Napak Tilas Che Guevara Melalui Diskusi dan Pemutaran Film The Motorcycle Diaries di Perpustakaan Bunga di Tembok
Melalui The Motorcycle Diaries kita diajak melihat titik balik Ernesto Che Guevara sebelum memutuskan menjadi pemimpin gerakan pemimpin revolusioner Kuba.
Penulis Adinda Putri S10 Agustus 2026
BandungBergerak - “Mereka kehausan, beri mereka minum!” Ernesto Guevara berteriak kepada seorang mandor tambang yang mengangkut para pekerja. Adegan ini menjadi salah satu momen yang memperlihatkan perubahan cara pandang Ernesto Guevara dalam The Motorcycle Diaries, film karya sutradara Walter Salles yang mengisahkan perjalanan Ernesto dan Alberto mengelilingi Amerika Latin pada awal 1950-an. Perjalanan yang semula berangkat dari semangat petualangan dengan sepeda motor tua perlahan berubah menjadi perjalanan yang mempertemukan keduanya dengan berbagai persoalan sosial.
Di tengah perjalanan melintasi Amerika Latin bersama sahabatnya, Alberto Granado, Ernesto Guevara mulai berhadapan dengan kenyataan yang sebelumnya mungkin hanya ia kenal dari kejauhan: kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan yang dialami masyarakat di berbagai tempat yang mereka singgahi.
Di sepanjang perjalanan, mereka melihat masyarakat pribumi yang terusir dari tanahnya sendiri. Mereka juga bertemu dengan orang-orang yang harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari pekerjaan sambil menghindari kejaran aparat. Di tempat lain, keduanya menyaksikan keterbatasan akses kesehatan yang membuat masyarakat penderita lepra tidak memperoleh perawatan secara memadai.
Pertemuan dengan para penderita lepra menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan mereka. Ernesto dan Alberto kemudian memutuskan untuk menyumbangkan tenaga dan kemampuan sebagai relawan selama tiga minggu. Bagi Ernesto, pengalaman tersebut bukan sekadar persinggahan dalam perjalanan, tetapi perjumpaan langsung dengan kehidupan orang-orang yang selama ini berada jauh dari pusat perhatian.
Kegelisahan Ernesto terhadap ketidakadilan muncul berulang kali dalam film. Ia tidak hanya menyaksikan keadaan di sekitarnya, tetapi juga menunjukkan sikap kritis terhadap apa yang dianggapnya tidak adil. Dalam satu adegan, misalnya, ia terlihat memandangi sungai yang memisahkan tempat tinggal para relawan dengan kawasan tempat para penderita lepra berada. Batas sungai itu seolah memperlihatkan jarak yang lebih besar: jarak antara mereka yang memiliki akses dan mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Ernesto juga digambarkan sebagai sosok yang terus terang ketika dimintai pendapat. Ia tidak segan menyampaikan kegelisahannya, bahkan ketika pandangannya berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, pengalaman perjalanan tersebut membentuk kesadaran baru dalam dirinya.
Menjelang akhir perjalanan, sebelum berpisah dengan Alberto, Ernesto mengatakan, “Terlalu banyak ketidakadilan, ya.”
Kalimat sederhana itu seperti merangkum perubahan yang terjadi sepanjang perjalanan. Apa yang awalnya merupakan petualangan dua pemuda dengan sepeda motor tua telah berubah menjadi pengalaman yang memperkenalkan Ernesto pada kemiskinan, penderitaan, dan ketimpangan sosial secara langsung.
Ketika Ernesto mulai berbicara tentang perlawanan, Alberto sempat mengingatkan bahwa mereka tidak memiliki senjata. Namun, beberapa tahun setelah perjalanan tersebut, Ernesto Guevara kemudian dikenal sebagai salah satu pemimpin Revolusi Kuba. Ia terlibat dalam perjuangan bersenjata dan bahkan mengajak Alberto untuk bergabung.
Perjalanan inilah yang kemudian menjadi bahan perbincangan dalam kegiatan rutin nonton bareng dan diskusi komunitas Kembang Kata di Perpustakaan Bunga di Tembok, Jumat, 31 Juli 2026. Melalui The Motorcycle Diaries, diskusi tidak hanya berhenti pada perjalanan Ernesto dan Alberto, tetapi juga menyoroti bagaimana sebuah perjumpaan dengan ketidakadilan dapat menumbuhkan kesadaran—dari kegelisahan kecil hingga keputusan untuk mengambil sikap terhadap dunia di sekitarnya.
