• Kolom
  • SISI SELATAN BANDUNG: Ciwidey dalam Buku Cerita Anak Lawas

SISI SELATAN BANDUNG: Ciwidey dalam Buku Cerita Anak Lawas

Perjalanan dari Dewata ke Selaawi harus ditempuh dengan berjalan kaki selama enam jam. Menyusuri hutan dan perkebunan.

Rian Ibayana

Ikut merintis Kawah Sastra Ciwidey, Menulis puisi

Sampul buku Terpikat Gatotkaca karya Min Resmana. (Foto: Rian Ibayana)

7 Agustus 2026


BandungBergerak – Sebagai pedagang buku lawas online, saya terbiasa bersentuhan dengan berbagai buku. Ribuan judul yang datang, perlahan pergi menemui jodohnya masing-masing. Berbeda dengan buku-buku baru atau buku lama yang dicetak ulang, peluang mendapatkan buku lawas biasanya lebih susah atau diperlukan kesabaran yang berlipat. Jika mengambil istilah bahasa Sunda, mendapatkan buku lawas itu semacam mimilikan.

Untuk memperbaharui koleksi buku, saya melakukan perburuan ke jalan Kautamaan Istri, Bandung. Di sana masih ada beberapa kios buku bekas yang bertahan. Pada awal merintis jualan buku, saya menggunakan feeling saja dalam perburuan, mengambil secara acak atau mengangkut buku-buku yang saya kenal. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan tentang buku apa saja yang diminati konsumen, saya mulai memilih dan memilah.

Dalam perburuan, selain membeli buku satuan, saya juga kerap mendapatkan tawaran buku secara borongan. Bukunya lebih murah namun tapi harus dibeli dalam jumlah besar: ratusan sampai ribuan eksemplar buku. Nah, dalam pembelian buku secara borongan itu, kadang saya mendapatkan buku yang menarik dan ciamik. Salah satunya Terpikat Gatotkaca, karya Min Resmana yang diterbitkan Pustaka Jaya pada tahun 1975. Jika ditarik garis lurus, buku cerita anak lawas ini usianya sudah 51 tahun!

Dalam sebuah podcast youtube, Kang Deni Rachman, penggiat literasi dan pedagang buku lawas, Lawang Buku, mengklasifikasikan buku ke dalam tiga (3) kriteria. Yang pertama adalah buku lawas, yaitu buku-buku bekas secara keseluruhan. Yang kedua buku antik, yaitu buku yang usianya 50 tahun ke atas. Dan yang ketiga buku langka, buku penting yang cetakannya terbatas sehingga tidak banyak beredar di pasaran. Mengikuti kriteria pemilik merek legendaris Lawang Buku ini, Terpikat Gatotkaca termasuk buku lawas yang antik karena sudah berusia 51 tahun.

Bocah bersepeda di emplasmen Stasiun Ciwidey. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Bocah bersepeda di emplasmen Stasiun Ciwidey. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Meraba Ciwidey Masa Lalu

Terpikat Gatotkaca terdiri dari empat (4) bab, 63 halaman serta diisi tujuh (7) ilustrasi karya sang maestro, A Wakidjan. Karya-karya pelukis senior ini menghisai banyak bacaan anak lawas, terutama yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Sementara Min Resmana adalah sastrawan penting kelahiran Cimaung, Kabupaten Bandung, 5 April 1951, yang produktif menulis cerita anak dan cerita pendek, baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia. Dalam film Si Kabayan Saba Kota (1989) yang diperankan oleh Almarhum Didi Petet, Min Resmana berperan sebagai penulis.

Berlatar di Ciwidey, Bandung bagian selatan, Terpikat Gatotkaca menceritakan seorang anak Sekolah Dasar (SD) bernama Barna yang mempunyai kesenangan menonton pagelaran wayang golek. Barna tinggal di Kampung Empang, sebuah kampung di sekitaran kota Ciwidey. Bersama Usman temannya, ia kerap memeragakan gerakan wayang serta menirukan suara Gatotkaca, Arjuna, dan Semar.

Sebagaimana anak kecil pada masanya, Barna sangat mengidolakan Gatotkaca. Ia tahu betul seluk-beluk cerita tentang karakter ini, termasuk informasi bahwa Gatotkaca-lah satu-satunya karakter wayang yang selalu dibawa terpisah oleh dalang, tidak disatukan dengan wayang lainnya dalam peti penyimpanan

Barna juga mengetahui karakter para dalang yang selalu dia tonton. Ia tahu bagaimana mereka menggerakkan wayang ketika bertarung, menari, bahkan melontarkan cerita humor. Di antara banyak dalang, Barna sangat penasaran dan mendambakan bisa menonton pagelaran wayang dalang Sambas Anggawinata yang berasal dari Soreang. Dalang terkenal ini sering diundang manggung dalam hajatan warga.

Di tiga bab pertama, Terpikat Gatotkaca menceritakan kehidupan sehari-hari Barna, mulai dari kesenangan pada wayang, kegemaran bermain peran-peranan wayang, hingga cerita sang anak disuruh tunggu oleh orang tuanya. Tunggu adalah fase menjaga hamparan sawah ketika padi sudah menguning menjelang panen. Selama tunggu itu juga, Barna malahan banyak menghabiskan waktu untuk bermain wayang-wayangan bersama Usman.

