PAGUNEMAN LINTAS IMAN: Mengapa Orang Muda Memilih Diam Saat Menghadapi Trauma
Trauma religius tidak selalu meninggalkan luka yang tampak. Di balik relasi kuasa dalam komunitas keagamaan, banyak orang muda menyimpan pengalamannya sendiri.
Penulis Femmi Trimartsyah 6 Agustus 2026
BandungBergerak - Octa berdiri di bawah jendela sebuah kamar kos mahasiswanya di Bandung. Ia memanggil nama mahasiswa itu berulang kali. Tidak ada sahutan. Berkali-kali ia menyelipkan tangan ke sela jendela, berusaha menggeser tirai dan mengetuk dari luar. Tetap tidak ada jawaban.
"Kami itu jemput bola (mendatangi) ke kosnya, kami sampai manjat ke jendelanya. Sebelumnya saya tuh sudah nunggu di bawah, jadi saya congkel-congkel pakai tangkai itu, enggak bangun-bangun anaknya tuh," kenang Octa, konselor di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung.
Mahasiswa yang ia cari bukan tidak pernah masuk kuliah. Justru sebaliknya, catatan kehadirannya nyaris penuh. Namun, nilainya anjlok drastis. Ketidaksesuaian itulah yang membuat Octa memutuskan mendatangi tempat tinggalnya.
Pintu kamar akhirnya terbuka setelah beberapa kali dibujuk. Di baliknya, mahasiswa itu mengaku sedang mengalami depresi dan kondisi emosinya tidak stabil. Setelah delapan semester menjalani perkuliahan, ia baru berani mengatakan bahwa kuliah yang ia tempuh bukanlah pilihannya sendiri.
"Anak-anak mahasiswa sekarang tidak berani langsung menyatakan apa yang mereka sedang alami," kata Octa.
Bagi Octa, peristiwa di kamar kos itu bukan kasus yang berdiri sendiri. Sebagai konselor kampus sekaligus pendamping di komunitas keagamaan, ia bersulang kali menemui anak muda yang memikul beban psikologis tanpa pernah benar-benar menceritakannya. Sebagian datang dengan persoalan keluarga atau pendidikan. Sebagian lain membawa luka yang tumbuh dari pengalaman mereka di ruang keagamaan: merasa dihakimi, dibungkam ketika bertanya, atau kehilangan rasa aman di komunitas yang seharusnya menjadi tempat mereka bertumbuh.
Pengalaman-pengalaman itulah yang dibawa Octa ke lokakarya Pemuka Agama untuk Toleransi dan Keberagaman (PAGUNEMAN), yang digelar Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) bersama Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) di Ruang Maria, Bumi Silih Asih, Bandung, Jumat, 31 Juli 2026.
Lokakarya yang merupakan tindak lanjut dari inisiatif Wahid Foundation itu mempertemukan 25 pemuka agama muda dari delapan tradisi keagamaan dan kepercayaan—Kristen, Katolik, Islam, Ahmadiyah, Konghucu, Buddha, Hindu, serta penghayat kepercayaan—untuk membahas satu persoalan yang masih jarang dibicarakan secara terbuka: trauma religius.
Dalam sesi pertama, Pendeta Obertina Modesta Johanis mengajak peserta memahami trauma religius sebagai luka yang lahir dari pengalaman negatif di ruang keagamaan. Menurutnya, luka ini paling sering dialami anak muda karena mereka berada pada fase ketika mulai mempertanyakan ajaran, otoritas, maupun praktik keagamaan yang mereka terima.
Namun, pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu disambut sebagai bagian dari proses bertumbuh. Dalam banyak kasus, justru dibalas dengan penghakiman, penolakan, atau pembungkaman yang perlahan meninggalkan luka psikologis.
Penjelasan mengenai mengapa banyak korban memilih diam datang pada sesi berikutnya. Neng Hana mengurai bagaimana relasi kuasa yang timpang antara pemimpin agama dan umat membuat pengalaman korban lebih sering diragukan, sementara otoritas pelaku nyaris tidak pernah dipertanyakan.
Baca Juga: Melihat Orang-orang Muda Bandung dari Kelompok Minoritas Merajut Demokrasi
Orang-orang Muda Menggali Masalah yang Menghantui Kota Bandung

Menurut Neng Hana, ketimpangan itu tidak berdiri sendiri, melainkan berlapis dengan berbagai faktor seperti usia, gender, status minoritas, kondisi ekonomi, hingga disabilitas. Ia juga mengingatkan bahwa banyak hal yang selama ini dianggap sebagai "kodrat" sesungguhnya merupakan konstruksi sosial yang kemudian dilegitimasi melalui tafsir keagamaan tertentu, bukan ajaran agama itu sendiri.
Dalam situasi seperti itu, korban sering kali memilih diam. Bukan karena luka yang mereka alami telah selesai, melainkan karena berbicara berarti berhadapan langsung dengan otoritas yang memiliki kuasa lebih besar. Karena itu, Neng Hana mengajak peserta membayangkan relasi keagamaan yang lebih setara, di mana pemimpin agama menggunakan kewenangannya untuk melindungi dan menguatkan umat, bukan mendominasi atau membungkam sikap kritis.
Bagi Octa, penjelasan itu membantu memberi nama pada pola yang selama ini ia temui dalam ruang konseling. Anak-anak muda yang tampak baik-baik saja di luar sering kali menyimpan persoalan yang tidak pernah mereka ungkapkan, termasuk pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan kehidupan beragama. Mereka hadir di kelas, tetap mengikuti aktivitas komunitas, tetapi memendam luka karena tidak merasa memiliki ruang yang aman untuk bercerita.
PAGUNEMAN memang tidak menawarkan penyelesaian atas trauma religius dalam satu pertemuan. Namun, forum ini berupaya membangun cara pandang yang lebih berpihak kepada korban melalui prinsip kerahasiaan, keberpihakan pada penyintas, dan do no more harm, agar komunitas keagamaan tidak lagi menjadi tempat lahirnya luka, melainkan ruang yang aman untuk memulihkan.
Lokakarya itu sekaligus mengingatkan bahwa tugas komunitas keagamaan bukan hanya mengajarkan iman. Sama pentingnya, mereka juga perlu memastikan setiap orang—terutama anak muda yang sedang mencari jawaban atas hidup dan keyakinannya—memiliki ruang yang cukup aman untuk menyampaikan lukanya tanpa takut dihakimi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


