Bagaimana saya sebagai seorang penari membacaya lewat bagaimana Jalak Kecicang ini membaca situasi tersebut gitu,” jelas Fay, ditemui selepas acara berlangsung.
Fay, yang kini menetap di Surakarta, telah sejak akhir bulan Juni kemarin berkeliling Kota Bandung untuk merumuskan apa yang akan dia tampilkan. Gang-gang sempit yang dia telusuri tersaji sebagai gang-gang tak terlihat yang seiring berjalannya waktu kian menyempit, ditandai dengan gerak tubuhnya di panggung yang semakin terbatas.

Yang Kompleks, Yang Politis
Di panggung yang sama, Ela Mutiara tampil tanpa riasan umumnya penari Bajidoran. Dia hanya mengenakan kaus berwarna merah muda dan celana panjang berwarna kuning dengan bola-bola kecil beragam warga yang memenuhi lantai tempat dia menari. Tidak ada musik gamelan atau nyanyian sinden yang menjadi latar suara tariannya. Malam itu Ela menari diiringi suara rekaman wawacaranya bersama Cucu Ayu.
“Bagaimana Bandung dan Subang menjadi perlintasan wilayah sehingga kan saya harus melihat bagaimana konteks Bajidoran dalam pengalaman Cucu Ayu di Bandung dan Subang,” tutur Ela, perempuan koreografer kelahiran Sukabumi yang saat ini menetap di Yogyakarta.
Cucu Ayu adalah seorang maestro penari dan sinden dalam kesenian Bajidoran. Ada banyak cerita menarik dari perempuan yang memiliki nama asli Cucu Sriwulandari ini, terlebih terkait pengalamannya di atas panggung. Bagi Ela, Cucu Ayu adalah sosok yang kompleks, baik dalam pengalaman sehari-harinya, caranya menghadapi pencekalan, ataupun dalam bersiasat atas suatu masalah yang ada di hadapannya.
Kompleksitas tersebut lahir dari segudang pengalaman yang telah Cucu Ayu lewati, termasuk pentas-pentas di atas panggung sebagai penari. Itulah yang membuat Ela memilih audio wawancaranya bersama Cucu Ayu sebagai pengiring musik untuk tariannya.
“Yang ingin aku sampaikan bahwa meskipun hari ini Cucu Ayu sudah tidak ada di atas panggung, tapi pengalaman dia sampai hari ini masih menjadi pengetahuan untuk kita telusuri. Hanya dari pengalamannya tentunya, kita bisa tahu bagaimana zaman-zaman yang pernah dia lalui, dan aku pikir ini sangat politis,” ungkap Ela.
Baca Juga: Melihat Bandung dari Jendela Angkot, Bukan dari Bingkai Media Sosial
Pesan dari Gunung Tangkuban Parahu: Pamali yang Mulai Dilupakan
Seniman adalah Warga Kota
Festival Pseudo-Entertainment #2 merupakan inisiasi lanjutan dari Bandung Performing Art Forum (BPAF), buah dari serangkaian program lokakarya, riset mandiri, serta residensi dan pertunjukan karya yang dilakukan secara bersama dalam format pertunjukan berdurasi panjang. Konteks Bandung ditetapkan sebagai sebuah ruang dan gagasan yang dirancang dengan sebuah pengalaman bernegosiasi antara ketegangan tubuh dan jiwa. Berbagai fenomena yang terjadi di kota ini terasa masih penting untuk tetap dibicarakan, salah satunya melalui kesenian.
“Praktiknya, bagaimana sih sebenarnya seni-seni pertunjukan yang kita pakai itu sebagai karya, sebagai seniman, bisa dipakai untuk merawat sesuatu yang mungkin penting harus kita rawat. Khususnya karena mungkin banyak dari BPAF sebelumnya itu warga kampung kota gitu. Dan ada urgensi bagaimana cepatnya pembanguan infrastruktur dan apa efek penggusuran,” kata Agung Eko Sutrisno, salah satu kurator.
Menurut Eko, membicarakan kota dalam sudut pandang kewargaan adalah sesuatu yang penting untuk tetap dilakukan di hari ini, termasuk oleh seniman. Dengan masing-masing cara atau metode, seniman yang juga termasuk bagian dari warga berupaya merawat kota dengan membicarakannya melalui kesenian.
“Sehingga kota jadi penting bagi kami untuk percakapan kewargaan,” ujarnnya. “Juga seniman kan sebenarnya adalah warga ya?”
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


