Lakon Anarkis Itu Mati Kebetulan: Berawal dari Orang Gila yang Diinterogasi
Teater berjudul ‘Anarkis Itu Mati Kebetulan menceritakan orang gila yang mengungkap kebenaran.
Penulis Adinda Putri S23 Juli 2026
BandungBergerak - Nasib malang menimpa Giuseppe Pinelli yang jatuh dari jendela markas kepolisian Milan saat menjalani interogasi. Lakon yang ditulis Dario Fo berjudul "Anarkis Itu Mati Kebetulan" (Morte accidentale di un anarchico) ini dipentaskan di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung, Selasa malam, 14 Juli 2026.
Pertunjukan dimulai dengan ajakan kepada para penonton agar berdiri. Ruangan seketika gelap gulita. Alunan Hymne Aktor karya Benny Yohannes mulai menggema, para penonton ikut bernyanyi khidmat. Selanjutnya, para penonton diminta untuk duduk kembali.
Narator kemudian mulai membacakan prolog pembuka. Kisahnya sesuai dengan pertunjukan asli yang diadaptasi dari Dario Fo, tentang kematian seorang anarkis setelah melompat dari jendela kantor polisi ketika sedang diinterogasi. Kematian itu berusaha disamarkan penyebabnya. Lalu muncullah sosok orang gila yang kemudian membongkar cerita sebenarnya melalui tingkah gilanya.
Tirai di hadapan penonton tiba-tiba terbuka. Enam orang pekerja dengan kostum dan helm konstruksi berdiri. Dari bagian belakang kursi penonton mendadak muncul dua orang yang sedang berkejar-kejaran hingga ke tengah panggung, sosok yang dikejar tampak konyol dan jenaka, sementara yang mengejar tampak sangat kesal, terutama ketika dua orang berkostum polisi tidak sengaja menghalanginya.
Sosok gila itu tampak tertawa senang ketika berhasil lolos, ia lalu mengganggu para pekerja dengan tingkahnya yang absurd. Namun, akhirnya ia tertangkap oleh para polisi dan dibawa untuk diinterogasi.
Para penonton tak henti tergelak melihat tingkah laku orang gila itu, terutama ketika ia mulai menjawab pertanyaan inspektur polisi yang menanyainya. Dari pertanyaan inspektur itu, tergambar bahwa sosok gila itu sudah berkali-kali tertangkap dalam berbagai penyamarannya, dan kali ini dia menyamar sebagai orang gila. Orang gila itu mengatakan bahwa ia mempelajari semuanya di rumah sakit jiwa.
Lalu inspektur itu berseru emosi, “Aku bertaruh, kau sebenarnya lebih waras daripada aku!.”
Di adegan berikut-berikutnya, sang orang gila mengangkat telepon yang berdering di ruangan inspektur tempat ia diinterogasi, berpura-pura menjadi orang suruhan sang inspektur. Rupanya yang menelepon itu adalah inspektur lainnya dari lantai empat kantor kepolisian, ia bilang mereka butuh hakim. Orang gila itu kemudian menjawab bahwa ia akan mengirimkan seorang hakim terkemuka.
Si orang gila kemudian menyamar menjadi hakim, lalu menemui inspektur lantai empat dan inspektur kepala. Ia lalu mulai menanyai kedua inspektur itu tentang kematian anarkis yang melompat dari jendela, terlebih karena lokasi pertemuan mereka adalah di ruangan yang sama dengan saat insiden itu terjadi.
Kedua inspektur gelagapan dan saling sikut-sikutan, berusaha membantah bahwa merekalah yang membuat anarkis itu merasa putus asa hingga memilih untuk melompat dari jendela.
Orang gila itu akhirnya tetap berhasil membongkar hal yang sebenarnya terjadi, tapi ia mengatakan akan membantu mereka menutupi kejadian itu kepada wartawan. Selanjutnya kekacauan terjadi, wartawan datang dan mereka kembali berusaha bekerja sama saling menutupi perbuatan mereka, tetapi kekacauan semakin bertambah ketika inspektur Bertozzo (yang sempat menginterogasi orang gila) datang dan mengenali sosok orang gila.
Para pelakon sempat menyanyikan lagu Bella Ciao (lagu Italia yang kerap dinyanyikan dalam aksi perlawanan), dengan membawa papan bertuliskan “Hidup Anarkis” dan “Perbaiki Sistem”.
