Perjalanan Terlupakan Franz Junghuhn ke Sumatra, Naturalis Kaki Tangan Kolonial
"Die Battalander auf Sumatra" merangkum penelitian naturalis Franz Junghuhn di tanah Sumatra. Sumber pengetahuan bagi administrasi kolonial Belanda atas Sumatra.

Jatmika Aji Santika
Lulusan Sejarah dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
2 April 2025
BandungBergerak.id – Di tengah gairah ilmiahnya, Franz Junghuhn kehilangan Dr Fritze. Dr Fritze adalah seorang patron yang menghargai Franz Junghuhn dan menyokong penelitian ilmiahnya, kehilangan seorang patron merupakan pukulan berat baginya. Franz Junghuhn mencoba meminta perlindungan pada atasan barunya yaitu Dr. Godefroy sebagaimana dahulu Dr. Fritze mendukung segala aktivitas penelitiannya. Dr. Godefroy awalnya heran dengan permintaan Junghuhn, namun Junghuhn mengatakan bahwa apabila ia diberi keleluasaan dengan mengambil cuti selama 3 bulan untuk melanjutkan penelitiannya, setelah selesai ia akan menyerahkan dirinya untuk bekerja kembali di rumah sakit sebagai dokter, permintaan Junghuhn diperbolehkan oleh atasan barunya, Junghuhn kemudian menghabiskan waktunya untuk pergi ke pegunungan Dieng. Waktu tiga bulan dihabiskan Junghuhn di pegunungan Dieng melebur bersama pohon-pohon, tanaman, kabut, bebek liar.
Ketika masa cutinya hampir selesai, Junghuhn membayangkan dirinya akan berada di rumah sakit dalam waktu dekat dan terkurung dengan kebiasaan sehari-hari merawat orang-orang sakit. Namun, Junghuhn tidak membiarkan dirinya terjebak dalam rutinitas yang sedemikian membosankan baginya, saat itu ada kabar bahwa Pieter Merkus telah diangkat menjadi Komisaris Jenderal Sumatera, Junghuhn kemudian mengajukan permohonan untuk dipindahkan ke Sumatera. Pieter Merkus diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada tanggal 14 Februari 1843, ia termasuk pejabat yang menghargai karya Junghuhn.
Junghuhn berlayar ke Sumatera bersama dengan Pieter Merkus. Ia diberikan tugas melakukan penelitian topografi dan fisik di wilayah Batak yang pada saat itu pemerintah kolonial tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentang Batak. “Saya pergi melalui Batavia ke Padang dan sangat senang ketika sampai tiba di sana, Tuan Merkus menugaskan saya untuk melakukan penyelidikan topografi dan naturalistik tanah Batak”.
Hasil penelitian Junghuhn kelak dipublikasikan dalam bentuk buku berjudul Die Battalander auf Sumatra. Saya Auftrage Sr. Excellenz des General-Gouverneurs von Niederlandisch Zelf Hrn P. Merkus inden Jahren 1840 dan 1841 untersucht und beschrieben von Franz Junghuhn. Aus dem hollandischen Original übersetzt vom Verfasser. Untuk menjalankan tugasnya, Junghuhn dibebaskan bepergian ke mana pun ia mau, tidak hanya itu ia juga ditemani oleh tiga puluh kuli per hari yang semua biaya tenaga para kuli tersebut ditanggung oleh Gubernur Sumatera. Junghuhn hanya diwajibkan memberikan laporan triwulanan ke komisaris pemerintah melalui gubernur pantai barat Sumatera berisi pengumpulan data statistik bidang topografi, geografi, metereologi, melakukan pengukuran ketinggian, mencatat suhu, meneliti tanaman asli dan kondisi tanah untuk mengetahui jenis tanaman apa yang dapat tumbuh di sana.
Selama penelitian Junghuhn, ia ditemani kuli dari Nias, selain itu ia juga ditemani naturalis lainnya Hermann von Rosenberg sebagai asistennya. Kedua peneliti tersebut tidak diberi akses langsung ke pedalaman Padang karena pemberontakan yang sebelumnya telah dipadamkan. Mereka kemudian berlayar ke utara menyusuri pantai barat Sumatera dengan menggunakan pelaut pedagang Inggris. Pada tanggal 2 Oktober 1840, kapal memasuki Teluk Tapanuli dan berlabuh di depan pos Belanda yang dibangun karena alasan strategis di lepas pantai pulau Pontjang Kitjil (nama sekarang: Poncan Ketek). Di sini mereka melakukan persiapan terakhirnya.
