• Berita
  • Kerusakan Alam Indonesia dalam Animasi Sembilan Dedemit

Kerusakan Alam Indonesia dalam Animasi Sembilan Dedemit

Video animasi Sembilan Dedemit diputar berulang di salah satu sudut galeri Orbital Dago, Bandung. Mengingatkan pada kerakusan pengusaha di Indonesia.

Fatih Jagad Raya (kanan) bersama Jim Supangkat dan Aminudin T.H. Siregar di diskusi penutup pameran Tanah Airku Banyak Dedemit di Orbital Dago, Bandung, Minggu, 12 Juli 2026. (Foto: Anisa Putri Balqis/BandungBergerak)

Penulis Anisa Putri Balqis17 Juli 2026


BandungBergerak - Sembilan sosok berdiri berjajar. Jas hitam, dasi merah. Kepala mereka ditutupi oleh karung kain putih tanpa wajah, tanpa identitas. Di tangan masing-masing tergenggam gergaji mesin. Mereke menari, bukan bekerja. Di belakang mereka, cerobong asap mengepul, batang-batang kayu tumbang dan langit abu-abu dipenuhi polusi.

Itulah “Sembilan Dedemit”, video animasi 3D berdurasi 8 menit 20 detik yang diputar berulang di salah satu sudut galeri Orbital Dago, Bandung. Karya ini jadi salah satu yang paling menyita perhatian para pengunjung pameran tunggal “Tanah Airku Banyak Dedemit” karya Fatih Jagad Raya, yang berlangsung 13 Juni hingga Minggu, 12 Juli 2026. 

Pameran "Tanah Airku Banyak Dedemit" ini menjadi bahasan utama dalam sebuah diskusi yang digelar di Orbital Dago di akhir masa pamerannya, 12 Juli 2026, menghadirkan Fatih, seniman, bersama dua nama besar dalam seni rupa Indonesia: Jim Supangkat, penulis dan kurator seni rupa, dan Aminudin T.H. Siregar, sejarawan seni rupa, dengan Rifky "Goro" Effendy yang bertindak sebagai moderator.

“Karya ini satire dari Sembilan Naga,” kata Fatih saat ditemui di sela pameran, merujuk pada istilah yang lama beredar untuk menyebut jaringan taipan yang menguasai berbagai lini ekonomi strategis di Indonesia, termasuk lahan. “Makanya judulnya Sembilan Dedemit, diambil dari isu deforestasi yang lahannya dikuasai oleh sembilan naga.”

Yang menarik, musik latar dalam karya ini bukan sembarang pilihan. Fatih memakai nusa tembangan, tradisi tembang Sunda yang di masyarakat lokal kerap dikaitkan dengan kesurupan, musik yang dianggap sakral, yang bisa “memanggil”. Dedemit, dalam bahasa Jawa dan budaya populer Nusantara, memang lekat dengan makhluk halus jahat yang gemar mengganggu manusia. Tapi Fatih membalik logikanya.

“Menggunakan metafora itu, bahwa penguasalah yang kesurupan atas ketamakannya,” ujarnya. 

Bukan hutan yang berhantu. Bukan makhluk gaib penunggu rimba yang perlu ditakuti. Yang kesurupan justru manusia berjas yang menggenggam gergaji mesin, kesurupan oleh keserakahan atas sumber daya.

Logika serupa juga hidup di karya lain, "Metamorfosis Tanah Air", seri cetak lenticular yang menampilkan citra berubah-ubah tergantung sudut pandang penonton.

"Ada tiga adegan," jelas Fatih. "Saat hutan masih asli, lalu masuknya aparat dan menggusur, lalu adegan ketiga hutan berubah jadi pabrik atau lahan sawit."

Figur-figur di dalamnya mengambil simbol dari pertarungan Hanoman melawan Cakil dalam tradisi pewayangan Sunda, Hanoman sebagai penjaga alam, Cakil, tokoh pewayangan sebagai representasi penguasa yang rakus.

