Berkesenian di Tengah Segala Cuaca, Bertekun Mencatat lewat Jurnalisme Seni
Melalui buku karya Selvi Agnesia, jurnalisme seni mencatat pertunjukan atau pameran yang usai sebagai arsip untuk bertahan dan melawan di setiap zaman.
Penulis Retna Gemilang23 Juli 2026
BandungBergerak – Banyak pertunjukan berakhir ketika panggung dibongkar atau ruang pamer ditutup. Namun bagi jurnalis seni Selvi Agnesia, kisah para seniman tak semestinya ikut menghilang. Selama 15 tahun meliput dunia kesenian, ia menghimpun 32 reportase dalam buku “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca” sebagai upaya mengarsipkan denyut kehidupan seni di Indonesia.
Salah satu reportase dalam buku itu mengisahkan Faisal Kamandobat atau Gus Icol yang mendirikan Sanggar Matur Suwun di Majenang, Cilacap. Di tengah minimnya ruang belajar seni di desa, sanggar tersebut menjadi tempat anak-anak mengenal kesenian sekaligus ruang alternatif ketika narasi tentang desa terus dipinggirkan. Kisah itu menunjukkan bagaimana seni tidak hanya lahir di ruang-ruang pertunjukan, tetapi juga tumbuh sebagai cara masyarakat desa bertahan dan membangun komunitas.
Sepanjang reportase yang ditulis pada 2011-2026, Selvi merekam beragam peristiwa seni, mulai dari pertunjukan teater, tari, seni rupa, hingga komunitas kreatif yang terus bertahan di tengah keterbatasan ruang publik. Baginya, jurnalisme seni bukan sekadar mencatat pementasan atau mengulas karya, melainkan menyimpan jejak pergulatan para seniman, perubahan zaman, serta hubungan seni dengan kehidupan masyarakat.
"Seni itu ternyata punya hal yang lebih mendalam, bagaimana seni itu memiliki impact besar dengan masyarakat," ujar Selvi dalam diskusi buku bertajuk “Resiliensi Seniman dan Jurnalisme Budaya” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Minggu, 19 Juli 2026.
Kedekatan Selvi dengan dunia seni berawal sejak remaja ketika aktif berteater di Baleendah, Kabupaten Bandung, lalu bergabung dengan Teater Lakon UPI semasa kuliah. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya ketika menjadi reporter di Harian Umum Jurnal Nasional dan Akarpadinews.com.
Menurutnya, setiap seniman memiliki ‘jagad alit’ yang dipenuhi imajinasi, kegelisahan, luka, dan harapan. Dari ruang itulah lahir karya-karya yang berangkat dari persoalan personal maupun kegagalan sistem sosial. Karena itu, seni selalu menghadirkan ruang alternatif sebagai bentuk perlawanan sekaligus resiliensi.
Selvi mengaku baru terdorong menghimpun reportasenya menjadi buku setelah lebih dari 15 tahun berkecimpung di jurnalisme seni. Selama periode itu ia menyaksikan perubahan dunia seni, pergantian rezim, hingga transformasi media dari cetak ke digital.
"Arsip-arsip dari reportase ini juga memang sebuah arsip yang sepertinya perlulah untuk bagaimana merefleksikan seni dan juga kondisi seni pada zamannya," katanya.
Keinginan menerbitkan buku semakin kuat setelah tinggal di Yogyakarta bersama suaminya, penulis Mahfud Ikhwan. Namun ketika mendiskusikan buku pertamanya di Bandung, kota kelahirannya, ia mengaku tak kuasa menahan haru karena merasa pulang membawa hasil perjalanan panjangnya sebagai jurnalis.
Proses kurasi berlangsung sekitar enam bulan. Dari puluhan liputan, Selvi memilih 32 reportase yang dibagi ke dalam empat kelompok, yakni teater, tari, seni rupa, serta iman, kemanusiaan, dan kreativitas. Beberapa liputan tidak dapat dimasukkan karena arsipnya telah hilang, termasuk reportase tentang Teater Payung Pita Bagus.
Selvi juga menyoroti kecenderungan liputan seni yang masih bergantung pada katalog pameran sehingga kehilangan kedalaman cerita. Di sisi lain, perhatian media terhadap jurnalisme seni masih terbatas.
Buku tersebut, katanya, dipersembahkan sebagai penghormatan kepada para seniman yang memilih jalan hidup yang tidak mudah.
"Dengan ‘jagad alit’ di dalam dirinya, dengan bara di dadanya, dengan segala keinginan untuk berbuat baik untuk masyarakat, seni adalah tindakan untuk bisa mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik," ujar Selvi.
Baca Juga: Para Seniman Mengarsipkan Sisa-sisa Masa Depan di Kota Bandung, Merekam Ingatan Melalui Fotografi dan Lagu Sabubukna
Ketika Trauma Kekerasan Seksual Menjadi Kanvas yang Melawan

Membaca Zaman Lewat Jurnalime Seni
Penulis dan editor lepas R. Abdul Azis atau Gadul menilai buku tersebut menghadirkan kembali ingatan terhadap banyak tokoh seni dan sastra, seperti Mohamad Sunjaya dan Nandang Aradea. Menurutnya, meski zaman berubah, persoalan yang dihadapi para pelaku seni masih berkutat pada masalah pendanaan, perizinan, hingga ruang berekspresi.
Ia menilai buku Selvi bukan sekadar kumpulan arsip, melainkan reportase jurnalisme seni yang memperlihatkan bagaimana para seniman menjalani pilihan hidupnya.
"Meski tak apik jika dibandingkan dengan buku biografi, buku ini berhasil diidentifikasi sebagai hasil kerja mengulas, memberikan catatan pada zaman dan meneladani pengalaman para seniman dan budayawan," kata Gadul.
Di acara yang sama, pewarta foto BandungBergerak, Virliya Putricantika, yang menulis resensi “Bersetia pada Seni Lewat Jurnalisme”, menilai reportase Selvi menghadirkan kedalaman yang kini semakin sulit ditemukan dalam liputan harian. Menurutnya, tuntutan produksi berita membuat banyak jurnalis tidak memiliki cukup waktu untuk mendalami satu isu secara berkelanjutan.
Virliya juga menilai masih ada perbedaan pandangan mengenai apakah karya jurnalistik dapat digolongkan sebagai kritik seni. Namun, ia menegaskan kehadiran jurnalis tetap penting untuk menjembatani karya seni dengan masyarakat.
"Kalau misalnya karya seni tidak dituliskan, tidak dikabarkan, terlalu jauh untuk bisa sampai ke rakyat, karena enggak semua rakyat juga punya akses untuk menikmati seni," ujarnya.
Menurut Virliya, ketekunan Selvi menunjukkan bahwa seorang jurnalis dapat menghasilkan liputan yang lebih kaya ketika menaruh perhatian secara konsisten pada satu bidang.
"Ketika kita menemui satu isu dan kita mencintainya, itu akan lebih mudah untuk menuturkannya dalam tulisan," katanya.
Buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca, kisah Gus Icol, para aktor teater, penari, pelukis, hingga komunitas-komunitas kecil hanyalah sebagian dari jejak kebudayaan. Pertunjukan atau pameran mungkin telah lama berakhir. Namun melalui jurnalisme, pengalaman para seniman tetap hidup sebagai arsip yang merekam perjalanan kebudayaan, sekaligus menjadi pengingat bahwa seni selalu menemukan cara untuk bertahan dan melawan di setiap zaman.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


