• Opini
  • CERITA GURU: Guru di Medan Tempur MBG

CERITA GURU: Guru di Medan Tempur MBG

Perang kami adalah mempertahankan agar ruang kelas tidak berubah menjadi gudang logistik.

Laila Nursaliha

Desainer Kurikulum. Berminat pada Kajian Curriculum Studies, Sains dan Teknologi pendidikan, serta Pendidikan Guru.

Tidak ada ruang untuk usulan. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

4 Maret 2026


BandungBergerak – Lebih mudah membayangkan besok Perang Dunia ke-3 pecah atau meteor jatuh menghantam bumi daripada membayangkan Makan Bergisi Gratis (MBG) diberhentikan. Itulah nubuat rekan saya, Barli, seorang pegiat literasi, yang dilontarkan beberapa hari lalu. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Ali Komenei Sabtu, 28 Februari 2026, memperkuat pernyataannya. Lalu saya berpikir: “Beneran bakal perang dunia?”

Namun bahkan setelah ada tanda-tanda perang mulai datang, tak ada tanda-tanda apapun dari MBG untuk bisa berhenti, meski protes murid dan para ahli muncul di sana sini, meski ibu-ibu berdemonstrasi, meski banyak insiden keracunan. Dan di tengah gejolak seperti ini, kami para guru mengemban tugas untuk menjaga murid-murid kami.

Sebagai penanggung jawab MBG di sekolah, sudah berbusa-busa kami menyampaikan protes dan menawarkan solusi, tetapi belum ada tanda perubahan berarti pada menu MBG—kecuali porsinya saja. Harapan akan pergantian menu yang lebih baik terasa jauh panggang dari api. Sulit bagi kami membayangkan makanan dari program ini benar-benar efektif sampai ke perut anak-anak yang membutuhkannya.

Konflik Pengurus Dapur dan Guru

Sekitar empat bulan lalu, kami meneken kontrak perjanjian dengan sebuah SPPG. Di awal, saya sudah berkata kepada ketua dapur bahwa mereka harus menjamin agar kami bisa memberikan masukan terkait makanan. Berkaca dari program Makanan Tambahan yang biasa kami lakukan, guru dan orangtua sangat memperhatikan selera anak-anak. Hasilnya, anak-anak makan dengan lahap. Kuncinya adalah bagaimana orang dewasa bisa membujuk anak bisa makan.

Di sepanjang perjalanan, hidup kami tak pernah lepas dari segala macam bentuk protes dan kritik dari orangtua siswa. Ada orangtua dengan latar belakang profesi bidang kesehatan yang rajin memantau menu-menu yang disajikan pada anak-anak, terutama terkait kadar gula dalam makanan. Para orangtua di sekolah kami juga bersemangat untuk memberi usulan menu.

Sayangnya, saran dan keluhan itu jarang mendapat sambutan. Semuanya tenggelam menjadi catatan yang entah dijadikan bahan evaluasi atau tidak. Jika ditanya soal kekurangan bahan baku, jawaban pengurus dapur selalu sama: regulasi.

Kami pun mencari cara bernegosiasi agar setidaknya bisa melihat menu lebih dulu. Salah satunya dengan mengusulkan pratinjau (preview) menu dari dapur untuk beberapa hari ke depan. Tujuannya, makanan bisa dievaluasi sebelum sampai ke tangan anak-anak dan dengan begitu kami berharap bisa menekan makanan sisa yang mubazir sekaligus mengefektifkan anggaran. Tak disangka, pihak dapur hanya merespons dengan satu kalimat: "Maaf, kami tidak bisa membuka menu. Khawatir terjadi sabotase."

Saya tak pernah menyangka seorang ahli gizi masih sempat memikirkan sabotase. Seharusnya—jika boleh saya mengingatkan—tugas ahli gizi adalah menyusun menu bergizi yang benar-benar bisa masuk ke perut anak untuk mendukung tumbuh kembang mereka. Ahli gizi di rumah sakit saja kadang mendatangi pasien langsung untuk memberikan pilihan makanan. Apalagi ini untuk anak-anak sehat, dengan pilihan makanan bergizi yang begitu luas dan beragam.

