• Berita
  • Monolog Oto Iskandar di Nata: “Malam Ini Aku tidak Akan Pulang"

Monolog Oto Iskandar di Nata: “Malam Ini Aku tidak Akan Pulang"

Di Gedung Majestic Bandung, monolog karya Siediek Djari mengubah kisah kematian Oto Iskandar di Nata menjadi perenungan tentang ingatan yang tak mungkin tenggelam.

Monolog tentang Oto Iskandar di Gedung Majestic, Bandung, Minggu, 12 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 16 Juli 2026


BandungBergerak - Ruang pertunjukan perlahan tenggelam dalam gelap. Hanya satu sorot lampu putih jatuh tepat di tengah panggung, menandai seorang lelaki yang berdiri seorang diri dan memulai dialognya. Tidak ada latar megah, hanya buku yang bertajuhan yang diambilnya satu per satu, kemudian dibacanya.

"Aku tahu. Malam ini aku tidak akan pulang," kata Oto Iskandar di Nata yang diperankan aktor Reza Nois, di pentas monolog "Mauk di Ujung Laut, di Ujung Maut" dari kelompok teater independen Siediek Djari.

Kalimat itu memecah kesunyian menuju akhir pertunjukan yang dipentaskan di Gedung Majestic, Bandung, dalam rangkaian Asia Afrika Festival 2026. Sejak detik pertama, sekitar seratus penonton diajak memasuki malam malam terakhir Oto Iskandar di Nata, seorang tokoh yang namanya diabadikan sebagai jalan dan stadion di Bandung, tetapi kisah akhir hidupnya masih menyisakan misteri hingga hari ini.

Pertunjukan ini dibuka dengan kutipan pidato perjuangan yang lantang. Kata-kata tentang kehormatan tanah air, keadilan, dan kemerdekaan memenuhi ruangan. Suasana revolusi terasa begitu dekat. Namun hanya beberapa menit kemudian, arah cerita berubah. Narasi tentang bangsa perlahan bergeser menjadi narasi tentang rumah.

"Aku sudah tidak memikirkan lagi Republik. Aku tidak memikirkan lagi jabatan."

Di titik itu, monolog seolah mengajak penonton melihat sisi yang jarang hadir dalam buku sejarah. Di balik sosok "Si Jalak Harupat" ternyata ada seorang ayah yang merindukan anak-anaknya, seorang suami yang membayangkan istrinya masih menunggu di balik pintu, dan seorang manusia yang ingin pulang kerumah.

Kerinduan itu dihadirkan lewat potongan-potongan kenangan yang sederhana: suara pring di ruang makan, cahaya dari jendela rumah, suara anak yang memanggil "Bapak", hingga harapan bahwa setiap ketukan pintu adalah kepulangannya sang bapak. Beberapa ledakan emosi mengarah kepada Tuhan tentang nasibnya, kepada negara yang mengadilinya dengan tidak adil. Ledakan itulah yang membuat monolog terasa begitu emosional.

Sutradara sekaligus penulis naskah, Ilyas Mate, mengatakan sejak awal ia memang tidak ingin menghadirkan Oto hanya sebagai tokoh sejarah saja.

"Saya mengambil sudut pandang Oto sebagai seorang ayah dan seorang suami. Lebih ke melankolia," ujarnya.

Pilihan itu membuat pertunjukan keluar dari pola pementasan sejarah yang biasanya bertumpu pada kronologi peristiwa. Alih-alih menjelaskan spesifik siapa yang menculik atau membunuh Oto Iskandar di Nata, monolog justru memusatkan perhatian pada apa yang mungkin dirasakan seseorang ketika mengetahui dirinya tidak akan pernah kembali ke keluarganya.

Di balik proses kreatif itu, Ilyas mengaku menghabiskan sekitar dua bulan untuk menulis naskah berdasarkan berbagai literatur sejarah mengenai Oto Iskandar di Nata serta membaca karya-karya penyair Ahda Imran sebagai bahan pembanding. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pertunjukan ini bukan upaya memberikan jawaban sejarah.

