• Berita
  • Tiga Tahun Setelah Tragedi 14 Agustus, Dago Elos Mengubah Luka Menjadi Panggung

Tiga Tahun Setelah Tragedi 14 Agustus, Dago Elos Mengubah Luka Menjadi Panggung

Rangkaian acara peringatan tragedi 14 Agustus menjadi ruang bagi warga untuk merawat ingatan tentang kekerasan, sejarah, dan ruang bermain anak.

Peringatan peristiwa 14 Agustus di Dago Elos, Bandung, 14 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Penulis Jawahir Alma'ani 24 Agustus 2026


BandungBergerak - Seluruh wilayah Dago Elos menjadi panggung, 14 Agustus 2026. Tidak ada panggung tinggi seperti dalam acara pernikahan atau seminar. Hanya sebuah kotak kayu kecil menjadi pijakan bagi pembawa acara dan sejumlah penampil.

Di belakangnya terbentang kain hitam bertuliskan “TANAH UNTUK RAKYAT” dengan cat putih. Bale RW 7 Dago Elos menjadi titik temu warga, pengunjung, teman solidaritas, serta berbagai gerai yang menghidupkan suasana kegiatan bertajuk “Kita Belum Merdeka”.

Tanggal itu dipilih bukan tanpa alasan. Tiga tahun sebelumnya, 14 Agustus 2023, Dago Elos menjadi lokasi bentrokan antara warga dan aparat kepolisian dalam konflik sengketa tanah yang berkaitan dengan keluarga Muller. Gas air mata ditembakkan ke kawasan permukiman. Sejumlah warga terluka dan ditangkap.

Tiga tahun kemudian, di tempat yang sama, warga memilih mengisi tanggal tersebut dengan tawa, pertunjukan, musik, dan permainan. Festival itu bukan sekadar perayaan. Bagi warga, kegiatan tersebut merupakan cara untuk merawat ingatan dan menolak lupa.

Di sekitar Bale RW, poster-poster digantung berjajar. Di antaranya bertuliskan, “Dago Elos Tidak Hanya Bertahan, Kami Balik Menyerang”, “Saatnya Berdiri dengan Palestina dan Dago Elos”, serta “Bebaskan Dago dari Mafia Tanah.”

Gerai makanan, peminjaman buku, jasa piercing dan tato temporer, hingga lapak thrift berdiri di belakang lapangan. Anak-anak berlarian di antara kerumunan. Para penjaga gerai, sebagian besar berpakaian bergaya skena, ikut meramaikan festival.

Pementasan pertama datang dari anak-anak Dago Elos. Tiga anak menampilkan dance modern dengan koreografi yang terinspirasi budaya populer Korea. Mereka menari di bawah tulisan “Tanah untuk Rakyat”.

Penampilan itu disambut sorak penonton. Sesekali mereka membawakan tarian Brasil yang populer di media sosial. Sejumlah warga yang mengenal gerakannya ikut menari dari tengah kerumunan.

Menjelang magrib, lapangan semakin penuh. Gelap malam tidak membawa kembali suasana mencekam tiga tahun silam. Malam itu diisi musik dan kegembiraan.

Sembari menunggu pertunjukan jaipong, musisi balada Abah Omtris naik ke panggung kecil. Mengenakan kopiah dan pakaian serba hitam dengan aksen batik, ia membawa gitar akustik. Suaranya berat, serak, dan penuh tekanan.

Ia membawakan lagu ciptaannya sendiri, termasuk “Sajak Luka di Tanah” dan “Sejatinya Badai”. Lagu tersebut sekitar setahun lalu dan pernah dibawakan dalam acara “Malam Solidaritas Sukahaji Melawan” pada 19 April 2025. Lagu itu bercerita tentang anak yang lahir di tanah yang telah digusur.

Setelahnya, seorang anak Dago Elos tampil seorang diri membawakan tari jaipong. Warga maju mendekat. Sejumlah ibu mengangkat telepon seluler untuk merekam sambil tersenyum.

