Motor Menabrak Dua Orang Siswa di Jalan Sukarno Hatta, Sampai Kapan Pejalan Kaki Menjadi Korban?
Jalan Sukarno Hatta, Bandung dikenal dengan arus kendaraan cepat, mobil-mobil besar, dan banyak yang melawan arus. Rentan bagi pejalan kaki.
Penulis Yopi Muharam22 Agustus 2026
BandungBergerak - Jalan Sukarno Hatta, Bandung kembali menjadi lokasi kecelakaan yang melibatkan pelajar. Dua siswi SMKN 9 Bandung tertabrak sepeda motor saat hendak menyeberang menuju sekolah, hanya lima menit sebelum lonceng masuk berbunyi, Jumat, 21 Agustus 2026. Kedua korban masing-masing duduk di kelas 10 dan 12, mengalami luka cukup serius.
Emalia, saksi sekaligus bagian Kesiswaan SMKN 9 Bandung, mengatakan kecelakaan terjadi di lajur cepat, tepat di seberang Kantor ATR/BPN Kota Bandung. Saat itu, petugas satpam bersama polisi telah memberhentikan kendaraan untuk memberi kesempatan kepada para pelajar menyeberang.
Ketika puluhan siswa berada di tengah jalan, seorang pengendara motor menyalip kendaraan yang berhenti dengan kecepatan tinggi. Motor tersebut kemudian menghantam salah seorang siswi.
Korban pertama langsung terjatuh dengan luka ringan. Karena masih melaju dengan kecepatan tinggi, motor kembali menabrak siswi yang berada di deretan paling ujung hingga sempat menyeretnya beberapa meter. Korban kedua kemudian tak sadarkan diri.
“Semua kendaraan saat itu berhenti. Ternyata dari arah belakangnya itu motor ngebut. Sudah ngebut, dia kayaknya ngerem, ngedadak. Nabraklah siswi pertama yang keserempet sampai muter dan jatuh,” ujar Emalia di ruang Kesiswaan SMKN 9 Bandung, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dalam kecelakaan tersebut, tiga orang, termasuk pengendara motor, mengalami luka. Emalia mengatakan pengendara merupakan siswa SMA di kawasan Buah Batu. Saat kejadian, dia berboncengan dengan seorang perempuan menggunakan sepeda motor Ninja 250 cc.
Perempuan yang dibonceng selamat tanpa mengalami luka serius. Sementara itu, pengendara sempat pingsan dan mengalami pendarahan pada hidung.
Dua siswi korban kecelakaan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Al-Islam untuk mendapatkan perawatan.
Abdul Rohman, bagian Kesiswaan SMKN 9 Bandung yang mengantar kedua korban menggunakan mobil sekolah, mengatakan siswi kelas 12 mengalami luka cukup parah di bagian kepala. Kondisinya sempat kritis dan korban tidak sadarkan diri.
“Terus di sana penanganan dokter lalu CT scan. Memang infonya ada pendarahan di kepala,” kata Abdul.
Sementara itu, siswi kelas 10 mengalami luka yang lebih ringan. Kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang, meski masih mengalami trauma.
Kecelakaan di Jalan Sukarno-Hatta bukan kali pertama terjadi. Dalam sepekan terakhir, tercatat tiga kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki. Namun, kecelakaan yang terjadi Jumat tersebut menjadi yang paling parah.
Minimnya fasilitas penyeberangan menjadi salah satu persoalan di Jalan Sukarno-Hatta. Pihak SMKN 9, SMKN 13, SMKN 7, serta Metro Indah Mall (MIM) telah mengajukan permintaan pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) kepada pemerintah daerah sejak 2022. Namun, hingga kini permintaan tersebut belum mendapat respons.
Emalia mengatakan pada 2025, Dinas Perhubungan Jawa Barat sempat datang ke sekolah untuk memberikan penjelasan terkait permintaan pembangunan JPO tersebut.
