• Berita
  • KABAR PERLAWANAN DARI SUKAJAYA: Jejak Buldoser di Kebun Ami dan Acih

KABAR PERLAWANAN DARI SUKAJAYA: Jejak Buldoser di Kebun Ami dan Acih

Di tengah sengketa lahan Sukajaya, Ami dan Acih mempertahankan lahan pertanian warisan keluarga yang menjadi sumber hidup sekaligus amanah dari orang tua.

Acih, petani dari Sukajaya, Bogor di kebunnya, Minggu pagi, 9 Agustus 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam19 Agustus 2026


BandungBergerak - Ami, 63 tahun, petani Kampung Madhur, berangkat seperti biasa ke kebun pada Kamis, 6 Agustus 2026. Namun, pagi itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ia mendengar suara mesin dari bawah, diiringi ratusan orang, sebagian besar mengenakan masker. Ia juga melihat aparat.

Warga Kampung Madhur lainnya yang juga mendengar gemuruh itu segera mendatangi kebun Ami. Lahan seluas sekitar 4.000 meter persegi tersebut berada di atas Sungai Ciherang, berbatasan dengan kampung tetangga.

Lahan di wilayah Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor itu disengketakan oleh PT Prima Mustika Candra (PT PMC), perusahaan properti. Kedatangan rombongan tersebut berkaitan dengan sengketa tanah itu.

Ami melihat dua alat berat menerobos kebun bambu dan bergerak ke arah kebunnya. Untuk membuka jalan, sungai yang mengalirkan air ke perkampungan di bawah ditimbun tanah. Akibatnya, aliran air tertutup dan tidak bisa mengalir.

Setelah melewati sungai, kedua alat berat itu langsung menuju kebun Ami. Meski tanjakannya sangat curam, keduanya mampu melaju. Karena kebun Ami berada paling depan, lahan itu menjadi yang pertama diterjang.

Dengan tubuh kecilnya, Ami menghadang alat berat dan rombongan pengawalnya. Ia berteriak meminta mereka berhenti dan tidak merusak kebunnya. Namun, teriakannya tak dihiraukan. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin.

Moncong buldoser dan ekskavator terus bergerak, merusak kebun yang dirawat Ami seperti anak sendiri. Ia sempat protes pada aparat agar menghentikan penggusuran. Namun tak ada tanggapan.

Ami yang berdiri terlalu dekat dengan kedua alat berat lalu dibujuk seorang petani bernama Asep agar menjauh. Asep menggendongnya setengah paksa dan membawanya ke tempat yang lebih aman.

“Saya langsung digendong ke arah sana (ke lapangan yang lebih luas). Awalnya saya menghadang dulu dari sini,” kata Ami, kepada saya, Sabtu pagi, 8 Agustus 2026, sambil menunjuk ke arah kebunnya.

Ami tak terluka atas peristiwa itu. Tetapi ada rasa trauma di benaknya. Tapi setelah kejadian ia dibawa ke klinik.

“Sekarang sudah ada tenaga lagi saya,” lanjut Ami.

Ami berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah kebun dengan mata sedikit berkaca-kaca. Sebelum melanjutkan cerita, ia menghela napas panjang.

Bagi Ami, kebun berarti kehidupan. Di sanalah ia tumbuh besar, belajar, dan mencari penghidupan dari kebun warisan kakeknya.

Ami tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya. Sejak kecil hingga kini, ia menggantungkan hidup pada keahlian bertani. Setelah berkeluarga, ia tetap bertani hingga mampu menyekolahkan kedua anaknya.

Kini, kedua anaknya telah dewasa. Anak sulungnya merantau ke Jakarta, sedangkan anak bungsunya tinggal bersamanya dan bekerja di pabrik. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu.

“Saya merawat kebun ini sendiri. Dari ngoret, macul, nanem, mupuk, sampai panen, pokoknya sendiri,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ami mengandalkan hasil panen yang dipetik seminggu sekali. Setiap sore, biasanya ada pedagang yang datang mengambil hasil tani untuk dijual ke pasar.

Dalam seminggu, ia rata-rata hanya memperoleh 60 ribu rupiah. Beruntung, anak sulungnya yang merantau kerap mengirim uang untuk membeli beras.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), garis kemiskinan Kabupaten Bogor pada 2026 mencapai 531.412 rupiah per kapita per bulan. Dengan kondisi tersebut, Ami masih tergolong miskin. Namun, sepanjang 2026, ia baru sekali menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah sebesar 900 ribu rupiah.