Beberapa warga kemudian memberikan uang kepada sang penari sebagai bentuk penghargaan dan tradisi. Ketika musik beberapa kali terhenti karena gangguan teknis, penonton serempak berseru, “Yahhh,” lalu tertawa. Sang penari pun ikut tertawa.

Di sela pertunjukan, anak-anak dengan kaus hitam bertuliskan “Dago Melawan” berlari ke belakang panggung, saling mengejar, kemudian kembali ke kerumunan.

Peringatan peristiwa 14 Agustus di Dago Elos, Bandung, 14 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)
Peringatan peristiwa 14 Agustus di Dago Elos, Bandung, 14 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Jangan Makan Tanah Kami

Namun pertunjukan malam itu tidak berhenti pada hiburan. Penonton mulai merapat ketika seorang narator bertopi mengelilingi lapangan. Anak-anak berlompat antusias.

Teater “Jangan Makan Tanah Kami” dimulai. Lakonnya membawa penonton ke Planet Dago Elos yang dihuni para “Elosias”. Planet itu terancam alien pemakan tanah. Anak-anak Dago Elos menjadi para pendekar yang bertugas mempertahankan tempat tinggal mereka.

Zirah para pendekar dibuat dari kardus dan dicat warna-warni. Seorang pendekar bertopeng yang diperankan orang dewasa menjadi pemimpin mereka.

“Ini adalah tempat tinggal Elosias, tempat makan, belajar, bermain, dan tempat hidup Elosias. Misi kita adalah menjaga tanah kami bersama-sama,” serunya.

Ketika tanda bahaya muncul dari pengeras suara, para pendekar keluar dari lapangan. Penonton diajak mengikuti mereka menyusuri jalan Dago Elos 1.

Pertunjukan berubah menjadi perjalanan bersama. Anak-anak berjalan paling depan, sementara orang dewasa mengikuti di belakang. Pengeras suara dibawa sepanjang perjalanan untuk menjaga suasana cerita.

Para pendekar mengambil pedang dan peta. Mereka lalu mengendap-endap mencari alien.

Sebuah UFO berukuran besar muncul di dinding gedung milik PT Dago Intigraha. Para pendekar menyerangnya bergantian hingga UFO tersebut “hancur”. Penonton bersorak.

“Dago bersatu tak bisa dikalahkan, Dago melawan, melawan setan tanah, hancurkan-hancurkan-hancurkan,” teriak mereka.

Namun UFO bukanlah musuh terakhir.

Di persimpangan berikutnya, seorang informan memberi tahu bahwa alien memiliki kemampuan menciptakan dinding ajaib yang tidak dapat dihancurkan dengan senjata biasa. Para pendekar hanya dapat mengalahkannya jika mampu membuktikan bahwa mereka adalah pemilik planet tersebut.

Tak lama kemudian, alien pemakan tanah muncul.

“Kami adalah para pemakan tanah dari Planet Rembulan,” teriaknya. Ia mengklaim memiliki berkas dari leluhur yang disebut sebagai bukti kepemilikan tanah dan memberi pilihan kepada penghuni Dago Elos untuk pergi atau ikut “dimakan”.

Para pendekar melawan. Satu per satu mereka meneriakkan mantra:

“Aku tinggal di sini.

Saya lahir di sini.

Saya bermain di sini.”

Suara mereka berulang. Hingga berubah menjadi suara bersama: 

“Kita tinggal di sini.

Kita lahir di sini.

Kita bermain di sini.”

Alien jatuh. Para pendekar mengepung dan menyerangnya. Penonton bersorak ketika alien akhirnya tersungkur dan berguling ke arah kerumunan.

Planet Dago Elos dinyatakan selamat.

Bagi April, 22 tahun, mahasiswa yang sedang menjalani KKN di Dago Elos, adegan teater tersebut bukan sekadar pertunjukan. Ia menangis ketika anak-anak meneriakkan bahwa mereka tinggal, lahir, dan bermain di tanah tersebut.

