• Opini
  • Nostalgia Kekaguman Naturalis Barat dan Suara yang Belum Terdengar

Nostalgia Kekaguman Naturalis Barat dan Suara yang Belum Terdengar

Memahami alam Nusantara akan lebih utuh jika dilihat dari berbagai sisi. Sains Barat yang deskriptif dan sistematis, serta budaya lokal Indonesia yang kaya makna.

Rinaldi Ikhram

Pengajar Batuan di Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad)

Curug Sodong, Geopark Ciletuh-Palabuhanratu Sukabumi. Spot yang sama yang diabadikan Junghuhn melalui sketsa geologinya. (Foto: Rinaldi Ikhram)

13 Agustus 2026


BandungBergerak – Dalam beberapa tahun terakhir, geowisata, wisata sejarah, dan agrowisata tumbuh pesat di Indonesia. Orang tidak lagi sekadar berlibur ke pantai atau gunung, mereka ingin memahami cerita di balik bentang alam yang mereka injak. Tren ini muncul di berbagai daerah, mulai dari Bandung, Jogja, hingga kawasan-kawasan geopark di Nusantara. Ahli geologi, geograf, dan penggiat wisata di daerah-daerah ini ikut membentuk cara masyarakat memandang lanskapnya sendiri, dari kawah, sungai purba, hingga situs-situs bersejarah peninggalan masa kolonial. Di Bandung sendiri, nama-nama seperti Almarhum Budi Brahmantyo, Titi Bachtiar dan kini Malik Ar Rahiem, telah lama menulis dan menyebarkan kisah geologi kota ini kepada publik luas. Lewat buku, tur lapangan, dan tulisan populer, mereka menerjemahkan bahasa batuan dan lapisan tanah menjadi cerita yang bisa dinikmati siapa saja. Sisi keilmuan bumi ini sudah cukup mapan digemakan.

Namun ada sisi lain yang lebih jarang dipertanyakan: sisi sejarah dan narasinya. Ketika membahas potret alam Nusantara masa lampau, nama Franz Wilhelm Junghuhn selalu muncul, bersama naturalis Eropa lain seperti Caspar Georg Carl Reinwardt, Georg Eberhard Rumphius, atau Alfred Russel Wallace. Tulisan-tulisan mereka begitu deskriptif dan naratif, menggambarkan gunung, hutan, dan kehidupan penduduk dengan detail yang memukau. Membaca catatan mereka, kita seolah diseret masuk ke lorong waktu. Ada gunung berkabut yang dilukiskan dengan penuh takjub, ada lembah subur yang disebut surga tersembunyi, ada penduduk lokal yang digambarkan sebagai bagian dari lanskap yang eksotis. Kekuatan deskripsi ini membuat tulisan mereka bertahan lebih dari satu abad, dan terus dikutip hingga sekarang.

Persoalannya, kekaguman para naturalis ini kemudian diperlakukan seolah mewakili kesan umum tentang Nusantara pada masanya. Padahal, itu adalah sudut pandang orang asing yang datang dengan latar belakang ilmiah, ekonomi, dan kekuasaan kolonial. Bagaimana perspektif masyarakat pribumi sendiri, yang hidup tradisional, dekat dengan alam, dan jauh dari kerangka pengetahuan Barat, nyaris tidak pernah terekam dengan cara yang sama.

Ini bukan soal kemampuan literasi semata. Budaya pribumi saat itu lebih banyak bertumpu pada tradisi lisan daripada tulisan, sehingga bentuk penarasiannya memang berbeda. Namun perbedaan bentuk ini kemudian diterjemahkan sebagai ketiadaan suara, seolah hanya catatan Eropa yang layak dianggap sebagai sumber sejarah alam Nusantara.

Baca Juga: Perjalanan Terlupakan Franz Junghuhn ke Sumatra, Naturalis Kaki Tangan Kolonial
Di Balik Berwisata Alam Buatan di Priangan
Restorasi Ekosistem, Solusi Mengembalikan Stok Hutan Alam

Cara Pandang Kolonial

Rasa kagum para naturalis itu terus menular ke buku-buku sejarah populer hingga hari ini. Masa kolonial sering digambarkan dengan bumbu romantisisme, seolah itu adalah era keindahan yang layak dirindukan. Foto-foto sepia perkebunan teh, jalan berkabut, dan potret naturalis di tengah hutan tropis, semuanya dibingkai dengan nuansa nostalgia yang menenangkan. Di titik ini, penting untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita sedang menikmati sejarah, atau sedang mewarisi cara pandang kolonial tanpa sadar? Dokumentasi masa kolonial memang kaya dan indah secara estetika, tetapi ia tetap dokumentasi yang dibuat oleh dan untuk kepentingan tertentu. Menganggapnya sebagai representasi utuh masa lalu adalah bentuk halus dari kolonialisme pengetahuan, di mana cara Barat memandang alam dan budaya kita diam-diam menjadi cara kita memandang diri sendiri.

