• Berita
  • Kala Pekerja Informal Bandung Terjebak dalam Paylater: Gaji tak Pasti, Tagihan Memburu

Kala Pekerja Informal Bandung Terjebak dalam Paylater: Gaji tak Pasti, Tagihan Memburu

Paylater membentuk kebiasaan baru. Meski ada uang, tapi pengguna tetap memilih bayar nanti. Gaji bulan depan habis di masa lalu.

Pilihan sejumlah aplikasi pengelolaan keuangan dalam gawai. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergeral.id)

Penulis Nida Nurhamidah 26 Agustus 2026


BandungBergerak - Malam itu Rani menanak nasi di kosannya. Tiba-tiba gelap menyergap. Bunyi nyaring meteran listrik menjadi penanda bahwa tokennya habis, sementara hari gajian masih membentang jauh di ujung kalender. Di tengah perut yang mulai melilit dan dompet yang kian menipis, layar ponselnya berpendar menawarkan sebuah jalan keluar yang teramat sederhana: bayar nanti (paylater).

Rani akhirnya menekan tombol itu. Ia membeli token listrik seharga 20.000 rupiah, disusul semangkuk soto mie Bogor untuk mengganjal lapar. Dua kebutuhan mendasar malam itu dengan cepat berpindah wujud menjadi angka tagihan yang harus ia tebus di masa depan.

"Sad banget," kenang perempuan yang tinggal di kawasan Kopo, Bandung, getir, Selasa, 11 Agustus 2026.

Nominal malam itu mungkin tak seberapa. Namun, momen tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Rani, ketika uang benar-benar tak bersisa, paylater selalu hadir menyodorkan diri sebagai penyelamat paling dekat.

Sebagai pekerja harian lepas di salah satu sekolah di Bandung, nasib finansial Rani memang kerap berdiri di atas pijakan yang rapuh. Tanpa ikatan kontrak resmi, pendapatannya digantungkan pada kesepakatan lisan dengan orang tua murid.

Dalam sehari, Rani bisa membawa pulang honor 200.000 rupiah. Namun, ketika anak didiknya libur atau Rani sendiri berhalangan hadir, honor hari itu otomatis hangus. Sebagai pekerja mandiri (self-employed) di sektor informal, pendapatannya serba tak pasti.

Namun, krisis finansial Rani tidak muncul hanya saat itu. Semua bermula saat keluarganya dihantam badai utang. Ibunya pengelola paket arisan lebaran berupa sembako dan tabungan warga. Di saat bersamaan, kakaknya yang sedang merintis usaha konveksi tertipu dalam jumlah besar. Demi membayar tagihan vendor, penjahit, dan gaj karyawan yang menembus puluhan juta rupiah, uang arisan ibu terpaksa dipakai lebih dahulu.

Bencana datang setelahnya, ketika pemilik arisan menagih uang mereka yang nominalnya mencapai 30 juta rupiah lebih, sementara dana yang terpakai melebihi angka tersebut. Kala itu keluarganya kelabakan. Dalam kepanikan, seluruh anggota keluarga dikerahkan untuk mengambil pinjaman online (pinjol). Tak hanya itu, gaji bulanan Rani terus diminta dan disedot untuk menutup cicilan utang bersama tersebut.

Uang gaji Rani tak pernah lagi menyisa untuk kebutuhan mendasar. Jangankan untuk menabung, sekadar membeli makanan harian, sabun mandi, hingga detergen cuci baju pun ia sudah tak sanggup. Di titik terendah itulah, paylater dan pinjol pribadi menjadi sambungan napasnya untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Sejak 2024, Rani mulai menggantungkan diri pada fasilitas ini. Limit awalnya hanya 500.000 rupiah, dengan cicilan yang masih sanggup ia lunasi dalam sebulan. Namun perlahan, kemudahan itu menyusup ke setiap sendi kesehariannya, mulai dari makan, transportasi ojek daring, hingga rupa-rupa kebutuhan lain. Sesuatu yang mulanya terasa layaknya dewa penolong, kini bermutasi menjadi sumber ketakutan baru.

"Takutnya bukan enggak bisa bayarnya. Takut kecanduannya," ucapnya.

Ilustrasi kemudahan transaksi daring memicu budaya konsumerisme yang menjerat masyarakat. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)
Ilustrasi kemudahan transaksi daring memicu budaya konsumerisme yang menjerat masyarakat. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

Menyandera Uang Tunai demi Rasa Aman

Banyak yang mengira jerat utang selalu berawal dari dompet yang kosong. Namun, pengalaman Ica dan Lilis membuktikan sebuah anomali psikologis berutang justru bisa dipicu oleh ketakutan akan hilangnya uang di tangan.

Ica mengenal fasilitas kredit ini sejak bangku kuliah, bermula dari transaksi lumrah anak muda: membeli skincare. Lambat laun, daftar belanjaannya memanjang ke pakaian dan makanan. Transaksi-transaksi kecil itu menumpuk menjadi bukit. Anehnya, Ica kerap menggunakan paylater meski di dompetnya ada lembaran rupiah yang cukup untuk membayar lunas.

