Krisis Politik, Ekonomi, Moril, dan Kewibawaan: Membaca Kembali ‘Pedoman Kehidupan Bangsa’ Karya Sjahrir
Kemunduran demokrasi, krisis kebebasan sipil, krisis kepercayaan publik, maupun penegakan hukum yang tunduk pada kekuasaan menjadikan krisis politik semakin tajam.

Aditya Rachman
Sehari-hari aktif mengajar di SMA Pasundan 2 Bandung.
4 Agustus 2026
BandungBergerak – Dewasa ini Indonesia tengah mengalami krisis politik, krisis ekonomi, krisis moril dan krisis kewibawaan. Agaknya bukan sesuatu yang baru bagi negara berkembang ini, persoalan yang tak kunjung usai dari masa ke masa. Sebagaimana dalam pidato yang diucapkan Sjahrir dalam resepsi Kongres “Majelis Pemuda Kristen Oikumenis” ke-IV di Bandung tanggal 18 April 1957 yang kemudian dibukukan dengan judul Pedoman Kehidupan Bangsa, dalam pembuka bukunya dipaparkan bahwa “Keadaan bangsa kita dewasa ini ternyata sangat menggelisahkan. Di lapangan politik yang tampak dan terasa adalah terutama ketegangan-ketegangan serta pertentangan-pertentangan politik. Di lapangan ekonomi pun tampak terasa bahwa keadaan bertambah buruk.”
Sejalan dengan hal tersebut jelaslah bahwa persoalan-persoalan yang sama tidak pernah benar-benar usai. Dewasa ini kemunduran nilai-nilai demokrasi, krisis kebebasan sipil, krisis kepercayaan publik maupun penegakan hukum yang tunduk pada kepentingan kekuasaan menjadikan krisis politik semakin tajam. Politik yang tidak pernah mengikutsertakan masyarakat dalam berbagai lini memberikan gambaran bahwa Indonesia menuju kembali kepada otoritarianisme atau mungkin memang tidak pernah lepas darinya. Di samping itu respons golongan yang berkuasa ketika dikritik yang acap kali tidak mencerminkan seorang pemimpin, hal ini menggambarkan terdapat pula krisis moril dan krisis kewibawaan.
Kemerosotan kesejahteraan masyarakat semakin meluas, tekanan pasar keuangan pada IHSG yang anjlok hingga 5.644,23 pada perdagangan awal Juni 2026 dan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menyentuh Rp18.193 menjadi nilai paling rendah sepanjang sejarah, penurunan daya beli masyarakat, ketergantungan negara pada impor serta menurunnya permintaan ekspor menjadikan semakin tajam pula krisis ekonomi di Indonesia, menjadikan masyarakat berada pada keadaan survival mode.
Dari masa ke masa tampaknya memang hidup di negeri kita tidak pernah lepas dari suasana kecemasan dan kekhawatiran. Dengan pola dan gejala yang sama pada masa ke masa, lantas apa sebabnya? Kenapa perkataan “KRISIS” acap kali muncul dalam berbagai masa?. Jelaslah kata krisis itu bersangkutan dengan suatu keadaan yang mencemaskan dan mengkhawatirkan. Jika kita mengutip dalam buku yang sama, jelaslah “Karena Tak Ada Pedoman”. Tetapi apa yang mesti diusahakan? Pedoman dan pegangan apakah yang harus digunakan? Nilai dan norma apakah yang sebenarnya harus dipakai untuk menghadapi keadaan dewasa ini?
Baca Juga: Elite Penguasa Mengancam Demokrasi Indonesia dan Rakyat Pekerja Memukul Balik
Merawat Harapan di Tengah Keletihan Demokrasi
Bonus Demografi dan Nasib Demokrasi
Membaca Kembali Pikiran Sjahrir
Perasaan senasib dan sepenanggungan antara berbagai golongan pada masa-masa awal kemerdekaan menjadi dasar bagi perbaikan kehidupan bangsa dan merupakan kebanggaan bersama, namun dewasa ini tampak luntur dan dilemahkan oleh berbagai kekecewaan yang menjalar dari berbagai lini kehidupan, dan malah rasa kegagalanlah yang dirasakan. Dengan begitu telah hilang pula tampaknya rasa senasib dan sepenanggungan dari berbagai golongan, dan telah hilang pula rasa kebanggaan bersama.