Uang itu ia gunakan untuk membeli kambing sebagai tabungan. Namun, karena kebutuhan mendesak, kambing tersebut akhirnya dijual.

Pagi itu, Ami melanjutkan aktivitasnya. Tubuh kecilnya membungkuk untuk mencabut sawi yang tersisa.

Tiga hari setelah konflik yang rekaman videonya beredar luas di media sosial, saya masih melihat jejak roda buldoser dan ekskavator di sana.

Baca Juga: KABAR PERLAWANAN DARI SUKAJAYA: Turun-temurun Petani Merawat dan Mempertahankan Tanah Garapan
KABAR PERLAWANAN DARI SUKAJAYA: Dengan Musik Menemani Petani

Ami, petani dari Sukajaya, Bogor di kebunnya, Sabtu pagi, 8 Agustus 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Ami, petani dari Sukajaya, Bogor di kebunnya, Sabtu pagi, 8 Agustus 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Wasiat dari Sang Bapak

Esok paginya, Minggu pagi, 9 Agustus 2026, saya kembali menyambangi kebun milik Ami untuk menengok aliran sungai yang sempat dibendung. Beberapa meter dari sana, seorang ibu tengah mengoret kebun yang tampak hancur oleh alat berat. Acih, demikian nama ibu tersebut, merupakan kakak kandung Ami. Badannya lebih kecil dari Ami. Umurnya 65 tahun.

Kebun milik Acih berdempetan dengan kebun adiknya. Hanya saja lahannya berada sedikit di atas dengan luas sekitar empat ribu meter persegi. Bernasib sama dengan sang adik, kebunnya kini  hanya menyisakan jejak alat berat. Sayur pakcoy yang baru ditanam sejak dua minggu lalu, hancur tak tersisa.

Peristiwa pada Kamis, 6 Agustus lalu tak banyak diingat oleh Acih. Saat alat berat itu datang, ia pingsan dan dibawa ke rumah warga. Namun pesan dari mendiang bapaknya masih tersimpan utuh dalam pikirannya.

Bagi Acih, tanah ini bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan warisan turun-temurun dari orang tuanya yang ia pertahankan.

Sejak kecil, Acih hidup di dunia pertanian. Sama seperti adiknya, ia tak sekolah karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.

“Kata bapak saya nanti kalau enggak ada bapak ini kebun bakal subur makmur sampai anak cucu,” cerita Acih.

Acih merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Adik hingga kakanya masing-masing sudah memiliki tanah untuk berkebun.

Acih memiliki enam orang anak. Semua anaknya sudah berkeluarga. Dari mereka ia sudah mendapat cicit. Dia berharap kebun miliknya ini bisa terus bertahan agar bisa diwariskan kepada keturunannya, seperti yang diwariskan oleh bapaknya dulu.

Lahan yang digarap Acih memiliki sejarah panjang. Menurut Acih, tanah tersebut telah digarap keluarganya sejak zaman Belanda. Bukti garapan pertama masih disimpan oleh salah satu anaknya, Ading.

Keluarganya pernah menghadapi intimidasi. Ayah Acih, misalnya, dituduh sebagai anggota PKI hingga diculik pada malam hari.

“Bapak saya waktu di sini diusir, dibilangnya PKI katanya,” ujarnya.

Meski begitu, anak-anak Acih tetap merawat lahan tersebut. Ia juga khawatir kebunnya bernasib sama setelah konflik dengan perusahaan. Acih meyakini dirinya memiliki hak atas lahan itu berdasarkan dokumen yang diwariskan keluarganya.

“Data-data pertama bapak saya ngegarap di sini ada. Ini kan warisan dari zaman Belanda,” katanya.

Acih mengaku beberapa kali mendapat tawaran uang untuk melepas lahannya. Namun, hingga tiga kali ditawari, ia tetap menolak. Baginya, tanah itu adalah amanah leluhur yang akan terus dirawat hingga akhir hayat.

Kekhawatiran serupa dirasakan petani lain di Kampung Madhur. Sedikitnya 60 kepala keluarga di RW 6 menggantungkan hidup pada pertanian. Jika lahan digusur, sumber penghidupan mereka akan hilang. Alam yang turut mereka rawat pun terancam buldoser.

***

 *Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//