Karakter Orang Gila
Pertunjukan teater ini menggugat konstruksi kebenaran yang selalu dibangun penguasa. Indra Apriyana, 25 tahun, dan Dwi Nanda, 25 tahun, bekerja sama untuk mengadaptasi pertunjukan “Anarkis itu Mati Kebetulan” ke dalam budaya dan kemasan lokal yang lebih dekat untuk masyarakat Indonesia.
Menurut Dwi, salah satu tujuan utama pertunjukan lakon mereka adalah memunculkan karakter orang gila sebagai anarkis yang sebenarnya.
“Kami juga mau memperlihatkan bahwa si anarkis itu bukan pengacau, tapi seorang yang hidup bebas, seperti yang diperjuangkan oleh orang gila,” kata Dwi.
Dwi mengaku bahwa mereka menghadirkan kritik sosial yang cukup tajam dalam pertunjukan teater ini. Misalnya, pertunjukan ini menyajikan adegan bernyanyi Bella Ciao dan atribut-atributnya.
“Bella Ciao itu sudah kita kenal sebagai lagu perlawanan. Nah, itu kami tajamkan juga,” katanya.
Mengenai proses produksi, Dwi mengatakan, ia dan Indra memulai pengonsepan sejak bulan Desember tahun 2025. Dalam masa riset dan pendalaman karakter, Rizky Amalia yang memerankan wartawan bahkan sampai berkonsultasi dengan Najwa Shihab.
Beberapa realitas juga sengaja disisipkan, misalnya saat Amalia menyatakan keraguannya pada negara yang tidak berperspektif HAM. Bahkan aktivis HAM Andrie Yunus mengalami penyerangan.
Sementara itu, Wildan Mubarok, 24 tahun, pelakon sosok orang gila, mengatakan bahwa naskah “Anarkis itu Mati Kebetulan” yang dibuat pada tahun 1900-an masih relevan dengan kondisi negara Indonesia yang sekarang.
“Hal yang ada di dalam naskah itu ternyata masih relevan dengan zaman sekarang, dengan rezim yang baru, dengan hal-hal lainnya yang baru. Hanya kemasannya aja yang berbeda. Caranya aja yang berbeda. Tapi perihal menutup-nutupi kasus, pengalihan isu, itu selalu terjadi,” ungkap Wildan.
Pernyataan Dwi maupun Wildan sejalan dengan penjelasan Perggy Kornegger dalam buku Feminisme dan Anarkisme (2019). Menurut Perggy, anarkisme telah lama disalahtafsirkan sebagai sebuah sosok menyeramkan yang menyembunyikan bom di balik jubahnya dan siap untuk menghancurkan semuanya. Sedangkan, anarkis yang sebenarnya menurutnya adalah orang yang melawan semua hierarki, kepemimpinan, pemerintah, dan gagasan otoritas itu sendiri.
Baca Juga: Teater Payung Hitam Dilarang Menampilkan Lakon Wawancara Dengan Mulyono, Kebebasan Berekpresi Kampus ISBI Dibungkam
Berkesenian di Tengah Segala Cuaca, Bertekun Mencatat lewat Jurnalisme Seni
Penyajian Kritik Sosial Melalui Elemen Seni
Pementasan “Anarkis Itu Mati Kebetulan" didukung dengan penataan artistik yang menghadirkan wujud visual yang relevan dengan realitas Indonesia. Misalnya, kostum inspektur yang memakai jaket sport berwarna terang saat bertugas.
“Nah dia dibikin kayak gitu, biar si kostumnya itu terlihat kontras, biar makin kelihatan gitu kebobrokan, bahwa ketidakdisiplinan si polisi itu (karena bekerja menggunakan setelan olahraga),” terang penata artistik Indra Apriyana.
Begitu juga dengan pakaian yang dikenakan inspektur kepala yang tampak kedodoran, yang menyimbolkan bahwa jabatan cenderung menenggelamkan seseorang. Sang inspektur bertabiat gila hormat dengan jabatan itu.
Bagi penonton, lakon ini mengingatkan pada situasi politik negeri yang otoriter. Nadila, 21 tahun, mengatakan suatu negeri akan semakin otoriter jika tidak memiliki oposisi. Ia juga mengkritik militer yang masuk ke ranah-ranah sipil.
“Di dalam politik itu ya, sekarang tuh kayak nggak ada oposisinya, nggak kerasa gitu, ada oposisinya yang bakal memberantas sistem ini terus-terusan gitu,” kata Nadila.
Penonton lainnya, Reza, 18 tahun, berharap agar negara berlaku lebih adil. Menurutnya, negara tidak boleh menutup mata pada ketidakadilan yang saat ini terjadi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


