Skena Mawadah Warahmah: Orang Muda Bungung yang Berpuisi
Buku puisi Skena Mawadah Warahmah Beni Anwar Z alias Eben memotret kegelisahan orang muda yang biasa menongkrong di kedai kopi.
Penulis Retna Gemilang24 Juli 2026
BandungBergerak - "Buku ini adalah resep untuk cowok-cowok bingung," ujar Beni Anwar Z atau akrab disapa Eben saat membedah buku puisinya Skena Mawadah Warahmah (Bandung Berpuisi, 2026). Ruangan diskusi Sabtu Sore #40 di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pun dipenuhi gelak tawa. Namun, candaan itu segera berubah jadi refleksi dari fenomena ketimpangan ekonomi.
"Ketimpangan ekonomi itu nyata, nyata banget. Sampai pada akhirnya produk dari ketimpangan ekonomi itu, salah satunya sekarang tuh adalah cowok bingung," ungkap Eben, Sabtu, 18 Juli 2026.
Keresahan itu menjadi salah satu benang merah dalam 29 puisi karya Eben. Melalui buku ini, ia mengajak pembaca melihat kembali hal-hal yang tampak lumrah, tetapi kerap luput dari perhatian: upah murah barista, tren menikah di KUA, kehidupan skena Bandung, hingga berbagai kegelisahan sosial yang akrab bagi generasi muda.
Beragam isu tersebut diolah dengan gaya pop indie yang ringan dan mudah diikuti. Namun, di balik bahasa yang terasa akrab, puisi-puisi Eben menyimpan pembacaan yang tajam terhadap realitas sosial sehari-hari.
Dalam prosesnya, Skena Mawadah Warahmah Eben rilis secara independen sejak awal. Mulai dari penulisan, pengkurasian puisi, tata letak, desain, hingga penerbitan menjadi buku. Bahkan ia mengajak kolaborasi bersama dua teman fotografer untuk mengisi visual buku, yakni Ekazaki Kurnia dan Elfrida.
Ia tidak mengikuti arus buku puisi yang terkesan konseptual dan tematik. Salah satu judul, Moshpit (2025), tata letaknya dibikin melingkar seperti aktivitas orang skena saat menikmati musik rock indie. Konsep musik ini terkait dengan latar belakang yang juga pemain band SHAT.
Ada pula puisi pengalaman personalnya berjudul Sastra Mesin yang dilatari sekolah . Eben di teknik mesin SMK. Namun ketika lulus, pekerjaannya tidak linier dan memilih bekerja di bidang lain, bahkan aktif berpuisi hingga sekarang.
Tidak sedikit istilah orang muda dipakai Eben dalam puisi-puisinya, seperti skena, kalcer, band Dongker, Reality Club, brand kopi, bahkan aplikasi kencan. Ia juga sengaja menaruh kode bar di halaman depan yang berisi playlist lagu. Hal itu dimaksudkan agar pembaca bisa menikmati puisi sembari mendengarkan lagu di sela-sela hari mereka. Di akhir halaman, terdapat tiket band yang bisa ditukar ketika Eben tampil bersama band musiknya, SHAT.
Bagi Eben, puisi tidak harus berdiri jauh dari kehidupan sehari-hari. Dari kegelisahan pribadi, kerap berubah menjadi pengalaman bersama ketika pembaca menemukan dirinya di dalam puisi. Pengalaman itu didapatkannya ketika ada pembeli yang ternyata belum pernah membaca buku.
"Ternyata yang beli buku itu, ada juga yang mereka tuh sebelumnya tidak baca buku, tapi pengin baca buku ini," ucap Eben, "Oh, berarti ada hal yang mungkin menurut mereka penting gitu, menurut mereka relate."
Bagi Eben, puisi bukan sesuatu yang eksklusif. Ia berharap siapa pun bisa menikmati puisi dengan cara sederhana.
"Menulis puisi itu menyenangkan. Enggak usah dibawa berat-berat. Yang penting kamu senang dulu aja, mau menulis ataupun membaca puisi," jelas penyair asal Bandung yang sudah menelurkan dua buku puisi. Buku puisi pertamanya Berjudul Hitam di Antara Putih (Langgam Pustaka, 2022).
Baca Juga: Membincangkan Buku Puisi Hanya Waktu, Menengok Relung Seorang Matdon
Puisi Tujuh Belas Tahun
Menjangkau Beragam Pembaca
Pegiat literasi sekaligus mahasiswa kedokteran gigi, Ali mengapresiasi lahirnya buku puisi Eben. Ia merasa mengenal dunia yang sama sekali berbeda dengan yang selama ini ia geluti. Ketaktilan diksi yang digunakan pun mudah dibaca olehnya.
Ali terkesan pada puisi Balada Kasir Minimarket. Menurutnya, puisi itu berhasil menyampaikan narasi sosial tanpa kehilangan sifat kepuitisannya. Syair-syairnya dianggap tidak sekadar rangkaian metafora.
Ali memuji kemahiran Eben dalam menggambarkan fenomena sosial secara ringan. Ia jadi teringat puisi karya Eamon Grennan berjudul "So It Goes" yang pernah dibacanya.
"Yang paling aku suka itu kesan taktilnya yang benar-benar kerasa dan gimana Kang Eben bisa menuliskan sebuah puisi yang langsung menelisik dalam satu halaman aja," tutur Ali.
Di sela-sela diskusi, barista Bunga di Tembok Galih juga turut menanggapi. Salah satu puisi yang berkesan baginya ialah Balada Kedai Kopi. Menurutnya, puisi tersebut berhasil menangkap detail-detail kecil yang akrab di dunia pekerja kedai kopi. Mulai dari pengalaman melayani pelanggan hingga beragam cerita personal yang melekat pada sesama barista.
"Setelah baca bukunya A Eben tuh kayak relate aja gitu," ujar Galih, "Apalagi saya tuh relate-nya yang di bagian barista kedai kecil."
Diskusi ini dipandu oleh penyair Annisa Resmana. Ia melihat puisi Eben seperti komposisi panel. Di balik beragam warna dan latar belakang sosial, Eben dinilai berhasil menuliskannya dengan cara menyenangkan.
Ia juga mengapresiasi keberhasilan Eben menarik pembaca baru yang sebelumnya tidak akrab dengan sastra.
"Tulisan-tulisan Eben ini berhasil untuk menambah setidaknya 2,3,5, bahkan 10 pembaca puisi baru dan bukankah itu yang sebenarnya paling bermanfaat dalam puisi? Ada impact nyata di situ," kata Annisa.
Di penghujung diskusi sembari menemani malam Minggu, peserta ikut membacakan puisi Eben. Salma dari Bunga di Tembok membacakan puisi bertajuk Swipe Kanan. Tak ketinggalan, Zulfa Nasrulloh juga menampilkan monolog teatrikal dari puisi Balada Kedai Kopi.
Skena Mawadah Warahmah menunjukkan bahwa karya sastra tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kegelisahan penyairnya. Eben menulis secara jujur peristiwa di balik meja kedai kopi, dari sela-sela hariannya, ketika mendengarkan kumpulan lagu, dan keresahan akan realitas di tengah carut-marut ekonomi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


