• Kolom
  • SISI SELATAN BANDUNG: Batas Imajiner Kampung Halaman

SISI SELATAN BANDUNG: Batas Imajiner Kampung Halaman

Bagi manusia, sebuah wilayah hanya dibatasi oleh perasaan nyaman dan aman, terutama jika menyangkut kampung halaman.

Jein Octaviany

Aktif di komunitas Kawah Sastra Ciwidey, Prosatujuh, dan Sebelum Huruf A.

Bocah bersepeda di emplasmen Stasiun Ciwidey. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

21 Juli 2026


BandungBergerak – Jika kalian datang (atau berwisata) ke kampung halamanku, Ciwidey, Kabupaten Bandung, kalian akan mendapati bahwa bagi kami: batas Ciwidey bukanlah sebuah batas administrasi yang berupa kecamatan. Banyak orang ber-KTP kecamatan Pasirjambu dan Rancabali akan mengaku sebagai ‘orang Ciwidey’. Bahkan, tempat-tempat pelesiran ‘di Ciwidey’ seperti Kawah Putih, Ranca Upas, Situ Patenggang sejatinya berada di Kecamatan Rancabali.

Kenapa terkenalnya Ciwidey? Sejujurnya, aku pun tak tahu. Mungkin ada faktor sejarah, mungkin juga ada faktor marketing tempat wisata, mungkin ada banyak faktor lain. Di antara segala hal itu, izinkan aku memberikan sudut pandang sebagai warlok tentang batas imajiner kampung halaman lewat sempilan-sempilan personal di bawah ini:

Ada yang menarik dari ibuku jika dia sedang bepergian. Dalam perjalanan pulang, dia akan mengucapkan “Alhamdulillah, sudah sampai sini.” Kata-kata itu terlontar jauh sebelum kami sampai rumah, sehingga kadang aku menggerutu dalam hati sambil menatapnya di kaca spion kiri, “Apanya yang hamdallah, sampai saja belum.”

Yang lebih unik lagi: lokasi kalimat tersebut keluar selalu berubah-ubah. Jika pulang dari daerah Timur (misal: Ujungberung), ucapan itu akan meluncur di Kopo. Jika kami pergi ke kota (taruhlah: Alun-alun Bandung), ibuku akan mengatakan itu di daerah Margahayu. Jika kami ke Kopo, penyataan tersebut hadir di Soreang. Aku yakin, jika nanti ibuku berangkat haji, ketika pulangnya, baru sampai bandara di Jakarta, ibuku akan mengucapkan kalimatnya. Karena bagi dia semakin jauh jarak kami dari kampung halaman (Ciwidey), semakin jauh juga lokasi ibuku mengucapkan hamdallah.

Dengan mengucapkan hal tersebut, kurasa ibuku sudah merasa pulang, sudah merasa berada di rumah, sudah merasa berada di kampung halaman. Hal ini menarik bagiku, karena jika kita lihat jarak dari rumahku ke titik-titik tersebut begitu jauh, dan berganti-ganti. Apakah rumah pada ujungnya akan berganti-ganti? Apakah kampung halaman akan berubah-ubah batasnya tergantung seberapa jauh kita pergi? Perasaan apa sebenarnya yang hinggap di jiwa ibuku sehingga dia merasa telah memasuki kampung halaman?

Lanskap Ranca Upas, Rancabali. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Lanskap Ranca Upas, Rancabali. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Kuucapkan Juga

Kupikir, itu adalah ‘penyakit’ ema-ema saja. Namun ternyata, itu menular padaku. Dalam perjalanan pulang motoran dari Kemah Sastra di Cirebon, dengan cuaca yang tepat untuk rebahan di kasur (dibaca: hujan angin) sepanjang jalan, tepat setelah melewati Cadas pangeran, aku berkata pada kawanku yang membonceng. “Alhamdulillah, sudah sampai sini”. Lalu kawanku berkata meledek: perjalanan masih jauh, belum melewati Jatinangor, Soekano-Hatta, Kopo, Margahayu, Soreang, Pasirjambu, barulah Ciwidey. Kami tertawa dengan air hujan masuk ke mulut. Lalu sepanjang sisa perjalanan, aku bertanya-tanya: kenapa kuucapkan juga kalimat itu?

