• Berita
  • Tiga Cerita Pemilahan di Bandung, Kerja Senyap Tanpa Harus Menunggu Bandung Darurat Sampah

Tiga Cerita Pemilahan di Bandung, Kerja Senyap Tanpa Harus Menunggu Bandung Darurat Sampah

Praktik-praktik yang sudah lama dijalankan oleh Goni Craft, Plastavfall, dan Bank Sampah Sehati 09 sebagai bagian dari solusi jangka panjang.

Produk daur ulang Plastavfall, Bandung, Selasa, 11 Agustus 2026.(Foto: Anisa Putri Balqis/BandungBergerak)

Penulis Anisa Putri Balqis12 Agustus 2026


BandungBergerak - Di saat Bandung dalam bayang-bayang darurat sampah berkepanjangan, sejumlah warga berinisiatif mengelola sampah secara mandiri. Goni Craft mendaur ulang karung bekas menjadi kerajinan cantik, Plastavfall menjemput sampah-sampah terpilah ke rumah-rumah warga, dan Bank Sampah Sehati 09 melayani setoran sampah dari warga yang memilah.

Darurat sampah di Bandung sendiri tampak semakin berat. Kuota TPA Sarimukti, pusat pembungan sampah dari Bandung Raya, terus dipangkas. TPA yang berlokasi di Kabupaten Bandung Barat itu diperkirakan hanya bisa bertahan sampai Oktober 2026, sebelum akhirnya ditutup Desember nanti.

Pemerintah kota merespons dengan surat edaran darurat: warga dan pelaku usaha diminta mengolah sampahnya sendiri, di wilayah masing-masing. Tapi di tengah kepanikan kota mencari jalan keluar, ada yang sebenarnya sudah lebih dulu berjalan, seperti yang dilakukan Goni Craft, Plastavfall, dan Bank Sampah Sehati 09.

Goni Craft berjalan di Gang Wasjan, Jalan Rancasawo, Bandung. Di salah satu rumah, pemilik Goni Craft Kosasih yang akrab disapa Koko, 50 tahun, membuat kerajinan dari karung goni seperti yang ia lakukan sejak 1998.

“Sayang kalau barang bekas dibiarkan terbuang begitu saja. Dulu bahan dasarnya dari bambu, sekarang bergeser ke kawat sebagai penahan bentuk,” ujar Koko, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia mendapatkan karung-karung goni dari sisa-sisa bungkusan cabai, kacang, atau sayuran yang dibeli sekitar 10 ribu rupiah per karung. Dari satu karung itu bisa lahir sampai 30 model kerajinan berbeda.

Harganya bervariasi tergantung kerumitannya: dari 30 ribu rupiah untuk model sederhana, sampai 100–250 ribu rupiah untuk model rumit seperti kap lampu, becak, atau motor ontel. Satu produk bisa selesai setengah jam, tapi kalau pesanan banyak bisa makan waktu berhari-hari.

Yang menarik, Goni Craft bukan sekadar usaha kerajinan. Setiap karyanya membawa cerita. Ada boneka yang menggambarkan kesusahan warga saat krisis gas elpiji langka. Ada kalung dari limbah tulang kurban yang ditanam dulu di tanah supaya awet. Ada kalung dari biji camplung yang dipungut dari pinggir jalan. 

Karakter-karakter tersebut menceritakan kehidupan orang kebanyakan, pengembala sapi, penjual lahang, mahasiswa yang sedang wisuda.

"Kita mah ngga terlalu, oh ini kerajinan kita. Kita cuman mau kalau kita sudah menghasilkan produk ini, mau ada yang berbisnis kembali dari produk kita, ya silakan," ujar Kosasih.

Usaha ini pernah surut, pernah pula naik lagi mengikuti generasi peminatnya, dari mahasiswa desain, kolektor souvenir pernikahan, sampai turis asing yang dulu sempat memesan lewat jaringan dagang.

Tapi menurut Koko, dukungan itu datang dan pergi. Tahun 2025, karyanya menyabet juara kedua lomba daur ulang Kota Bandung. Tapi setelah lomba usai?

"Biasa-biasa aja. Gak ada kelanjutan,” katanya.

Di tengah darurat sampah yang tengah ramai dibicarakan, Koko justru melihatnya sebagai peluang baik, tanda masyarakat mulai sadar memilah sampah dari rumah, membuat kompos, hingga budidaya maggot.

Tapi ia juga jujur bahwa sejauh ini belum ada pihak pemerintah yang menghubunginya secara langsung untuk berkolaborasi soal pengelolaan sampah kota. Yang mengenalnya selama ini justru komunitas, kampus, dan penyelenggara acara.

Kritik Koko terkait permasalahan sampah Bandung pun spesifik. Menurutnya, program bank sampah pemerintah menurutnya sudah bagus, tapi hasil kerajinan para pengrajin daur ulang sering menumpuk tak terjual karena minim jalur pemasaran lanjutan. Ia mengusulkan ada semacam pameran rutin tingkat kecamatan sebagai jembatan antara karya dan pembeli.