Film ini menampilkan realitas dan kondisi buruk yang mereka temui sepanjang perjalanan, tak terkecuali dengan karakter humoris dan kondisi-kondisi jenaka yang mereka alami. Meskipun begitu, para penonton tetap menangkap perjuangan dan tekad Ernesto dan Alberto.
Baca Juga: Ketika Negara Takut pada Ide
Kritik untuk Para Penonton Film Pesta Babi

Mengapa Che?
Begitu film berdurasi sekitar dua jam itu berakhir, Kembang Kata menghadirkan seorang narasumber asal Kordoba, Amerika, Nicolas Esteban. Nicolas meminta para penonton yang hadir untuk mengungkapkan tanggapan dan pertanyaan. Beberapa peserta mengeluarkan pernyataan serupa, bahwa film ini menampilkan sosok lain Che Guevara sebelum menjadi tokoh revolusioner.
Esgar, salah satu peserta, menceritakan film tersebut mengingatkan pada kondisi di daerah asalnya, Sulawesi. Esgar berkata masih ada daerah yang mengalami kesulitan akses fasilitas kesehatan. Pemuda itu sendiri pernah terdampak langsung karena permasalahan itu, ia pernah terkena bentol-bentol saat sedang mengunjungi Parepare, dan ketika hendak datang ke ahli kesehatan, ternyata ia harus melewati perjalanan jauh.
“Ternyata di Parepare tersebut itu, rumah sakitnya itu sangat jauh. Terus kayak puskesmasnya itu jauh juga. Terus pas ke puskesmasnya sendiri, mungkin dari tempatku ke puskesmasnya sendiri tuh berada kayak sejam atau dua jamlah. Pas ke sana juga dokternya cuma tiga,” terang Esgar.
Winda, peserta lainnya menimpali, bahwa Che merupakan sosok yang gigih.
“Satu hal yang aku ambil dari film ini, dan dari karakter Che-nya (Ernesto Guevara) juga yang akhirnya kayak, oke, mungkin karena kegigihannya ini yang membawa dia akhirnya bergerak lebih jauh, untuk sesuatu yang bisa jadi, bisa dia ubah,” kata Winda.
Peserta yang lain, Salma, mengungkap isu pertanahan di Indonesia, khususnya di Bandung. Banyak warga yang menghadapi konflik agraria seperti di Dago Elos. Kemudian yang terbaru, lahan SDN 026 Bojongloa dan SMAN 1 Bandung juga disengketakan.
Ia juga menanyakan arti dari “Che” yang disematkan pada nama Guevara.
Nicolas dengan senang hati menjawab pertanyaan para peserta diskusi. Menurutnya, Che berarti bunyi-bunyian atau imbuhan tambahan dalam bahasa mereka, seperti representasi logat mereka yang jelas terdengar oleh orang lain. Dalam hal ini, nama itu disematkan pada Alberto dan Ernesto karena logat bicara mereka yang berasal dari Argentina.
“Kayak orang Sunda pakai euy. Jadi, Che itu seperti, It's just that, tak ada, sound. Tapi juga bisa berarti seperti kamu, kalau ingin dapat all the attention of someone (berusaha memanggil seseorang),” jelas Nico.
Hal ini menunjukkan bahwa ketidakadilan yang ditampilkan dalam film “The Motorcycle Diaries” masih terjadi di banyak tempat, terutama di negara berkembang. Nico sendiri saat ini sedang menjalani masa kuliah S2-nya di program studi linguistik Universitas Pendidikan Indonesia. Ia datang ke Indonesia karena mendapat beasiswa pertukaran pelajar, sebelumnya ia sempat menjadi guru bahasa Inggris di Kolombia.
Nico bercerita bahwa ia mempunyai ketertarikan tentang isu budaya, masyarakat, bahasa, sejarah, geografi dan masyarakat sosial di negara berkembang. Sebelumnya ia merupakan lulusan S1 Sejarah. Dengan pendidikan yang ia jalani, Nico berharap dapat membawa perubahan positif pada negara asalnya.
“Sejak pertukaran pelajar itu, aku mulai belajar bahasa Indonesia, dan sampai sekarang saya masih belajar dan menguasai sampai tingkat lumayan bagus. Aku sedang belajar bahasa Portugis dan aku terbuka untuk belajar bahasa lain, tergantung kebetulan/peluang. Dan kalau itu bisa membantu, dunia selatan (Amerika latin) itu lebih baik.”
Selain itu, Nico berpendapat bahwa pertukaran pelajar juga dapat menjadi ajang saling membantu antarnegara berkembang.
“Tugas aku dari bahasa, pengajaran bahasa, Penelitian sejarah, Budaya, semua itu kan kayak diplomasi kultural,” tuturnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