Ketika sedang melakukan survei topografi Teluk Tapanuli, Junghuhn mengirim von Rosenberg yang belum berpengalaman ke markas Belanda di Lumut. Pangkalan ini hanya dapat dicapai dengan perahu melintasi teluk dan melintasi hutan lebat di pedesaan. Pada sore hari tanggal 14 Oktober, von Rosenberg tersesat saat mengejar seekor burung langka. Ia menghabiskan waktunya sendirian di hutan ketakutan, dia ditemukan jam 11 malam keesokan harinya, Junghuhn berhasil menemukannya dengan mengenalinya melalui suara tembakan dan dibawa kembali ke Lumut oleh para pelayannya. Akibat peristiwa yang mengejutkannya ini, Von Rosenberg menderita serangan demam yang sangat parah sehingga ia harus berhenti menemani dan membantu Junghuhn tersebut. Ditinggal oleh satu-satunya orang Eropa yang menemaninya merupakan kerugian baginya, akhirnya Junghuhn pergi meneliti sendirian bersama para kuli.
Pada pertengahan November ia dan kuli-kuli lokalnya meninggalkan perbatasan wilayah kolonial, melakukan perjalanan ke Hurung, perbatasan Lembah Silindung dan kembali melalui pegunungan di wilayah selatan Sijamapollung (Sijamapolang) pada akhir Desember 1840 dengan kesehatan yang terganggu parah. Baru pada tanggal 20 November 1841, ia melakukan perjalanan ke utara lagi untuk menjelajahi lebih jauh wilayah Batak yang masih belum diketahui (mungkin pedalaman Barus). Namun ia baru sampai di Lembah Batang Toru dan harus kembali dalam keadaan sakit dan ia merasa kecewa dalam waktu dua minggu ia beristirahat. Pada bulan Desember 1841, ia mengajukan permohonan pindah ke Jawa.
Perlu diketahui bahwa Junghuhn hanya tinggal di luar perbatasan wilayah kolonial selama dua bulan saja. Setelah satu-satunya perjalanan yang signifikan secara etnografis, Junghuhn tidak cukup pulih selama tinggal di Sumatera untuk dapat melanjutkan perjalanan penelitiannya. Dia mungkin melakukan beberapa perjalanan singkat di wilayah kolonial. Upaya untuk memulai perjalanan yang lebih panjang pada November 1841 telah gagal. Agar tidak bermalas-malasan saat dia terbaring di tempat tidur, dia mengirim asisten lokalnya untuk mengumpulkan tanaman. Namun pemerintah kolonial tidak memahami hal ini dan memotong anggaran untuk gaji para asistennya sendiri, gajinya sendiri berkurang setengahnya karena sakit. Junghuhn menulis pada tanggal 24 Desember 1841 bahwa ia hanya kuat selama tiga bulan selama ia tinggal di tanah Batak. Namun dia sendiri yang mengerjakan peta, manuskrip, dan laporannya saat berada di ranjang sakitnya. Dan dapat diasumsikan bahwa ia juga memperoleh informasi di wilayah Batak yang sudah ditaklukkan.
Ekspedisi pertamanya berskala besar dengan sekitar 25 orang. Lima belas kuli membawa barang bawaan dan perbekalannya. Ia juga didampingi oleh para pelayan pribadinya yang berasal dari Melayu, Nias, dan Jawa. Ada juga dua orang Batak “Radja” dari daerah kolonial bersama pendampingnya masing-masing. Mereka bertugas sebagai penerjemah dan juga seharusnya menjamin keselamatannya.
Junghuhn banyak melakukan penelitian ke tanah Batak di selatan. Sadar bahwa ia memasuki tanah Batak yang masyarakatnya masih kanibal, Junghuhn membawa perlengkapan senjata yang lengkap, “Aku mempersenjatai pelayan-pelayanku, di masa damai mereka hanyalah orang-orang biasa yang gemar merawat burung, menangkap serangga, memanjat pohon, pemetik tanaman), aku membekali mereka senapan perkusi dan sementara aku membawa dua pistol di ikat pinggangku. Saya juga ditemani dua raja dan abdinya yang juga bersenjatakan senapan sehingga saya bisa melepaskan 10 tembakan sekaligus”.
