• Berita
  • Art & The Resilient Commons di Toko Marantika: Seni yang Masuk ke Tengah Kerumunan

Art & The Resilient Commons di Toko Marantika: Seni yang Masuk ke Tengah Kerumunan

Di Art & The Resilient Commons, karya Angga Wedhaswara dan Agung Eko Sutrisno bertemu dengan gagasan Ferial Afiff tentang dialog, ketidakpastian, dan ruang bersama.

Peserta mengikuti diskusi bertajuk Art & Resilient Commons di Toko Marantika, Jalan Gempol Kulon No. 83, Kota Bandung, Senin, 13 Juli 2026. (Foto: Muhammad Fauzi Syakir/BandungBergerak)

Penulis Femmi Trimartsyah 8 Agustus 2026


BandungBergerak - Angga Wedhaswara mengenakan pakaian serba hitam ketika berjalan di tengah ribuan orang yang hampir seluruhnya mengenakan putih. Di sampingnya, rekannya, Doni Ahmad, berjalan menyusuri kerumunan reuni Aksi 212 di Jakarta, 2 Desember 2018. Di tangan Angga berkibar sebuah bendera bertuliskan “Ana Muslim Dzimmi” dalam kaligrafi Arab yang sengaja meniru tipografi bendera ISIS.

Enam tahun kemudian, adegan itu kembali muncul di layar sebuah ruang seni di Bandung. Senin malam, 13 Juli 2026, dalam forum Art & The Resilient Commons di Toko Marantika, Angga mempresentasikan karya yang berangkat dari aksi tersebut. Toko ini didesai menyerupai ruang temu. Di tengah ruangan berdiri sebuah layar yang menjadi tempat para seniman mempresentasikan karya, berhadapan dengan pengunjung.

Di hadapan layar, Angga menampilkan rangkaian foto dan video yang merekam apa yang terjadi hampir delapan tahun lalu, ketika ia membawa bendera itu ke tengah massa reuni Aksi 212. Dalam dokumentasi itu ia tampak berjalan melintasi barisan massa dengan pakaian serba hitam dan bendera di tangannya. Kehadirannya segera menarik perhatian. Sekelompok anggota laskar suatu ormas mendekat, menegurnya, dan mempertanyakan komunitas apa yang ia bawa.

“Ini bukan mocking, tapi anomiasi,” kata Angga ketika menjelaskan maksud di balik tipografi bendera tersebut.

Menurut cerita Angga, bendera itu kemudian sempat diamankan. Keesokan harinya, ia kembali ke lokasi yang sama. Kali ini ia tidak membawa bendera dan hanya mengenakan kaus bertuliskan “Muslim Dzimmi”, tanpa kaligrafi Arab. Dalam rekaman yang ditunjukkannya, anggota laskar yang sama justru mengajaknya berfoto bersama.

Dari dokumentasi dua hari aksi tersebut, Angga kemudian menyusun dua karya visual yang dipresentasikan di Toko Marantika: sebuah instalasi bendera dan seri fotografi yang ditumpuk saling menutupi, sehingga foto-foto di bagian belakang tidak pernah terlihat secara utuh.

“Kalau kita melihat dari bagian belakang, begitu cara kita sebenarnya melihat isu politik, tidak pernah bisa utuh,” kata Angga menjelaskan gagasan di balik seri fotografi tersebut.

Bendera yang ia bawa dalam performansi itu bukan bendera organisasi. Kalimat yang tertulis di sana adalah identitas yang ia ciptakan sendiri: muslim dzimmi, istilah yang, menurut pengakuannya, tidak dikenal dalam kitab fikih mana pun.

Pilihan Angga untuk membawa identitas itu ke tengah massa menjadi bagian penting dari karya tersebut. Ia sengaja menempatkan dirinya dalam situasi yang memungkinkan munculnya reaksi, alih-alih menjelaskan gagasannya melalui ceramah atau tulisan.

“Saya enggak ingin menjawabnya lewat ceramah atau tulisan. Saya ingin melihat bagaimana orang bereaksi,” kata Angga.

Ia menemukan jawaban itu langsung dari ruang publik: berjalan di tengah massa reuni Aksi 212 sambil mengibarkan bendera yang ia rancang sendiri. Bagi Angga, karya itu bukan cara untuk menyampaikan sebuah jawaban, melainkan sebuah upaya untuk menguji bagaimana pengalaman personal, identitas, dan posisi seseorang dibaca oleh orang lain.

Peserta mengikuti diskusi bertajuk Art & Resilient Commons di Toko Marantika, Jalan Gempol Kulon No. 83, Kota Bandung, Senin, 13 Juli 2026. (Foto: Muhammad Fauzi Syakir/BandungBergerak)
Peserta mengikuti diskusi bertajuk Art & Resilient Commons di Toko Marantika, Jalan Gempol Kulon No. 83, Kota Bandung, Senin, 13 Juli 2026. (Foto: Muhammad Fauzi Syakir/BandungBergerak)

Berawal dari Pengalaman dengan Ibu

Karya Angga berawal dari pengalaman perjalanan dengan ibunya. Pada pagi 1 Desember 2016, ia dan ibunya hendak menjenguk gurunya di Rumah Sakit Rajawali, Bandung. Di perjalanan mereka terjebak rombongan pejalan kaki yang bergerak menuju Jakarta dalam rangkaian aksi yang kemudian dikenal sebagai Aksi 212.