"Punya uang, tapi ya… pakai paylater," akunya.

Akar masalahnya bermuara pada rasa tidak aman (insecure). Ica dihantui ketakutan bahwa jika uang tunainya dihabiskan hari ini, ia tak akan punya pegangan jika esok hari ada kebutuhan mendesak yang datang menerjang sebelum gaji berikutnya tiba. Ia memilih menukar uang tunainya dengan kewajiban di akhir bulan.

Namun, logika itu goyah ketika realitas menghantam. Sebagai guru pendamping berpenghasilan sekitar 2,5 juta rupiah sebulan, ia pernah mendapati tagihannya membengkak hingga 3 juta rupiah. Terjebak defisit 1,3 juta rupiah yang harus dicari dalam waktu singkat, ia terpaksa menelan gengsi. Ia meminta bantuan kakaknya, dengan dalih gajinya sudah habis, dan sebagian lagi ditutup oleh pasangannya. Meski dikelilingi orang-orang yang siap membantu, utang tetap menanamkan kecemasan di kepalanya.

"Saya yang enggak secure," simpulnya pelan.

Paradoks serupa dihidupi oleh Lilis. Bekerja 12 jam sehari sebagai supervisor restoran dari jam 10 pagi hingga 10 malam, ia mengantongi gaji pokok 2,7 juta rupiah, yang bisa menyentuh 3,3 juta rupiah jika diakumulasi dengan bonus. Pekerjaan ini awalnya ia lakoni hanya untuk "bantu-bantu" di restoran milik kerabatnya demi menambah uang jajan. Namun, hingga posisinya naik menjadi supervisor, ia tetap bekerja tanpa perlindungan kontrak resmi. Beruntung, karena masih tinggal bersama orang tua, Lilis bebas dari beban uang sewa kamar.

Namun, pengeluaran tak terduga sering kali datang berombak. Catokan rusak, make-up dan skincare menipis, motor minta diservis, hingga televisi atau kipas angin di rumah yang mendadak mati dan memaksanya ikut patungan. Saat kebutuhan itu datang beramai-ramai, uang tunai di tangannya terasa terlalu berharga untuk dilepas.

"Uang aman itu saya butuhkan," tegas Lilis.

Untuk menjaga "uang aman" tersebut, ia merelakan paylater mengambil alih. Dari sekadar barang elektronik hingga gawai seharga 12,7 juta rupiah. Untuk transaksi belasan juta itu, ia sengaja memilih tenor satu bulan. Bukan karena perhitungan bunga, tapi murni demi menjaga kewarasannya.

"Kalau aku punya hutang tuh, asam lambung aku naik," jelasnya.

Ia pikir ia memegang kendali karena tahu dari mana uang untuk membayar tagihan itu akan datang. Namun, ada harga mahal yang luput dari perhitungannya. Ya, gaji yang ia terima bulan depan tak lagi murni miliknya. Gaji itu sudah berstatus milik masa lalunya.

Ilustrasi. Celengan, 2024. Bank emok maupun pinjol sering kali menjadi pelarian bagi warga yang terjerat masalah keuangan.  (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)
Ilustrasi. Celengan, 2024. Bank emok maupun pinjol sering kali menjadi pelarian bagi warga yang terjerat masalah keuangan. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

Taruhan di Atas Aspal dan Bangku Kuliah

Di kerasnya aspal jalanan, Awa, 21 tahun, mengenal persoalan yang jauh lebih pelik. Sebagai anak sulung dari empat bersaudara yang berstatus mahasiswa penerima KIP Kuliah sekaligus pengemudi ojek daring, ia memikul beban ganda. Ayahnya bekerja, ibunya menyambung hidup dengan merakit hampers. Meski biaya kuliahnya ditanggung negara, kehidupan tidak lantas berjalan tanpa biaya.

"Waktu abis ku ojol, kebetulan keur libur semester oge, tapi kebutuhan teu libur," tuturnya. Kebutuhan memang tak pernah mengenal tanggal merah.

Penghasilan di jalanan amatlah kejam dan tak tertebak. Di hari baik, ia bisa meraup 150.000 rupiah kotor dan pulang membawa 70.000 rupiah bersih. Di hari nahas, ia hanya mengantongi 50.000 rupiah yang langsung menguap untuk sekadar makan dan bensin hari itu.

Dalam himpitan hidup yang serba pas-pasan, paylater menjadi oksigen buatan. Awa pernah menanggung cicilan TikTok Paylater lebih dari 300.000 rupiah per bulan dari pinjaman sekitar 1 juta rupiah yang diwariskan dari utang orang tuanya. Ia juga rutin mengutang untuk membeli kampas rem, oli motor, dan kebutuhan sehari-hari.

"Campur aduk euy, sedih dan merasa lega sejenak," ucap Awa.

Sedih karena nestapa tak punya uang, lega karena perut dan kendaraannya bisa diselamatkan hari itu. Namun, "sementara" itu akhirnya menagih korban.