Kisah seru dimulai di bab empat. Barna secara tidak sengaja mendapatkan informasi dari seorang petugas pembawa peti wayang milik dalang Sambas Anggawinata yang pulang manggung, bahwasanya sang dalang akan manggung di Selaawi, sebuah kampung di daerah Dewata. Dewata, nama sebuah perkebunan era kolonial yang berdiri tahun 1932, secara administratif termasuk kecamatan Pasirjambu.

Di sebuah pagi, Barna disuruh menukarkan uang seribu rupiah oleh bapaknya. Namun karena tidak kunjung mendapatkannya di warung-warung terdekat, Barna kepikiran untuk membeli pensil ke kota Ciwidey, dan bapaknya menyetujuinya. Tiba di pusat kota, Barna melihat rombongan Dalang Sambas Anggawinata sedang menaikkan peti-peti wayang serta gamelan ke atas mobil pick-up angkutan Ciwidey-Dewata. Barna teringat informasi bahwa dalang Sambas akan manggung di Selaawi, Dewata. Meskipun awalnya ragu-ragu, Barna akhirnya memutuskan ikut rombongan itu dengan pura-pura berniat hendak pulang ke Dewata. Dan petualangan pun dimulai.

Selama kendaraan melaju di daerah Ciwidey, kondisi jalan cukup baik. Namun setelah memasuki daerah perkebunan, mobil terguncang-guncang karena jalan tidak rata. Aspalnya rusak, meninggalkan kerikil dan bebatuan. Dalam perjalanan, Barna kembali diiputi rasa bimbang, antara ikut rombongan ke Selaawi atau kembali pulang ke Ciwidey. Sesampainya di Dewata, Barna memutuskan ikut ke Selaawi bersama rombongan dalang Sambas.

Perjalanan dari Dewata ke Selaawi harus ditempuh dengan berjalan kaki selama enam jam. Menyusuri hutan dan perkebunan, rombongan dua kali beristirahat masing-masing di Kampung Reumaniti dan Kampung Cipari, sebelum tiba di Selaawi pada pukul empat sore.

Malam harinya, Barna bisa menyaksikan pagelaran dalang Sambas dengan penuh kekaguman. Bahkan ia duduk di dekat peti wayang sehingga bisa membantu memberikan wayang-wayang yang mau dipentaskan oleh dalang Sambas. Kebahagiaan menyelimuti Barna di sepanjang pertunjukan yang selesai di subuh hari.

Barna pulang bersama rombongan pembawa peti wayang. Di tengah perjalanan, mereka beristirahat di Sungai Cikahuripan untuk mencuci muka dan melepas lelah. Lama perjalanan sekitar enam jam. Mereka sampai di Dewata ketika panas sedang terik-teriknya. Di sana, Barna bersama rombongan menunggu truk tua yang akan mengangkut mereka ke Ciwidey. Selama perjalanan, Barna merasa senang bisa pulang tapi sekaligus hatinya merasa takut jika bapaknya marah karena ia tak kunjung pulang sejak pamit menukarkan uang.  

Sesampainya di Kampung Empang, Barna merasa lega karena kedua orang tuanya tidak marah. Ia menceritakan perjalanannya ke Selaawi untuk menyaksikan pertunjukan wayang dalang Sambas Anggawinata, sementara bapaknya mengaku hampir saja ia akan pergi ke Kota Bandung untuk melaporkan berita kehilangan melalui radio.

Baca Juga: SISI SELATAN BANDUNG: Batas Imajiner Kampung Halaman
Satu Dekade Kawah Sastra Ciwidey, Geliat Gairah Sastra di Ciwidey Raya

Antara Fiksi dan Fakta

Membaca Terpikat Gatotkaca karya Min Resmana, saya jadi membayangkan keadaan Ciwidey 51 tahun yang lalu. Angkutan Ciwidey-Dewata masih menggunakan mobil pick-up atau truk. Sejauh yang saya ketahui, angkutan umum pada tahun 1990-an sudah bergeser ke mobil elf dan bis kecil. Namun sekarang kendaraan umum ke daerah Dewata sudah tidak ada. Sebagian besar penduduk sudah menggunakan kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil.

Min Resmana berhasil menggambarkan suasana dengan detail, mulai dari hutan, perkebunan, hingga warung-warung selama perjalanan. Demikian juga dengan pencantuman nama-nama tempat. Ada beberapa nama tempat yang nyata keberadaannya, tapi ada juga nama tempat yang saya kira adalah fiksi belaka.

Beberapa nama tempat yang nyata di antaranya adalah (1) Kampung Gunung Maud, sebuah perkampungan kecil di daerah Dewata yang berada di ujung perkebunan dan termasuk dalam kawasan Desa Sugihmuti, Kecamatan Pasirjambu, (2) Sungai Cikahuripan, sungai legendaris yang mengalir di daerah Dewata, dengan irigasi kecil dan aliran air yang sangat jernih, (3) Selaawi, sebuah daerah di kecamatan Talegong, Kabupaten Garut yang berbatasan langsung dengan Kampung Gunung Maud, Dewata, dan (4) Cipari, sebuah daerah di Desa Mekarmukti, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut.

Sementara itu, nama-nama  tempat yang saya kira fiksi belaka adalah Kampung Empang, tempat tinggal Barna. Sejauh pengamatan sebagai orang Ciwidey, saya belum pernah mendengar nama Kampung Empang. Demikian juga dengan tokoh-tokoh dalam cerita Terpikat Gatotkaca, seperti dalang Sambas Anggawinata. Nama dalang terkenal dari  Soreang pada masa itu adalah A. Syafaat Suwanda.

 

 

                         

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//