KABAR DARI REDAKSI: Krisis Global Mengancam Ketahanan Pangan, Bisakah Kearifan Kuliner Tradisional Menjadi Jawaban?
Krisis pangan dipicu banyak faktor, dari ekonomi, kebijakan yang salah arah, hingga krisis global seperti perang. Simak liputan khusus BandungBergerak di Teras.id.
Penulis Tim Redaksi28 Juli 2026
BandungBergerak - Indonesia menghadapi tekanan berlapis akibat krisis global. Perubahan iklim, ketidakpastian energi, hingga konflik geopolitik menjadi ancaman yang tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga menguji ketahanan pangan nasional. Di tengah kondisi tersebut, ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai makanan pokok dinilai membuat sistem pangan Indonesia semakin rentan.
Perubahan iklim menjadi tantangan paling nyata bagi sektor pertanian. Kekeringan, musim hujan yang tidak menentu, peningkatan suhu, serangan hama, hingga menurunnya kualitas tanah terus mengganggu produktivitas pertanian. Petani padi yang mengandalkan musim panen sekitar enam bulan sekali menghadapi risiko gagal panen yang semakin besar. Kondisi serupa juga dialami petani hortikultura yang sangat bergantung pada kestabilan iklim, kesuburan tanah, dan ketersediaan air.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perubahan iklim berpotensi menurunkan produktivitas pangan nasional dan menyebabkan kerugian ekonomi makro hingga 112,2 triliun rupiah. Ancaman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak lagi sekadar isu pertanian, melainkan persoalan strategis yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup masyarakat.
Di saat yang sama, ketahanan pangan Indonesia juga dibayangi rapuhnya pasokan energi. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok energi global. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut menghadapi risiko kenaikan biaya produksi, distribusi, hingga lonjakan harga pangan apabila pasokan energi terganggu.
Kerentanan ini diperparah oleh budaya konsumsi yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Ungkapan "belum makan kalau belum makan nasi" bukan sekadar kebiasaan masyarakat, melainkan hasil dari kebijakan swasembada pangan pada masa Orde Baru yang menjadikan beras sebagai komoditas pangan utama nasional. Kebijakan tersebut memang berhasil meningkatkan konsumsi beras, tetapi di sisi lain membuat berbagai pangan lokal perlahan tersingkir dari meja makan masyarakat.
Padahal, jauh sebelum beras mendominasi konsumsi nasional, setiap daerah di Indonesia memiliki sistem pangan lokal yang menyesuaikan kondisi alamnya masing-masing. Masyarakat Sunda, misalnya, telah lama membangun tradisi kuliner yang bertumpu pada sumber daya lokal. Kebiasaan mengonsumsi lalapan, hasil fermentasi seperti oncom dan peuyeum, serta berbagai jenis umbi-umbian bukan hanya mencerminkan cita rasa khas daerah, tetapi juga menunjukkan pola konsumsi yang hemat sumber daya, rendah emisi, dan minim limbah.
Tradisi pangan tersebut lahir dari kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Sistem pangan lokal memanfaatkan bahan yang tersedia di wilayah setempat sehingga tidak bergantung pada rantai distribusi yang panjang. Dalam konteks krisis iklim, pola konsumsi seperti ini dinilai lebih lentur dan berpotensi memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Hubungan masyarakat Sunda dengan pangan juga tidak terlepas dari nilai-nilai budaya. Dalam perspektif etnobotani, tumbuhan tidak hanya dipandang sebagai sumber makanan, tetapi juga memiliki makna filosofis. Umbi-umbian, misalnya, melambangkan kerendahan hati dan kesederhanaan karena tumbuh di dalam tanah, tersembunyi, dan tidak menonjolkan diri. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat memandang hubungan antara manusia, alam, dan pangan.
Potensi pangan lokal Jawa Barat pun masih sangat besar. Berdasarkan Open Data Jawa Barat, produksi umbi-umbian pada 2021 mencapai 489.920 ton. Kabupaten Kuningan menjadi produsen terbesar dengan produksi 121.978 ton atau sekitar 24,9 persen dari total produksi Jawa Barat. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Garut dengan 120.793 ton dan Kabupaten Bandung sebanyak 91.689 ton. Angka tersebut menunjukkan bahwa komoditas lokal masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif.
Namun, di tengah berkembangnya budaya kuliner modern, makanan tradisional Sunda justru semakin terpinggirkan. Berbagai pangan lokal mulai kehilangan ruang di tengah dominasi makanan berbasis beras maupun makanan cepat saji. Akibatnya, generasi muda semakin jarang mengenal pangan yang selama berabad-abad menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda.
Padahal, banyak pangan lokal memiliki karakter yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dibandingkan komoditas yang sangat bergantung pada kondisi cuaca tertentu. Umbi-umbian, misalnya, dikenal lebih tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan. Diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal karena itu dipandang dapat menjadi salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya ancaman krisis global.
Baca Juga: KABAR DARI REDAKSI: Menelusuri Jalan Berliku BRT Bandung Raya
KABAR DARI REDAKSI: Di Balik Menjamurnya Kafe di Bandung
Dengan latar belakang tersebut, BandungBergerak menghadirkan liputan khusus “Makanan Tradisional Menjawab Krisis Global”, yang terbit mulai 18 Juli 2026. Liputan ini dikerjakan tim reporter Yopi Muharam, Retna Gemilang, Salma Nur Fauziyah, Fitri Amanda, Muhammad Akmal Firmansyah. Selama peliputan, tim menelusuri literatur, mendatangi pelbagai tempat, mewawancarai pelaku dan pakar yang hasilnya berupa 10 serial liputan sebagai berikut:
1. Program Ambisius Diversifikasi Pangan Kota Bandung
2 Siasat Bertahan di Tengah Ancaman Krisis Pangan
3 Siasat Mencukupi Kebutuhan Makanan Sehat
4 Ubi Cilembu, Warisan Pangan Nusantara
5 Melahirkan Kembali Makanan Tradisional Sunda
6 Solusi Pangan di Tengah Krisis Iklim dan Gejolak Global
7 Nasi Singkong, Jejak Kemandirian Pangan Kampung Adat Cireudeu
8 Humaloka, Kebun Pangan di Tengah Permukiman Padat
9 Ketika Harga Beras Semakin Mahal
10 Beras Singkong dan Oncom, Warisan Pangan Kuliner Sunda
Melalui liputan ini, BandungBergerak mengajak pembaca melihat proyek BRT secara lebih utuh: bukan hanya sebagai proyek infrastruktur, tetapi sebagai kebijakan publik yang akan memengaruhi kehidupan warga, ruang kota, dan arah masa depan transportasi di Bandung Raya.
Kami juga perlu menginformasikan bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Teras.id adalah konten berbayar. Ini merupakan bagian dari inisiatif kolaborasi antara media daring lokal di seluruh Indonesia, yang bekerja sama dengan Teras.id untuk menyajikan liputan berkualitas. Melalui inisiatif ini, kami mengundang publik untuk berpartisipasi dengan berlangganan konten eksklusif yang disediakan oleh media-media daring lokal.
Selamat membaca, KawanBergerak!
Salam,
Redaksi BandungBergerak
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


