• Berita
  • Tamasya Trotoar Bandung: Kota yang Kehilangan Banyak Pohon

Tamasya Trotoar Bandung: Kota yang Kehilangan Banyak Pohon

Hilangnya tutupan pohon berjalan beriringan dengan persoalan pedestrian Bandung. Kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak.

Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam15 Agustus 2026


BandungBergerak - Terik matahari tumpah ke atas trotoar saat sekitar 10 anggota Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) berdiri di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. Tepat di depan kafe dan GOR padel yang ramai setelah penebangan 10 pohon, mereka menggelar Tamasya Trotoar.

Sambil membentangkan poster, mereka menyampaikan kritik sekaligus ajakan merawat pohon dan melindungi pejalan kaki. "Trotoar untuk Pejalan Kaki", "Ayo Peluk Pohon", hingga "Selamatkan Pohon Pelindung Kotamu" tertulis dalam poster yang mereka bawa.

Kegiatan tersebut digelar sebagai respons terhadap masifnya penebangan pohon secara ilegal di Kota Bandung sekaligus menyoroti fasilitas pedestrian yang belum memadai.

Ketua Koordinator Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) Bandung, Muhammad Fadil, menyayangkan penebangan pohon di area pedestrian tersebut, terlebih jika dilakukan untuk kepentingan komersial.

Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Padahal, menurut Fadil, pohon memiliki banyak fungsi bagi manusia dan lingkungan. Penebangan pohon berdampak buruk terhadap ekologi kota. Meskipun nantinya ada penggantian dengan pohon baru, fungsinya tidak akan sama dengan pohon yang telah tumbuh selama puluhan tahun.

Meski pelaku penebangan disebut-sebut akanmendapatkan sanksi, Fadil mengatakan sanksi tersebut tidak akan mengganti kerugian yang dirasakan masyarakat maupun lingkungan.

"Karena bagi kami pohon itu infrastruktur. Infrastruktur yang tidak bisa digantikan dengan yang lain," tegasnya.

Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Pohon juga berperan dalam menjaga suhu perkotaan. Penelitian Dian Rosleine dan Arka Irfani berjudul "Fungsi Taman Kota untuk Mitigasi Dampak Urban Heat Island di Kota Bandung" menunjukkan pepohonan dapat menurunkan suhu udara hingga 3,5 derajat Celsius.

Penelitian tersebut dilakukan di kawasan Taman Maluku yang memiliki tingkat kerapatan pohon 102 batang per hektare atau sekitar 85,73 persen. Pada kawasan tersebut, pepohonan mampu menurunkan suhu hingga 4,2 derajat Celsius.

Di tengah fungsi pohon sebagai penyangga suhu, tutupan pohon di Bandung justru terus berkurang seiring alih fungsi lahan. Merujuk data Global Forest Watch, sebuah platform daring yang dikembangkan World Resources Institute untuk memantau perubahan tutupan pohon dan hutan, Kota Bandung kehilangan 44 hektare tutupan pohon atau sekitar 3,7 persen pada periode 2001–2018.

Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Berkurangnya tutupan pohon berlangsung bersamaan dengan meningkatnya suhu Kota Bandung. Dalam rentang 1979–2023, suhu maksimum Kota Bandung menunjukkan kecenderungan meningkat, terutama pada 2018–2023. Suhu maksimum tercatat 33,4 derajat Celsius pada 2018 dan mencapai 36 derajat Celsius pada 2023. 

Kenaikan juga terlihat pada suhu rata-rata harian. Pada 1979, suhu rata-rata harian Kota Bandung tercatat 22,6 derajat Celsius. Angka tersebut meningkat menjadi 24,3 derajat Celsius pada 2023.

Baca Juga: Kabut Gelap Gunung Masigit
Mengapa Penebangan Sepuluh Pohon di Jalan Martadinata Perlu Dipersoalkan?

Kerentanan Pejalan Kaki di Pedestrian Kota Bandung

Hilangnya pohon bukan satu-satunya persoalan ruang publik Kota Bandung. Di sisi lain, infrastruktur pedestrian juga belum sepenuhnya mampu menopang keselamatan dan kenyamanan warga.

Pantauan BandungBergerak di Jalan R.E. Martadinata menemukan sejumlah trotoar berbahan granit yang retak dan tidak rata. Sisa batang pohon yang ditebang juga masih terlihat dan tidak sepenuhnya rata dengan permukaan trotoar.

Fadil menegaskan kondisi pedestrian tersebut sangat tidak aman, terutama bagi penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil. Atas dasar itu, Kopeka akan terus menyuarakan hak-hak pejalan kaki yang selama ini kerap dipinggirkan dan rentan mengalami kecelakaan.

"Kami dari Koalisi Pejalan Kaki menyarankan pemerintah agar lebih peka terhadap bagaimana kota ini dibangun," tegas Fadil.

Menurut Fadil, ukuran trotoar yang ideal bukan semata-mata dilihat dari bahan yang digunakan dalam proyek, melainkan dari fungsi, keramahan, dan inklusivitasnya bagi seluruh kalangan. Trotoar yang baik harus dapat digunakan dengan aman oleh penyandang disabilitas, lansia, hingga ibu hamil.

Kondisi trotoar di Bandung memang tidak sepenuhnya buruk. Trotoar di Jalan Dago, misalnya, dinilai sudah baik. Sementara trotoar di Jalan Soekarno-Hatta dinilai cukup baik, tetapi masih memiliki kekurangan, seperti belum tersedianya guiding block bagi penyandang disabilitas dan pelican crossing untuk penyeberangan.

Artinya, kondisi fisik trotoar saja tidak cukup menjadi ukuran. Kelengkapan fasilitas yang memungkinkan seluruh kelompok menggunakannya secara aman dan mandiri juga menjadi bagian penting dari pedestrian yang inklusif.

Persoalan ruang jalan yang tidak aman juga dialami pengguna sepeda. Argus FS, pegiat Koalisi Mobilitas Ramah Lingkungan Berkelanjutan (Komoratan), mengatakan fasilitas jalur sepeda di Bandung masih minim. Tidak hanya itu, sejumlah jalur sepeda juga masih digunakan sebagai lahan parkir kendaraan bermotor.

Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Aksi Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) terkait penebangan pohon di Jalan R.E. Martadinata, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

"Banyak lajur sepeda dipakai parkir kendaraan bermotor, termasuk trotoarnya," terang Argus.

Minimnya fasilitas keselamatan tidak hanya meningkatkan risiko bagi pesepeda, tetapi juga pejalan kaki. Laporan Bandung Annual Report 2024 menyebut tabrakan dengan pejalan kaki menjadi jenis kecelakaan dengan proporsi tertinggi, yakni 27 persen atau 184 kasus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kecelakaan dari arah depan-belakang atau depan-samping yang masing-masing berada pada proporsi 21 persen.

Laporan yang sama mencatat sekitar 56 persen kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki terjadi saat penyeberangan, sedangkan 44 persen terjadi ketika pejalan kaki menyusuri jalan.

Ketiadaan atau minimnya fasilitas keselamatan, seperti pedestrian yang memadai, penerangan jalan, dan rambu penyeberangan, turut meningkatkan potensi kecelakaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pejalan kaki merupakan salah satu kelompok pengguna jalan yang paling rentan terhadap risiko kecelakaan. 

Temuan tersebut selaras dengan penelitian dalam jurnal berjudul "Perilaku Pejalan Kaki Remaja di Kota Bandung" yang ditulis Anita Friskadewi dkk. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kecepatan kendaraan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi besar terhadap keselamatan pejalan kaki.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//