Plastavfall: Ketika Sampah Organik Jadi Bisnis Sosial Serius

Kalau Goni Craft bicara soal barang, Plastavfall bicara soal sisa makanan dan sampah organik, jenis sampah yang menurut mereka justru paling sering diabaikan, meski dianggap paling gampang diurus sendiri di rumah. Berdiri sejak 2016 oleh Reza dan Bea, dua sosok yang justru tidak punya latar belakang pendidikan lingkungan formal, Plastavfall lahir dari keresahan personal.

Bea melihat langsung dampak krisis sampah di kawasan Cicadas saat truk pengangkut tak bisa masuk TPS, sementara Reza yang memiliki hobi hiking, resah melihat tumpukan sampah di jalur-jalur pendakian.

Model awalnya sederhana: bank sampah biasa, bekerja sama dengan pemulung untuk mencacah plastik. Tapi masalah muncul saat pandemi 2020, warga makin sulit keluar rumah untuk menabung sampah. Dari situ Plastavfall berbalik arah, bukan lagi menunggu warga datang, tapi menjemput langsung sampah yang sudah dipilah, memastikan pengelolaannya sampai tuntas.

Data yang mereka bagikan cukup mengejutkan, rata-rata 12–13 ton sampah organik dan anorganik per bulan, ditangani hanya oleh tim lapangan sebanyak lima orang, terbagi dalam tim penjemputan, sortir, pengomposan, hingga tim pemberi pakan ternak dari sisa makanan. Klien mereka, gabungan rumah tangga dan komersial, sudah menembus lebih dari seratus.

Nabila Salma selaku Chief Communication Officer Plastavfall pun menjawab kenapa sampah organik justru paling sering diabaikan warga.

"Karena mungkin stigma masyarakat terhadap sampah itu kan kotor dan bau. Padahal yang kotor dan bau itu adalah sampah yang tidak dipilah dan dibiarkan lama. Tidak ada kompos yang gagal, karena kompos sendiri adalah penguraian sampah organik. Tapi memang saat proses itulah yang banyak anomalinya," paparnya.

Yang menarik, saat ditanya soal kenapa sistem seperti bank sampah dan kompos komunal belum jadi kebijakan wajib kota, jawaban Plastavfall tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Mereka mengakui sudah ada upaya, seperti program budidaya maggot per kelurahan dan rekomendasi teknis dari DLH Kota Bandung untuk kerja sama dengan pelaku usaha sampah. Hanya saja skalanya masih terbatas dan prosesnya berjalan lambat. Justru hambatan terbesar yang mereka soroti bukan cuma soal dana atau regulasi, melainkan budaya.

“Kalau aku pribadi, melihat masih banyak budaya premanisme juga di Bandung. TPS-TPS kan ada yang legal dan ilegal. Karena premanisme yang masih kental di beberapa daerah di Bandung, itu bikin susah untuk dibenerin sistem dan regulasinya," ujar Nabila Salma.

Para pegiat Bank Sampah Sehati 09, Cipadung Kidul, Bandung, Selasa, 11 Agustus 2026. (Foto: Anisa Putri Balqis/BandungBergerak)
Para pegiat Bank Sampah Sehati 09, Cipadung Kidul, Bandung, Selasa, 11 Agustus 2026. (Foto: Anisa Putri Balqis/BandungBergerak)

Bank Sampah Sehati 09: Sistem Rapi yang Tetap Bertumpu ke Swadaya Warga

Berbeda dari dua kisah sebelumnya, Bank Sampah Sehati 09 di Cipadung Kidul berjalan dalam kerangka yang lebih formal: diakui resmi oleh DLH Kota Bandung, tercatat sebagai bagian dari Program Kampung Iklim, bahkan sudah menyandang predikat Adiwiyata Mandiri dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Berdiri sejak 2011, sistem kerjanya bukan jual-putus seperti pengepul pada umumnya, melainkan model titip-jual, di mana nasabah menyetor sampah terpilah, harga jual mengikuti pasar, dan di akhir periode nasabah menerima hasil penjualan setelah dipotong 25 persen untuk biaya operasional, bukan mengurangi nilai di depan seperti kebanyakan lapak sampah biasa.

"Bank sampah itu bukan sistemnya jual-beli. Kalau jual-beli, akadnya kita harus langsung bayar. Kita terbuka, kalau harganya lagi bagus, ya sesuai harga pasar. Bank sampahnya nanti aja di akhir, tidak mengurangi harga dari nasabah," ujar Rini Herani selaku bendahara Bank Sampah.

Yang membedakan mereka dari sekadar bank sampah lain adalah pencatatan dan administrasi yang konsisten. Banyak bank sampah di Bandung, menurut mereka, sekadar mengumpulkan sampah warga untuk dijual tanpa pembukuan jelas soal jenis, volume, atau distribusi hasil ke nasabah. Sehati 09 mencatat semuanya, bahkan menyediakan skema sodaqoh bagi nasabah yang ingin menyumbangkan hasil sampahnya.

