RESENSI BUKU: Menelusuri Keberpihakan Seorang Jurnalis pada Kaum Tertindas
Melalui Buku Kabar Buruk Hari Ini, Mawa Kresna menggunakan hati nurani jurnalismenya untuk mencoba menceritakan kaum terpinggirkan.
Penulis Khoirunnisa Febriani Sofwan2 Agustus 2026
BandungBergerak – Perjalanan seorang jurnalis dalam mencari dan menjelajahi fakta selalu menjadi hal menarik untuk diceritakan. Jurnalis tidak jarang menemukan fakta-fakta baru di lapangan, bahkan biasanya kabar yang lebih dalam dari permukaan akan lebih buruk. Hal itulah yang terungkap dalam buku dengan judul Kabar Buruk Hari Ini yang ditulis Mawa Kresna, seorang jurnalis yang juga pernah menjadi Chief Content Officer di Haluan, Editor di Tirto.id, Editorial Manager di Indonesian Data Journalism Network (IDJN), berkolaborasi di Rupadata, dan menjadi Redaktur Pelaksana Project Mutatuli.
Kabar Buruk Hari Ini terbit cetakan pertamanya pada Juli 2021. Buku ini bersampul hard cover berwarna putih di bagian depan dengan gambar sketsa enam orang tertindas, sampul yang memperlihatkan kesengsaraan kelompok terpinggirkan. Bagian belakang buku ini juga bersampul putih dengan kutipan review Wisnu Prasetya Utomo, pengamat media dan dosen Ilmu Komunikasi UGM, dan kutipan review Fahri Salam, editor.
Buku ini berupa 23 kumpulan liputan Mawa yang dikemas dengan penceritaan narasi. Tebal halaman 235 yang terbagi menjadi lima bagian tanpa judul, setiap bagian langsung membahas satu liputan Mawa. Bagian pertama berisi lima kisah, bagian kedua berisi empat kisah, bagian ketiga berisi tiga kisah, bagian keempat berisi lima kisah, dan bagian kelima berisi enam kisah.
Beberapa liputan yang sifatnya kompleks berhasil Mawa jelaskan dengan Bahasa sederhana. Tulisan-tulisannya memperlihatkan keberpihakannya pada masyarakat, juga lebih memperlihatkan aspek rasa dibanding data sehingga apa yang ingin ia sampaikan lebih mudah dimengerti oleh orang awam seperti saya. Namun, karena buku ini berisi lebih dari satu cerita, saya merasa karakter yang dibangun terasa terburu-buru,
Salah satu liputan Mawa dengan judul Kisah Tim Mawar Menculik para Aktivis 1998 memperkenalkan banyak tokoh. Saya merasa agak sulit mengingat tokoh dalam cerita ini, karena pembangunan karakternya hanya selewat, namun alur yang disajikan cukup cepat sehingga saya harus beberapa kali berbalik lagi ke halaman sebelumnya hanya untuk mengingat kembali tokoh. Selain itu, karena alurnya yang cepat membuat saya harus pintar-pintar mengatur naik turunnya perasaan, karena satu kisah bisa saja hanya tujuh lembar. Setelah itu berlanjut ke kisah berbeda.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Negara Agraris yang Kehilangan Tanah untuk Petaninya
RESENSI BUKU: Memahami Perempuan dalam “Perempuan Jika Itulah Namamu”, Sebuah Buku Karya Maman Suherman
Perasaan Kaum Tertindas
Sebelum masuk ke pembahasan utama, Mawa secara gamblang mempersembahkan bukunya: “Buat orang-orang yang disingkirkan namun tetap melawan dengan sehormat-hormatnya”.
Dari sini saya tahu, penulisan buku ini bukan hanya untuk membukakan mata orang awam seperti saya, melainkan juga untuk terus menghidupkan semangat perlawanan.
Salah satu kisah yang menurut saya menarik ada pada bagian tiga dengan judul Jakarta Unfair, Mengenang Bukit Duri di Atas Puing-Puing. Dalam judul ini, Mawa menggambarkan latar suasana dengan baik, sehingga saya berhasil dengan mudah membangun imajinasi. Liputan kali ini menceritakan warga Bukit Duri yang kembali berkumpul untuk pemutaran perdana film Jakarta Unfair setelah penggusuran terjadi di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Pada awal penceritaan, Mawa lebih berfokus pada penggambaran situasi Kawasan Bukit Duri pascaperataan tanah.
