Komikus Baru Bermunculan di Pesta Komik Bandung, Seniman Lokal Belum Kehabisan Gambar
Dari Bandung hingga Yogyakarta, Pesta Komik 2026 mempertemukan karya-karya orisinal dan generasi baru yang ingin terus menggambar.
Penulis Fitri Amanda 10 Agustus 2026
BandungBergerak - Langkah orang-orang melambat di antara meja-meja yang dipenuhi karya komik dan ilustrasi. Bahu mereka saling bersenggolan ketika berpindah dari satu meja ke meja lain. Di ruang yang hanya mengambil sebagian lobi mal Festival Citylink, Bandung, Pesta Komik 2026 diramaikan oleh orang-orang yang terus berdatangan dan memenuhi setiap celah yang tersisa pada Sabtu 8 Agustus 2026.
Sebagian pengunjung berhenti di depan komik yang diberi label “Boleh dibaca” oleh para komikus yang melapak. Percakapan terdengar dari berbagai arah. Suara para komikus yang menjaga lapaknya menawarkan karya mereka dan menceritakannya. Di antar pengungunjung dan komikus ada juga yang sudah saling mengenal. Percakapan pun mengalir dari meja ke meja.
Di Pesta Komik yang diadakan dari 8 - 9 Agustus 2026 tersebut menampilkan beragam karya yang ditawarkan. Ada komik orisinal buatan sendiri, zine, ilustrasi, hingga pernak-pernik lain seperti gantungan kunci, stiker, hingga pin yang ilustrasinya digambar sendiri oleh para komikus.
Selain orang-orang muda, hadir juga anak-anak yang datang bersama orang tuanya. Beberapa pengunjung bahkan mengenakan kostum karakter komik Jepang dan sesekali berhenti untuk berbincang atau berfoto dengan pengunjung lain.
Beragam judul dan genre komik berjejer di meja-meja pelapak. Salah satunya adalah milik Azisa Noor, 39 tahun, seorang komikus asal Bandung. Ia bersama tiga orang temannya yang tergabung dalam kelompok Archfriend Comic membawa sembilan judul komik orisinal dan beberapa ilustrasi.
Azisa merasa bahwa pertemuan-pertemuan di dalam Pesta Komik menjadi bagian penting bagi seni komik, selain dapat menikmati karya-karya komikus lokal. Azisa yang sudah memulai perjalannya sebagai komikus sejak 2004 menganggap Pesta Komik sebagai “lebaran”-nya para komikus lokal yang tidak hanya berasal dari Bandung, melainkan dari wilayah lainnya di Indonesia.

Bagi Azisa yang selama beberapa tahun terakhir sibuk dengan dunia kerja, Pesta Komik sebagai acuannya untuk tetap produktif menghasilkan karya. Setiap waktu senggang ia pakai untuk menyelesaikan karyanya yang sempat tertunda.
“Peskom sebagai something to look forward (sesuatu yang dinanti-nantikan),, kalau misalnya nggak ada Peskom itu kita nggak akan bikin komik baru,” ucap Azisa sembari tertawa.
Dari meja lain, Gin Teguh dan tiga kawannya datang lebih jauh. Dengan membawa “Memantra”, komik orisinal yang dibuat secara kolektif, mereka berangkat dari Yogyakarta menuju Bandung untuk mengikuti Pesta Komik. Ini menjadi pengalaman pertama mereka melapak di Pesta Komik.
Bagi Gin, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia bisa membawa karya yang selama ini dikerjakan bersama teman-temannya sekaligus bisa bertemu langsung dengan orang-orang baru. Awalnya Gin dan kawan-kawan tidak menyangka dapat lolos kurasi. Dengan berpameran di Pesta Komik karya mereka bawa bisa diperkenalkan ke publik luas.
“Kami senang banget karena merasa acara ini sangat menghargai komik-komik lokal, makanya kami rela dari jauh datang ke Bandung,” ungkap Gin di depan lapak bernama Paperpop x M.Studio, lapak miliknya dan kawan-kawan.
Sama seperti Azisa, Pesta Komik juga menjadi salah satu tujuan Gin dan kawan-kawan untuk melahirkan karya berikutnya. Mereka berencana akan merilis volume kedua dari komik Memantra pada penyelenggaraan Pesta Komik tahun depan.
Keramaian Pesta Komik tidak hanya menarik orang-orang yang sudah lama mengenal perhelatan yang diadakan setiap satu tahun sekali ini. Nayla, 20 tahun, dan Nashwa, 21 tahun, misalnya yang datang dari Cimahi Selatan khusus hanya untuk menghadiri Pesta Komik untuk kali pertama.