“Terlepas dari konflik agraria itu, ada kehidupan yang dirampas selain tanah,” katanya.

Menurut April, konflik Dago Elos sering dipahami hanya sebagai persoalan agraria. Padahal, di dalamnya terdapat manusia yang kehilangan tempat tinggal, tempat bermain, dan ruang hidup.

Acil, panitia dari Aliansi Rakyat, mengatakan anak-anak Dago Elos sendiri mengajukan diri ketika warga merencanakan teater. Mereka masih belia ketika menyaksikan dampak tragedi tiga tahun sebelumnya. Kini pengalaman itu diubah menjadi pertunjukan.

Bagi Acil, kemenangan setelah keluarga Muller dipenjara bukan akhir persoalan. Sampai saat ini, ia menegaskan, Dago belum merdeka.

Festival tersebut, menurutnya, bukan untuk merayakan kemenangan. Masih ada penggusuran di tempat lain. Karena itu, festival digunakan untuk merawat dan mewariskan ingatan.

“Kita belum menang, karena banyak penggusuran lainnya di berbagai daerah. Keberadaan festival ini bukan untuk merayakan kemenangan, namun merawat Sejarah,” kata Acil.

Konsep teater sengaja tidak membebani anak-anak dengan hafalan dialog dan teknik teater yang rumit. Pengalaman yang sudah melekat dalam ingatan mereka diterjemahkan menjadi cerita tentang para pendekar yang mempertahankan planetnya.

Kostum dan zirah pun dibuat dengan bantuan solidaritas untuk menekan biaya produksi.

Baca Juga: Dari Kolong Jalan Layang Pasupati, Warga Dago Elos Mengabarkan Perjuangan yang Belum Usai
Warga Dago Elos Membawa Isu Palestina dan Sengketa Tanah ke Festival Asia Afrika

Tiga Tahun Sebelumnya

Kemeriahan di Dago Elos kontras dengan peristiwa 14 Agustus 2023. Tuti, warga Dago Elos yang ikut mengantarkan pengaduan pidana terhadap keluarga Muller pada 14 Agustus 2023, mengingat hari itu sebagai awal dari kekacauan.

Warga berangkat ke kantor polisi menggunakan tujuh angkot. Mereka hendak melaporkan perkara pidana terkait sengketa tanah. Namun menurut warga, laporan tersebut ditolak.

“Buntut dari kita ditolak laporan tindak pidana itu, kita pulang dengan kecewa,” kata Tuti. 

Warga kemudian memblokade jalan di depan Terminal Dago. Aparat datang. Negosiasi sempat berlangsung dan warga mendapat informasi bahwa laporan dapat dipertimbangkan di kantor polisi.

Namun ketika warga bersiap kembali menggunakan angkot, gas air mata ditembakkan dari arah belakang.

“Pecah di situ, tidak ada negosiasi lagi,” ujar Tuti.

Menurutnya, gas air mata juga mengenai warga yang membawa bayi. Aparat kemudian menyisir gang-gang di sekitar Dago Elos. Rumah-rumah digedor dan sejumlah orang ditangkap.

“Siapa pun itu yang keluar rumah pasti mereka tangkap,” katanya.

Tuti mengingat malam itu sebagai malam ketika warga tidak dapat tidur. Aparat masih berada di sekitar permukiman hingga pagi.

Rekaman CCTV dari sebuah rumah dan grosir kemudian memperlihatkan tindakan aparat ketika mendobrak rumah. Dalam salah satu rekaman, seorang anak terlihat kakinya terjepit pintu sementara aparat tetap bergerak masuk.

Video tersebut kemudian beredar di media sosial. Setelah konferensi pers, menurut Tuti, warga mendapat telepon dari polisi yang menyatakan laporan mereka dapat diterima tanpa syarat.

Kembali ke atas panggung, Ayang, warga Dago Elos, berbicara tentang anak-anak.

Menurutnya, mereka termasuk kelompok yang paling terdampak dari tragedi 14 Agustus 2023. Festival menjadi salah satu upaya agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk bermain dan bersenang-senang.