Pengalaman kami sebagai guru tergambar dengan tepat dalam studi kualitatif peneliti kesehatan masyarakat Rhiannon E. Day tentang penerapan Universal Infant Free School Meal (UIFSM) di Inggris. Ia mencatat bahwa guru sering menerima keluhan siswa dan orangtua soal menu, tetapi tidak memiliki kuasa dalam mendesain makanan karena semua sudah diatur oleh penyedia dan regulasi pusat. Pilihan makanan beku dan instan pun kerap menjadi jalan pintas demi mengejar target kuantitas. Persis itulah yang kami rasakan!

Kami merasa diperlakukan tidak adil. Guru diminta memastikan program ini berjalan baik, tetapi tidak diberi ruang dalam pengambilan keputusan teknis seperti menu makanan.

Baca Juga: Kemelut di Atas Nampan Makan Bergisi GratisKompetensi Digital Guru Bukan Sekadar Bisa Pakai Aplikasi

Usaha “Menggugat”

Bayangkanlah: setiap kali masuk kelas, bau telur memenuhi ruangan! Hidung kami tak kunjung menjadi kebal. Mual seketika menyeruak. Menu telur telah menjadi menu wajib. Jika tidak telur rebus, ya telur ceplok, telur pindang, atau model telur lain yang masih tampak jelas putih telur dan kuning telurnya dengan tambahan bumbu-bumbu penyedap atau saus tertentu.

Para siswa kadang mengintip menu dan berkata: “Yah, telur lagi. Bosen ah!”. Air muka mereka dirundung gundah gulana, semangat mereka untuk makan lenyap. Sebagian besar anak memilih untuk membungkus saja jatah makanannya, dan berharap di rumah nanti bisa diserahkan kepada siapa saja.

Bu Kepala Sekolah bercerita, bahkan ada anak yang tidak mau makan telur rebus lagi. Padahal anak itu bukan tipe anak yang memilih-milih makanan dan cukup menyenangi telur rebus. Betapa makanan-makanan ini telah menimbulkan luka mendalam!

Tentu saja fenomena ini meresahkan karena makanan yang diongkosi uang rakyat tidak dikonsumsi oleh anak. Bagi kami para guru, ini berarti tambahan tugas yang membuat khawatir, selain memastikan agar ompreng datang dan pergi dengan selamat serta mendistribusikannya kepada anak-anak yang tidak sekolah. Jika ada sisa makanan basah, kami mengirimkannya ke si Inul, kambing peliharaan warga sekitar sekolah. Jika yang tersisa adalah daging, kami memberikannya kepada si Ireng atau kucing-kucing lain binaan Kepala Sekolah. Semua gara-gara menu yang membosankan dan cara-cara pengolahan yang kurang kreatif!

Ketika keresahan tidak tertanggungkan sendiri, saatnya untuk berkonsolidasi bersama guru lain. Kami mengobrol secara mendalam dan saling memberi masukan. Namun, tak kunjung ada perubahan yang berarti.

Perbubahan yang cukup signifikan terjadi justru ketika salah satu orangtua mengadu di media sosial (medsos) dan viral. Kami tidak tahu orangtua siapa yang membuat unggahan tersebut. Gara-gara kejadian itu, para guru terkena “omelan” pihak dapur karena tak bisa mencegah orangtua mengunggah konten di medsos. Oh, mengapa tugas guru untuk MBG ini banyak sekali sampai harus mengkondisikan akun medsos orangtua segala?

Medan Tempur Sunyi

Ketika dunia sibuk memantau pergerakan rudal dan ancaman perang nuklir, kami—para guru—sedang bertempur di medan yang jauh lebih sunyi. Yang ada hanyalah ompreng yang datang setiap pagi, anak-anak yang mengintip isi kotak dengan wajah pasrah, dan tumpukan sisa makanan yang akhirnya jadi rezeki si Inul dan si Ireng.

Perang kami adalah mempertahankan agar ruang kelas tidak berubah menjadi gudang logistik. Pertempuran kami adalah menjaga agar waktu belajar tidak tersita oleh tugas mendistribusikan, mencatat, serta mengemas makanan, mengkondisikan kelas, dan bahkan (ya masa?) mengawasi akun medsos orangtua.

Di medan tempur MBG, tugas kami—para guru—barangkali adalah sesederhana mempertahankan dana pendidikan agar tidak "dirampok" dan terbuang sia-sia.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//