Demi mengejar setoran utang, aspal jalanan mulai mengalahkan bangku kuliahnya. Waktu dan energinya terkuras. Banyak kelas dan kegiatan organisasi yang ia tinggalkan, memaksanya harus mengulang 10 hingga 11 mata kuliah. Setiap SKS yang diulang memukulnya dengan tagihan baru: 100.000 rupiah untuk mengulang, dan 150.000 rupiah untuk perbaikan nilai. Beasiswa KIP Kuliah jelas tak bisa menambal kebocoran ini. Ojek online, yang awalnya hanya kerja sambilan, kini berubah menjadi mesin pendorong hidup yang tak boleh mati. 

Puncak krisisnya terjadi ketika akun ojeknya di-suspend sepihak oleh aplikator karena mendapat enam pesanan beruntun dari toko yang tutup. Bandingnya ditolak mentah-mentah. Mata pencahariannya putus, tetapi argo cicilan di ponselnya tetap berjalan tanpa belas kasih.

Baca Juga: Kemiskinan Mendorong Warga Jawa Barat Meminjam Uang ke Pinjol
Haruskah Mahasiswa Indonesia Terjerat Pinjol Uang Kuliah seperti di Amerika Serikat?

Mahasiswa ITB menggelar aksi menolak skema pembayaran uang kuliah melalui platform pinjaman online (pinjol) di depan gedung Rektorat ITB, Bandung, Senin, 29 Januari 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
Mahasiswa ITB menggelar aksi menolak skema pembayaran uang kuliah melalui platform pinjaman online (pinjol) di depan gedung Rektorat ITB, Bandung, Senin, 29 Januari 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Uang yang Habis Sebelum Bulan Selesai

Meski paylater maupun pinjol bagian dari inovasi teknologi digital, tapi memiliki sisi negatif yang tak kalah mencemaskan. Penelitian berjudul “Pengaruh Penggunaan Paylater terhadap Kesejahteraan Finansial Konsumen dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah” karya Adisty Sativa dan Baidhowi, dari Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang, membahas dampak penggunaan layanan Paylater terhadap kondisi keuangan konsumen, khususnya generasi muda (Gen Z).

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemudahan akses Paylater dapat mendorong perilaku belanja impulsif dan konsumtif. Penggunaan yang tidak terkendali berisiko menimbulkan utang berlebih, terutama karena adanya bunga, biaya administrasi, dan denda keterlambatan yang dapat memperbesar beban finansial konsumen.

Penelitian itu juga mencatat penggunaan Paylater, dapat memperkuat perilaku konsumtif dan belanja impulsif di kalangan pelajar. Karena itu, penggunaan layanan kredit digital perlu diimbangi literasi dan pengelolaan keuangan yang baik agar tidak berkembang menjadi tekanan finansial dalam jangka panjang. 

Sementara itu, bagi Rani, Ica, Lilis, dan Awa, persoalan ini telah melampaui perkara seberapa besar deretan nol di tagihan mereka. Pertanyaan terbesarnya adalah: bagaimana Anda bisa menjalani hari, ketika keringat yang akan Anda peras bulan ini sudah digadaikan untuk tagihan bulan lalu?

Dalam setiap percakapan, paylater memang tak pernah sepenuhnya dikutuk sebagai penjahat. Fasilitas ini membiarkan listrik tetap menyala di kamar Rani. Ia membuat perut Awa terisi dan motornya tetap bisa melaju. Ia memberi Lilis dan Ica perasaan tenang karena masih memegang uang tunai darurat.

Tetapi, bantuan itu tidak pernah benar-benar gratis. Uangnya hanya berpindah dimensi waktu.

Ada Lilis yang bekerja 12 jam sehari hanya untuk menyerahkan separuh gajinya pada aplikasi. Ada Ica yang gajinya tak sanggup menutup besaran tagihannya sendiri. Ada Awa yang kehilangan separuh masa kuliahnya karena harus menebus utang di aspal jalanan. Dan ada uang tunai yang sengaja ditimbun sekadar karena mereka terlalu takut menatap hari esok yang tak pasti.

Kini, mereka semua meraba-raba mencari jalan keluar. Ica telah menghapus aplikasinya. Lilis bertekad melunasi semua sisa tagihan untuk selamanya. Rani merapal doa agar tahun ini ia merdeka dari seluruh utangnya. Di sudut lain, Awa hanya berharap para pemilik modal mau sedikit memanusiakan pengemudi di jalanan yang senasib dengannya. 

Paylater memang menepati janji manisnya yakni memberi penggunanya kemampuan menggenggam sesuatu hari ini dan membayarnya nanti. Namun yang jarang terlihat di balik kilau layar ponsel adalah harga tak kasat mata yang turut mengekor. Di antara setiap jeda antara 'hari ini' dan 'nanti', ada ketenangan yang diam-diam terenggut, menyisakan satu pilihan melelahkan yang terus membayangi bayar nanti, pakai apa?

***

*Catatan: nama-nama dalam liputan ini sebagian merupakan nama panggilan/samaran dari narasumber, mengingat sensitivitas informasi finansial dan keluarga yang dibagikan.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//