Sjahrir mengungkapkan, untuk menjawab pertanyaan itu, harus lebih dahulu dapat kita menjawab pertanyaan: Hendak ke mana kita? Apakah tujuan kita? Jika menilik keadaan dewasa ini, yang paling terasa ialah kekurangan keadilan bagi rakyat, kekurangan rasa tanggung jawab dari golongan berkuasa atas nasib dan keadaan rakyat pada umumnya. Ketika kritik atas keadaan politik dan ekonomi muncul dari akar rumput, respons dari golongan yang berkuasa tidak sesuai yang diharapkan, begitu pun ketika keadaan ekonomi merosot dewasa ini, rakyat yang dijadikan martir dengan pajak yang mencekik. Oleh karena itu Sjahrir mengungkapkan kehidupan yang adil, makmur dan aman yang harus menjadi tujuan bangsa kita. Sebab selalu dikemukakan bahwa Nasionalisme kita adalah berdasar kerakyatan dan keadilan sosial. Akan tetapi semua itu adalah merupakan idam-idaman serta kata-kata kosong belaka.
Untuk mewujudkan hal tersebut, haruslah kita dapat mencapai kemakmuran untuk dijadikan dasarnya. Lantas bagaimana mencapai hal tersebut? Tentu dengan kekayaan alam, kekayaan modal, alat penghasilan, kemampuan tenaga kerja dan sebagainya yang di mana segala itu haruslah dapat digambarkan dengan angka-angka, dan atas dasar angka-angka itu harus dapat muncul perencanaan. Sjahrir mengungkapkan bahwa tiada pula dapat kita mengatur ekonomi atau kemakmuran rakyat jika kita menolak objektivisme, dengan begitu ini merupakan suatu pedoman bagi golongan yang berkuasa hari ini. Dengan begitu, ketika kritik dari rakyat maupun golongan cendekiawan muncul atas kebijakan yang tidak lagi relevan dengan keadaan politik dan ekonomi hari ini, tentu golongan yang berkuasa haruslah dapat menerima hal tersebut, mengevaluasi kebijakan tersebut hingga akar-akarnya.
Sebagai penutup Sjahrir mengungkapkan suatu pendapat yang dirasa masih relevan hingga dewasa ini: "Maka menurut pendapat serta keyakinan saya, haruslah bangsa dan rakyat kita disadarkan akan sebab-sebab keadaannya sekarang, yang tampaknya kian kacaunya, serta kian tidak memuaskan itu. Salah satu sebab yang terutama adalah, bahwa kehidupan bangsa kita dewasa ini tiada mempunyai tujuan yang jelas, serta oleh karena itu pula tidak mempunya pedoman serta pegangan yang pasti. Nasionalisme serta nilai-nilai dan norma-norma yang didasarkan padanya ternyata tidak dapat menghindarkan bahwa kita sekarang ini merasa telah sampai di suatu jalan buntu. Oleh karena itu maka norma-norma dan nilai-nilau yang kita gunakan sekarang tampaknya kabur serta tiada pasti. Kita merasakan bahwa jiwa bangsa kita harus diisi kembali. Oleh karena itu kita harus menetapkan tujuan-tujuan yang baru. Kita harus mempunyai pedoman serta pegangan yang baru bagi kehidupan bangsa kita. Tujuan itu haruslah tujuan membangun suatu masyarakat yang berbahagia, yang berdasarkan kerakyatan serta keadilan sosial. Untuk mencapai tujuan itu haruslah kita perlengkap nilai-nilai dan norma-norma kehidupan bangsa kita dengan rasa kemanusiaan yang kita perkuat, serta hak-hak serta kewajiban kemanusiaan yang harus dihidupkan kembali.”
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