"Monolog adalah satu orang tokoh yang pada dasarnya bisa lebih stand out untuk ngobrolin satu kisah dalam berbagai sudut pandang," katanya, ketika ditanya mengapa memilih cara monolog dibandigkan dengan pertujunkan lainnya.

Baginya, panggung teater bukan ruang untuk memutuskan siapa yang benar atau salah, melainkan ruang untuk membuka kembali percakapan mengenai sejarah yang belum selesai. Pandangan itu terasa kuat ketika pertunjukan memasuki bagian paling mencekam. Cahaya yang semula kuning hangat berubah tajam dan menjadi berwarna coklat gelap.

"Pengkhianat!"

"Antek Belanda!"

Visual wajah hitam yang penuh lebam muncul di latar belakang visual. Tubuh aktor tetap berdiri di tengah panggung, tetapi suara-suara yang menghakimi datang dari segala arah. Penonton tidak diperlihatkan adegan penyiksaan secara langsung. Sebaliknya, tekanan psikologis dibangun melalui tata suara, pencahayaan, dan permainan tubuh yang membuat imajinasi penonton bekerja lebih jauh daripada apa yang benar-benar terlihat.

Sorot lampu tidak sekadar menerangi aktor, melainkan menjadi penanda ritme cerita. Ketika tokoh mengenang keluarganya, cahaya terasa lembut dan intim. Saat tuduhan sebagai pengkhianat mulai bergema, sorotan berubah kontras, sementara sisi panggung lain tenggelam dalam gelap.

Menjelang klimaks, panggung berubah menjadi ruang liminal antara hidup dan mati. Latar visual menampilkan hamparan ombak dan lautan yang terus berganti warna—biru yang tenang, merah yang mencekam, abu-abu yang muram, hingga hijau yang suram mengikuti dinamika batin tokoh. Berbeda dari adegan-adegan sebelumnya yang menempatkan Oto di pusat panggung, kali ini tubuh aktor bergeser ke ujung kanan, seolah-olah ia telah tersingkir dan terpinggirkan dari kehidupan dan dari sejarah itu sendiri.

Dalam kesunyian, tanpa dialog yang terdengar, ia menunduk, membiarkan jemarinya mengusap dan memainkan pasir yang berserakan di lantai panggung. Tatapannya kosong mengarah ke hamparan laut di hadapannya, seperti sedang menyaksikan tubuhnya sendiri hanyut bersama ombak.

Gestur-gestur kecil itu membangun kesan bahwa Oto tengah meratapi takdir yang tak pernah sempat ia pilih.  Ia kehilangan kesempatan untuk pulang dan berpamitan kepada keluarganya. Adegan ini menjadi momen kontemplatif sebelum pertunjukan mencapai puncaknya, ketika tubuh perlahan menghilang, tetapi ingatan tentangnya justru mulai menetap di benak penonton.

Iringan, ombak, denting piano, diselingi bunyi-bunyi pendek yang berulang layaknya detak waktu, seolah menghitung sisa-sisa kehidupan Oto. Memasuki bagian akhir, lapisan bunyi bertambah melalui picking gitar Adin Dimyati dengan efek reverb dan delay yang menggema memenuhi ruang pertunjukan. Mula-mula gitar dimainkan perlahan melalui petikan nada demi nada, kemudian berkembang menjadi rangkaian melodi yang semakin rapat mengikuti peningkatan tempo adegan.

Ketika visual ombak memenuhi latar panggung, suara vokal perempuan mulai masuk, tidak langsung menyanyikan lirik, melainkan mengikuti kontur melodi gitar seperti ratapan yang melayang di atas bunyi-bunyian. Barulah menjelang penutup, vokal itu berkembang menjadi nyanyian utuh yang berpadu dengan gitar dan piano, menciptakan suasana sendu sekaligus kontemplatif.

Diketahui, Oto Iskandar di Nata, tokoh penting Paguyuban Pasundan, diculik dari kediamannya di Jakarta oleh sekelompok pemuda yang menamakan diri Laskar Hitam pada 10 Desember 1945, ketika Republik Indonesia baru berusia sekitar empat bulan. Dalam situasi revolusi yang penuh teror, fitnah, dan kecurigaan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai mata-mata Belanda (NICA), Oto menjadi sasaran tuduhan tersebut.

