• Cerita
  • MELANKOLIA DI KOLONG: Mengembalikan Musik kepada Jalanan, kepada Warga, dan kepada Solidaritas

MELANKOLIA DI KOLONG: Mengembalikan Musik kepada Jalanan, kepada Warga, dan kepada Solidaritas

“Dongker lahir dari komunitas dan semangat solidaritas. Kami ingin balik lagi ke ruang publik untuk mengaktivasi itu.”

Musik menjadi jembatan untuk menyalurkan solidaritas dalam Melankolia di Kolong. Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 20 Juli 2026


BandungBergerak – Jumat, 17 Juli 2026 pukul setengah empat sore, Kolong Skatepark di bawah Jalan Layang Pasupati (Pasteur-Surapati), yang sejak Maret 2022 lalu bersalin nama resmi menjadi Jalan Layang Prof. Mochtar Kusumaatmadja, masih terlihat tenang. Sejumlah remaja bergantian meluncur di atas papan skateboard, menggesekkan papan skate ke bibir beton dan rintangan besi. Belum ada entakan musik, belum ada keliaran mosh pit.

Hari itu, Dongker menggelar showcase menuju album terbaru yang bertajuk Melankolia Radikal. Namun sejak awal, acara yang dijuduli “Melankolia di Kolong” ini tidak dimaksudkan sebagai semata pesta peluncuran album. Di atas meja regristasi, kantong beras, buku bekas, dan sembako mulai menumpuk. Itulah tiket menonton konser. Nantinya, semua akan didistribusikan ke warga di kampung-kampung kota seperti Dago Elos, Sukahaji, Lio Genteng, dan kampung sekitar kolong.

Menjelang petang, ruang publik di bawah jalan layang di jantung Kota Bandung itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar venue konser. Warga Dago Elos bahkan menggelar aksi turun ke jalan, menyuarakan sengketa lahan yang masih membelit kampung. Ada keputusan final Peninjauan Kembali (PK) 2 yang masih menggantung di udara. 

"Dongker lahir dari komunitas dan semangat solidaritas. Kami ingin balik lagi ke ruang publik untuk mengaktivasi itu," kata gitaris Dongker, Arno Zarror.

Tumpukan buku, beras, dan sembako yang jadi tiket konser. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)
Tumpukan buku, beras, dan sembako yang jadi tiket konser. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)

Mengaktivasi Ruang Publik

Band pertama yang naik ke panggung adalah Alice, pengusung ethnic chaotic hardcore asal Bandung. Menyaksikan musik sekeras itu dimainkan di bawah matahari yang masih menyengat menjadi pemandangan yang tidak lazim. Tidak hanya mereka yang sengaja datang, para pengguna jalan turut terpapar. Persis di samping skatepark terdapat lampu merah menuju Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketika lampu merah menyala, deretan sepeda motor dan mobil yang biasanya ditemani musik pengamen jalanan kini dipaksa menyaksikan dentuman chaotic hardcore dari atas panggung.

"Circle pit! Circle pit!” teriak sang vokalis.

Musik Alice bergerak liar. Lagu-lagunya berhenti mendadak dengan hitungan yang rumit sebelum kembali masuk meledak tanpa aba-aba. Mereka yang melintas di jalan menoleh ke arah skatepark dan mengeluarkan telpon genggam untuk merekam.

Energi itu belum sempat turun ketika ZIP, band hardcore asal Jakarta, mengambil alih panggung. Di sepanjang penampilannya, ZIP mempertahankan tempo yang nyaris tidak pernah lambat. Penonton berkali-kali naik ke atas panggung, mengambil mikrofon, lalu menyanyikan bagian lagu bersama personel band sebelum melompat kembali ke kerumunan.

Karakter musik ZIP memang berbeda dari banyak band hardcore Indonesia belakangan ini. Dalam ulasan album yang ditulis Peanhead dari Maternal Disaster, band ini dinilai menghidupkan kembali semangat hardcore punk era 1980-an dengan pengaruh band seperti SS Decontrol, Jerry's Kids, Negative FX, The F.U.'s, dan Agnostic Front era awal. Pilihan musikal itu membuat ZIP tampil menonjol di tengah gelombang hardcore yang semakin dipengaruhi metal.

Sebagai penonton, saya merasakan sendiri bagaimana lagu demi lagu dimainkan tanpa memberi banyak ruang untuk bernapas. Tempo yang stabil membuat energi di depan panggung terus terjaga hingga lagu terakhir.