Secara operasional, Bank Sampah Sehati 09 kini memiliki lebih dari 170 nasabah aktif terdaftar, dengan sekitar 800 kilogram sampah umum terjual setiap dua bulan, ditambah sekitar 200 kilogram minyak jelantah dengan harga jual berkisar 7.000–10.000 rupiah per kilogram tergantung fluktuasi pasar ekspor. Hampir seluruh sampah yang masuk berhasil terjual, nyaris tanpa sisa.

Salah satu ujung tombak mereka adalah program Gaslah (petugas pemilah sampah), yang dibayar langsung oleh DLH Kota Bandung. Petugas ini berkeliling dari Senin sampai Sabtu mengambil sampah organik dari rumah ke rumah yang sudah dipilah warga, bukti bahwa pemerintah sebenarnya turun tangan, meski skalanya kecil dan belum merata di semua wilayah.

Untuk residu yang tak lagi bisa diolah, Sehati 09 bahkan punya mobil pengangkut sendiri, dibeli swadaya dari kas RW, dengan biaya operasional yang dibayar dari iuran warga 20 ribu rupiah per keluarga per bulan, ditambah biaya untuk TPS Gedebage sekitar 1 juta rupiah per bulan. Mereka juga menjalin kolaborasi dengan Rumah Dilan (Rumah Pendidikan dan Keterampilan) untuk mengubah residu seperti ampas kopi menjadi produk kerajinan dan pelatihan warga.

Tapi seperti dua kisah sebelumnya, dukungan yang datang sering kali putus di tengah jalan. Sehati 09 sempat diajukan sebagai salah satu dari tiga bank sampah se-Kota Bandung yang direkomendasikan menerima CSR dari bank pemerintah berupa pengadaan gerobak sampah. Setelah melalui dua kali pertemuan dan disetujui, program itu dibatalkan mendadak di hari yang sama sebelum realisasi.

"Kemarin, pagi saya masih ngobrol, jam 10 pagi masih oke, ternyata sorenya harus kembali ke laptop," ujar Agus Djuanda selaku ketua dari Bank Sampah Sehati 09 soal batalnya CSR gerobak sampah. 

Soal darurat sampah yang kini ramai dibicarakan dan rencana penutupan TPA Sarimukti Desember mendatang, mereka menyebut sosialisasi dari pemerintah sebenarnya sudah berjalan sejak lama, hanya saja baru terasa "dikejar" belakangan ini. Aturan main yang mereka terapkan sendiri di lingkungan RW tegas: sampah yang tidak dipilah, tidak diambil.

Baca Juga: Di Balik Asap Insinerator, Memahami Mengapa Mesti Memilih Jalan Panjang Memilah Sampah di Kota Bandung
Krisis Sampah di Bandung Raya, Pemerintah tidak Belajar dari Tragedi TPA Leuwigajah dan Kebakran TPA Sarimukti

Tiga Model, Satu Nasib

Dari kerajinan tangan sampai sistem administrasi bank sampah yang diakui negara, hingga usaha sosial berbasis teknologi sampai swadaya warga tingkat RW, ketiganya menunjukkan pola yang sama. Ketiganya sudah berjalan jauh sebelum krisis sampah ini menjadi sorotan publik, delapan tahun untuk Plastavfall, lima belas tahun untuk Bank Sampah Sehati 09, dan dua puluh tujuh tahun untuk Goni Craft.

Mereka juga punya data, sistem, dan volume pengolahan yang bisa diukur, mulai dari belasan ton per bulan hingga ratusan kilogram per dua bulan. Selain itu, ketiganya pun pernah merasakan momen dilirik, lewat lomba, kunjungan pejabat, atau rekomendasi CSR, tapi hampir selalu berhenti di titik itu saja, tanpa tindak lanjut yang mengikat atau berkelanjutan.

Kerja-kerja mereka menunjukkan ada jarak yang konsisten antara praktik baik yang sudah teruji di lapangan dengan kebijakan pemerintah. 

Kosasih masih berharap kerajinannya bisa "ramai lagi" seperti dulu. Plastavfall masih berjuang meyakinkan lebih banyak warga bahwa mengelola sampah organik sendiri tidak sesulit yang dibayangkan. Bank Sampah Sehati 09 yang berjalan dengan sistem swadayanya sendiri, tanpa menunggu bantuan datang dari luar.

Ketiganya sudah membuktikan solusi itu ada, sudah berjalan, sudah teruji, hanya tinggal diperbesar. Dengan Sarimukti yang terus terancam dan tenggat Desember yang kian dekat, apakah pemerintah kali ini benar-benar akan menjadikan praktik-praktik yang sudah lama berjalan ini sebagai bagian dari solusi jangka panjang, atau darurat ini akan berlalu seperti biasa, dan mereka kembali bekerja sendiri seperti sebelumnya?

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//