Jika kita mencoba membayangkan kondisi masyarakat Nusantara saat itu dari sudut mereka sendiri, gambarannya jauh lebih rumit dan manusiawi. Bagaimana mereka memandang gunung yang meletus, memanfaatkan sungai dan hutan, memaknai gempa dan musim, tentu punya logikanya sendiri, meski mungkin lebih banyak diwarnai mistika dan kepercayaan turun-temurun ketimbang pendekatan empirik ala sains Barat. Namun itulah kejujuran yang perlu diterima. Pengetahuan lokal tentang alam tidak harus diukur dengan standar ilmiah modern untuk dianggap berharga. Cerita rakyat tentang gunung yang marah, larangan menebang pohon tertentu, atau pantangan melaut di musim tertentu, sering kali menyimpan kearifan ekologis yang terbentuk dari pengamatan panjang lintas generasi, hanya saja dibungkus dalam bahasa yang berbeda dari bahasa sains.

Sebagai geolog yang juga menikmati karya para naturalis itu, ada titik ketika kekaguman itu berubah menjadi pertanyaan. Menghidupkan kembali narasi Barat memang penting dan menarik, sebab ia membuka jendela ke masa lalu yang terdokumentasi dengan baik. Tetapi ada rasa penasaran yang sama besarnya tentang apa yang dilihat, dirasakan, dan dipahami nenek moyang kita sendiri tentang kondisi geologis, alam, dan budayanya. Kedua narasi ini sebenarnya tidak perlu saling meniadakan. Sains Barat memberi kerangka empirik dan metode yang teruji, sementara pengetahuan lokal memberi konteks makna dan hubungan batin manusia dengan tempatnya. Geowisata dan wisata sejarah masa kini punya peluang besar untuk menyandingkan keduanya, bukan hanya mengulang romantisme kolonial.

Geologi Tidak Pernah Netral

Pemikiran ini sejalan dengan apa yang belakangan diusung Adam Bobbette, akademisi geologi politik di University of Glasgow, lewat bukunya The Pulse of the Earth: Political Geology in Java. Bobbette menelusuri bagaimana ilmu kebumian modern, termasuk cikal bakal teori tektonik lempeng, justru tumbuh dari lereng-lereng gunung berapi Jawa, lewat pertemuan panjang antara ilmuwan kolonial Belanda, tradisi pengetahuan Jawa, kalangan mistik, teosof, hingga kaum revolusioner. Ia menunjukkan bahwa geologi yang selama ini dianggap sepenuhnya produk sains Barat sebenarnya lahir dari perpaduan kosmologi lokal, termasuk Islam Jawa, dengan metode ilmiah Eropa di sekitar Merapi dan gunung-gunung lain. Bagi Bobbette, geologi tidak pernah netral. Ia selalu berjalan berdampingan dengan kepentingan politik dan ekonomi, mulai dari upaya melindungi perkebunan kolonial dari amukan gunung berapi, hingga pengetahuan spiritual masyarakat setempat yang justru ikut membentuk cara para ilmuwan membaca gejala alam. Gagasan ini menegaskan bahwa mengeluarkan kembali suara lokal dari balik catatan naturalis Eropa bukan sekadar kerja koreksi sejarah, melainkan kerja mengembalikan geologi pada akar pengetahuannya yang sebenarnya sudah bercampur sejak awal.

Pada akhirnya, memahami bentang alam Nusantara akan lebih utuh jika dilihat dari berbagai sisi sekaligus, sains Barat yang deskriptif dan sistematis, serta budaya lokal Indonesia yang kaya makna meski jarang tertulis. Barangkali warisan alam dan budaya kita jauh lebih kaya dari yang selama ini dibayangkan orang lain, dan bahkan dari yang kita bayangkan tentang diri kita sendiri. Tugas generasi sekarang, termasuk para pegiat geowisata dan sejarah di Bandung dan kota-kota lain, bukan hanya mewariskan kekaguman para naturalis Eropa, tetapi juga menggali kembali suara-suara yang selama ini tenggelam di baliknya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//