“Dongker yang pertama kali ngajak kami. Tanpa pikir panjang, kami mengiyakan karena ini kali pertama ZIP main di ruang publik di kota yang notabene sangat berkesan buat saya pribadi. Great public venue, incredible atmosphere! Dan semuanya terasa hangat: no egos, no vibes abang-abangan, pure unity,” kata vokalis Januar Kristianto (Jan).

Diyakini Jan, ruang publik penting sekali untuk diaktivasi karena di ruang-ruang inilah dialog, inisiasi, dan inspirasi bisa terjadi.

Ketika Dongker naik ke panggung, jumlah penonton bertambah berkali-kali lipat. Area depan panggung langsung berubah menjadi lautan manusia. Mosh pit terbentuk hampir di sepanjang pertunjukan. Tubuh-tubuh saling bertabrakan, bernyanyi, lalu saling membantu berdiri ketika ada yang terjatuh.

Pada satu titik, saya tidak lagi dapat melihat panggung dengan jelas. Ribuan orang yang berdesakan membuat pengalaman menikmati konser berubah menjadi pengalaman fisik. Yang tersisa hanyalah suara gitar, bass, drum, dan penonton yang bersatu memenuhi ruang di bawah infrastruktur beton jalan layang.

Dan panggung petang itu bukan melulu milik para personel Dongker. Hyde, seorang bocah berusia 13 tahun, naik ke atas panggung. Dengan meminjam gitar milik Arno, ia memainkan riff Celaka Kau Sampah dan Balada Gehel. Tidak lama berselang, Daryl Gema, drummer Patrivia, mengambil alih drum dalam salah satu lagu.

Batas antara musisi dan penonton, yang sama-sama bernyanyi di sepanjang penampilan, seolah menghilang. Energi semakin memuncak ketika Delpi, gitaris Dongker, tiba-tiba memanjat rigging lampu dan bermain di atasnya.

Bagi Dongker, kembali ke ruang publik bukan keputusan yang lahir tiba-tiba. Kolong Skatepark dipilih karena kawasan ini berada tidak jauh dari Tamansari dan Dago Elos, dua titik api yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi ruang perjuangan warga mempertahankan tanah dan rumah mereka. Bagi Arno, ruang publik semacam ini memungkinkan siapa pun hadir tanpa sekat.

"Ada orang yang bahagia, ada yang marah. Tapi saya rasa banyak orang hari ini sedang marah melihat situasi negara. Jadi kita rayakan stres itu bersama-sama di kolong ini," ujar Arno sambil menepis beragam dasas-desus yang mengaitkan konser ini dengan potensi kerusuhan.

Ruang publik tidak berhenti sebagai ruang konser dalam Melankolia di Kolong, Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)
Ruang publik tidak berhenti sebagai ruang konser dalam Melankolia di Kolong, Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)

Mempertebal Solidaritas

Dalam konser showcase albul Melankolia Radikal, setiap orang dapat datang dan menikmati musik dengan membawa beras atau buku bekas sebagai pengganti tiket. Gagasan ini lahir dari percakapan santai, bukan hasil rapat panjang atau proposal yang disusun berlembar-lembar. Konser tidak berhenti sebagai ruang hiburan, tetapi juga menjadi ruang distribusi solidaritas.

Sebelum Dongker, kawan dan kolektif Unacceptable juga telah menggelar sebuah gigs berskala kecil di basement parkiran kampus dengan beras sebagai tiketnya. Dengan jumlah penonton yang jauh lebih sedikit, inisiatif ini menggema luas di jagat maya. Dan inisiatif ini jugalah yang kemudian direplikasi.

"Tiket selama ini jadi mekanisme yang diciptakan logika kapitalisme. Lewat konsep ini, tiket kami rebut lagi untuk bersolidaritas dengan warga," kata Ojan, salah seorang kawan kolektif yang terlibat dalam pengelolaan konser.

Bagi Ojan, menukar tiket dengan beras dan buku bukan sekadar simbol. Cara itu menjadi upaya mengubah relasi antara penonton dan konser. Jika biasanya seseorang datang sebagai pembeli tiket, malam itu mereka hadir sebagai orang yang membawa sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain. Musik menjadi alasan untuk berkumpul, sementara solidaritas menjadi alasan untuk pulang membawa makna yang lebih panjang daripada sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan.

Dan solidaritas selalu dimulai dari yang paling dekat. Untuk menggelar konser “Melankolia di Kolong”, Dongker menjalin komunikasi dengan warga dan komunitas sekitar. Selama pertunjukan berlangsung, mereka yang menggantungkan hidup di lokasi ini menjadi bagian dari semangat yang menjalar. Lapak-lapak sederhana milik pedagang tak pernah benar-benar sepi pembeli.

