• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Merdeka di Mulut Saja

MAHASISWA BERSUARA: Merdeka di Mulut Saja

Kemerdekaan bukan milik oligarki dan pejabat culas. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, hak segala manusia.

Erza Heksa Arifin

Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Udayana Bali

Warga memberi hormat pada bendera merah putih berukuran 3x76 meter dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (17/08/2021) siang, di bantaran sungai Cikijing, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Upacara bendera digagas oleh Unit SAR Kota Bandung bersama Pramuka Kwartir Ranting Kecamatan Rancaekek dan komunitas Passer. (Foto: Saman Doye/BandungBergerak.id)

29 Agustus 2026


BandungBergerak“Sekali merdeka tetap merdeka / Selama hayat masih di kandung badan.” – “Hari Merdeka” oleh Husein Mutahar

Megah. Kesan yang dirasa ketika sejagat Indonesia merayakan Agustusan yang hadir tiap tahun. Selama delapan dekade pula festival ini dirayakan. Warga berbondong-bondong mengikat bendera Merah Putih di tiang yang tegak lurus di atas atap rumahnya. Ada pula yang menancapkan tiang di depan rumah pinggir jalan, menggantungnya di kerangka besi bak mobil pick-up, menempelnya di kaca depan mobilnya sebagai hiasan. Semuanya bangga dengan sang merah putih. Ia menjadi bagian diri bangsa yang selalu dimanja dan disayang.

Ketika upacara dilaksanakan, jutaan berdiri tegak hormat padanya yang naik perlahan-lahan ke puncak kehormatan di ujung tiang yang sakral. Seperti inilah suasana merdeka yang sesungguhnya, ucap pejabat yang menjadi inspektur upacara dengan sumringah. Ia tak tahu, atau kemungkinan besar pura-pura tak tahu, bahwa beban di pundak rakyatnya yang menghormati Sang Saka Merah Putih begitu berat.

Di lapangan tempat upacara dilaksanakan, ketika sang Merah Putih mulai memanjat tiang, seluruh hadirin mengambil posisi tegap dan tangan menyeru hormat padanya. Lagu Indonesia Raya mengiringi. Sejenak, lapangan hanya terdengar suara nyanyian Indonesia Raya yang menggugah nasionalisme. Namun, pada saat momen khidmat itu, ada seorang bapak yang rela hormat bendera dan berdiri kepanasan meski tahu uang simpanan yang ia miliki untuk kebutuhan hidup semakin tipis dan tahu ketidakpastian pekerjaan serabutan yang menantinya di hari depan. Seorang siswa kelas tiga SMA yang berdiri di barisan paling belakang pikirannya terbelah sebab tak tahu apakah mampu melanjutkan kuliah karena terbatasnya ekonomi orang tua. Seorang guru SD sembari hormat bendera tampak was-was mengawasi murid-muridnya yang masih kecil itu riuh, jauh di dalam lubuk hatinya, ia memikirkan gaji sebagai guru honorer 800 ribu rupiah per bulan belum diterimanya dari pihak sekolah. Di sudut lapangan upacara, ada seorang ibu penjual sempol ayam seribuan yang menanti upacara berakhir agar dagangannya diserbu pelanggan, rutinitas baru setelah seminggu lalu di PHK oleh pabrik tempatnya bekerja.

“Hiduplah Indonesia Raya…”

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak
MAHASISWA BERSUARA: 81 Tahun Kemerdekaan yang Hanya Dirasakan Segelintir Orang
MAHASISWA BERSUARA: Meme Jomok, Pornografisasi, dan Rezim Informasi

Nasionalisme

Bait terakhir lagu Indonesia Raya itu mengakhiri hormat bendera. Dilanjutkan oleh pidato dari sang inspektur upacara yang selalu klise dan membosankan. Pidato yang selalu menyoal jasa para pahlawan yang telah gugur di masa lalu dan perintilan cerita nasionalisme yang menggebu-gebu. Seperti bangga namun tak sepenuhnya benar. Ketika pidato yang penuh euforia itu berkumandang, di sudut-sudut kota dan jalanan memainkan perannya yang tak kenal waktu. Driver ojol yang mengantarkan makanan pelanggan dengan upah delapan ribu rupiah sembari dihujani terik surya, pegawai minimarket yang terburu-buru menghitung barang belanjaan pelanggan yang ramai, karyawan kafe yang bolak-balik menyeduh espresso untuk pembeli, pekerja laundry kiloan yang berkeringat asal uap setrika yang digunakan, semuanya berjuang dan bekerja di tanggal merah yang perayaannya mestinya sakral. Bukan tak memiliki nasionalisme, bukan tak cinta pada Indonesia, sederhananya bertahan hidup adalah menempuh jalan ini. Kemerdekaan yang dijanjikan bukanlah kemerdekaan yang hakiki. Belenggu kolonialisme telah mati dan membusuk di dasar lautan. Namun kemerdekaan dari negara yang mengekang tak kunjung usai.

