Sambat MBG di Taman Kota bersama Indung Bandung Ngariung
“Kalau ibu-ibu udah turun (ke jalan), berarti (keadaan) udah gawat banget…”
Penulis Virliya Putricantika23 Juli 2026
BandungBergerak – Tiga tikar dihamparkan di sisi timur Taman Cibeunying, Bandung. Di atasnya, tersedia buku gambar ukuran A3, spidol, juga pensil warna bagi para perempuan yang hadir untuk membuat poster. Tikar dalam jumlah yang sama digelar di sisi barat. Ada yang bermotif ular tangga dan boneka dadu. Di sana, ditaruh buku-buku. Area ini dikhususkan untuk anak-anak.
Minggu pagi, 19 Juli 2026 itu, 20-an orang yang tergabung dalam komunitas Ibu Bandung Ngariung (IBN), berkumpul dan menggelar aksi silent protest. Dengan poster di genggaman tiap-tiap orang, mereka mulai berjalan kaki mengeliling taman kota yang cukup ramai oleh pengunjung. Di tengah jalan, seorang perempuan pedagang peyek dan lelaki pengamen diajak bergabung. Lagu Indonesia Pusaka mengiringi langkah mereka menyampaikan keresahan atas kondisi negeri, terutama terkait sengkarut program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Setelah aksi selesai, para perempuan duduk melingkar di tikar sisi timur untuk ngobrol, sementara anak-anak memenuhi tikar di sisi barat untuk mengikuti Sekolah Taman bersama Komunitas Taman Kota. Poster-poster yang dibuat secara mandiri dipajang ibarat sebuah pameran dadakan di tengah taman kota. Cerita hadir silih berganti dari setiap individu yang hadir dalam agenda “Titik Sambat WNI” yang langsung hingga tengah hari.

Tyla Safitri, 26 tahun, membagikan kegelisahan tentang bagaimana perasaannya terhadap negeri ini bisa berubah 180 derajat. Di masa kecil di tanah kelahirannya di Kalimantan, perempuan yang datang dengan mengenakan pashmina hitam ini mengaku betul-betul merasakan rasa cinta yang tebal terhadap negeri. Namun, kenyataan hari ini seolah memaksanya untuk berbalik arah.
Di Indung Bandung Ngariung, Tyla merasa tidak sendirian dan bisa menceritakan banyak hal secara terbuka. Dan dia percaya, aksi kecil semacam ini akan menyebar dan terus menjalar.
“Orang-orang lihat juga (bahwa) ibu-ibu nih udah turun (ke jalan),” tutur Tyla. “Kalau ibu-ibu udah turun (ke jalan), berarti (keadaan) udah gawat banget karena sebenarnya ibu-ibu kan jarang mengurus hal (seperti) ini.”

Baca Juga: CERITA GURU: Guru di Medan Tempur MBG
Program MBG dan Anak-anak yang Paling Jauh dari Negara
Memilih Menolak MBG
Komunitas Indung Bandung Ngariung hadir sebagai ruang bagi para perempuan untuk menyuarakan aspirasi, berdiskusi, sekaligus mengawal kebijakan publik yang berdampak langsung pada kehidupan keluarga. Anggotanya datang dari beragam latar belakang. Ada nenek yang geleng-geleng melihat akrobat harga kebutuhan pokok. Ada ibu yang cemas memikirkan kualitas menu makanan anaknya di sekolah. Ada orang muda yang resah dengan kebijakan penyelenggara negara.
“Kami bukan ahli politik, tapi ibu-ibulah yang pertama merasakan dampaknya (kebijakan penyelenggara negara). Karena itu, ibu-ibu berhak bersuara,” kata Susan, salah seorang inisiator IBN.
Dan tentu saja, isu panas yang menjadi bahan obrolan para perempuan hari itu, selain masalah pajak dan polemik sekolah, adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Rakyat tidak dapat menutup mata begitu saja terhadap kabar buruk tentang program unggulan Prabowo-Gibran yang datang bertubi-tubi. Bahkan puncaknya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana ditangkap pada 3 Juni 2026 setelah kedapatan melakukan tindak pidana korupsi.
Cerita datang dari A, seorang tenaga pendidik di salah satu sekolah swasta Kota Bandung. Sejak Juni 2026 kemarin, pengurus sekolah tempatnya bekerja bersepakat untuk memutus program MBG. Keputusan ini tentu tidak serta merta diterima oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah meneken kontrak kerja sama. Namun pilihan telah bulat diambil.
“Saya merasa memiliki tanggung jawab atas anak saya, anak didik saya, dan seluruh guru. Jadi saya harus melakukan yang terbaik,” kata A, perempuan 31 tahun.
Menurut A, keputusan pengurus nyatanya memperoleh dukungan dari para tenaga pendidik. Juga para penerima manfaat MBG, baik siswa maupun orang tua siswa, menyatakan dukungannya. Belajar dari sini, dia meyakini pentingnya memulai gerakan dari bawah, dari ruang pendidikan itu sendiri.

Cerita lain datang dari dua orang anak perempuan yang menemani ibu mereka dalam aksi di taman kota hari tu. Seorang siswi kelas 2 SD enggan menerima MBG karena bingung dengan tujuannya. Anak perempuan lainnya, siswi kelas 3 SD, tidak mau menerima MBG karena merasa khawatir setelah mengetahui kabar tentang keracunan massal di Kabupaten Bandung Barat awal tahun 2026 ini.
Aksi Indung Bandung Ngariung menjadi pengingat betapa penting aksi bersama menghadirkan ruang partisipatif bagi warga terutama perempuan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Bukan berhenti di kantor-kantor kekuasaan, setiap keluhan (sambat), kegelisahan, dan kritik juga harus dibicarakan di taman kota, di meja makan, dan di ruang-ruang publik tempat warga hidup setiap hari.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