Selama penelitian di tanah Batak Junghuhn mengalami kendala yang tidak biasa. Ia selalu di ancam oleh masyarakat lokal (Batak) karena segala aktivitasnya dianggap sebagai upaya kolonial untuk menaklukkan wilayah Batak. Di Toba, Junghuhn selalu diusir ketika tengah mengukur garis tegak suatu tempat karena dianggap sebagai survei untuk membangun benteng. Di tanah Hurung ia juga mengalami hal yang serupa, akhirnya Junghuhn hanya bisa melakukan aktivitasnya secara sembunyi-sembunyi di balik semak-semak ketika sedang melakukan survei. Kendala itu bukan hanya datang dari tidak adanya sambutan dari masyarakat lokal, tetapi juga medan yang harus dilalui. Junghuhn bercerita bahwa dalam satu hari dia harus melewati 30 hingga 40 aliran sungai belum lagi lintah-lintah kecil yang menyengat kakinya. Di malam hari pun sering kali tidurnya tidak nyenyak karena harus bertarung dengan ganasnya gigitan nyamuk dan khawatir dengan serangan penduduk lokal, “Aku harus tidur sambil menggenggam senapan karena suatu waktu bisa saja orang-orang pribumi datang menyergap”
Selama penelitian 18 bulannya di Sumatera, Junghuhn lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat perawatan medis karena kakinya terinfeksi akibat gigitan lintah yang sangat banyak. Ia juga menderita disentri.

Baca Juga: Anti-Woeker Vereeniging dan Perang Melawan Lintah Darat di Masa Kolonial Belanda
Penyakit Sifilis di Bandung di Masa Kolonial
Seberapa Dahsyat Letusan Gunung Tambora?
Junghuhn dan Penyebaran Agama Kristen pada Masyarakat Batak
Meski Junghuhn kerap mendapat ancaman dan pengusiran dari masyarakat Batak, ia tetap mengatakan hal yang positif tentang mereka, ia menyebut masyarakat Batak sebagai orang yang baik dan ramah. Penghargaan Junghuhn kepada orang-orang Batak membuatnya berharap bahwa agama Kristen masuk ke masyarakat Batak karena “Orang-orang Batak memiliki karakter yang baik”.
Upaya penyebaran agama Kristen pada masyarakat Batak, menurut Junghuhn sudah dilakukan sejak 6 tahun sebelum kedatangannya. Dua misionaris datang ke penduduk Adien Goding dan Hutta untuk menjalankan misi Kristianinya, namun dua misionaris yang menggunakan perlengkapan spiritualnya dibunuh dengan tusukan tombak kemudian diseret ke desa dan dimakan. Yang dimaksud Junghuhn ialah dua misionaris Amerika bernama B. B. Munson dan Lyman yang menjelajahi masyarakat Batak yang bertujuan pergi dan menetap di Silindoeng, namun mereka ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan menuju ke sana dan menjadi santapan para kanibal. Dua misionaris Amerika ini pergi pada tahun 1834, sementara Junghuhn tiba pada 1840. Dua misionaris terbunuh 6 tahun sebelum kedatangan Junghuhn (Ds. P. Van Wijk Jr. Dr. .L. Heldring, E.Nijland, Ds. S. Ulfers; Lichtstralen Op Den Akker Der Wereld Uitgegeven Met Aanbeveling van Het Comite Voor Zending Conferentien,1901; hal. 116)
Suatu fakta yang unik mengingat bahwa meskipun Junghuhn seorang yang dibesarkan dalam lingkungan keyakinan Kristen, namun ia adalah orang yang tergolong memiliki pandangan liberal menurut ukuran zamannya, tetapi ia tetap menyarankan agar Kristen diajarkan ke masyarakat Batak, “Pemerintah perlu memperkenalkan agama yang kontra Islam”. Junghuhn menyarankan penyebaran agama lain yaitu Kristen untuk membendung penyebaran agama Islam. Mengingat masyarakat Batak tidak menganut sistem agama apa pun, sudah pasti orang Batak tidak punya prasangka terhadap agama apa pun, oleh karena itu akan sangat mudah bagi mereka untuk menerima doktrin agama. Faktanya, Islam pun belum diterima oleh mereka (suku Batak) dan masyarakat Batak punya pengalaman buruk terhadap Islam karena diperangi oleh kaum Padri. Oleh karena itu, keadaan ini dapat dimanfaatkan untuk menghambat penyebaran Islam lebih lanjut.