“Kemarin tetap masih tidak di ACC karena ya itu perdebatannya. Karena kita itu di Jalan Nasional apa Jalan Provinsi lah, tidak boleh ada jembatan,” terang Lia menirukan petugas saat itu.
Menurut Emalia, pemerintah beralasan sudah terdapat JPO di kawasan Metro, Margahayu. Namun, menurutnya, lokasi tersebut terlalu jauh dari sekolah sehingga tidak efektif digunakan para siswa.
“Jadi kalo yang sekolah di SMK 9 atau 13 harus naik angkot turun di sana nyebrang terus jalan kaki ke sini gitu?” ugkapnya.
Emalia juga menyoroti kebijakan pemerintah yang menurutnya lebih memprioritaskan pembangunan halte dan pengecatan trotoar dibandingkan fasilitas penyeberangan.
“Malah ngebenerin halte. Terus buat apa kita halte? Sudah ada dari dulu juga,” tandasnya.
Emalia dan Abdul sepakat pembangunan JPO perlu menjadi prioritas untuk melindungi para siswa yang setiap hari menyeberangi Jalan Sukarno-Hatta. Mereka mempertanyakan berapa banyak lagi korban yang harus berjatuhan sebelum pemerintah membangun fasilitas penyeberangan.
“Bukan hanya digembor-gemborkan di Instagram, di Telegram atau di media sosial yang lain. Kami enggak butuh yang kayak gitu. Kami hanya butuh jembatan penyeberangan untuk penyelamatan anak-anak,” tutur Emalia.
“Karena kan nyawa mereka lebih berharga,” timpal Abdul.
Menurut mereka, jika pembangunan JPO belum dapat direalisasikan, pemerintah setidaknya perlu menyediakan zebra cross sebagai penanda bahwa kawasan tersebut berada di lingkungan sekolah.
Abdul juga menyoroti kondisi Jalan Sukarno-Hatta pada malam hari yang minim penerangan. Seorang guru ekstrakurikuler pernah bercerita kepadanya bahwa kondisi jalan menjadi lebih gelap saat malam.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi siswa yang pulang larut setelah mengikuti praktik atau kegiatan sekolah dan harus menyeberang seorang diri.
“Kalau nyebrang ke sana tuh gelap banget, enggak ada penerangan. Satpam juga enggak berani nyebrangin karena jarak pandangnya kan terbatas,” ungkapnya.
Sebelumnya, di Instagram resmi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan bakal melakukan penataan jalan Sukarno Hatta, termasuk membuat JPO hingga Penerangan Jalan Umum (JPU). Ia mengaku sudah bersurat ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar Jalan Sukarno Hatta yang berstatus jalan nasional diserahkan pengelolaanya ke Pemerintah Kota Bandung.
Dedi menyebut, terkait pembangunan JPO sebetulnya tidak ada alokasi dana dari Pemprov Jabar. Kendati demikian, ia akan menggandeng berbagai pihak untuk berkolaborasi membangun JPO yang ditargetkan bakal dilaksanakan bulan Agustus tahun ini.

Kecepatan, Kendaraan Besar, Lawan Arah
Hedi Supriyadi, Satpam SMKN 9 mengungkapkan, pembangunan jembatan sangat penting untuk meminimalkan kecelakaan. Menurutnya, yang menyeberang di kawasan tersebut bukan hanya siswa sekolah melainkan juga masyarakat umum.
“Kalau ada jembatan kan enak, warga juga bisa nyebrang dengan aman,” lanjutnya.
Berdasarkan pengalamannya, Jalan Sukarno Hatta berbahaya bagi pejalan kaki. Ia harus lebih berhati-hati saat akan menyeberangkan siswa atau tenaga pendidik sekolah.
Saat bertugas, biasanya Hedi bekerja sama dengan satpam SMKN 13 yang bertetangga dengan SMKN 9. Hedi sudah mulai siaga menyebrangkan dari pukul 06.00 hingga pukul 07.30. Sementara saat jam pulang sekolah ia sudah bersiap dari pukul 14.00 hingga pukul 16.00 sore.