Kejadian lain: ketika aku masih mengajar di SMP Swasta di Cisondari, Pasirjambu, seorang siswi (yang rumahnya dekat sekolah) bercerita bahwa dia tidak berani bepergian melewati Tanjakan Cisondari. Bukan karena kemiringan jalannya (toh, ada jalan agak memutar ke Jambrong, jika dirasa takut karena tanjakannya), tapi dia tak berani saja. Dia merasa setelah melewati tempat itu, ketidakamanan akan menerkamnya. Padahal banyak teman sekelasnya yang melewati jalan yang sama untuk pulang ke rumah. Ada yang rumahnya di Sukarasa atau lebih jauh lagi.

Bagiku, mencoba menjadi guru yang baik berarti juga mencoba untuk memahami siswa-siswiku, mencoba untuk memahami bahwa mungkin soal keberanian bepergian ke suatu tempat itu adalah hal personal, mencoba untuk memahami bahwa bagi beberapa orang batas-batas aman adalah sesuatu yang relatif.

Aku jadi teringat, ketika aku SD, saat keluargaku mengajak ke Bandung, aku selalu merasa sudah meninggalkan “kampung” dan sampai di “kota”, jika dari jendela mobil sudah terlihat pesawat terbang yang dipajang di Margahayu. Sudah kota, sudah modern, sudah ada pesawat terbang (meski saat itu, aku tak tahu bahwa benda itu sudah tidak bisa terbang). Sedangkan saat SMP, kurasa aku juga punya batas jarak seperti siswi tadi. Saat itu, batasku adalah Sungapan, jembatan rel kereta api. Alasannya sederhana: karena di sana kadang ada razia polisi, dan aku (seorang siswa badung) yang naik motor, tentu saja belum punya SIM.

Baca Juga: Satu Dekade Kawah Sastra Ciwidey, Geliat Gairah Sastra di Ciwidey Raya
Mimpi Menghidupkan Kembali Jalur Kereta Api Mati Bandung Ciwidey

Merasa Aman dan Nyaman

Merenungi dua perkara di atas (dan perihal-perihal lainnya) membuatku berpikir: rasa-rasanya batas setiap tempat itu selalulah longgar, relatif, dan begitu personal. Apalagi jika menyangkut kampung halaman, tempat tinggal, di mana di dalamnya ada rasa aman dan nyaman. Mungkin, begitulah kenapa batas Ciwidey menjadi sangat luas di mata kami, mencakup tiga kecamatan yang oleh beberapa orang disebut Pacira: Pasijambu, Ciwidey, Rancabali. Beberapa yang lain menyebutnya Ciwidey saja.

Di wilayah inilah, kami merasa aman dan nyaman. Merasa benar-benar di rumah. Benar-benar pulang. Benar-benar kampung halaman. Perjalanan dari rumahku menuju ke Soreang terasa lebih jauh dibanding menuju ke Rancabali. Padahal jika dicek di Maps, jarak kilometernya sama saja. Jarak tempuh waktunya pun relatif sama.

Di Rancabali, sama halnya dengan di Ciwidey atau Pasirjambu, aku merasa nyaman dan aman. Kami tak pernah memakai helm ketika bepergian di tiga tempat itu, bukan semata-mata karena tak pernah ada polisi, tapi kurasa karena kami sudah tahu di mana jalanan berlubang, belokan mengerikan, dan segala tetek-bengek lainnya.

Secara administrasi, batas-batas setiap wilayah selalu tergaris dalam peta dengan titik-titiknya yang ditandai dengan tugu atau gapura selamat datang. Namun terkadang bagi manusia, sebuah wilayah hanya dibatasi oleh perasaan nyaman dan aman, terutama jika menyangkut kampung halaman. Mungkin itu jugalah kenapa perjalanan pulang selalu terasa lebih sebentar.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//