“Puing-puing keramik, tembok rumah dan batuan yang sudah digilas backhoe bececeran dengan merata di pinggir jalan,” tulis Mawa. Suasana ini dibangun saya rasa untuk menumbuhkan rasa empati say, membayangkan bagaimana rasanya kita datang kembali ke tempat yang tadinya tempat tinggal tapi kemudian rata dengan tanah.
Di halaman selanjutnya, Mawa kemudian menceritakan penayangan film Jakarta Unfair tanpa memutus penggambaran suasana. Dari penggambaran suasana, Mawa langsung beralih ke pernyataan menyentuh hati dari satu sosok bernama Suyanti, salah satu orang yang sejak kecilnya sering bermain di wilayah Bukit Duri.
Pada subjudul selanjutnya Sejak Zaman Orba, masih di cerita yang sama Mawa melangkah mundur, menceritakan awal mula penggusuran warga Bukit Duri. Penggusuran yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta sebenarnya sudah direncanakan. Sejak tahun 1980-an warga Bukit Duri sudah menerima ancaman penggusuran dari pemerintah Orde Baru.
Pada tahun 2012 Joko Widodo dan Basuki Tjaja Purnama maju sebagai Gubernur DKI Jakarta membawa program kampanye rumah deret dan kampung susun. Pada penghujung Agustus 2016 pemerintah kemudian mengeluarkan surat peringatan agar warga segera mengosongkan Bukit Duri. Puncaknya pada 28 September 2016, sebanyak 363 rumah warga diratakan dengan tanah.
Salah satu kutipan yang dimasukkan Mawa membuat saya merasa semakin geram pada pemerintah dan empati pada warga korban penggusuran. “Saya merasa keadilan, hukum, dan Pancasila tidak berlaku untuk orang kecil seperti kami”.
Pada subjudul terakhir, Bergerilya Membangun Solidaritas, Mawa menceritakan kelanjutan perjuangan warga yang dituangkan lewat ikatan hubungan solidaritas. Mulyadi pada kisah ini diceritakan sudah ditinggalkan oleh banyak warga Bukit Duri, tetapi banyak juga elemen yang mendukung Mulyadi, salah satunya adalah 16 mahasiswa dari berbagai universitas Jakarta bersama dengan Watchdoc yang membuat film dokumenter Jakarta Unfair.
Walaupun hanya berjumlah 9 halaman, saya rasa karena pada cerita kali ini tidak terlalu banyak tokoh, pembangunan karakter cukup kuat dibanding cerita lainnya. Selain itu, penggambaran suasana juga cukup mendetail dan berhasil membuat pembaca merasa hawa dingin yang dirasakan warga Bukit Duri.
Kisah ini menarik bagi saya, karena liputan ini mengingatkan saya pada salah satu fenomena serupa yang terjadi di Kota Bandung. Tokoh Suyati pada cerita ini juga mengingatkan saya pada salah satu orang tua yang saya wawancarai di salah satu rumah susun di Kota Bandung. Dari sini saya mengetahui bahwa permasalahan semacam sengketa tanah ternyata lazim terjadi di negeri ini.
Di luar dari liputan ini, semua cerita memang berupa kabar buruk. Tak hanya sengketa tanah, saya menyadari bahwa peran negara dalam bertanggungjawab terhadap hidup masyarakatnya adalah hal yang penting. Banyak orang yang berjuang mempertahankan hak hidupnya di negeri ini.
Melalui liputan-liputan Mawa yang dituangkan lewat penceritaan yang mengedepankan perasaan, saya menyadari selama ini penderitaan masyarakat bukan hanya statistika. Pemerintah mungkin sering kali membandingkan sesuatu dari angka, tetapi orang-orang yang menjadi korban, tidak peduli berapa angkanya tetap akan menderita. Mata saya terbuka, penderitaan seseorang tidak bisa diukur dengan angka, tetapi hanya bisa diukur dengan perasaan.
Informasi Buku
Judul: Kabar Buruk Hari Ini
Penulis: Mawa Kresna
Penerbit: Buku Mojok
Jumlah Halaman: 235 halaman.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


