RESENSI BUKU: Bersetia pada Seni Lewat Jurnalisme
Buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca karya Selvi Agnesia mengarsipkan peristiwa-peristiwa seni dalam kumpulan reportase yang digarapnya di kurun waktu 2011-2026.
Penulis Virliya Putricantika14 Juli 2026
BandungBergerak – Exergie Butter Dance karya Melati Suryodarmo pertama kali saya lihat di Museum Tumurun, Solo, akhir 2024 lalu. Disajikan dalam enam frame foto yang cukup dinikmati satu-dua pengunjung di dinding berwarna hitam itu. Sepatu merah yang dikenakannya untuk menginjak mentega langsung memikat perhatian mata di setiap frame.
Mungkin beda rasanya jika melihat pertunjukannya secara langsung, begitu pikir saya. Di gambar yang saya nikmati cukup lama itu, terlihat Melati seperti menggerakkan kedua pergelangan tangannya, ada yang nyaris terjatuh, hingga yang terakhir ia terduduk dengan ekspresi yang sukar dideskripsikan.
Namun di buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca, performance art yang ditampilkan Melati terasa lebih dekat. Tulisan yang dimuat di babak kedua buku ini menguraikan sosok Melati Suryodarmo, tidak terbatas pada kerja keseniannya.
Kita dapat dengan mudah mencari tahu apa deskripsi karya dari pertunjukkan yang menempatkan mentega untuk membantu Melati melihat reaksi tubuhnya setelah bergerak dan terjatuh berkali-kali di atasnya.
“Melalui karya ini ia ingin menyampaikan pentingnya kehendak manusia serta tekad yang kuat dalam momen-momen tertentu di dalam kehidupan,” kalimat terakhir deskripsi karya Exergie Butter Dance di laman Museum Macan.
Tapi kalimat itu terlalu formal untuk menjelaskan karya dari perempuan kelahiran Solo ini. Singkatnya, saya tidak puas jika karya yang diciptakan pada tahun 2000 hanya diuraikan begitu saja. Karena manusia dan seni tidak sesederhana itu, tapi bukan pula hal yang rumit.
“Perjalanan Melati Meniti Performance Art” yang ditulis Selvi Agnesia menjawab ketamakan saya sebagai pembaca. Tulisannya bukan sekedar membahas 5W + 1H. Di dalam sembilan halaman, mungkin draft-nya bisa jadi lebih panjang, ia berhasil menggali nilai dari tujuan Melati menekuni dunia pertunjukan.
“Saya meminjam hidup ini sebagaimana saya meminjam tubuh, gagasan, teknik mereka, guru-guru saya, dalam berkarya. Saya tidak pernah berani mengatakan karya saya orisinal asli. Itu saya pelajari selama proses saya bekerja,” kutipan dari Melati Suryodarmo yang tertulis di reportase Selvi.
Karya jurnalistik perlu diakui membosankan ketika hanya sekedar bercerita apa yang terlihat di permukaan. Lewat jurnalisme, seseorang dapat menuturkan cerita lebih dalam. Entah ukurannya kedekatan atau detail yang dipaparkan sepanjang tulisan. Itulah yang dilakukan penulis dengan zodiak Sagitarius ini.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Menjawab Pertanyaan Apa yang Kau Lupakan Hari ini dari Jein Oktaviany
RESENSI BUKU: Kelabang, Kisah Para Narapidana, dan Siksaan Bagi Pembacanya
RESENSI BUKU: Negara Agraris yang Kehilangan Tanah untuk Petaninya
Simbiosis Mutualisme
Selama menjadi jurnalis sejak 2021, saya menempatkan perhelatan seni atau kegiatan lainnya hanya sebagai objek untuk dikabarkan atau dikunjungi sebagai bagian dari hiburan. Tulisan tentang pameran yang saya datangi mendapat kritik dari editor hari itu. Karena memang terlihat ingin liburan tapi memaksa diri untuk menulis. Dampaknya panjang, saya tidak begitu berani menuliskan hal-hal tentang seni, bukan takut. Tapi saya tahu diri ini hanya ingin menikmati karya-karya yang ada di hadapan saya.
Pengalaman itu mungkin akan berbeda dengan yang dilalui Selvi yang diwakilkan 32 tulisannya yang dimuat dalam buku. Apakah ia mengalami dilematis yang sama seperti pengalaman saya atau tidak, rasanya perlu menjadi satu perbincangan ketika kami bertemu.
Memiliki kartu pers rasanya dapat membantu kita mengobrol dengan seniman dengan durasi yang lebih lama. Tapi itu tidak ada artinya jika jurnalis hanya memanfaatkan privilese itu. Terkadang menjadi jurnalis juga masih saja sering terlewat untuk melakukan riset awal, mencari tahu aktivitas terakhir sang seniman misalnya.
Ada banyak dinamika dalam melakukan reportase seni dan budaya, tapi perempuan kelahiran Bandung ini berhasil mempertahankan konsistensinya untuk mengarsipkan peristiwa-peristiwa seni yang terjadi. Bukan hal yang mudah, menentukan isu yang diminati tidak seringan itu keputusannya. Tapi lewat keputusan itu pula tanpa disadari Selvi membantu kerja-kerja seni menjadi mudah dikonsumsi publik. Bahwa seni bukanlah sesuatu yang berjarak. Seni bisa sedekat itu dan dapat dinikmati siapa pun.
Tidak hanya itu, karya jurnalistik pun sering dimanfaatkan mahasiswa seni sebagai tinjauan pustaka. Sebagai bagian dari kajian sumber kreatif, karena jurnalis yang menyaksikan peristiwa seni adalah saksi mata yang sulit ditemukan oleh mahasiswa ketika dikejar tenggat waktu tugas analisa kajian kritis.
“Karena sebuah pertunjukan (seni), bukanlah pertunjukan yang sama jika itu dilakukan di waktu yang berbeda,” terang Joned Suryatmoko di kelas semester genap lalu.

Merajut Reportase
Melakukan kurasi terhadap tulisan sendiri rasanya sulit dilakukan dan melihat Selvi memilih 32 tulisan untuk merangkum sejarah seni dan budaya di kurun waktu 2011-2026 adalah hal yang bijak serta matang. Tentu ada banyak peristiwa seni lain yang terlewatkan, tapi bayangkan saja jika semuanya ditulis. Sepertinya buku “Berkesenian di Segala Cuaca” akan terbit dalam beberapa jilid. Kalau pun begitu, seharusnya rezim membiayai kerja pengarsipan ini, bukan hanya mengubah dan menuliskan ulang sejarah.
Hal yang saya temukan di buku ini dan ditemukan di buku kumpulan reportase lainnya yakni minimnya sumber visual tentang peristiwa seni yang terjadi. Pertanyaannya berkembang lebih jauh dari itu, apakah sesulit itu mencari rekan fotografer yang bisa diajak kerja sama untuk reportase dan merajutnya menjadi kumpulan karya jurnalistik yang ciamik? Jika iya, maka kritik ini bukan hanya diajukan untuk editor buku, tapi juga untuk kawan-kawan fotografer yang perlu membuka diri untuk urun daya dalam karya jurnalistik.
Karya jurnalistik memang masih jauh untuk dikategorikan sebagai kritik seni. Tapi fakta yang ditemukan jurnalis di lapangan ketika menuliskan peristiwa seni adalah kritik tersirat dari apa yang dinikmati mata penonton.
Informasi Buku
Judul: Berkesenian di Tengah Segala Cuaca
Penulis: Selvi Agnesia
Penerbit: Penerbit JBS
Cetakan: Pertama, Mei 2026
Tebal: 194 halaman
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