Di sela-sela menunggu arus lalu lintas mengalir kembali, sang ibu bercerita tentang pengalamannya pada 1955. Waktu itu ibunya berusia enam tahun. Ia harus berjalan kaki dari Garut ke Bandung setelah pesantren keluarganya dibumihanguskan akibat gejolak sosial politik.

Dua pengalaman yang berjarak lebih dari enam dekade itu bertemu dalam benak Angga dan melahirkan pertanyaan yang terus ia bawa. "Muslim macam apa sebenarnya saya ini," kenangnya.

Pertanyaan itu tidak langsung menemukan bentuknya. Angga membawanya dalam obrolan panjang bersama Doni Ahmad, menelusuri istilah kafir dzimmi, sebutan bagi nonmuslim yang tinggal di negara bersyariat Islam dan diwajibkan membayar jizyah sebagai ganti perlindungan negara.

Dari situ keduanya membalik logikanya, mempertanyakan apakah ada posisi setara bagi muslim yang taat membayar pajak dan tidak berbuat makar, tetapi tetap tidak pernah sepenuhnya dianggap "muslim negara" oleh kelompok yang lebih vokal. Angga sempat menanyakan istilah itu kepada gurunya sendiri, dan mendapat jawaban bahwa sebutan dzimmi secara fikih hanya berlaku bagi nonmuslim, bukan untuk sesama muslim.

Sekalipun begitu, Angga dan Doni tetap memakainya. Dari kegelisahan itulah lahir konsep Muslim Dzimmi yang kemudian ia kembangkan bersama Doni Ahmad sejak 2018, sebelum diwujudkan menjadi performansi di tengah reuni Aksi 212.

Baca Juga: PAMERAN SATUKATA: Merawat Diri Lewat Goresan
Pameran Menyoal Ruang, Identitas, dan Ekspresi di Pasar Antik Cikapundung

Berdialog di Tengah Ketidakpastian 

Seperti halnya karya Angga, apa yang dipresentasikan Agung Eko Sutrisno di forum Art & The Resilient Commons di Toko Marantika, juga berupa dokumentasi dari serangkaian proyek yang ia kerjakan di Bandung selama beberapa tahun terakhir lewat foto, video, dan cerita lisan. Salah satu yang ia tunjukkan adalah proyeknya di Kampung Kali Pasir, kawasan yang terancam digusur.

Di kampung itu, seniman asal Bandung tersebut bertemu sekelompok ibu-ibu bernama Miengel yang rutin memasak nasi liwet bersama tiap Jumat. Dari pertemuan itu, Eko memfasilitasi semacam konferensi antaribu dari beberapa kampung yang sama-sama terancam digusur. Mereka bertukar strategi bertahan. Dokumentasi yang ia tampilkan memperlihatkan momen itu ditutup dengan koreografi tari bersama dan pengibaran bendera buatan warga sendiri.

"Praktik kota dan monumennya itu dialektik, enggak selesai, terus bisa dinegosiasikan," kata Eko.

Karya lain yang ia presentasikan adalah proyek mengubah bus wisata Bandros menjadi tur alternatif menuju Kampung Kali Pasir dan gedung Pengadilan Negeri Bandung, dilengkapi audio drama berisi simulasi menghindari kejaran polisi yang diperdengarkan kepada penumpang. Menurut cerita Eko, tur ini dijalankan tanpa izin resmi ke pihak pengadilan, namun penjaga gedung justru membukakan gerbang karena mengira rombongan itu adalah wisatawan.

Eko juga menampilkan sebuah video dokumenter fiksi yang ia buat tentang tokoh rekaan bernama Tutun, digambarkan sebagai seniman terakhir yang menari sendirian di tepi Sungai Citarum. Sang penari lewat tariannya melayangkan protes terhadap pencemaran industri.

Rangkaian presentasi karya di Toko Marantika menjadi bukti bahwa pengalaman personal bisa diolah menjadi cara membaca persoalan sosial yang lebih besar. Ferial Afiff, kurator sekaligus penggagas Art & The Resilient Commons, membayangkan forum ini sebagai tempat ketika pengalaman personal yang melahirkan karya seni dapat dipertemukan dengan pengalaman orang lain melalui percakapan. 

"Menurutku kita selalu berada di ketidakpastian ketika menghadapi penguasa," katanya. 

Baginya, ruang semacam itu penting di tengah situasi yang ia sebut penuh ketidakpastian. Penguasa yang ia maksud bukan semata negara, melainkan berbagai tekanan sosial yang membentuk cara seseorang hidup, mengingat, dan membaca lingkungannya.

Konsep commons yang ia tawarkan bukan sekadar ruang fisik yang digunakan bersama, melainkan praktik membangun hubungan, merawat dialog, dan mempertemukan orang-orang dengan pengalaman berbeda dalam ruang yang memungkinkan mereka saling mendengar. Forum ini pun tidak berhenti pada presentasi karya, tetapi juga mencoba menguji apakah ruang bersama itu benar-benar dapat tercipta.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//