• Berita
  • Dari Sampah Menjadi Karya, Anyaman Plastik Ibu-Ibu Cibogo Menantang Darurat Sampah Bandung

Dari Sampah Menjadi Karya, Anyaman Plastik Ibu-Ibu Cibogo Menantang Darurat Sampah Bandung

Lewat pameran Daur Anyam, komunitas Masagi Tjibogo membuktikan kantong plastik bekas dapat disulap menjadi karya seni bernilai ekonomi.

Mengunjungi pameran Daur Anyam, Wangirupa Studio, Bandung, 14 Juli 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang22 Juli 2026


BandungBergerak - Instalasi tikar berbahan kantong plastik bekas dipajang di dinding ruang galeri Wangirupa Studio, Jalan Setrasari Kulon Raya No. 26, Bandung, Selasa, 14 Juli 2026. Sejumlah pengunjung pameran mendekati tikar monokrom hasil penganyaman secara manual yang dijahit dengan tali rapia.

Karya berukuran 40x40 centimeter ini mendorong pengunjung untuk berswafoto, sebagian melipir ke stan penjualan untuk mendapatkan karya anyaman plastik.  Melalui pameran bertajuk "Daur Anyam, Pameran hasil Program Pengabdian Masyarakat Masagi Tjibogo", pengunjung menyaksikan langsung bahwa sampah plastik tetap memiliki nilai guna.

Di pameran yang berlangsung selama tiga hari, 14-16 Juli 2026, pengunjung juga diajak menelusuri perjalanan komunitas Masagi Tjibogo dalam mendaur naik (upcycle) sampah plastik menjadi karya seni. Di tengah ruangan, sebuah layar memutar video pendek yang menampilkan aktivitas ibu-ibu Masagi Tjibogo, mereka mengumpulkan sampah plastik dari setiap rumah warga, memprosesnya dengan menganyam, dan pengecekan kualitas.

Produk mereka disebut dikirim ke Jerman. Tayangan video menjadi pelengkap proses perjalanan daur naik sampah plastik berbasis pemberdayaan masyarakat.

Di balik karya-karya yang dipamerkan, tampak Siti Oliah atau akrab disapa Ibu Nung, 46 tahun yang kesehariannya menjadi bendahara komunitas sekaligus Ketua RT 02, RW 04, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Bandung. Nung yang juga seorang rumah tangga itu sedang aktif mencatat produk anyaman apa saja yang laku terjual. Ia adalah salah satu dari 14 ibu rumah tangga yang aktif menganyam plastik sejak 2024.

Ia menceritakan, proses menganyam dimulai dengan pemilahan kantong plastik yang telah dikumpulkan. Para lansia lalu dilibatkan untuk mencuci dan memotong plastic sesuai ketebalannya. Bahan baku plastik itu kemudian dibagikan kepada para perajin ibu rumah tangga untuk dikerjakan di rumah.

Hasil anyaman kerja bareng ini beragam. Mulai dari tikar, tas selempang, tas laptop, tas tangan, tas belanja, bungkus botol minum, tatakan gelas dan piring, tas gawai, pouch, tas pinggang berkebun, bahkan bangku kecil (jojodog). Semua karya daur ulang itulah yang dipamerkan di ruang galeri.

Bagi Nung, kegiatan ini bukan hanya memberi ruang untuk mengolah kembali sampah plastik, tapi juga memberdayakan warganya secara mandiri, termasuk lansia. Ia bercerita, salah satu lansia yang masih aktif menganyam adalah Abah Oong yang bikin anyaman sajadah plastik.

"Jadi sebenarnya mah tidak hanya memberdayakan ibu-ibu, tetapi memberdayakan lansia juga di kampung," tutur Nung, di sela-sela pameran.

Bagi komunitas Masagi Tjibogo, Nung menambahkan, proses daur ulang sampah plastik membuka peluang menambah penghasilan. "Karena dari sampah kita bisa (menghasilkan) bernilai rupiah," ujarnya.

Karya dari plastik bekas garapan komunitas Masagi Tjibogo di pameran Daur Anyam, Wangirupa Studio, Bandung, 14 Juli 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Karya dari plastik bekas garapan komunitas Masagi Tjibogo di pameran Daur Anyam, Wangirupa Studio, Bandung, 14 Juli 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Merespons Darurat Sampah Bandung

Sudah menjadi potret mengkhawatirkan Bandung dilanda Darurat Sampah. TPA Sarimukti tidak lagi cukup menampung sampah. Di saat bersamaan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bandung menyebut setiap hari Bandung Raya menghasilkan sekitar 1.511 ton sampah atau setara dengan 0,58 kg per orang per harinya. Sampah plastik menempati urutan kedua sebagai sampah terbanyak setelah sisa makanan, yakni 16,7 persen.