Menurut rekonstruksi Iip D. Yahya dalam Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories (2017), Oto sempat menunjukkan secarik kain sebagai bukti bahwa dirinya bukan agen NICA dan meminta agar bukti itu disampaikan kepada Sukarno. Namun, para penculik tidak mengenalinya dan tetap membunuhnya di Pantai Ketapang, Mauk, Tangerang, pada pagi hari, sebelum jasadnya bersama seorang korban lain dihanyutkan ke laut.

Peristiwa ini mencerminkan rumitnya kondisi politik dan keamanan pada awal kemerdekaan Indonesia, ketika konflik bersenjata, teror, serta aksi kelompok-kelompok bersenjata kerap menelan korban di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Bandung Hari Ini: Lahirnya Oto Iskandar, Pahlawan yang Mati Dituduh Mata-mata
Monolog Marsinah Menggugat: Membangkitkan Suara yang Terbungkam

Monolog tentang Oto Iskandar di Gedung Majestic, Bandung, Minggu, 12 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Monolog tentang Oto Iskandar di Gedung Majestic, Bandung, Minggu, 12 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Adegan Paling Berat

Reza Nois, sang aktor, mengaku tantangan terbesar dalam memainkan monolog ini bukanlah memerankan seorang pahlawan, melainkan menghadirkan seorang ayah.

"Kebetulan saya sendiri sudah menjadi seorang bapak. Saya membayangkan ketika Oto dipaksa jauh dari keluarganya dan keluarganya tidak tahu kondisi terakhirnya," katanya.

Menurut Reza, proses kreatif dilakukan melalui diskusi panjang bersama sutradara sejak naskah mulai ditulis. Mereka tidak hanya membicarakan sejarah, tetapi juga mencari sisi kemanusiaan Oto yang ingin ditampilkan di atas panggung.

Lamun ceuk Sunda na mah ngageter kitu urang main bieu teh, karena memainkan peran dan beracting udah lama tidak dilakukan akhirnya dilakukan kembali,” kata Reza Nois, usai pertunjukan.

Reza, yang kembali berakting setelah 4 tahun, merasa bagian paling berat adalah ketika tokoh Otto dipaksa menerima cap sebagai pengkhianat, padahal sepanjang hidupnya dikenal sebagai salah satu pelopor perjuangan kemerdekaan dan pergerakan-pergerakan di Indonesia.

Namun bagi Reza, bagian yang paling membekas justru bukan adegan penuh amarah itu, melainkan ketika Oto membayangkan istrinya yang masih menunggu di rumah.

"Istrinya berharap setiap suara di luar rumah adalah suara dia. Berharap setiap ketukan pintu adalah kepulangan dia," ujarnya.

Pilihan itu sejalan dengan keseluruhan naskah. Semakin mendekati akhir pertunjukan, kata "republik" semakin jarang terdengar. Yang tersisa justru "rumah", "istri", "anak", "ombak", dan "garam". Seolah-olah seorang pahlawan yang sepanjang hidupnya berjuang demi bangsa, pada detik-detik terakhir justru kembali menjadi manusia biasa yang merindukan keluarganya.

Ketika tepuk tangan panjang memenuhi Gedung Majestic malam itu, saya sebagai penonton tidak hanya membawa pulang kisah Oto Iskandar di Nata. Saya juga membawa satu pertanyaan yang terus bergema bahkan setelah panggung dibersihkan: jika seorang pahlawan dapat dihilangkan, apakah ingatannya juga bisa ikut ditenggelamkan? apakah orang yang berjuang selalu dipinggirkan?

Tubuh memang dapat hilang bersama ombak, tetapi perjuangan, sebagaimana diucapkan Reza Nois, tidak pernah mati bersama jasad. Ia menjelma ingatan, keberanian, dan jejak yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Di ujung laut, di ujung maut, Oto Iskandar di Nata tidak pulang sebagai tubuh, melainkan sebagai memori yang terus hidup.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//