Junghuhn khawatir karakter baik orang Batak akan hilang apabila ajaran Islam menyebar di sana, “Oleh karena itu saya yakin bahwa langkah yang bijak harus dilakukan, penyebaran agama Islam bisa dicegah di masyarakat Batak hanya dengan membawa agama Kristen ke Batak, meskipun perpindahan agamanya untuk saat ini hanya sebatas nama saja”.

Karya Junghuhn berjudul Die Battalander auf Sumatra yang berisi uraian mengenani masyarakat Batak ternyata mengundang rasa penasaran sarjana di Eropa salah satunya ialah Pieter Johannes Veth (1814-1895), seorang guru besar Universitas di Leiden dan pendiri Indische Genootschap yang juga sekaligus menjadi anggota dewan pimpinan Nederlands Bijbelgenootschap (NBG). Dalam pertemuan tahunan di tahun 1847, Veth membacakan isi buku Junghuhn Die Battalander auf Sumatra kepada seluruh anggota dewan NBG. Nederlands Bijbelgenootschap (NBG) memutuskan untuk melakukan penginjilan pada orang Batak. Persiapan penginjilan dilakukan dengan mengirim seorang ahli bahasa yang sangat muda, Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894) untuk meneliti bahasa Batak dan menerjemahkan Kitab Injil ke dalam bahasa Toba selama berada di daerah Batak (1851-1857). Van der Tuuk memiliki kesimpulan yang sama dengan Junghuhn yaitu pengaruh Islam harus dibendung di wilayah Sumatera mengingat ajaran Islam sangat anti terhadap penjajahan Belanda, caranya dengan melakukan kristenisasi masyarakat Batak. Selesai dengan tugasnya, Nederlands Bijbelgenootschap (NBG) mengirim pesan kepada Menteri Urusan Jajahan bahwa mereka akan melakukan kristenisasi di tanah Batak untuk mencegah penyebaran ajaran Islam. Menurut Uli Kozok, tidak diketahui bagaimana Pemerintah Hindia Belanda merespon surat itu, tetapi pemerintah kolonial mendukung upaya penginjilan tanah Batak yang kemudian hari dilakukan oleh RMG (Rheinische Missiongesellschaft). (Uli Kozok, Utusan Damai di Kemelut Perang Peran Zending dalam Perang Toba, 2010; hal. 27-29). Dapat dikatakan bahwa Junghuhn memiliki peranan yang penting dalam membuka jalan penyebaran agama Kristen di tanah Batak melalui karyanya Die Battalander Auf Sumatra.
Peranan vital Junghuhn dalam Kristenisasi masyarakat Batak secara tidak langsung ialah membuka jalan bagi misionaris seperti Ludwig Ingwer Nommensen, seorang apostel asal Jerman yang berjasa dalam mengenalkan Injil ke masyarakat Batak. Masyarakat Batak yang terisolasi dari dunia luar baru diketahui setelah laporan penelitian Junghuhn dalam bukunya Die Battalander Auf Sumatra. Buku Junghuhn baru puluhan tahun kemudian sampai diketahui di Barmen yang kemudian mengutus Nommensen ke Indonesia. (Rudiger Siebert, Berjejak di Indonesia Kisah Hidup Sepuluh Tokoh Jerman, 202; hal. 61, 75, 77).
Laporan penelitian Junghuhn dalam Die Battalander auf Sumatra juga menjadi sumber pengetahuan bagi administrasi kolonial mengenai luas daerah kekuasaannya. Setelah ekspedisi Junghuhn, Belanda menganeksasi wilayah Angkola, Sigompulon, Silindung, Sipahutar, Pangaribuan, Sigotom, dan Silantom. Semua wilayah yang pernah dikunjungi Junghuhn ini diklaim sebagai daerah kekuasaan penjajah Belanda (Masashi Hirosue, The Role of Local Informants in the Making of the Image of Cannibalism in North Sumatra, 2009; hal.184).
*Kawan-kawan dapat membaca tulisan-tulisan lain mengenai sejarah