Pada 2023, sampah plastik pernah menjadi masalah yang serius di kawasan Cibogo, Kecamatan Sukajadi, Kelurahan Sukawarna, Bandung. Terjadi penyumbatan aliran air karena sampah plastik dan mengakibatkan banjir setiap hujan datang. Dari kondisi itulah Masagi Tjibogo mencoba memanfaatkan kembali plastik yang kerap berakhir di tempat pembuangan.

Dian Nurdyana, Ketua Masagi Tjibogo mengatakan praktik ini berawal dari kolaborasi komunitasnya dengan Rakarsa Foundation dan empat seniman residensi asal Jerman pada 2024 lalu. Saat itu, para seniman turun ke aliran sungai untuk memungut kantong plastik. Kemudian, membersihkannya dan mengajak warga untuk berkreasi menjadi anyaman.

Lebih lanjut, sebelumnya komunitas telah bergerak dalam pemilahan sampah berbasis warga di tingkat RT dan RW melalui perelek sampah. Namun, mereka masih kesulitan mengolah kantong plastik karena memiliki nilai ekonomi rendah dan hanya berakhir di TPS. Seiring berjalannya waktu, sampah itu diolah menjadi karya seni bernilai ekonomi.

"Hasil dari bahan baku anyaman yang kami upcycle ini semuanya hampir rata-rata dari warga, sumbangsih dari warga masyarakat melalui program kami, yaitu perelek sampah," ujar Dian.

Dari praktik ini, Masagi Tjibogo tetap mempertahankan nilai kesadaran peduli lingkungan, gotong royong, dan kemandirian dalam ekonomi. Karena menurutnya, pemberdayaan masyarakat dapat membuka jalan bagi para ibu rumah tangga dan lansia mendapat pengalaman bahkan ilmu baru.

Pendekatan yang mereka terapkan ialah daur naik atau upcycle. Mengutip dari Unair, upcycle ialah proses menggunakan berbagai bahan atau barang tanpa mengurangi nilainya untuk menghasilkan barang yang lebih baik atau lebih berharga dari material aslinya. Dari Daur Anyam, ratusan kilogram plastik diolah komunitas menjadi karya.

Meski demikian, Dian menekankan bahwa daur naik bukan satu-satunya solusi yang dapat menuntaskan masalah sampah di Bandung. Namun, ia meyakini praktik tersebut dapat mengurangi sebagian beban sampah plastik yang berakhir di TPS dan TPA.

Ia mengkritik penanganan sampah yang masif dan terintegrasi tetap membutuhkan regulasi yang lebih tegas dari pemerintah. Seharusnya pemerintah memperketat regulasi meminimalkan produksi plastik di setiap perusahaan dan memberi dukungan inisiatif baik warga. 

"Pemerintah punya undang-undang kok, itu kewajiban mereka untuk melaksanakan undang-undang, anggarannya ada," katanya.

Baca Juga: Replast Lab: Dari Kampus ke Aksi Nyata Mendaur Ulang Sampah Plastik di Bandung
Kisah Dua Toko Penunjang Gaya Hidup Nol Sampah

Ibu-ibu pengrajin anyaman plastik Masagi Tjibogo di pameran Daur Anyam, Wangirupa Studio, Bandung, 14 Juli 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Ibu-ibu pengrajin anyaman plastik Masagi Tjibogo di pameran Daur Anyam, Wangirupa Studio, Bandung, 14 Juli 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Tentang Pameran

Dengan beragam karya daur naik dipamerkan, kurator dari Rakarsa Foundation, Nuri Fatimah mengatakan pameran ini merupakan puncak pengabdian masyarakat Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prodi Desain Produk ITB, Rakarsa, dan komunitas Masagi Tjibogo.

Melalui pameran ini, ia ingin memperlihatkan bahwa praktik yang dilakukan warga Cibogo dapat menjadi contoh inisiatif baik dalam merespons persoalan sampah di lingkungannya sendiri. Pameran Daur Anyam juga menjadi ruang pertemuan hasil kerja warga dengan publik yang lebih luas. Tak hanya pameran, pengunjung dapat mengikutai lokakarya belajar menganyam plastik langsung bersama ibu-ibu komunitas. 

Nuri berharap inisiatif baik komunitas tidak berhenti hanya di pameran saja, melainkan tetap konsisten dipraktikkan bahkan meluas hingga komunitas lainnya. "Ini adalah pameran ibu-ibu Masagi," tutupnya.

**

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//