Selama menjadi satpam satu tahun di SMKN 9, dia mengaku baru kali ini melihat peristiwa kecelakaan di depan matanya. Namun kejadian senggolan atau nyaris tertabrak sudah sering ia alami.
“Belum tentu yang diseberangin (selamat), saya juga yang nyeberangin belum tentu (selamat). Tapi gimana gitu ya takut juga kan namanya kecelakaan kan kita enggak tahu,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Adanan Rizkiana, siswa kelas XI SMKN 9. Selain banyaknya kendaraan yang mengebut, Jalan Sukarno Hatta penuh dengan mobil besar setiap harinya.
Belum lagi dengan pengendara sepeda motor yang melawan arah. Rizki pernah sekali terserempet motor yang melawan arah. Beruntung tidak ada luka serius. Namun hal itu menjadi perhatian agar dirinya lebih berhati-hati.
“Padahal lawan arah aja itu udah salah,” lanjutnya.
Siswi lainnya, Karlina Novianti, megatakan seharusnya pemerintah menyediakan infrastruktur yang menjamin keselamatan pejalan kaki.
“Kalau engga juga bikin zebra cross, bair kejadian ini enggak keulang lagi,” ungkapnya.
Baca Juga: Kecelakaan Berulang di Jalan Sukarno Hatta Bandung: Mengapa Pesepeda Terus Menjadi Korban?
GELAP DAN RUSAK JALAN SUKARNO HATTA BANDUNG: Saling Lempar Tanggung Jawab Memperbaiki Jalan Sukarno Hatta
Infrastruktur bagi Pejalan Kaki
Muhammad Fadhil, Ketua Koordinator Wilayah Koalisi Pejalan Kaki Bandung (Kopeka), menilai minimnya fasilitas penyeberangan menjadi salah satu penyebab kecelakaan di Jalan Sukarno-Hatta terus berulang. Berdasarkan survei Kopeka pada 20 Agustus 2026 di depan SMKN 9 Bandung, sekitar 180 pejalan kaki menyeberang pada pukul 06.00-07.00 WIB, sekitar 80 di antaranya merupakan siswa. Mereka umumnya menyeberang dalam kelompok 10-15 orang.
Kopeka tidak merekomendasikan pembangunan JPO. Fadhil justru menyarankan Pelican Crossing berbentuk Z yang dilengkapi pulau penampungan di tengah, sehingga penyeberangan dapat dilakukan secara bertahap. Selain dinilai lebih ramah bagi pejalan kaki, fasilitas tersebut juga membutuhkan anggaran sekitar 10 persen dari biaya pembangunan JPO yang diperkirakan mencapai Rp3 miliar.
Menurut Fadhil, persoalan keselamatan pejalan kaki bukan hanya terjadi di Jalan Sukarno-Hatta, tetapi juga di berbagai ruas jalan di Kota Bandung. Infrastruktur seperti trotoar, zebra cross, guiding block, fasilitas penyeberangan, dan penerangan masih belum sepenuhnya memenuhi standar keselamatan.
Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah pejalan kaki yang menjadi korban kecelakaan, dari 1.683 orang pada 2023 menjadi 1.813 orang pada 2024. Berdasarkan Bandung Annual Report 2024, tabrakan dengan pejalan kaki menjadi jenis kecelakaan dengan proporsi tertinggi, yakni 27 persen atau 184 kasus. Sebanyak 56 persen kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki terjadi saat menyeberang.
Minimnya fasilitas keselamatan dan tingginya kecepatan kendaraan turut meningkatkan risiko bagi pejalan kaki. Hal ini sejalan dengan penelitian tentang perilaku pejalan kaki remaja di Kota Bandung yang ditulis yang ditulis Anita Friskadewi dkk. Anita menunjukkan bahwa kecepatan kendaraan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keselamatan pejalan kaki.
...
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