Ia mengatakan sudah lama tidak melihat anak-anak Dago Elos bersenda gurau seperti malam itu.

“Anak-anak bersenda gurau, ceria, nari-nari seperti tadi, kita alami sekitar enam tahun yang lalu,” katanya.

Bagi warga, luka itu semakin terasa ketika mendekati 17 Agustus 2023. Saat daerah lain merayakan kemerdekaan dengan lomba-lomba, Dago Elos justru masih menghadapi trauma.

Tuti mengenang bagaimana ia menangis ketika mendengar suara perlombaan dari luar kampung.

“Saya sampai nangis dengar orang lain merayakan. Kita tiga hari dari kejadian itu, dengar orang lagi lomba-lomba, nangis. Kita sakit hati banget.”

Di hadapan penonton, Ayang kemudian bertanya:

“Apakah kita sudah merdeka?”

“Belum,” jawab penonton serempak.

Tidak ada pengibaran bendera merah putih dalam festival tersebut. Yang dikibarkan adalah bendera Dago. Orasinya ditutup dengan seruan:

“Dago bersatu tak bisa dikalahkan, Dago melawan, melawan setan tanah, hancurkan-hancurkan-hancurkan.”

Setelah Ayang turun, panggung diambil alih anaknya. Tubuh mungilnya membuat mikrofon harus diturunkan hingga sejajar dengan posisi duduknya.

Ia mengenakan kaus hitam bertuliskan “Dago Melawan” dan memainkan gitar. Di bawah kain hitam bertuliskan “Tanah untuk Rakyat”, ia menyanyikan “Nyanyian Gagak” karya Tanahsaghara.

Lagu itu menggambarkan trauma seorang anak terhadap penggusuran—pengalaman yang juga dirasakan anak-anak Dago Elos.

Bagi Ayang, dampak tragedi tidak berhenti pada kehilangan atau ancaman terhadap rumah. Ia melihat anak-anak tumbuh dengan ketakutan. Anak-anak yang seharusnya menggambar rumah, pohon, atau sawah justru menggambar pistol, bom, dan darah.

“Ini kalau ada apa-apa kita lapor sama siapa?” begitu pertanyaan yang menurut Ayang muncul di antara anak-anak.

Ayang juga pernah menemukan coretan anak-anak di salah satu gang:

“Kalau rumah aku digusur aku main di mana?”

Orasi dari Ayang bukan pertunjukan terakhir. Penonton kembali dibawa ke dalam ketegangan saat lampu merah menerangi lapangan. Dari meja bertuliskan “Dago Melawan”, Edwin memainkan suara bising sebagai latar.

Pertunjukan tersebut berjudul “Panoptikan”, dimainkan Ariel Pamungkas, dengan Edwin mengatur noise dan Gilang Baihaqy mengatur suara ambient.

Konsepnya mengambil gagasan Michel Foucault tentang panoptikon—desain penjara dengan menara pengawas di tengah yang memungkinkan penghuni merasa terus diawasi.

Edwin mengatakan pertunjukan tersebut berusaha menggambarkan perasaan warga Dago Elos setelah tragedi 14 Agustus.

Menurutnya, meskipun warga telah kembali mendapatkan hak atas tanah, pengalaman kekerasan dan kehadiran aparat meninggalkan rasa takut serta kewaspadaan.

“Saya mengajak teman-teman untuk sama-sama merasakan dan menyajikan kembali realita perampasan lahan dan brutalitas aparat terhadap masyarakat sipil, yang juga direnggut hidupnya,” ujarnya.

Malam semakin larut. Di bawah rembulan 14 Agustus yang lebih terang, malam itu bukan sekadar malam pertunjukan melainkan ajang pertemuan wajah kampung kota yang pernah mengalami trauma dan gembira. Tiga tahun setelah gas air mata memenuhi jalan dan rumah-rumah disisir aparat, anak-anak kembali berlarian di ruang yang sama.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//