Bagi keduanya, salah satu hal yang membuat mereka nyaman berkeliling adalah sikap para komikus di balik meja lapak. Nayla menyebutkan bahwa ia tidak merasa terbebani harus membeli karya-karya yang tersedia. Ia dapat leluasa melihat-lihat atau membaca komik yang dipajang terlebih dahulu.
“Orang-orangnya welcome juga, jadi kayak menawarkan boleh dibaca dan dilihat-lihat dulu, Jadi nyaman buat mengeksplor gitu,” ucap Nayla.
Meskipun ini pengalaman Pesta Komik mereka yang pertama tetapi keduanya sudah familiar dengan komik, terutama pada komik Korea dan komik Jepang. Namun, melihat langsung karya komikus Indonesia memberi mereka pengalaman yang berbeda.
Nashwa menilai banyak komikus lokal yang memiliki karya yang bagus tetapi masih belum banyak yang mengenal karya-karya mereka. Ia tertarik dengan cara para seniman mengangkat cerita dan budaya Indonesia ke dalam komik. Misalnya, dalam komik yang bertemakan horor yang menurutnya terasa sangat dekat karena mengambil unsur yang sudah dikenal dalam keseharian masyarakat Indonesia. Narasi tersebut tetap disampaikan dengan cara yang menarik.
Tidak hanya berkeliling melihat-lihat, Nashwa juga membeli beberapa karya dari lapak yang didatangi salah satunya dari komikus lokal favoritnya yang karyanya memang ia cari.
Pengalaman pertama itu membuat Nayla dan Nashwa ingin kembali berkunjung ke Pesta Komik berikutnya. Bagi Nashwa yang merupakan mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV), melihat karya para komikus dan ilustrator memberinya banyak inspirasi. Bahkan ia mulai membayangkan dirinya hadir tidak hanya sebagai seorang pengunjung.
Baca Juga: Pesta Komik di Bandung, Surga Bagi Komikus Lokal
Peluncuran Zine LPM Daunjati ISBI Bandung

Merayakan Komikus Lokal
Dani Birrul selaku Ketua Pelaksana Pesta Komik 2026 menyebutkan bahwa acara ini memang dirancang sebagai ruang pertemuan bagi komikus dan pembaca. Menurut Dani, Pesta Komik dibuat sebagai wadah bagi karya komik lokal yang masih belum banyak mendapatkan ruang, juga untuk memperkenalkan karya komikus lokal kepada masyarakat umum.
Di antara pengunjung yang datang, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus. Menurut Dani, jumlah komik lokal yang ramah anak masih lebih sedikit dibandingkan komik untuk remaja. Karena itu, panitia memberikan prioritas kepada karya yang dapat dinikmati oleh anak-anak agar dapat diperkenalkan sebagai bacaan yang menyenangkan sejak usia dini.
“Karena kami ingin bisa mengenalkan komik-komik ini juga ke anak-anak,” ungkap Dani.
Tidak semua karya dapat begitu saja masuk ke dalam meja-meja lapak. Panitia melakukan proses kurasi dengan salah satu syarat utamanya adalah karya yang dibawa harus 100 persen original. Sementara karya yang mengandung konten dewasa tidak diperbolehkan.
Dari sekitar 80 pendaftar, sebanyak 56 partisipan akhirnya terpilih untuk mengikuti Pesta Komik tahun ini. Dari prosesnya, Dani melihat banyak wajah baru dan komikus muda muncul di antara peserta. Kemunculan nama-nama baru tersebut dinilai menjadi tanda bahwa ekosistem komik masih terus tumbuh.
Pesta Komik yang sebelumnya bernama Pasar Komik Bandung (Pakoban) ini rutin dihelat setiap satu tahun sekali sejak 2011 yang sejak awal memilih ruang-ruang pusat aktivitas masyarakat lokal sebagai lokasi acara. Braga City Walk dan Bandung Electronic Center (BEC) menjadi tempat yang pernah menjadi ruang bertemunya komikus, pembaca, dan masyarakat umum. Meskipun sempat berhenti karena pandemi Covid-19, tetapi Pesta Komik kembali aktif dilaksanakan sejak 2023.
Dani berharap Pesta Komik akan selalu ada setiap tahunnya agar dapat terus memperkenalkan komik Indonesia ke masyarakat umum. Baginya. semakin banyak orang mengenal komik Indonesia maka akan semakin banyak pula kesempatan bagi komikus untuk bertemu dengan pembaca dan sesama komikus.
“Ingin mengenalkan teman-teman komik Indonesia, komikus-komikus agar karya-karyanya bisa dikenal oleh orang umum juga,” harap Dani.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