Ditanya soal titik awal risetnya, Fatih terus terang menyebut buku "Reset Indonesia" sebagai pemantik. "Ketika membaca, ternyata bukunya membahas tentang isu deforestasi. Dari situ mencari-cari film dokumenternya, dan lain-lain," katanya.

Ia menyebut film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale sebagai salah satu rujukan penting, film yang mengangkat dampak ekspansi perkebunan dan proyek pangan skala besar terhadap masyarakat adat di Papua Selatan.

Fatih mengaku belum pernah turun langsung ke lokasi-lokasi yang jadi sumber isu. Riset karyanya sepenuhnya berangkat dari bacaan dan tontonan dokumenter, termasuk gambaran tentang kesulitan warga lokal mendapat air bersih karena sumber air sudah tercemar, dan tanah yang tak lagi bisa ditanami.

Namun ia melihat ada persinggungan isu perusakan alam di Indonesia dan di Bandung, misalnya deforestasi yang terjadi di Padalarang, alih fungsi lahan di kawasan Bandung Utara, hingga aktivitas tambang di sejumlah titik selatan Baleendah.

Barangkali di situlah letak persoalan sekaligus kekuatan pameran ini. "Tanah Airku Banyak Dedemit" tidak lahir dari luka personal Fatih terhadap kotanya sendiri, ia mengaku sendiri prosesnya berjarak, dari buku ke buku, dari dokumenter ke dokumenter.

Tapi metafora yang ia bangun ternyata cukup lentur untuk dipinjam penonton, ditarik ke pengalaman yang jauh lebih dekat dan lebih konkret: tambang yang ditutup-tutupi di Baleendah, lahan yang berubah wajah di Padalarang, hingga kegelisahan yang belum sepenuhnya bicara soal perempuan dan kuasa.

"Lukisan abstrak di zaman Sukarno pun dibuat untuk melawan pada situasi-situasi pada Orde Baru," ujar Aminudin T.H. Siregar, sejarawan seni rupa.

Kritik sosial dalam seni rupa Indonesia tidak pernah benar-benar berhenti berganti wajah, dari lukisan abstrak yang menyusup di antara represi Orde Baru, hingga sosok berjas berdasi merah yang menari di atas kehancuran hutan dalam karya generasi hari ini.

Bedanya, kalau dulu metafora dipakai untuk menyelamatkan diri dari sensor, generasi Fatih memakainya untuk sesuatu yang mungkin sama pentingnya: membuat penonton berhenti sejenak, dan bertanya sendiri, siapa sebenarnya dedemit yang mereka maksud.

Baca Juga: Pameran Seniman Muda di ArtSociates dan Hybridium, Mengekspresikan Keberagaman Imajinasi
Memaknai Pameran Lukisan Mahasiswa Seni Asal Bandung dan Yogyakarta

Metafora Dedemit

Namun makna simbol-simbol itu tak berhenti di tangan seniman dan kurator saja. Ia bergeser, bahkan meluas, begitu sampai di mata penonton. Riza, mahasiswa yang datang menyaksikan pameran, mengaku karya-karya Fatih tidak terasa terlalu dekat dengan kesehariannya secara personal. Tapi ia punya satu contoh konkret yang justru tidak disebut Fatih sendiri.

"Kebetulan di Baleendah ada penambangan batu," katanya. "Itu lebih ngeri, bahkan ditutupi. Tengahnya sudah habis dikeruk." 

Soal metafora "dedemit" yang digambarkan lewat figur berjas hitam berdasi merah, Riza melihatnya sebagai representasi ketimpangan kuasa secara umum, sebelum menariknya ke pengalamannya sebagai perempuan.

"Kalau mengerucut ke perempuan, di mana mereka dianggap kaum yang dianggap lemah, apalagi di kita yang konsepnya sangat patriarki ini," ujarnya.

Namun ia buru-buru menambahkan, datang dan memahami pameran seni sekelas ini pun jadi bentuk pembuktian: "Perempuan itu juga bisa mengakses ilmu."

Kalau harus merangkum keseluruhan pameran dalam satu kata, Riza memilih satu istilah yang akrab di telinga generasi Z: "nyampe". "Karena benar-benar halus dan menggambarkan kondisi sekarang," katanya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//