Ketika ucapan “Merdeka!” yang selalu menjadi slogan kebebasan menjadi suatu kata klise tak bermakna, maka apa guna merayakan kemerdekaan yang sudah lama mati itu? Di Aceh, 15 Agustus 2026, tembakan peringatan dilepaskan oleh aparat keamanan setelah salah satu warga mencoba mengibarkan bendera bulan bintang pada saat Peringatan Hari Damai Aceh ke 21 dan berakhir ricuh. Di Bali, 4 Agustus 2026, Tomi Priatna Wiria seorang mahasiswa sekaligus aktivis HAM dituntut 6 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum hanya karena unggahan online yang dianggap menghasut dan mengganggu ketertiban. Di Bogor, 31 Juli 2026, Yurizal Tri Chaerawan meninggal dunia saat sebelumnya dimaki-dihina oleh oknum tenaga kesehatan di kolom komentar karena unggahannya yang mengeluhkan waktu tunggu yang lama sebagai pasien BPJS pada 22 Juli 2026. Carut marut seperti ini dianggap kemerdekaan?

Delapan puluh satu tahun bukan usia muda bagi sebuah negara. Sebagai sebuah keragaman yang termanifestasi dalam bentuk negara, Indonesia seperti jalan di tempat selama puluhan tahun. Negara yang mati-matian mempertahankan eksistensinya ini hanya bergantung pada ucapan “persatuan”. Ketika kekecewaan rakyat Papua yang alamnya dieksploitasi habis-habisan tak didengar, kekecewaan rakyat Aceh yang terkena banjir bandang tak diperhatikan oleh pemerintah, bagaimana mungkin slogan “persatuan” mampu menenangkan mereka? Ketika perayaan 17 Agustus semuanya berteriak “Merdeka!” dengan membara, Papua dan Aceh juga merasa berhak menyuarakan kemerdekaannya. Melalui melepaskan diri dari Indonesia? Mungkin saja.

Jika dengan menjadi bagian dari kerangka kenegaraan ini adalah sebuah kurungan yang sama mengerikannya dengan terjajah bangsa Barat, maka siapa pula yang tak haus akan kemerdekaan yang sesungguhnya?

Ada yang mencari kemerdekaan dengan pergi sejauh-jauhnya dari Indonesia. Mereka berkata “Kabur aja dulu” sebab tak kuasa menahan derita di negeri pertiwi. Dan, mereka yang tak mampu menjadi warga negara asing harus menahan deritanya di tanah kelahiran. Mengais-ngais makan dan minum di tanah yang katanya subur ini. Sebenarnya apa kemerdekaan yang dibanggakan itu? Di mana wujudnya? Lelahnya tubuh mencari kemerdekaan bahkan tak sebanding dengan mencari jarum di lautan jerami.

Akademisi menjadi kambing di kampusnya sendiri. Dokter dan perawat tak dapat bayaran layak dari BPJS. Lulusan S2 menjadi pedagang UMKM di desa asalnya. Ahli Gizi tak dipercaya duduk dalam struktur kepengurusan MBG. Tentara mengelola MBG? Apa-apaan negara ngawur ini?

Tak ada yang lebih menyedihkan daripada kemerdekaan direnggut oleh negara sendiri. Tak ada pula yang lebih menyakitkan daripada miskin di tanah yang kaya ini. Tak ada yang berhak mendapat kemerdekaan semu garapan sang penguasa. Si miskin dan si bodoh berhak mendapatkan kemerdekaannya. Kemerdekaan bukan hanya milik oligarki dan pejabat culas. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, hak segala manusia. Cukuplah merdeka di mulut saja. Cukuplah merdeka di buaian saja. Semoga kelak kita merdeka. Semoga kita menjadi merdeka di tanah air tercinta, saat hayat masih dikandung badan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//