Di tengah riuh mosh pit dan dentuman musik, aroma gorengan hangat dari luar arena pertunjukan sesekali menyelinap di antara kerumunan. Beberapa orang penonton bergantian keluar dari area panggung untuk membeli minuman dingin, seporsi mi instan, atau gorengan sebelum kembali menyelam ke tengah lautan manusia. Bagi pedagang yang sehari-hari menggantungkan penghasilan di Kolong Skatepark, keramaian malam itu menjadi rezeki yang tidak datang setiap hari.

Undang, yang telah berjualan di kawasan itu selama 15 tahun, tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Ia mengaku selalu menantikan acara komunitas seperti ini. Bukan semata karena dagangannya bakal lebih laris, tetapi juga karena ia merasa menjadi bagian dari kehidupan anak-anak muda yang tumbuh di skatepark. Beberapa anak skate bahkan sudah menganggap warung Undang sebagai rumah kedua.

"Saya juga jadi kenal sama anak-anak dari berbagai daerah,” tuturnya. “Mereka bilang tempat ini rumah kedua."

Menjaga hubungan akrab dengan para pembeli, Undang sengaja mempertahankan harga gorengannya Rp1.000, meski harga minyak dan kebutuhan pokok terus naik. Keuntungan yang diambilnya tipis, tetapi ia ingin siapa pun yang datang tetap bisa membeli makanan tanpa harus berpikir dua kali.

"Saya mah buat anak-anak saja. Yang penting mereka tetap bisa beli walaupun uangnya sedikit," katanya.

Suasana serupa terlihat di warung kecil milik Ningsih yang terletak tidak jauh dari warung Undang. Sejak sore, pembeli datang bergantian. Hari-hari seperti itu jauh berbeda dibanding hari biasa ketika skatepark cenderung lengang dan hanya didatangi segelintir orang.

"Kalau ada acara seperti ini ya lumayan menguntungkan,” tutur Ningsih. “Maunya sih ramai terus."

Baca Juga: Sebuah Konser Hardcore Punk dengan Segenggam Beras sebagai TiketnyaNyaring Hip-Hop di Taman Cibeunying: Merebut Ruang dari Bayang-bayang Budaya Takut

Wajah Album Ketiga

Album terbaru Dongker Melankolia Radikal memuat lagu-lagu yang sebagian besarnya membicarakan isu sosial. Selepas Hujan menyinggung subsidi yang gagal dan perubahan iklim, sementara Lautan Bunga Warna Terang mengangkat kisah revolusi di Pati. Ada juga Nir Imaginasi yang melontarkan kritik terhadap fenomena orang yang tidak gemar membaca buku, tetapi justru memperoleh pekerjaan sebagai aparat negara.

Meski demikian, Dongker juga menyadari tidak semua pendengar berasal dari skena hardcore atau punk. Karena itu, mereka menghadirkan beberapa lagu yang lebih mudah dinikmati telinga pendengar umum. Di album ini, Donker berkolaborasi dengan beberapa seniman, termasuk Cholil Efek Rumah Kaca dan Banda Neira.

Hingga showcase petang itu digelar, Dongker telah lebih dulu merilis dua single, yakni Takbir Terdengar Kejam dan Lautan Bunga Warna Terang. Dalam waktu dekat, mereka juga akan merilis Lagu Selepas Hujan, yang disebut Arno lahir sebagai respons terhadap karya Koil berjudul Lagu Hujan.

Proses kreatif album Melankolia Radikal melibatkan banyak nama dari berbagai skena musik. Proses mixing dikerjakan oleh tiga orang dengan karakter yang berbeda-beda. Wadenol, musisi asal Bogor yang juga personel Swellow, membawa warna khas skena rock Bogor ke dalam pengerjaan album. Alded, personel Heals yang berperan sebagai co-producer sekaligus mixing engineer, menyumbangkan berbagai referensi musikal yang memperkaya arah produksi album. Sementara Raja Mahardika, rekan mereka dari band Well Whale, turut menggarap proses mixing pada salah satu trek.

Tidak hanya dari sisi audio, pengerjaan visual album juga dilakukan secara kolektif. Dongker menggandeng seniman visual Herry Sutresna bersama sejumlah ilustrator lainnya untuk menerjemahkan gagasan Melankolia Radikal ke dalam identitas visual album.

Menjelang malam, ketika lagu terakhir selesai dimainkan, yang tersisa di Kolong Skatepark bukan hanya gema distorsi gitar atau tubuh-tubuh yang kelelahan setelah berputar di mosh pit. Di sudut venue, ada tumpukan beras, buku, sembako, dan pakaian yang akan segera dibawa ke kampung-kampung kota.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//